Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Erika sakit


__ADS_3

Entah apa yang ada di fikiran Dave. Kenapa ia bicara seperti itu terhadap Erika. Apa memang tak ada sedikitpun tanda cinta di hati Dave untuk Erika? Erika bertanya-tanya dalam pikirannya. Apakah pria yang kini tengah duduk di hadapannya ini benar-benar ingin hidup tanpa cinta? Apa yang membuatnya terlalu melindungi dirinya sendiri seperti itu. Perasaan Erika pun tampak kalut.


Dengan wajah masam, Erika segera beranjak dari kasur dengan membawa serta selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia tak ingin berlama-lama lagi menatap wajah Dave. Perasaanya sudah teramat sakit sekarang. Di dalam kamar mandi ia mulai masuk ke dalam bathtub dan menyalakan air. Ia merendam dirinya sendiri beberapa saat. Air mata yang tak sanggup ia bendung lagi akhirnya lirih sudah.


Kenapa kau jahat sekali Dave. Rutuk Erika berkali-kali.


Apa aku tak pernah bearti apa-apa di matamu? Apa aku ini benar hanya bonekamu? Yang bisa kau permainkan sesuka hatimu. Kenapa kau tidak pernah mau peduli dan mengerti dengan perasaanku. Apa lagi tentang keinginanku. Aku hanya ingin kau juga bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu! Apa keinginanku ini terlalu konyol. Pada akhirnya kau akan tetap membuang ku. Hah...Bedebah!


Erika mengusap air matanya kasar. Ia tak pernah merasa sefrustasi ini sebelumnya. Saat bersama Ken dulu, ia tak pernah merasa sekecewa ini, bahkan saat Ken menggantinya. Perasaanya bisa langsung pudar begitu saja. Tapi, kenapa saat bersama Dave. Perasaanya begitu dalam dan ingin sekali mendapatkan cinta yang sama besarnya dari pria tersebut.


Erika semakin kalut, ia duduk melesat ke dalam bathtub hingga kepalanya ikut terendam ke dalam air. Wajahnya semakin pucat dan...


Melihat Erika yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Membuat Dave merasa sedikit kawatir. Saat ini ia yang tampak sudah berpakaian rapih bersiap pergi ke kantor, akhirnya berusaha untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Erika!" Serunya seraya mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Tapi sepertinya tak ada sahutan dari dalam. "Erika! Apa kamu baik-baik saja! Jawab aku!" Dave mulai panik. Perasaanya tiba-tiba merasa tidak enak.


Apa jangan-jangan ia melakukan tindakan bodoh? Gumam Dave.


"Erika! Ku mohon bicaralah! Atau terpaksa ku dobrak pintunya!" Seru Dave lagi. Ia pun berusaha membuka handle pintu, dan ternyata tidak di kunci.


"Klek!" Suara handle pintu terbuka. Dan betapa terkejutnya Dave melihat Erika membenamkan dirinya ke dalam bathtub.


"Astaga! Apa-apaan kau ini! Apa kau sudah gila!" Pekik Dave sambil buru-buru menghampiri Erika dan mengangkat kepalanya dari dalam air. Dave pun segera mengangkat tubuh Erika yang mulai mendingin. Ia pun menarik selimut yang sempat Erika bawa ke kamar mandi dan segera menutupi tubuh Erika dengan selimut tersebut.

__ADS_1


"Gadis bodoh!" Rutuknya sambil membopong Erika dari kamar mandi menuju mobil nya. Ia akan membawa Erika segera ke rumah sakit.


Dengan perasaan panik dan bersalah, Dave pun melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu Erika. Kenapa kau sampai bodoh seperti ini?


Gumam Dave masih tak habis pikir. Tak lama kemudian mobilnya telah sampai di pelataran rumah sakit. Dengan tergesa Dave keluar dari mobil dan segera mengeluarkan tubuh Erika dari dalam mobil, kemudian mulai berjalan tergesa memasuki lobi rumah sakit.


"Tolong istri saya!" Serunya pada seorang perawat yang ia lewati. Kemudian beberapa perawat lain pun mendekat dengan membawa kursi roda. Erika pun segera di larikan ke ruang IGD untuk segera mendapatkan pertolongan pertama.


Dave kali ini benar-benar panik. Pikirannya terus berkecamuk. Ia jadi teringat dengan mantan kekasihnya, Elsa. Yang meninggal karena over dosis karena merasa sedih, sedih karena Dave tak memberikannya kesempatan untuk menejelaskan ke salah pahaman yang terjadi saat itu.


Apa kata-kata ku begitu menyakitinya tadi pagi? Dave seolah menyadari satu hal. Mungkin saja ia salah bicara. Tapi tak menyangka kalo Erika akan serapuh itu. Selama ini ia melihat Erika adalah sebagai pribadi yang kuat.


"Pak! Anda sedang di tunggu di ruang meeting oleh para dewan direksi." Ujar suara di ujung telpon yang tak lain adalah asistent pribadinya yaitu Mark.


"Maaf aku sepertinya tidak bisa meeting dengan siapapun hari ini. Ada suatu hal terjadi pada Erika! Batalkan saja semua jadwal meeting ku hari ini!" Perintah Dave dengan suara parau. Ia benar-benar tampak tak bersemangat sekarang.


Erika! Apa yang terjadi ada Erika? Batin Mark penasaran. Tapi ia tak berani untuk bertanya lebih lanjut.


"Baik Tuan!" Jawab Mark akhirnya singkat. Dan Dave pun segera mematikan ponselnya. Dave meletakkan ponselnya di bangku tunggu yang ia duduki. Setelah itu ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Kemudian mengacak-ngacak rambutnya merasa bingung sendiri.


Selang waktu beberapa saat. Seorang dokter yang menangani Erika pun keluar dari rumah IGD. Seketika Dave pun berdiri untuk menanyakan keadaan istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dokter!" Seru Dave dengan wajah cemas.


Sang dokter hanya tersenyum kilas. "Istri anda baik-baik saja. Hanaya saja ada banyak air tadi yang masuk ke paru-parunya. Tapi syukurlah ia selamat. Dan bapak bisa menjenguknya sekarang juga." Jelas sang dokter.


"Terimakasih dok atas bantuannya!" Ujar Dave merasa lega.


Sang dokter pun banyak kembali tersenyum kilas lalu berlalu dari hadapan Dave.


Sebelum memasuki ruang IGD untuk melihat keadaan Erika. Ia berinisiatif untuk menghubungi Ibu mertuanya. Bagaimana pun juga Beliau berhak tahu keadaan putri semata wayangnya. Yah...Meskipun nanti ia sendiri akan kena marah oleh ibu mertuanya tersebut. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Dave hanya bisa pasrah sekarang.


Dengan langkah perlahan, Dave mulai memasuki ruangan IGD dimana tempat Erika masih terbaring lemah saat ini. Sesaat ia merasa ragu. Tapi ia berusaha untuk memberanikan diri.


"Erika!" Serunya lirih. Erika yang sudah tampak sadar dari pingsannya berusaha mengalihkan pandangannya dari Dave. Ia masih enggan melihat pria itu. Hatinya masih begitu terasa sakit.


"Untuk apa kau datang? Untuk menertawai kebodohanku? Aku tidak ingin di kasihani. Pergilah!" Seru Erika tanpa memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah Dave. Ia juga tidak mengerti kenapa tadi ia bisa melakukan hal sebodoh itu. Yang ia tahu, tadi ia merasa begitu sedih. Itu saja.


"Kau salah paham Erika, Aku...!" Kalimat Dave terputus.


"Sudahlah. Tidak perlu minta maaf, aku kan hanya sepenggal boneka. Jadi tak perlu minta maaf padaku!" Sela Erika. Ia merasakan nyeri di dalam hatinya saat mengatakan semuanya.


"Ya...Baiklah kalo itu maumu! Aku sudah menelpon ibu mu tadi. Sebentar lagi beliau datang. Beliau yang akan menjagamu! Dan aku akan pergi dari sini jika itu membuatmu bisa merasa lebih baik!" Ujar Dave sambil ingin berlalu dari hadapan Erika.


Air mata Erika kembali mengalir. Sebenarnya ia ingin Dave tetap tinggal dan menemaninya. Tapi ia tak mau jika Dave melakukan semua itu karena hanya merasa sebatas kasihan padanya. Ia sudah cukup malu dengan tindakan konyolnya yang baru saja ia lakukan. Ia tak ingin terlihat lebih rendah lagi di hadapan Dave.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2