Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Pergi Ke Cafe


__ADS_3

Di kantor. Setelah makan siang di kantin bersama beberapa kariawa lainya. Erika kembali ke ruangan Tari sekertaris Dave yang lama untuk kembali meminta bimbingan pada Tari. baru bebearap jam saja di kantor. Erika sudah tampak akrab dengan beberapa kariawan lain di kantor. Rupanya ia cepat sekali beradaptasi. Sekarang ia juga sudah tampak dekat dengan Tari walaupun baru saja kenal.


"Nona pelajari saja dulu dokument ini. Ini adalah jadwal meeting tua Dave!" Ujar Tari sambil menyerahkan sebuah flashdisc berisi dokument.


"Tari! Kau lupa ya! Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan nona. Panggil namaku saja, Erika! Supaya kita akrab. Hehe!" Ujar Erika seraya tertawa kecil.


"Maafkan aku nona, Eh...Erika maksudnya! Hehe." Tari juga turut tertawa kecil.


"Awas ya kalo sampai salah panggil lagi!" Seru Erika pura-pura marah. Lalu setelah itu kembali tertawa kecil.


"Ampun nona. Aku tidak berani!" Goda Erika dan itu membuat mereka sama-sama tertawa sekarang.


Mereka benar-benar sudah tampak akrab sekarang. Seperti sepasang sahabat yang sudah kenal lama.


"Tari!"


"Hemm!" Jawab Tari singkat karena ia juga sedang mengerjakan sesuatu di komputernya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ujar Erika tiba-tiba. Ia sudah tampak selesai membaca dokument nya sekarang.


"Tanya apa Erika? Tanyakan saja! Siapa tahu aku bisa bantu!" Jawab Tari yang masih belum mengalihkan pandangannya dari komputernya.


"Eh...nanti saja deh. Sepertinya kamu masih nampak sibuk. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu." Ujar Erika dengan sedikit murung.


"Iya sih...Maaf ya, aku sedang mengerjakan laporan. Aku sedang fokus. Bagaiman kalo nanti pas jam pulang kantor kita ngobrol di cafe?" Seru Tari masih dengan sibuk mengetik.


"Kedengarannya ide yang bagus. Baiklah. sampai nanti sore!" Seru Erika sumringah. Ia senang bisa mendapatkan teman seorang wanita sekarang. Biasanya temannya kebanyakan adalah pria.


*****

__ADS_1


Di tempat berbeda. Mark masuk ke ruangan Dave dengan membawakan secangkir kopi panas untuk Dave. "Tuan, ini kopimu!" Ujar Mark sopan sambil meletakkan kopi yang di bawanya di atas meja.


"Terimaksih Mark!" Ujar Dave datar tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Apakah ada yang bisa ku bantu tuan?" Tawar Mark yang masih berdiri di sisi meja kerja Dave.


"Ya...sebenarnya ada. Aku ingin kamu menyelidiki perusahaan rival kita. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka. Awasi mereka, dan laporkan padaku. Aku tak mau kalo sampai kalah tender dari mereka." Ujar Dave dengan nada serius. Kemudian menangangkat secangkir kopi di mejanya dan mulai menyeruputnya perlahan. "Hemmm...Kopi ini terasa enak, rasanya juga agak berbeda dari biasanya!" Lanjut Dave sambil menyeruput kopinya untuk sekali lagi.


"Baiklah Tuan. Saya akan memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi perusahaan mereka. Dan aku pastikan kita tidak akan kalah Tender dari mereka!" Ujar Mark mantap. "Mengenai kopi itu, memang bukan aku yang membuatnya. Tadi aku bertemu Nona Erika di pentri. Jadi ia sendiri yang memohon agar ia yang akan membuatkan kopi untuk anda tuan." Lanjut Mark dengan wajah tertunduk. Takut-takut kalo salah bicara.


Seketika Dave menghentikan aktifitasnya untuk menyeruput kopinya. Ia merasa sedikit terhenyak mendengar tentang Erika. "Oh...kebetulan sekali ya dia yang membuatnya. Hemm...lumayan juga!" Ujar Dave seraya tersenyum tipis.


"Lalu, kau sendiri, bagaimana perkembanganmu dengan Erika?" Ujar Dave lagi dengan tiba-tiba.


Mata Mark langsung terbelalak karena merasa terkejut dengan pertanyaan Dave yang tiba-tiba. "Mak...sud tu...an apa?" Suara Mark terdengar terbata-bata. Lidahnya seketika seolah kelu.


"Aku sungguh tidak mengerti maksud tuan!" Mark tertunduk dalam. Ia merasa tidak enak sekaligus bingung dengan pertanyaan Dave terhadapnya. Apa maksudnya menanyakan perkembangan dirinya dengan Erika, istrinya sendiri. Begitu banyak tanda tanya di pikiran Mark saat ini.


"Apa kau sungguh ada rasa dengan Erika?" Sekarang Dave tampak memperjelas arah pembicaraannya.


Apa?


Mark masih tampak sepichless, tidak tahu harus menjawab apa.


"Tidak apa-apa Mark, jawab saja, tidak perlu sungkan denganku." Dave seolah sedang mendesak Mark kali ini.


"Maaf tuan!" Hanya kata itu yang terlontar dan terpikir oleh Mark. Ia sungguh merasa tidak enak dengan Bos nya itu.


"Sudahlah Mark, tidak perlu minta maaf. Aku tahu kau pasti menyukai Erika kan? Apa kau ingin mengejarnya juga?" Pertanyaan Dave semakin membuat Mark merasa bingung.

__ADS_1


"Saya tidak berani tuan, Nona Erika istri anda!" Perasan Mark sudah campur aduk saat ini. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia juga belum tahu maksud dan tujuan kenapa tiba-tiba Dave menanyakan hal semacam itu padanya.


"Kalo kau benar-benar ingin bersamanya, berusahalah semampumu Mark. Aku tidak apa-apa!" Dave tersenyum tipis. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Dan apa rencana pria tampan ini sebenarnya.


Lagi-lagi Mark hanya merasa terhenyak dengan pernyataan Dave. Tapi ia tak berani untuk lanjut bertanya, atau sekedar meminta penjelasan. Mark terlalu sungkan untuk menanyakan semua itu. Dari dulu ia sudah terlatih untuk patuh dengan perintah Dave. Dan baru kali ini Dave bersikap aneh terhadapnya. Ada apa ini sebenarnya? Pikiran Mark masih terus berputar-putar. Dan ia sendiri pun belum bisa menyimpulkan jawabannya.


*****


Akhirnya jam pulang kantor tiba juga. Erika merasa senang karena sore ini ia ada janji akan ke cafe bersama Tari teman wanitanya yang baru.


"Tari, ayo kita siap-siap!" Ujar Erika dengan wajah sumringah. Ia pun segera membereskan meja kerjanya. Mematikan komputernya dan memasukkan beberapa barang ke dalam tas nya. "Ta...da! Aku sudah selesai. Waktunya pergi!" Serunya dengan nada bersemangat.


Sedangkan Tari juga sudah tampak selesai dengan pekerjaannya. "Baiklah Erika, mari kita pergi sekarang juga." Seru Tari dengan wajah sumringah juga. Ia senang bisa dekat dengan Erika. "Apa aku boleh mengajak teman-teman yang lain?" Ujar Tari sambil menoleh ke arah Erika.


"Yasudah ajak saja, biar tambah seru!" Jawab Erika dengan senang hati.


"Baiklah aku akan mengajak Dewi dan indri juga untuk ikut bersama kita." Tari sudah tampak berdiri dengan mencangklong tas jinjingnya.


Erika pun turut beranjak dari kursinya. "Wow...pergi bersama para gadis. Aku sudah lama sekali tidak seperti ini. Sejak keluargaku bangkrut aku kehilangan semua teman wanitaku, hahaha." Erika tertawa sumbang di akhir kalimatnya. Ada rasa getir yang tiba-tiba menggelayutinya. Ia rindu punya teman seperti dulu. Teman-temannya yang dulu akrab dengannya kini semua seolah telah menjauhinya. Bahkan tak ada lagi yang berusaha menghubunginya. Erika merasa sangat sedih akan hal itu. Ternyata selama ini ia berteman dengan orang-orang yang palsu.


"Jangan bersedih nona. Masih ada kami yang bisa jadi temanmu!" Hibur Tari yang seolah tahu apa yang di rasakan oleh Erika saat ini.


Erika pun mengembangkan senyumnya. "Terimaksih ya! Karena kamu sudah bersedia jadi temanku sekarang!" Ujar Erika dengan tulus.


"Sama-sama nona, Eh...maaf maksudku Erika, hehe!" Tari terkekeh, karena selalu lupa harus memanggil nama saja pada Erika.


"Haha...Kau ini!" Erika turut terkekeh. Mereka benar-benar terlihat akrab sekarang.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2