
Jam 17:00 waktu Indonesia, Gathan meninggalkan ruangannya untuk kembali ke mansion Dierga. Adit mendorong kursi roda Gathan memasuki lift dan meninggalkan perusahaan.
Sampai di mansion, Gathan di sambut hangat dan sopan oleh para maid dan penjaga rumah. Adit mendorong kursi roda Gathan memasuki mansion besar Dierga. Terlihat ayah dan ibu Gathan telah menunggu di ruang tamu.
"Gathan, udah pulang ya." Ujar Mami Liska menyambut kedatangan anaknya.
"Iya. Mam, Pi, Gathan permisi." Ucap Gathan yang langsung di respon oleh Adit dan membawanya pergi.
Gathan dan Adit meninggalkan 2 orang paruh baya itu yang menatap sedih punggung Gathan. Putranya yang dulu banyak bicara sekarang menjadi dingin bahkan pada ayah dan ibunya.
"Kakak udah pulang?" Tanya sang adik yang sedang menuruni anak tangga.
Adit menghentikan kursi roda Gathan, namun Gathan memerintah untuk melanjutkan mendorong kursi roda nya menuju lift dan meninggalkan sang adik yang berharap mendapat jawaban.
Nihil, dirinya kecewa dan terisak karena sang kakak yang masih mengabaikan nya. Kakak yang dulu sangat menyayangi nya sekarang malah mendiaminya semenjak kejadian 3 tahun lalu.
"Kakak! Kak Gathan! Maafin Gina, Kakak!" Panggil Gina terisak berusaha mengejar sang kakak yang telah masuk kedalam lift.
"Hiks... Kakak... Apa kamu masih menyalahkan ku? Hiks..." Ucap Gina semakin terisak dan terduduk di lantai.
Kedua orangtuanya sontak menghampiri Putri mereka yang malang itu. Mami Liska membantu Gina untuk berdiri dan membawanya duduk di sofa, Papi Hendri menatap sendu putrinya itu, ia merasa kasihan pada putrinya karena telah di abaikan selama bertahun-tahun oleh kakak tercintanya.
"Gina sayang, sabar... Mami yakin kakak kamu tidak menyalahkan kamu, dia cuma butuh lebih banyak waktu untuk menerima keadaannya saat ini." Ujar Mami Liska menenangkan Gina.
"Hiks... Kakak membenci ku, Mi." Ucap Gina terisak.
"Tidak sayang tidak, Mami sama papi yakin kakak kamu gak mungkin benci sama kamu."
"Hiks... Kalian cuma mau hibur aku, kenyataan kakak membenciku! Bahkan sangat membenciku! Hiks..." Ucap Gina terisak seraya berlari pergi meninggalkan kedua orangtuanya itu.
"Gina! Gina!" Panggil Papi Hendri dan Mami Liska bersamaan.
__ADS_1
Gina tak menghiraukan panggilan keduanya, ia terus berlari pergi menuju kamarnya, hatinya hancur penuh penyesalan atas apa yang terjadi 3 tahun lalu. Gina melemparkan tubuhnya di atas ranjang king size milikinya dan menangis tersedu-sedu, ia bertanya tanya kapan sang kakak akan melupakan kejadian itu?.
"Hiks..Hiks.. kakak aku minta maaf." Isak Gina memeluk erat boneka pemberian Gathan sebelum kejadian itu.
*****
Jam 20:30 Gathan dan keluarga telah berkumpul di ruang keluarga, tak terkecuali Gina dengan mata yang sembab karena menangis, Gathan merasa kasihan melihat adiknya namun ingatan masa lalu membuat Gathan mengabaikan segalanya.
Mereka mengobrol santai terlebih dahulu, Lalu mami Liska tiba tiba langsung ke topik utama yang membuat Gathan tersedak saat meminum minuman nya, Minum air pun tersedak sangking kagetnya.
"Pernikahan kamu di percepat Minggu ini." Ucap Mami Liska to the point.
KHUKK KHUKK!!!...
Gathan kaget, mengapa ibunya masih meneruskan perihal pernikahan? Sedangkan dirinya telah menolak waktu itu. Dan juga siapa yang akan mau menikah dengan dirinya yang lumpuh? Kalau ada pasti hanya mengincar hartanya saja, begitu menurut Gathan.
"Mam... Gathan gak mau nikah." Tolak Gathan terus terang.
"Jangan menolak, ini sudah kesepakatan bersama kamu harus menikahi gadis itu, semuanya sudah sepakat, dia juga bersedia untuk menerima keadaan kamu." Jelas Mami Liska dan Gathan hanya menunduk geram.
Duarr........
Bagaikan Sambaran petir di hati keduanya mendengar pernyataan putra nya itu, hati mereka sakit bahkan mami Liska refleks menangis.
"Tidak nak, kamu tidak cacat... Jangan seperti itu..." Lirih Mami liska dengan air mata yang mengalir.
"Gathan kamu bisa sembuh papi yakin itu, anak papi tidak cacat." Yakin Papi Hendri.
"Berhentilah berusaha! sudah bertahun-tahun namun semuanya tidak ada hasil! dan satu lagi aku juga sudah mengusir semua dokter yang papi tugaskan memeriksa kaki ku." Sarkas Gathan dengan nada santai di kalimat terakhirnya.
"Kamu harus semangat Gathan, dokter juga bilang kamu punya peluang untuk sembuh! Papi mohon kamu jangan menyerah." Pinta Papi Hendri bersimpuh di depan kursi roda Gathan.
__ADS_1
"Sudahlah Papi. Jika hanya ini yang ingin kalian bahas aku permisi." Pamit Gathan yang di cegah oleh sang ibu.
Mami Liska menghampiri anaknya dengan perasaan yang di buat tenang, mami liska membujuk Gathan untuk membahas pernikahan lebih lanjut lagi, karena Gathan belum bertemu dengan gadis itu dan menurut Mami Liska gathan akan menyukainya setelah bertemu.
"Baiklah, siapa gadis itu?" Tanya Gathan dingin.
"Bella Saputri, dari keluarga Digta." Jawab Mami Liska mantap.
"Hahaha putri dari keluarga Digta? Keluarga rendahan itu? Yang benar saja, mereka pasti hanya mengincar harta ku!" Cercah Gathan tersenyum menghina.
"Gathan kamu gak boleh berfikir sembarangan, Mami liat dia beneran tulus." Ujar Mami Liska berusaha membujuk.
"Hahaha Bella Saputri, bukankah dia anak tiri dari keluarga itu? Mami bercanda mau aku menikahi anak tiri keluarga Digta? Yang benar saja." Cercah Gathan tersenyum menghina.
"Mam, Kakak benar, Kenapa kakak harus menikahi anak tiri? Aku gak suka anak tiri jadi kakak ipar aku." Tukas Gina yang sedari tadi diam.
Mami Liska lantas menatap sang suami, ia meminta pendapat sang suami atas penolakan kedua anaknya.
"Nak, Temui dia dulu ya? Kami semua sudah sepakat. Ini sudah keputusan keluarga untuk meneruskan perjodohan itu. Setidaknya kamu harus bertemu dia dulu untuk saling mengenal." Jelas Papi Hendri memberi penjelasan.
"Baiklah, Besok malam undang keluarga Digta ke restoran Gold. Jam 8 malam, tidak ada keterlambatan, jika tidak pernikahan ini langsung aku batalkan." Tegas Gathan seraya menggerakkan kursi rodanya meninggalkan ruang keluarga.
"Mami, aku juga permisi mau istirahat." Ujar Gina seraya berdiri dari duduknya.
"Iya sayang, jangan sedih terus, mata kamu sampai sembab begitu." Ucap Mami Liska menatap sendu ke arah Gina.
Gina tak mengatakan apapun, ia lantas pergi dari ruang keluarga karena tak ingin lebih mengingat kesedihan nya itu. Papi Hendri yang melihat istrinya sedih lantas mengajak istrinya untuk istirahat dan menenangkan nya.
"kasian Gina Mas." Ucap Mami Liska lirih.
"Sabar Mi... anak anak pasti akan segera kembali seperti dulu lagi." Ujar Papi Hendri menenangkan sang istri.
__ADS_1
• SEBENARNYA APA YANG TERJADI TIGA TAHUN LALU???
BERSAMBUNG.............................................