Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Episode 51


__ADS_3

Malam kian larut. Erika baru saja menidurkan putranya, Leo di kamarnya. Tiba-tiba terdengar suara mobil terparkir di halaman rumahnya. Siapa yang datang malam-malam begini? Pikirnya. Ia pun bergegas keluar kamar setelah menyelimuti Leo sebelumnya. Berjalan menuju pintu utama dengan tergesa. Ia tak ingin tamu itu membangunkan bibi Eni yang mungkin saat ini juga sudah terlelap. Sekarang Erika memang lebih peduli pada orang lain. Sikapnya berubah, semakin tumbuh dewasa sepanjang waktu berlalu.


"Mark...," Ujarnya lirih mendapati pria itu saat setelah membuka pintu.


"E...," Sahut Mark yang tiba-tiba terlihat gugup.


"Ada apa datang selarut ini? Apa kau ada kabar tentang Dave?" Seru Erika tampak antusias. Matanya menatap Mark menunggu.


Mark menggeleng pelan dan raut wajah Erika berubah kecewa. "Maaf, aku bukan ingin membicarakan tentang tuan Dave!" Ujar Mark sambil menghindari tatapan Erika. Ia tak ingin Erika tahu dan melihat ke dalam matanya bahwa ia sedang berbohong.


"Lalu..., untuk apa kau kesini?" Dahi Erika mengeriyit bingung. Sedangkan Mark masih terdiam.


"Oh, iya..., masuklah dulu, kita bicara di dalam!" Ujar Erika kemudian seraya tersenyum kecil.


"Tidak, E, disini saja, aku hanya ingin bicara sebentar," ucap Mark sambil berusaha memberanikan diri menatap Erika.


"Baiklah, kita duduk disana saja!" Erika menunjuk bangku panjang di taman dengan dagunya. Dan Mark pun mengangguk.


"Jadi apa yang akan kau bicarakan?" Ucap Erika tanpa basa-basi setelah mereka duduk di bangku taman tersebut.


"Oh..., Eh..., itu!" Tiba-tiba Mark menjadi gugup dan salah tingkah. Erika menatapnya bingung. Ada apa dengan Mark sebenarnya? Pikirnya.


"Ada apa?" Erika menatap Mark menunggu.


"Aku..., dan Mina terancam batal menikah!" Ujar Mark akhirnya memberanikan diri untuk bicara, dan Erika tampak syok setelah mendengarnya.


"Kamu..., dan Mina? Apa yang terjadi?" Erika bicara dengan nada hati-hati.


"Ya..., Mina cemburu padamu E, karena aku yang selalu memperhatikanmu!" Mark menatap Erika lekat.

__ADS_1


Erika tertegun. Kemudian tersenyum hambar. "Kau pasti sedang bercanda kan Mark!"


"Apa aku sedang terlihat bercanda!" kini menatap Erika lebih lekat.


Erika langsung mengalihkan pandangannya ke segala arah untuk menghindari tatapan Mark yang terlihat berbeda malam ini menurutnya.


"Tapi, setelah Mina bicara seperti itu, aku malah jadi tersadar, bahwa aku memang tak pernah benar-benar melupakanmu dalam hatiku!"


Deg


Erika mengangkat wajah dan tercengang mendengar kata-kata dari Mark.


"Mark..., kau...,"


"Aku tahu, E, harusnya aku tak mengungkapkan perasaan ku di saat seperti ini! Tapi apakah kau tahu, E. Aku sudah lama sekali memendam perasaan ini padamu, mungkin kadang aku bisa menahannya. Tapi saat ini aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengatakannya... padamu, maaf kan aku, E!" Mark menghela nafas merasa lega sekaligus merasa bersalah karena sudah terlanjur mengatakannya.


"Seandainya tuan Dave tak pernah kembali, apakah kau mau memberiku kesempatan?" Mark menatap Erika penuh harap.


Deg.


"Kau..., bicara apa Mark?" Erika menatap Mark kalut, kenapa? pikirnya. Seharusnya pria itu tidak nekat mengatakan semua itu di saat hatinya sedang bimbang.


"Seperti yang kau dengar E, apakah kau mau memberiku kesempatan? Kita bisa mengulang semua dari awal, dan...,"


"Mark, dengar! Itu tidak mungkin terjadi!" Potong Erika cepat. Erika menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. "Harusnya kau tahu bagaimana perasaan ku pada Dave, dan aku juga tak ingin melukaimu, tolong mengertilah!" Erika benar-benar tampak frustasi. Ia semakin ragu dengan perasaanya sendiri.


Mark menunduk, menyembunyikan wajahnya sesaat, ia tahu hatinya sedang terluka. Walaupun ia seorang pria. Tetap saja ia bisa merasakan luka. Apalagi orang yang di cintai nya bertahun-tahun menolak perasaannya.


"Jadi..., kau tetap tak akan memberiku kesempatan?" Suara Mark masih terdengar berharap.

__ADS_1


"Aku mohon Mark, jangan seperti ini, jangan paksa aku mengatakan sesuatu yang bisa melukaimu, sekiranya kau memang tahu jawabannya, lebih baik jangan memaksakan diri untuk menanyakannya lagi!" Tegas Erika, kini tatapannya kosong menatap langit penuh bintang. Semua ini masih tidak masuk akal baginya. Ia tahu selama ini Mark baik terhadapnya. Tapi tak menyangka kalo perasaan Mark terhadapnya sedalam ini. Dan ia tak tega untuk menghancurkannya.


"Hem..., aku mengerti, E. Maaf kalo telah menempatkan mu di situasi yang sulit. Aku yang bodoh, ck!" Mark tersenyum mengejek dirinya sendiri.


Erika menggeleng, "jangan mengatakan dirimu sendiri seperti itu Mark. Kau malah jadi mengingatkan ku pada diriku sendiriyang dulu, yang bodoh, karena mencintai Dave sampai sedalam itu!" Erika terkekeh, teringat masa lalunya dengan Dave. Tapi lelaki di sampingnya langsung terdiam. Membisu dan matanya memikirkan sesuatu.


"Maaf, Mark..., aku tak bermaksud...," Erika sadar ia telah salah bicara. Sekarang keadaanya terlihat canggung. Ia tak bisa tertawa lepas dan menceritakan apapun pada Mark seperti dulu lagi. Ia faham, ternyata selama ini Mark mungkin merasa kesakitan bahkan terluka ketika mendengar ceritanya bersama Dave.


Mark menggeleng, menatap Erika seraya tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa, E. Kau bisa cerita padaku seperti biasanya. Tidak perlu menahan diri, aku akan baik-baik saja!" Erika tahu Mark sedang berbohong. Dari matanya, Erika bisa melihat ke dalam hati pria itu. Kalo dirinya sedang terluka.


"Maaf kan aku Mark, jika tanpa sengaja aku melukaimu!" Erika benar-benar merasa bersalah, menatap Mark tak tega.


"Jangan pikirkan hal itu, aku sungguh tidak apa-apa, E...!" Air matanya hampir saja tumpah, tapi ia menahannya. Ia tak ingin Erika melihatnya dan menganggapnya lemah.


"Mark, kembalilah pada Mina, dia lebih berhak mendapatkan cintamu daripada aku!" Ujar Erika tiba-tiba dengan antusias.


Mark kembali menggeleng. "Dia sudah tak mau menerimaku, aku sudah banyak melukainya. Kalo dia pergi dari sisiku, aku pantas mendapatkannya!"


"Kalau begitu kau harus meyakinkannya!" Desak Erika.


"Aku tidak ingin melukainya lebih banyak lagi E, karena aku juga bisa merasakan apa yang dia rasakan, mencintai tanpa di cintai!" Menatap mata Erika lekat-lekat.


"Jadi kupikir, aku lebih baik melepasnya, sebelum perasanya semakin dalam terhadapku, dan ku harap ia mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, yang bisa mencintainya setulus hati, tapi bukan aku!" Lanjutnya dengan mata menerawang ke atas langit memandangi bintang-bintang yang bersanding bersama sinar bulan. Harusnya cinta itu sederhana. Tapi kenapa semua terlihat menjadi rumit? Apa Karena cinta yang tak terbalas? Pikirnya dalam diam.


"Mark..., aku...,"


BERSAMBUNG.


...

__ADS_1


__ADS_2