Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Di Rumah Dave


__ADS_3

Untuk beberapa saat yang tak terbilang tiap detik waktu yang terlewati. Erika masih diam mematung disana menatap ke arah sepasang kekasih yang sedang datang ke butik tersebut. Wajah Flamboyan seorang pria yang teramat ia kenal, tampak tersenyum berjalan menggandeng seorang gadis cantik yang bergelayut manja di sisi kiri tangannya. Nampaknya mereka juga sedang sibuk mencari baju pernikahan.


Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk seorang Ken menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari kejauhan. Ia sempat menatap tak percaya. Dan tatapanya itu di ikuti oleh wanita yang ada disisinya. Ken menatap Erika dalam, antara terkejut sekaligus terpesona. Membuat wanita yang di sisinya yang tak lain dan tak bukan adalah tunangannya yang bernama Ana nicole memasang wajah tak suka. Dan dengan reflek mencubit perut Ken dengan kencang.


"Augghh..Kau ini apa-apaan sih sayang, ini sakit tahu!" Ringis Ken sambil menahan rasa kesakitan.


"Siapa suruh matamu memandangi gadis lain dengan tatapan seperti itu!" Sungut Ana seraya menyedekapkan kedua tangannya ke dada.


"Tidak, aku hanya tak sengaja melihat gadis itu tadi, dia kan mantan pacarku, aku heran dia kenapa ada disini juga, itu saja sayang, jangan marah." Jelas Ken dengan suara lembut. Membuat Ana sedikit luluh.


"Benarkah? Sayang, maafkan aku juga telah salah sangka padamu, jadi dia hanya mantanmu yang katanya mau menikah dengan pamanku itu ya, oh..jadi dia orangnya." Ana kini bicara seraya kembali bergelayut manja di lengan kiri Ken seraya menyenderkan kepalanya di bahu tunangannya itu.


Entah mengapa, seolah ingin memanas-manasi Erika, Ken mencium kening gadisnya dengan lembut.


Melihat pemandangan itu Erika hanya bisa mengeriyitkan dahi, merasa konyol dengan sikap mantan kekasihnya itu.


Apa peduliku, terserah kau saja mau bermesraan di depanku, mau bagaimanapun juga aku tidak peduli. Menyebalkan sekali! Rutuk Erika dalam hati.


Erika bergegas kembali ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaian yang tadi ia pakai sebelumnya. Ia ingin segera pergi dari butik yang sekarang ia kunjungi. Kedatangan Ken dan tunangannya yang seolah seperti kebetulan, membuatnya tidak mood lagi berada lama-lama ada disana. Bukan karena ia merasa cemburu. Melainkan merasa muak dengan tingkah laku mereka. Bagaiman bisa kemarin Ken masih berusaha memohon cintanya. Lalu hari ini ia memamerkan kemesraan dengan gadis lain. Ternyata benar, selain pengecut dia itu memang benar-benar seorang pecundang. Erika jadi merasa menyesal karena pernah mencintai pria tersebut.


Terlintas di benaknya saat-saat masa SMA, saat pertama kali ia jadian dengan Ken mantan kekasihnya. Semua terlihat tampak indah. Ia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari Ken yang selalu tercurah padanya. Tapi hari ini, yang perlu Erika sadari, Ken mungkin tak sesempurna kelihatannya. Erika yang dulu terlalu naif karena memuja seorang Ken. Jelas sudah sekarang, seperti apa wujud Ken yang sesungguhnya. Semuanya jadi tampak menggelikan bagi Erika.

__ADS_1


Ia menghela nafas dalam beberapa kali demi membuang rasa kesalnya di depan cermin. Entah sudah beberapa kali ia mengumpat Ken di depan cermin tersebut.


"Kau pikir kau tampan hah, kau pikir kau segalanya, kau pikir aku tidak bisa mendapatkan kekasih yang lebih baik lagi darimu, dasar kau play boy. Seorang Dave mungkin seratus kali lebih baik darimu!" Sungut Erika di hadapan cermin di ruang ganti. Wajahnya tampak sendu setelah mengatakan semua itu. Ia pikir semua akan lebih baik jika ia bisa mengumpat Ken sepuas hatinya. Tapi ternyata tidak, bukan Ken yang menjadi penyebab ia merasa sedih. Tapi justru Dave, bagaimana bisa ia bisa mengatakan kalo pria itu seratus kali lebih baik dari mantan kekasihnya itu. Padahal kenyataanya Dave hanyalah seorang pria dingin yang membingungkan.


Lagi-lagi Erika mengambil nafas dalam, berusaha menenangkan gejolak dalam hatinya sendiri. Setelah semua terasa jadi lebih baik. Ia bergegas keluar dari ruang ganti.


Saat baru saja gadis itu keluar, Ia sudah mendapati Mark berdiri di hadapannya, pria itu seolah sedang menunggunya dengan setia.


"Ah..Mark, maaf jika harus membuatmu menunggu lama." Ujar Erika tampak sedikit merasa bersalah. Ia sadar ia baru saja menghabiskan waktu di ruang ganti cukup lama dan membuat Mark harus menunggu.


Mark hanya menyunggingkan senyum tipis. "Tidak apa-apa, aku selalu punya banyak waktu untuk menunggumu."


Menunggu sampai kau bisa menoleh ke arahku, meskipun aku tahu, kini kau sedang berjalan menuju ke arahnya. Lanjut Mark dalam hati.


"Lupakan E, ayo kita segera pergi dari tempat ini, sepertinya perutku sudah terlalu keroncongan karena terlalu lama menunggumu. Aku ingin cari makan setelah ini." Mark berusaha mengalihkan perhatian Erika, padahal perutnya tidak merasa lapar sama sekali.


"Apa!" Erika merasa terkejut untuk yang kedua kalinya.


"Apa kenapa?" Seru Mark.


Erika sedikit tergelak. "Haha..Kau memanggilku dengan sebutan E, kenapa?"

__ADS_1


"Oh..itu, aku merasa rumit jika harus memanggil namamu secara keseluruhan, jadi aku hanya membuatnya tampak lebih mudah saja." Ujar Mark datar, berusaha terlihat senormal mungkin di hadapan Erika. Padahal sekarang hatinya bergetar sangat hebat tiap kali berhadapan dengan gadis itu.


"Oh..Mark itu terdengar manis sekali, aku pikir itu panggilan kesayanganmu untukku. Haha." Ujar Erika seraya tergelak. Rupanya ia belum menyadari perasaan Mark yang sebenarnya.


Mark hanya bisa tersenyum mendengar celotehan Erika, baginya itu sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia.


****


Di rumah Dave.


Erika tidak langsung pulang ke rumah, Ia meminta Mark untuk mengantarnya ke rumah Dave, ia teramat rindu dengan pria itu, pria yang dingin yang menurutnya sikapnya susah di tebak, meskipun begitu, hati Erika semakin menuju ke arahnya.


"Menurutmu apakah Dave ada di rumah sekarang? ini masih jam kantor, tapi setidaknya aku ingin melihat-lihat ke dalam untuk mengobati rinduku terhadapnya." Ujar Erika ketika mobil yang di tumpanginya bersama Mark sudah terparkir sempurna di perkarangan rumah Dave.


"Biasanya tuan Dave, kalo siang ia suka pulang ke rumah, karena sebenarnya ia tidak suka makan di luar, ia lebih suka memakan masakan bibi Ema." Mark berusaha menjelaskan, dan itu membuat mata gadis yang tengah duduk di sampingnya berbinar.


"Baiklah Mark , kalo begitu aku punya rencana!" Seru Erika tampak antusias. Kemudian iapun segera bergegas turun dari mobil. Dengan tatapan bingung Mark pun mengikuti aksi Erika keluar dari dalam mobil.


"Ayo Mark, kita harus buru-buru, sebelum Dave pulang!" Seru Erika lagi seraya menggandeng lengan Mark dan menariknya menuju rumah Dave.


Mark yang masih tampak tak mengerti hanya bisa menurut. Ia melirik sekilas lengan yang sekarang menempel tangan Erika disana. Rasanya itu sangat menyenangkan tapi sekaligus membuatnya harus lagi-lagi membuat pertahanan dalam hatinya. Merepotkan sekali. Diam-diam rutuknya dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2