Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Erika dan Mark


__ADS_3

Saat Erika baru saja tiba di rumah, tiba-tiba saja ia sudah mendapati ibunya tergeletak di sisi tangga dalam keadaan pingsan. Dengan wajah panik Erika segera menghambur ke arah ibunya, kemudian dengan segera memeriksa pergelangan tangan ibunya untuk memeriksa denyut nadinya, kemudian salah satu tangannya di letakkan di dekat hidung sang ibu demi memeriksa nafasnya.


"Ibu! Ibu bangun bu!" Wajah Erika semakin panik ketika tak ada respon apapun dari ibunya. Ia berusaha mengguncang-guncangkan tubuh ibunya pelan. Tapi tetap tak ada respon.


Dengan perasaan panik dan tak tahu harus minta tolong kepada siapa, akhirnya hanya nomor telpon Dave yang terlintas di kepalanya.


Kemudian dengan segera ia meraih ponsel di dalam tasnya. Lalu dengan tergesa mencari nama Dave di deretan kontak dalam ponselnya.


"Halo Dave, tolong aku!" Ujar Erika dengan suara terisak saat sambungan telponnya telah terhubung pada Dave.


"Hei..ada apa?" Ujar Dave dengan suara datar di ujung telpon.


"Bisakah kau datang kerumahku sekarang, maaf sebelumnya jika aku merepotkanmu, tapi aku sedang butuh pertolongan sekarang, aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi selain dirimu."


"Baiklah, aku mengerti!" Ujar Dave seraya mematikan sambungan telponnya.


*****


Tak berapa lama, tampak mobil Dave sudah mulai terparkir di pekarangan rumah Erika. Namun bukan Dave yang keluar dari mobil tersebut, melainkan Marko asistent pribadi Dave. Pria itupun segera berjalan tergesa memasuki rumah Erika. Kebetulan Erika tak menutup pintu utamanya karena tadi saking syok nya melihat ibunya tergeletak tak berdaya di sisi tangga.


"Maafkan aku nona, jika aku lancang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pintu depan terbuka jadi aku langsung masuk saja. Kata tuan Dave kau sedang butuh bantuan."


"Iya tuan Mark, tidak apa-apa, bisakah antar aku ke rumah sakit sekarang juga? Ibuku pingsan, aku takut terjadi sesuatu padanya." Ujar Erika masih dengan terisak, karena saking paniknya ia sampai tak sempat menanyakan perihal mengapa bukan Dave yang datang ke rumahnya, tapi ia malah menyuruh asistent pribadinya itu untuk datang. Baginya saat ini keselamatan ibunya yang terpenting.


****


Di rumah sakit, Ibu Ariana segera di bawa masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Erika terus saja menangis saat Ibunya sudah mulai masuk ruang IGD, Dokter dan beberapa suster yang menangani ibunya menyuruhnya untuk menunggu di luar.


Wajah Erika tampak sedih, dan itu membuat Mark kebingungan harus bersikap seperti apa pada gadis muda itu.


Sikapnya Mark yang biasa kaku, tidak mungkin kan ia langsung menghibur Erika meskipun saat ini ia merasa iba pada gadis itu, Marka jadi teringat mendiang ibunya yang sebelumnya meninggal karena sakit. Jadi dia tahu persis bagaimana perasaan Erika sekarang, pasti sedih dan bercampur kawatir, apalagi saat ini gadis itu juga baru saja kehilangan ayahnya. Sama seperti ayah Mark yang sudah meningga saat ia masih kecil. Tiba-tiba Mark dingelayuti perasaan empati pada Erika yang kini tengah menangis di bangku tunggu di depan ruangan IGD.

__ADS_1


Perlahan Mark berjalan mendekat dan menyerahkan sekotak tisyu ke hadapan Erika. Tanpa suara dan hanya berdiri di depan gadis tersebut.


Erika mendongakkan wajahnya sesaat, dan meraih tisyu dari tangan Mark. "Terimaksih tuan!" Ujar Erika seraya menghapus sisa-sisa air matanya dengan tisyu hasil pemberian dari Mark.


Mark hanya mengangguk pelan, ia merasa sedikit canggung, namun kemudian mulai ikut duduk di sisi Erika. Ia ingin sekali memberi dukungan semangat pada gadis itu. Tapi lidahnya terasa kelu, ia tak pernah bersikap manis sebelumnya pada gadis manapun. Seumur hidupnya ia hanya menghabiskan waktunya dengan belajar dan bekerja. Jadi ia tak tahu harus bagaimana memperlakukan wanita dengan baik. Ia juga kemarin sudah terlanjur kasar dengan Erika. Dan itu membuatnya merasa semakin tidak enak dan canggung.


"Oh ya, Dimana tuan Dave? Kenapa bukan dia yang datang ke rumahku?" Ujar Erika saat keadaanya mulai membaik, ia sudah tak begitu kawatir lagi karena ibunya sudah mendapatkan pertolongan pertama, ya meskipun belum ada kabar dari dokter yang tengah memeriksa ibunya. Setidaknya ia tahu ibunya pasti sudah baik-baik saja saat ini karena ada dokter yang menanganinya.


"Oh itu.." Tiba-tiba Mark kembali di hinggapi rasa canggung karena tiba-tiba saja Erika mengajaknya bicara. "Iya tadi tuan Dave sedang ada meeting dengan client dan tak bisa di tinggal, jadi dia menyuruhku menggantikannya untuk datang ke rumah anda nona." Lanjutnya dengan nada datar dan kalem, tak seperti biasanya yang terlihat bengis dan menakutkan.


"Oh..jadi begitu rupanya." Wajah Erika terlihat sedikit kecewa, entah kenapa akhir-akhir ini ia mulai merindukan Dave jika tak bisa bertemu dengan pria itu.


Tanpa sengaja Mark melirik ke arah Erika, dan ia baru menyadari gadis yang tengah duduk di sampingnya itu terlihat sangat cantik, dan membuat mukanya merona dengan tiba-tiba.


"Tapi tuan Dave terlihat mengawatirkan nona tadi, ia akan menelpon nona nanti kalo urusanya dengan clientnya selesai." Ujar Mark seraya mencuri-curi pandang pada Erika.


Jadi Dave juga mengakawatirkanku? kenapa perasaanku jadi hangat seperti ini ya rasanya. Aku merasa sangat senang. Gumam Erika dalam hati seraya senyum-senyum sendiri.


Mark tidak bisa menebak apa yang di pikirkan oleh gadis muda yang duduk di sampingnya itu, yang ia tahu kenapa hatinya merasa senang melihat gadis itu tersenyum dan tak lagi bersedih seperti tadi.


Seketika itu Mark menjadi panik, wajahnya kembali merona merah, dan sekarang ia jadi salah tingkah. "Oh..itu..kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku hanya berusaha menjalankan tugas dari tua Dave." Ujar Mark dengan sedikit malu-malu, sekarang ia berkata tanpa berani menatap gadis yang sedang menatap ke arahnya.


Asistent pribadi Dave ini kenapa? kenapa dia jadi aneh sekali dan terlihat canggung seperti itu ya! Oh ya ampun, aku lupa aku tadi hanya memanggil namanya saja padanya tanpa di awali dengan kata tuan. Semoga saja tangan dan kakiku tetap utuh nanti.


"Kenapa nona terus memandangiku terus seperti itu?" Ujar Mark yang sudah mulai memberanikan diri menatap ke arah Erika.


Erika segera menggeleng cepat. Sepertinya mood asistent pribadi ini sedang baik, jadi mana mungkin ia akan mematahkan kaki atau tanganku hanya karena masalah sepele. Ya benar.


"Maaf tuan Mark, tadi aku sudah tidak sopan karena memanggil nama saja padamu. Maaf aku benar-benar tidak sengaja." Jawab Erika akhirnya seraya menahan rasa ketakutannya pada pria tersebut.


Nona muda ini kenapa, kenapa ekspresi wajahnya terlihat lucu seperti itu saat melihatku, apa dia pikir aku ini hantu. Tapi kenapa aku jadi senang memandangi wajahnya yang tampak lucu itu. Gumam Mark dalam hati seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona, kau boleh memanggilku Mark saja kalo kau tidak keberatan." Ujar Mark akhirnya dengan perasaan aneh yang mulai menggelayuti hatinya.


Seketika Erika merasa lega mendengar penjelasan Mark dan segera melepas wajah tegangnya. "Baiklah Mari aku tak kan sungkan lagi padamu." Ujar Erika seraya terkekeh dengan ekspresi ramahnya. Kemudian ia menepuk pelan pundak Mark yang masih tampak kaku, berusaha sok akrab dengan asistent yang sebelumnya ia sebut pria aneh dan galak.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat hati Mark sedikit terhenyak, sentuhan tangan Erika di pundaknya membuatnya makin salah tingkah. "Maaf nona, jangan bertindak seperti ini, aku akan merasa tidak enak nantinya dengan tuan Dave." Ujar Mark seraya melirik tangan Erika yang dengan santai menepuk-nepuk pundaknya.


"Oh maaf." Erika segera menarik tangannya sendiri dari pundak Mark. "Emm..apakah kau juga bisa jangan memanggilku dengan sebutan nona, aku merasa tak pantas lagi dengan sebutan itu, aku ingin seseorang memanggilku dengan nama saja, supaya aku merasa memiliki seorang teman." Tiba-tiba saja wajah Erika kembali sendu. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya di kelilingi teman-teman palsu, saat-saat terberat seperti sekarang ini seolah semua temannya menghilang begitu saja.


"Emm..memangnya nona tidak punya teman?" Mark bertanya dengan nada sedikit ragu, takut-takut kalo salah bicara.


Erika tak menjawab, ia hanya menggeleng perlahan seraya menunduk. "Ah...Mark, apa kau mau jadi temanku!" Lanjutnya secara tiba-tiba.


"Apa?" Mark tampak terkejut, Erika tengah menatap ke arahnya sekarang.


"Ya..Mark, apa kau mau jadi temanku? Tapi kalo tidak mau juga tidak apa-apa, maaf aku orangnya memang suka sepontan, maaf ya!" Berkata seraya kembali menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa nona, kau boleh menganggapku sebagai temanku jika kau mau!" Ujar Mark akhirnya, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, seolah ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan Erika.


"Benarkah?" Wajah Erika tiba-tiba kembali ceria. "Kalo begitu jangan panggil aku dengan sebutan nona, panggil namaku saja Erika." Lanjut Erika seraya tersenyum sumringah seolah sedang memenangkan lotre.


Diam-diam hati Mark juga merasa luar biasa senang, entah mengapa hatinya tiba-tiba saja di penuhi dengan perasaan hangat yang membuatnya sangat nyaman. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya pada gadis manapun.


Bersamaan dengan itu, dokter yang menangani ibu Erika nampak mulai keluar dari ruang IGD, Erika pun segera beranjak dari duduknya dan segera menghambur ke arah dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok? Apa beliau baik-baik saja? Apa boleh saya menjenguknya seorang juga? Saya sangat kawatir dengan keadaanya dok." Serbu Erika pada dokter yang kini tengah ada di hadapannya.


Dokter itupun tersenyum, berusaha membuat Erika merasa tenang. "Ibu kamu baik-baik saja, a hanya mengalami gegar otak ringan, kemungkinan ia terjatuh dari tangga karena penyakit vertigo ya kambuh, ia jadi kehilangan keseimbangan saat menuruni tangga dan akhirnya terjatuh, tapi sejauh ini tidak ada luka yang serius, kau boleh melihatnya sekarang juga, nanti setelah siuman ibumu baru akan di pindahkan ke kamar inap." Jelas sang dokter dan membuat Erika bisa bernafas lega.


"Syukurlah, terimakasih dokter atas bantuannya!" Ujar Erika seraya menghirup nafas lega.


Dokter membalas dengan tersenyum. "Jangan berterimakasih padaku, berterima kasihlah kepada orang yang tidak terlambat membawa ibumu ke rumah sakit, jika di biarkan tanpa pertolongan pertama tadi, sebenarnya akibatnya bisa fatal." Jelas sang Dokter lagi, kemudian ia izin untuk berlalu dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Sepeninggalan sang dokter, Erika langsung menoleh ke arah Mark yang berdiri tidak jauh darinya. Rasanya ia ingin mengucapkan banyak terimakasih pada pria itu, meskipun ia tadi sempat mengutuk pria itu saat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi untung saja dengan begitu ibunya jadi bisa di selamatkan.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2