
"Bangun mas, Mandi setelah itu sarapan dan berangkat ke kantor, Jangan sampai telat." Ujar Kinara lembut.
"Hemm" Dahem Gathan malas untuk bangun.
"Ayo mas bangun, aku udah siapin semuanya." Ujar Kinara lagi.
Akhirnya Gathan membuka matanya lalu memposisikan dirinya duduk. "Bantu aku." Tukas Gathan serak ciri khas orang bangun tidur.
Kinara kaget, ia tercengang dengan apa yang ia dengar, bukankah sebelumnya Gathan menolak di bantu? Mengapa sekarang beda lagi? Namun meski begitu Kinara menuruti apa yang suaminya mau. Kinara meraih kursi roda dan membawanya ke sebelah Gathan agar mempermudah Gathan turun.
"Apa yang kau lakukan?! Yang ku maksud bantu aku turun bukan bantu aku mengambil kursi roda!" Sarkas Gathan kesal.
"Iya iya mas, Sini mas." Ucap Kinara meraih tangan Gathan lalu menopang Gathan turun.
Setelah di bantu turun Gathan menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi dengan tangannya sendiri, sementara Kinara melihatnya dengan senyum yang mengembang.
Kinara menunggu di Sofa tempatnya tidur tadi malam keluarnya Gathan dari kamar mandi. 20 menit kemudian Gathan telah keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya.
*Oh ya ampun... Dia yang udah bertahun-tahun duduk di kursi roda masih bisa memiliki otot-otot itu?!* Batin Kinara terpesona.
"Sampai kapan kau mau melihatnya hah?! Siapkan tas kerja milik ku lalu berikan pada Adit nanti." Tukas Gathan menyadarkan Kinara dari lamunannya.
"Iya mas, map merah itu yang paling penting harus di bawa kan mas?" Tanya Kinara memastikan.
"Bagiamana kau tau?! Jangan jangan kamu di utus keluargamu untuk memata-matai ku ya?!" Sentak Gathan terkejut.
"Enggak mas bukan, tadi malam aku liat mas naruh map itu hati hati sekali, jadi aku pikir itu penting." Ucap Kinara panik.
"Jika aku mengetahui kau memata-matai ku, akan aku habisi kau dengan tanganku sendiri!" Sarkas Gathan dingin seraya mendorong tubuh Kinara hingga jatuh ke lantai.
Gathan mengabaikan Kinara dan berganti pakaian dengan pakaian yang telah Kinara siapkan, sementara Kinara bangkit lagi dan menunggu Gathan siap seraya membereskan tas kerja dan berkas berkas yang akan Gathan bawa ke kantor.
Setelah Gathan selesai Kinara pun mendorong kursi roda Gathan menuju lift untuk turun kebawah dan sarapan, tidak lupa Kinara membawa tas kerja milik Gathan.
"Sudah, kau temui Adit di luar dan berikan itu, aku bisa pergi sendiri." Ucap Gathan dingin.
"Baiklah mas." Balas Kinara langsung bergegas pergi ke luar menemui Adit.
Gathan pun menjalankan kursi rodanya menuju ruang makan, Terlihat kedua orangtuanya dan juga adiknya telah duduk manis di tempat mereka.
"Pagi Kak Gathan." Sapa Gina tersenyum manis. Dan seperti biasa hanya di balas daheman oleh Gathan.
Tepat saat itu juga Kinara juga telah kembali, ia cuma sebentar karena tidak basa basi dengan Adit, iya teringat harus membantu Gathan.
"Mas, Aku bantu ya." Ucap Kinara menawarkan dengan lembut.
"Terserah." Ketus Gathan.
__ADS_1
Kinara tersenyum dan kemudian membantu Gathan duduk di tempatnya, setelah itu Kinara pun duduk di sebelah Gathan, tak lama kemudian sarapan pagi Keluarga itu dimulai.
-
-
Kini semuanya telah selesai dengan sarapan mereka, para maid membersihkan meja makan sementara para tuan telah pergi. Papi Hendri pamit ke perusahaan cabang dan Gathan ke DRG•GROUP sementara Gina ke kampusnya.
"Mas Gathan?" Panggil Kinara membuat Adit mengehentikan kursi roda Gathan.
Kinara berjalan mendekati Gathan lalu meraih tangan Gathan dan menciumnya sebagai pelepasan untuk sang suami juga sebagai tanda hormat sebagai istri.
"Hati hati mas." Ucap Kinara setelah mencium tangan suaminya. Sementara Gathan hanya diam karena terkejut.
"Adit, Jangan ngebut ya." Pesan Kinara yang di angguki oleh Adit.
"Assalamualaikum!" Sindir Kinara sebelum Gathan benar benar pergi.
"Huh! Assalamualaikum." Tukas Gathan peka namun dengan nada malas.
"Waalaikumsalam..." Balas Kinara menahan tawanya.
"Wah... Aku gak salah liat nih? Kak Gathan patuh?" Celetuk Gina Bertanya tanya, dimana dia telah siap pergi ke kampus nya.
"Kakak kamu itu mana ada patuh? Ketus mulu yang ada." Jawab Kinara jengkel.
"Hahaha, ya udah aku berangkat ya kak, dahh kak Nara... Assalamualaikum." Pamit Gina di selingi tawa kecil.
Setelah kepergian Gina, Kinara pun masuk kedalam lagi dan menuju kamarnya, karena Gathan melarangnya menyentuh kasur Kinara patuh dan selalu ingat dengan itu, ia menjalankan apa yang Gathan perintahkan walaupun itu menyakiti hatinya.
"Sebaiknya aku hubungi pak Aldo dulu, aku tidak bisa masuk kerja karena tidak enak badan, yah begitu saja." Tukas Kinara memutar mutarkan ponselnya.
"Hufft.... Ok, Kinara tidak apa-apa sekali kali berbohong demi kebaikan." Ucap Kinara berusaha meyakinkan diri.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskan nya Kinara menekan nomor Aldo dan menghubungi nya untuk izin tidak bisa masuk kerja.
Tut.... Tut....
"Iya Kinara, ada apa?" Tanya Aldo di sebrang telepon.
"Begini pak, saya izin tidak masuk kerja karena saya kurang enak badan pak, bolehkah?" Jawab Kinara sekaligus bertanya.
"Iya tentu saja, tidak masalah. Kau istirahat saja dan cepat kembali ke perusahaan." Balas Aldo ramah.
"Tentu pak, terimakasih pengertiannya."
"Sama-sama.
__ADS_1
Kemudian Kinara pun memutuskan panggilan telepon nya.
"Nanti malam saat mas Gathan pulang aku coba minta izin deh, semoga aja di izinkan." Tukas Kinara penuh harap.
"Semangat Kinara! Ingat seorang istri harus ada izin suami dalam melakukan sesuatu. Ya Allah.... Mudahkanlah urusanku dalam meminta izin pada suamiku nanti." Ucap Kinara di selingi do'a.
Sementara itu di sisi lain, Bella dan Andin tengah ada rumah mereka di Bandung, tepatnya tempat tinggal Andin dahulu sebelum pergi ke Jakarta dan menikah.
"Mah, Kinara pasti udah masuk kedalam keluarga Dierga, jadi kapan kita mulai memeras kutu busuk itu?" Tanya Bella tak sabaran.
"Sabar dulu Bella, tunggu beberapa hari, kita harus beraksi di waktu yang aman." Jawab Andin.
"Ok, lalu ini? Papah gimana? Dari kemarin mamah terus menyuntikkan obat bius pada Papa, emang gak papa mah?" Tanya Bella takut.
"Iya gak papa tenang aja." Jawab Andin santai.
Yah... Malam hari sebelum pernikahan di langsungkan, Andin memberikan obat bius di minuman Arya yang membuat Arya pingsan, dosis itu dengan batas waktu 6 jam, setiap 5 jam Andin akan menyuntikkan obat bius lagi pada Arya.
Sampai saat ini Arya pun masih tak sadarkan diri dari pengaruh obat bius. Andin membawa Arya ke Bandung untuk bersembunyi dari keluarga Dierga, walaupun sebenarnya keluarga Dierga bisa menemukan mereka kapanpun. Namun yang Andin yakini keluarga Dierga tidak akan mencari lebih lanjut.
🌅🌅🌥️💫
17:00 WIB
"Mami, Bi Ani, Aku tinggal ke kamar dulu ya? Mas Gathan Bentar lagi pulang, aku mau nyiapin air untuk Mas Gathan mandi." Pamit Kinara menta izin.
"Ohh iya nak, tidak apa-apa, masalah makanan ini ada mami sama Bi Ani yang urus. Tenang aja." Saut mami Liska tersenyum.
Kinara pun pergi meninggalkan kedua orangtua itu dan menuju kamarnya untuk menyiapkan segalanya untuk Gathan.
"Kau lihat itu Bi? Dia sangat perhatian pada Gathan. Sepertinya bukan hal yang buruk istri Gathan adalah Kinara." Ucap mami Liska tersenyum puas.
"Saya rasa begitu, Non Kinara sangat lembut nyonya." Balas Bi Ani ikut senang.
"Alangkah baiknya jika Gathan bisa melihat kebaikan hati Kinara." Ucap mami Liska penuh harap.
"Ah... Anak ku yang bodoh itu hanya tau bersikap dingin saja! Entah mengapa dia bisa sedingin itu?! Apa aku dan Papinya ada salah pose saat membuatnya?!" Sambung mami Liska menggerutu.
Bi Ani hanya diam, ia bingung ingin menjawab bagaimana, secara mami Liska sudah ngaur ke hal pribadinya sendiri.
15 menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman mansion besar Dierga. Kinara yang sedang membantu menyajikan makanan setelah kembali dari kamar bergegas ke pintu untuk menyambut kedatangan suami nya, mm tentu ayah mertuanya juga.
"Assalamualaikum." Salam Papi Hendri.
"Waalaikumsalam." Saut Kinara lembut.
"Ayo Pi salahkan masuk." Sambut Kinara hangat yang di balas senyuman lembut oleh Papi Hendri.
__ADS_1
SABAR BANGET MBA NARA 🥺
BERSAMBUNG..........................................