
Mentari pagi menyinari kamar seorang gadis cantik hingga membuatnya terbangun, Kinara beranjak dari tempat tidur nya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Usai dengan acara mandinya Kinara bersiap siap dan pergi kebawah untuk memasak dan membersihkan rumah di bantu ART di rumahnya. Walaupun dirinya memiliki ART namun sekarang ia harus hidup bagaikan pelayan karena desakan Ibu tirinya yang terus mengancam dengan keselamatan ayah Kinara.
"Non Nara, Nyonya keluar pagi pagi sekali tadi, Non Nara gak usah kerja ya? Bibi kasihan liat Non di perlakukan seperti pelayan." Ujar Art itu prihatin.
"Sudah Bi, dari dulu aku sudah biasa bantu Mama masak." Ucap Kinara tersenyum.
"Tapi Non.."
"Sudah Bi atau Nara marah nih!" Ancam Kinara memangku tangan di dada yang membuat Art tersebut bungkam.
"Bi sita kalo beneran mau bantuin Nara, Bi sita yang bersih bersih aja, Nara aja yang masak biar cepet, soalnya Nara ada kelas pagi." Lanjut Kinara nyengir kuda.
Bi Sita pun mengangguk cepat dan segera melakukan apa yang Kinara instruksi kan, mumpung si nenek sihir lagi pergi begitu pikir Bi Sita.
30 menit kemudian semuanya sudah selesai, soal membersihkan rumah juga hanya sebentar karena keluarga Kinara hanya keluarga kecil. yang ayah nya hanya seorang manager sebuah perusahaan tingkat rendah.
"Papah, emang Mamah sama kak Bella kemana?" Tanya Kinara pada sang ayah yang sedang sarapan bersama.
"Lagi keluar beli baju baru buat Bella untuk ketemu sama keluar Dierga nanti malam." Jawab sang ayah tanpa menatap Kinara.
*Ya Allah... Semenjak Papah menikah lagi dia begitu dingin pada ku. Papah... Nara rindu Papah.* Batin Kinara lirih.
"Pah Nara sudah selesai, Nara pamit assalamualaikum." Ucap Kinara seraya beranjak pergi.
Tinggal Arya sendiri di meja makan, ia menatap sekilas punggung putrinya yang telah pergi, sesaat ia berfikir seperti ada yang hilang dari hidupnya.
Sampai di luar rumah Kinara ternyata telah di tunggu oleh Kania untuk berangkat bersama ke perusahaan Dierga. Kinara sengaja tidak memberitahu sang ayah bahwa dirinya sedang magang di perusahaan, jika ayahnya tau Kinara pasti akan dilarang.
*****
"Mami, Aku berangkat kuliah dulu assalamualaikum." Ucap Gina menciumi punggung tangan Mami Liska.
"Papi, Gina pamit." Pamit Gina pada Papi Hendri.
"Iya, Hati hati ya nak." Pesan Papi Hendri yang di angguki oleh Gina.
Gina pun pergi, setelah kepergian Gina terlihat Gathan keluar dari lift bersama Adit, Gathan ikut sarapan bersama kedua orangtuanya, dan Adit pergi menyiapkan mobil. Saat sarapan tidak ada perbincangan sedikit pun hingga Gathan membuka suaranya.
"Dimana Gina Mam?" Tanya Gathan yang tak melihat keberadaan Gina.
"Dia udah berangkat ke kampus nya." Jawab Mami Liska.
"Sarapan kan?" Tanya Gathan perhatian namun dingin.
__ADS_1
"Sarapan kok." Jawab Mami Liska tersenyum.
Gathan pun diam dan menyantap makanan nya kembali setelah mendapatkan jawaban dari orangtuanya. Setelah usai Gathan pamit dan pergi menuju perusahaan nya.
"Sudah di periksa seluruh keluarga Digta?" Tanya Gathan tanpa menatap Adit.
"Sudah tuan muda, lebih jelasnya di sini." Jawab Adit mengoper iPad ke bangku penumpang.
Gathan menerima iPad itu lalu membukanya dan melihat data keluarga Digta. Gathan lantas tersenyum miring melihat data itu, sungguh lelucon baginya meneruskan perjodohan dengan keluarga rendahan seperti mereka.
"Aku sungguh tak habis pikir pada Mami, apa kelebihan keluarga rendahan ini hingga mami ngotot mau meneruskan perjodohan?" Pungkas Gathan bertanya tanya.
Adit hanya diam, dirinya benar benar tidak tau harus mengatakan apa. Dirinya tak pernah jatuh cinta atupun di jodoh jodohkan karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia.
Di tempat lain 2 gadis cantik itu telah sampai di perusahaan, Kinara dan Kania di bimbing oleh Aldo melakukan tugasnya. Perlahan Kinara dan Kania mulai terbiasa dengan semuanya walaupun sedikit amatir.
"Bagaimana? Kalian berdua paham kan?" Tanya Aldo menatap Kinara dan Kania bergantian.
"Paham pak. terimakasih." Jawab keduanya serempak dan di akhiri oleh Kinara sepihak.
"Baiklah, Untuk hari ini cukup sampai disini, kalian berusahalah untuk lebih terbiasa, silahkan mencoba dan semoga berhasil. Saya pamit." Ujar Aldo yang kemudian pamit pergi.
"Baik pak, Terimakasih." Ucap keduanya tersenyum.
Sore hari jam 17:00 Kinara dan Kania telah pulang kerja, seperti biasa mereka akan pergi ke restoran sebelum pulang karena Kinara juga jarang diberi makan oleh ibu tirinya itu.
Kania seringkali menyarankan Kinara untuk pergi dari rumah neraka itu dan tinggal bersamanya, namun Kinara menolak dengan alasan tak bisa meninggalkan ayahnya. Kania sesungguhnya kasihan pada sahabat nya itu, dulu ia begitu ceria dengan kehidup yang bahagia, penuh kehangatan keluarga, namun saat ibunya meninggal Kinara selalu tampak sedih.
"Nara, Lo mau makan apa nih?" Tanya Kania membolak-balik menu yang ada di tangannya.
"Terserah Lo deh, gue gak pilih pilih." Jawab Kinara tetap fokus pada ponselnya.
Kania hanya geleng-geleng kepala dan segera mencatat pesanan nya, setelah itu menyerahkan kertas itu pada pelayan di sana. Sementara menunggu pesanan mereka datang Kania juga ikut larut dengan keasikan dunia sosial medianya.
"Nara! Nara! Lo nonton live RM gak?" Tanya Kania bersemangat.
"Iya nih." Jawab Kinara tersenyum.
"Oh ya ampun Nara.... Taehyung ganteng banget." Ucap Kania tergila gila.
"Lo V Mulu, liat nih Jungkook sama Jimin Cute banget ya Allah..." Ujar Nara berbinar dimana dia melihat idolanya yang sedang ikut live.
Keduanya sama sama fokus melihat idolanya di live RM, aktifitas mereka terhenti saat pesanan mereka datang, akhirnya mereka menyantap makanan mereka seraya tetap menonton live namun berhenti ketawa ketiwi seperti sebelumnya. Malu sama pelanggan lain mungkin.
Hampir 30 menitan keduanya telah selesai makan, setelah membayar mereka pun pergi meninggalkan restoran itu dan menuju rumah mereka. Eh... Rumah Kinara tepatnya.
__ADS_1
TOLONG!!!..........
Teriakan minta tolong mengalihkan perhatian Kinara, tepat di pinggir jalan yang memang jalurnya sepi terlihat seorang gadis yang tengah di cegat preman. Kinara meminta Kania berhenti untuk menolong gadis itu.
"Nara, Lo yakin Lo bisa?" Tanya Kania cemas.
"Bisa." Jawab Kinara meraih sebuah kayu yang seukuran pukulan baseball.
Kinara berjalan pelan Tampa suara kearah itu dan......
BUGHH!!!
"Pergi kalian! Gak kapok kapok juga kalian ya?!" Sarkas Kinara yang memang pernah berhadapan dengan 2 orang di antara mereka.
"Oh mau jadi pahlawan ya?" Ujar salah satu yang belum tau Kinara.
"Apa Lo Hem?! Sini Lo!" Sentak Kinara lanjut memukul laki laki itu.
AGHHH.......
"Hentikan Gadis sialan! Aghh tolong aku tolong..." Teriak nya meminta tolong pada temannya.
*Dia sih sembarangan, ini kan gadis gila yang waktu itu. Sebaiknya aku pergi aja deh dari pada kena juga.* Batin nya yang kemudian menarik pergi temannya yang sama sama tau Kinara.
"Hey jangan lari kalian!!" Teriak Kinara setelah mengikat preman itu di bantu Kania.
"Sudah Nara, sebaiknya kita serahkan orang ini ke kantor polisi." Ujar Kania menenangkan Kinara.
*Jadi ini sisi bar-bar Kinara? Haha galak banget ni anak.* Batin Kania terkekeh.
Melihat temannya itu tersenyum aneh Kinara sontak mengubah ekspresi nya secepat membalikkan tangan, ia menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum hangat seperti tidak terjadi sesuatu sama sekali.
"Kamu baik baik saja?" Tanya Kinara pada gadis itu.
"Aku baik baik saja, terimakasih Kak." Jawab nya tersenyum.
"Kenalkan namaku Regina, Biasa di panggil Gina." Lanjut menyodorkan tangannya pada Kinara.
Kinara menerima nya dengan senyuman hangat dan ikut memperkenalkan dirinya. *Gadis yang manis.* Batin Kinara tersenyum.
*Wah.... Ini dia kakak ipar idaman aku, pemberani! Hihi, andai kakak gak punya calon istri, aku bakal kenalin kak Kinara sama mama untuk di jodohkan sama kakak.* Batin Gina penuh harap dan kekecewaan.
TENANG GINA, SEMUANYA ADA DI TANGAN AUTHOR 😂
BERSAMBUNG...............................................
__ADS_1