Istri Palsu CEO Dingin

Istri Palsu CEO Dingin
Perkiraan Yang Luput


__ADS_3

"kamu baik baik saja?" Tanya Kinara pada gadis itu.


"Aku baik baik saja, terimakasih Kak." Jawab nya tersenyum.


"Kenalkan namaku Regina, Biasa di panggil Gina." Lanjut Gina menyodorkan tangannya pada Kinara.


Kinara menerima nya dengan senyuman hangat dan ikut memperkenalkan dirinya. *Gadis yang manis.* Batin Kinara tersenyum.


*Wah.... Ini dia kakak ipar idaman aku, pemberani! Hihi, andai kakak gak punya calon istri, aku bakal kenalin kak Kinara sama mama untuk di jodohkan sama kakak.* Batin Gina penuh harap dan kekecewaan.


"Kamu bukan orang sekitar sini kan?" Tanya Kinara yang tak pernah melihat Gina.


"Iya Kak, Aku baru mau pulang abis nganterin temen aku." Jawab Gina ramah.


"Ohh ya udah cepet pulang sana. Ini udah sore, bahaya kalo udah malem." Ucap Kinara menasehati.


"Ohh iya kak, Makasih ya kak Kinara, Kak Kania. Aku duluan kak." Pamit Gina tersenyum yang di angguki oleh Kania.


"Sama sama Gina, hati hati." Balas Kinara perhatian.


Gina pun pergi meninggalkan 2 gadis cantik itu, Kinara dan Kania pun juga ikut masuk kedalam mobil dan tancap gas menuju kediaman Digta.


Sampainya di rumah Kinara langsung di sambut dengan amarah sang ibu tirinya. Begitulah dia, di saat Arya atau lebih tepatnya ayah Kinara tidak ada di rumah, ibu tirinya akan menunjukkan sifat aslinya.


"Dasar anak nakal!! Kenapa malam sekali kamu kembali hah?!" Bentak Andin.


"Tapi mah, ini kan belum malam." Pungkas Kinara membela diri.


"Kamu masih berani menjawab?! Cepat masuk dan bantu Bella bersiap untuk pergi menemuimu calon suaminya!" Sarkas Sang ibu tiri merasa bangga karena akan memiliki besan kaya raya.


"Baik Mah." Ucap Kinara patuh.


Kinara pun masuk kedalam rumah nya dan menuju kamar Bella, sesampainya di sana Bella juga membentak bentak Kinara.


Kinara hanya diam, karena menurutnya percuma saja jika ia menjawab karena kakak tirinya itu sama persis seperti ibunya, sama sama merasa paling benar dan ingin menang sendiri.


Kinara membantu Bella bersiap hampir satu jam, Bella sudah rapi dan terlihat anggun dengan dress hijau pupus yang ia kenakan, di tambah wajahnya yang dapat di akui cantik itu. ~ Namun sayang hatinya tak secantik wajahnya.~ AUTHOR 😅


"Kerja bagus." Tukas Bella seraya berputar putar mengagumi penampilan nya malam ini.


"Bella sayang, ayo berangkat Papah juga sudah menunggu di depan." Panggi Andin masuk kedalam kamar Bella.

__ADS_1


"Iya Mah, Ayo." Ucap Bella mengangguk.


Bella pun pergi dengan sang ibu meninggalkan Kinara sendiri yang tengah terdiam membisu larut dalam lamunannya.


Saat tersadar dari lamunannya Kinara lantas mengintip dari jendela kamar Bella. Papah nya, Papah yang amat ia cintai, yang dulu amat mencintai dan memanjakannya kini lebih mencintai anak tirinya dan menjadi dingin padanya.


"Hiks.... Mamah.... Keluarga kita telah tercerai-berai, Papah tidak menginginkan Nara lagi. Hiks..." Isak Kinara mengingat mendiang Ibu kandungnya.


"Astaghfirullah Non Nara!" Pekik Bi Sita saat melihat Kinara menangis di lantai.


Bi sita langsung menghampiri Kinara dan menenangkan nya, awalnya Bi sita ingin memanggil Kinara untuk makan malam karena Andin dan yang lain tidak di rumah, siapa sangka Bi Sita malah menemukan Kinara menangis tersedu-sedu di kamar Bella.


"Bi... Keluarga ini bukan keluarga ku lagi semenjak Mamah pergi." Lirih Kinara terisak.


"Sabar Non, Non Nara pasti akan mendapatkan kebahagiaan Non Nara lagi." Ucap Bi Sita berusaha menghibur.


*****


Arya, Andin dan Bella telah sampai di restoran Gold, mereka bertiga menemui Gathan dan keluarganya di meja VIP yang Gathan pesan.


Mami Liska dan Papi Hendri menyambut kedatangan ketiga nya dengan hangat, berharap juga Gathan menyukai gadis cantik di sebelah Andin. Namun ekspresi Gathan tak menunjukkan apapun kecuali kedinginan nya.


"Bella, kamu semakin cantik saja jika sudah berhias." Puji Mami Liska menggenggam tangan Bella.


"Tuan Arya, Nyonya Andin dan Bella ayo silahkan duduk." Titah Papi Hendri mempersilahkan.


Arya beserta anak dan istrinya itu duduk di bangku yang telah tersedia. Mereka makan malam terlebih dahulu sebelum membahas persolan pernikahan, sementara Gathan telah sangat bosan dengan semua hal tak berguna itu.


Bella terus memandang Gathan, ia takjub dengan ketampanan yang Gathan miliki, Bella semakin yakin bahwa berita kelumpuhan Gathan Dierga hanya di buat buat untuk mencari pasangan yang tepat untuk Gathan, secara Gathan duduk nyaman di kursi putih yang sedang ia duduki.


Usai dengan acara makan malam mereka, mereka pun mulai membahas soal pernikahan. Bella bersikap manis sebisa mungkin untuk membuat keluarga Dierga senang. Papi Hendri dan Mami Liska senang, Namun Tidak dengan Gathan dan Gina, mereka berdua merasa jengkel pada Bella.


*Ada yang aneh dengan wanita ini.* Batin Gina curiga.


*Mami sama Papi ada ada saja, apa mereka tidak bisa melihat sikapnya yang palsu ini? Huh!! Bahkan orang buta akan tau dengan sandiwara yang ia lakukan.* Batin Gathan jijik.


"Bella, apa kamu benar-benar tidak keberatan dengan keadaan Gathan?" Tanya Mami Liska memastikan.


"Iya Tante, Aku janji akan mencintai Gathan setulus hati walau bagaimanapun keadaannya." Jawab Bella mantap.


"Bagus sekali... Aku memang butuh menantu yang mau menerima Gathan apa adanya. Aku harap kamu beneran bisa mengurus Gathan." Tukas Mami Liska tersenyum.

__ADS_1


Semua perbincangan dilewati dengan lancar, Mami Liska sangat senang dengan Bella, Namun Papi Hendri agak ragu. Sedangkan Gina dan Gathan sudah tidak suka sejak awal.


"Huh!! Aku lebih suka kak Kinara! Dia ini jelek dan licik! Aku tidak mau punya kakak ipar seperti dia!" Gumam Gina kesal.


"Mami, Gina pamit ke toilet sebentar." Pamit Gina menatap Mami Liska.


"Iya sayang, jangan lama-lama kamu harus mengenal Bella lebih dalam." Balas Mami Liska tersenyum.


"Iya." Respon Gina dingin.


Gina pun pergi meninggalkan mereka, Sementara Bella merasa geram karena dapat melihat jelas bahwa Gina tidak menyukainya.


*Gadis sialan! Tunggu aku menikahi kakak mu, sampai saat itu aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku!* Batin Bella emosi.


"Gathan bawalah Bella keluar malam ini, kalian harus saling mengenal dulu." Tutur Mami Liska menatap Gathan.


"Tapi Mam..."


"Sudah jangan menolak, hal ini penting untuk kalian berdua." Tegas Mami Liska memotong pembicaraan Gathan.


Gathan pun pasrah, ia diam dan mengikuti kemauan Mami Liska, Gathan memanggil Adit yang ada di meja tak jauh dari tempat Gathan berada. Dalam sekejap mata, Adit pun membantu Gathan duduk di kursi rodanya.


*Apa dia benar benar cacat? Jika benar aku tidak mau menikahinya.* Batin Bella mulai cemas.


Adit mendorong kursi roda Gathan keluar restoran dan menuju mobil, Bella mengikuti kedua pria tampan di hadapannya dengan perasaan was-was.


"Bicaralah, Berapa Mami membayar mu untuk menikah dengan ku?" Tanya Gathan dingin.


"Aku tidak menerima bayaran apapun, aku tulus bersedia menikah dengan mu." Jawab Bella tersenyum hangat berusaha untuk tenang.


"Hahaha kalau tidak di bayar, ambisi mu pasti harta ku, jika tidak tak mungkin kau mau menikah dengan pria cacat seperti ku." Cercah Gathan menghina.


"Oh... Atau kau mengira aku cuma pura-pura? Dengar wanita, aku benar-benar lumpuh! Walaupun kau memukul kaki ku aku takkan bisa merasakan apapun, kaki ku ini benar-benar tak bisa di gunakan." Sambung Gathan penuh penekanan.


Mendengar hal itu Bella semakin was-was, Walaupun Gathan memiliki segalanya, namun Bella selamanya tidak ingin memiliki suami cacat yang dapat menyusahkan dirinya untuk mengurusnya.


"Adit langsung pergi ke kediaman keluarga Digta." Perintah Gathan Tampa menatap Adit.


Adit mengangguk mematuhi perintah tuan mudanya itu. Sementara Bella merasa cemas karena telah menerima perjodohan itu.


*Tidak, Dia sudah menegaskan dia cacat. Aku tidak mau punya suami cacat! Tidak bisa, aku harus mencari cara agar aku tidak jadi menikah dengan nya.* Batin Bella cemas seraya memikirkan niat jahatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG............................................


__ADS_2