
"Mas, tidak bisakah kau percaya padaku?" Tanya Kinara berhati-hati.
"Percaya dengan wanita hanya akan membawa sial!" Sarkas Gathan dingin.
"Tapi gak semua wanita sama seperti yang ada di pikiran mas."
"Heh!! Mana ada maling teriak maling!" Cercah Gathan sinis.
Kinara terdiam, ia berfikir ini bukanlah saat yang tepat untuk menyakinkan gathan, ia akan mencoba perlahan-lahan untuk mendapatkan kepercayaan gathan sampai gathan sendiri yang akan mempercayai nya dengan kemauannya sendiri, tanpa harus di bujuk.
*****
"Mam, maafin aku ya, gara-gara aku kerja jadi gak bantuin mami masak."
"Astaghfirullah Kinara... Kamu ngomong apa sih? Tidak apa-apa, jangan merasa sungkan begitu, kalau mami masih butuh di bantu masak, buat apa pelayan sebanyak ini di rumah sayang? Mami sebenarnya juga karena gak punya kegiatan makanya ikut masak bareng mereka, sekalian mantau supaya tidak ada kesalahan." Jelas Mami Liska mengusap punggung tangan Kinara.
"Aku gak enak aja sama mami." Ucap Kinara lagi.
"Jangan terus merasa sungkan, disini memang begitu, semuanya pelayan yang urus, kau harus terbiasa." Celetuk Gathan menimpali.
Kinara menatap gathan terkejut, ia mencerna kalimat 'Kau harus terbiasa' yang gathan lontarkan. Kinara menyimpulkan banyak pemikiran dan pertanyaan, apakah suaminya sudah mulai menerimanya atau tidak? harapan untuk mendapatkan cinta suaminya terus membelot di hati Kinara.
"Mas, mau yang mana biar aku ambilkan." Tawar Kinara lembut.
"Terserah!" Balas gathan dingin.
"Gathan! Istri kamu sudah sangat baik padamu! Kenapa kamu sekasar itu?!" Tanya mami Liska kesal.
"Terserah aku mau memperlakukan dia bagaimana, mami gak usah ikut campur!" Cecar gathan dingin.
"Dia istri kamu gathan! Hormatilah perasaanya sedikit." Sarkas mami Liska tambah kesal.
"Aku tidak selera, permisi." Ucap gathan membelokkan kursi rodanya dan pergi.
"GATHAN!!!" Teriak mami Liska murka.
Kinara menyusul gathan pergi, ia memanggil manggil nama gathan namun gathan sama sekali tidak menghiraukan panggilan darinya, pintu lift tertutup dan segera Kinara berlari menaiki anak tangga untuk menyusul gathan ke kamarnya.
Tepat saat Kinara tiba di atas, gathan juga keluar dari dalam lift, Kinara mencoba bicara dengan Gathan namun gathan tidak menggubris Kinara sama sekali.
"Mas jangan marah, ayo turun dan makan malam ya." Ujar Kinara berusaha membujuk.
__ADS_1
Gathan diam dan masuk kedalam kamarnya di susul Kinara yang menghembuskan nafas panjang. Kinara bingung ingin bicara bagaimana lagi pada gathan.
"Mas kita turun dan makan malam ya." Ujar Kinara masih tetap berusaha.
"Makan saja sendiri! Untuk apa mengajak ku!!" Ketus gathan.
"Mas kamu gak boleh istirahat dalam keadaan perut kosong, atau aku ambilkan makanan untuk mas kebawa ya. Mas harus makan atau mas bisa sakit." Jelas Kinara lembut.
"Untuk apa kau peduli dengan ku!! Harusnya kamu senang, jika aku sakit dan mati maka tidak ada lagi yang menyiksa mu, dan juga kau akan terbebas dari belenggu pernikahan neraka ini." Ucap gathan panjang lebar.
"Mas!!!" Sentak Kinara tak terima dengan kata-kata gathan.
Gathan menatap Kinara dengan tatapan kaget, ia benar-benar tercengang melihat Kinara yang menunjukkan ekspresi kekesalannya, bahkan Kinara menyentak Gathan di saat mereka tidak sedang bertengkar seperti sebelumnya.
"Mas, bagimu mungkin ini neraka, tapi tidak dengan ku! Pernikahan ini saklar mas! Sah dimata Allah dan hukum! Bahkan jika kamu menyiksaku sampai mati aku juga tetap akan berusaha mempertahankan rumah tangga kita tetap utuh!" Sarkas Kinara membuat hati Gathan sedikit tercubit ketika Kinara mengatakan 'Mati'.
"Kenapa kau harus melakukan itu?! Padahal jika terlepas dengan ku kau bisa menjalani kehidupanmu seperti sebelumnya, dan bebas mencari pria yang kau inginkan." Ucap gathan penasaran.
"Mas... Berikan aku kesempatan, aku akan membuktikan bahwa aku tidak mempunyai maksud apapun menjadi istrimu. Kumohon percaya aku." Mohon Kinara bersimpuh di depan Gathan.
"Tidakkah semua yang aku lakukan membuatmu sedikit memiliki simpati pada ku?" Tanya Kinara berharap.
Kinara tetap menantikan jawaban 'ya' dari gathan, namun nihil! Gathan tetap diam dan membuang muka tak mengidahkan pertanyaannya. Kinara menghembuskan nafas panjang, ia kemudian berdiri dan kembali bicara pada gathan.
"Baiklah, anggap saja aku tidak mengatakan apapun, aku akan kebawa mengambil makanan untukmu, jangan tidur sebelum makan malam ya mas." Ucap Kinara diakhiri pesan.
Gathan diam dengan posisi yang sama, Kinara melangkah kakinya menuju pintu, disaat baru membuka pintu langkahnya berhenti karena cegahan dari gathan. Kinara menghentikan langkahnya dan menoleh menatap gathan yang juga menatapnya.
"Ya mas? Ada apa?" Tanya Kinara mengernyit.
"Besok keluarlah dengan ku." Jawab Gathan dingin.
Kinara terpelongo dengan kalimat yang di ucapkan gathan, ia benar-benar tidak percaya Gathan mengajaknya keluar bersama. namun sesaat kemudian Kinara tersenyum senang dan menyetujui hal itu, setelah itu pun Kinara berlalu untuk mengambilkan makan malam untuk Gathan.
_
_
"Kak Nara, apa kakak masih marah?" Tanya Gina tampak khawatir.
"Kakak mu tidak marah, dia bilang dia hanya sedang pusing memikirkan kerjaan, jadi tidak sengaja marah-marah." Jawab Kinara menenangkan.
__ADS_1
"Kinara, jangan selalu membela gathan, dia itu memang harus di tegasin supaya tidak semaunya." Cecar mami Liska kesal.
"Mam, apa mami tidak pernah berfikir ada alasan mengapa mas Gathan seperti itu?" Tanya Kinara yang seketika membuat mami Liska terdiam.
Mami Liska tentu tau apa yang telah membuat perangai Gathan menjadi kasar dan dingin seperti sekarang ini, siapa yang tidak akan berubah saat seorang pangeran kehilangan mahkotanya yang menjadi kebanggaannya berdiri di depan umum.
"Mami pasti paham kan? Jadi aku mohon sama mami, jangan seperti tadi, aku juga tidak tersinggung dengan perilaku dingin mas gathan, aku bisa pelan-pelan mam." Jelas Kinara tampak memohon.
"Maafkan mami Nara, Mami janji akan lebih sabar." Ucap mami Liska penuh sesal.
Papi Hendri terbelalak melihat pemandangan di depan matanya itu. Sementara Gina sudah berdiri dari duduknya dan menghampiri papinya itu, Gina berbisik pada papi Hendri yang membuat papi Hendri mengangguk antusias.
"Pi, kayak nya yang papi sebut itu kak Kinara deh." Bisik Kinara tepat di telinga papi Hendri.
"Sepertinya benar." Balas papi Hendri tak kalah berbisik dan mengangguk.
"Mam, aku ke kamar dulu bawa makanan ini untuk mas gathan ya." Ujar Kinara yang telah siap dengan satu porsi makanan di nampan.
"Iya, sayang." Balas mami Liska tersenyum.
Kemudian Kinara pun beranjak pergi meninggal keluarga nya itu untuk mengantarkan makan malam untuk Gathan, sampainya di dalam kamar terlihat Gathan yang sudah duduk manis di ranjangnya dengan memangku laptop di pangkuannya.
"Mas, berhenti dulu kerjanya, ini makanannya." Celetuk Kinara meletakkan makanan itu di nakas.
"Nanti saja, aku masih sibuk." Tukas gathan masih fokus dengan laptopnya.
"Kalo mas kerjanya larut gimana? Kan gak jadi makan malam nya." Balas Kinara membujuk namun gathan tak bergeming sedikitpun.
"Mas, buka mulut." Perintah Kinara siap menyuapi gathan makanan.
Gathan terpaku menatap sendok berisi makanan di depannya, ia gengsi untuk menerima suapan dari Kinara yang berstatus istrinya itu.
"Mas, ayo makanlah." Ujar Kinara bingung atas diamnya Gathan.
"Aku bisa sendiri!" Sarkas Gathan dingin.
"Katanya kamu sibuk, biarkan aku menyuapi kamu mas, anggap ini terakhir kalinya, biarkan aku menikmati waktu saat ini." Ujar Kinara memohon.
JADI GIMANA NIH??? APAKAH GATHAN AKAN MULAI MEMPERCAYAI KINARA? 🧐
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1