Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Erika Mabuk


__ADS_3

Di luar cafe, dari jendela kaca terlihat hari sudah tampak gelap. Erika mengusulkan pada para teman wanitanya untuk segera pulang. Ia takut saat Dave pulang nanti, ia belum juga ada di rumah. Nanti di sangkanya macam-macam di luar. Tapi kapan juga Dave pernah peduli? Batin Erika tiba-tiba merasa kesal sendiri. Ia begitu menjaga perasaan Dave. Tapi suaminya itu...Ah sudahlah, Erika kembali menepis segala rasa.


"Jangan pulang dulu nona, sebentar lagi, jarang-jarang kan aku bisa seru-seruan seperti ini, bareng nona muda lagi!" Bujuk Indri yang masih tampak enggan untuk meninggalkan cafe.


"Tapi aku..." Kalimat Erika terhenti, Dewi memotong kalimatnya.


"Benar kata Indri, ku mohon tinggallah sebentar lagi bersama kami!" Dewi jadi ikut-ikutan membujuk.


Sedangkan Tari hanya diam saja daritadi. Ia hanya ikut saja apa kemauan teman-temannya.


"Ya...baiklah!" Seru Erika dengan suara ragu.


Lagipula untuk apa aku cepat-cepat pulang, toh suamiku Dave juga tidak pernah menganggap aku ada.


"Nah...gitu dong nona," wajah Indri tampak sumringah setelah mendengar jawaban dari Erika. Begitupun juga dengan Dewi.


"Kalo begitu kita pesan minuman lagi ya!" Cetus Dewi sambil tangannya sudah mulai melambai ke salah satu seorang pelayan yang tak jauh dari meja mereka.


Tak lama kemudian pelayan tersebut pun mendekat. Dan Dewi dengan antusias memesankan minuman untuk semuanya tanpa harus bertanya lagi.


"Hei...ngomong-ngomong kamu pesan minuman apa?" Ujar Indri yang tampak penasaran setelah pelayan yang mereka panggil tadi berlalu dari hadapan mereka.


"Aku hanya pesan wine, tidak apa-apa kan?" Jawab Dewi dengan nada ringan.


"Kau gila ya! Kau ingin kita semua mabuk? Nanti bagaimana pulangnya? siapa yang akan menyetir?" Tari yang sedari tadi diam saja kini pun mulai angkat bicara.


"Ah...kalian ini cerewet sekali sih, terutama kamu Tari. Tenang saja, aku hanya pesan wine dengan kadar alkohol ringan. Jadi tidak akan mabuk." Dewi berusaha menjelaskan pada rekan-rekan kerjanya tersebut.


"Ah..terserah kau sajalah, kalo kau sampai mabuk, aku tidak akan tanggung jawab ya. Aku mau pesan soda saja." Sergah Tari dengan wajah sedikit sewot.


"Ya...baiklah, aku jamin nggak akan mabuk. Lagian aku kan nggak bawa mobil. Jadi nanti aku naik taksi online saja, gampang kan?" Ujar Dewi masih dengan nada ringan.

__ADS_1


"Huh...jangan sembarangan bicara, naik taksi online malam-malam begini, seorang gadis sendirian. Itu bahaya, nanti nebeng mobilku saja!" Sergah Tari lagi-lagi dengan suara sedikit ketus. Walaupun begitu sebenarnya dia adalah sosok yang peduli pada teman-temannya. Jadi Dewi dan Indri sudah faham dengan karakter Tari yang memang seperti itu. Untuk itu mereka tidak tersinggung lagi jika Tari kerap kali bicara lantang seperti tadi.


"Wah...Tari, you ar the best!" Goda Dewi sambil merangkul pundak Tari dan tersenyum senang.


"Aku nebeng juga ya! Mobilku tinggal sini saja, besok baru ambil. Soalnya aku malas nyetir malam-mal begini!" Rajuk Indri sambil cengengesan.


"Ya...baiklah!" Tari hanya mengiyakan dengan wajah kakunya. "Lalu Erika kau pulang dengan siapa?" Lanjutnya kemudian seraya menatap ke arah Erika yang sedari tadi masih terdiam.


"Eh...Aku..." Erika seketika tampak gugup. Ternyata daritadi ia sedang melamun.


"Kau kan juga tak bawa mobil? Apa mau ku antar pulang juga?" Tawar Tari dengan nada ramah.


"Emmm...baiklah boleh!" Jawab Erika tanpa pikir panjang.


Dan tak lama kemudian minuman pesanan mereka datang. Sedangkan Tari kembali memesan minuman soda kepada sang pelayan. Pelayan pun kembali berlalu untuk mengambilkan pesanan Tari setelah tadi selesai meletakkan pesanan minuman sebelumnya.


"Wah...nona, cobalah, wine ini rasanya enak!" Seru Dewi sembari mengangkat gelas wine nya ke udara. Ia pun tos dengan Indri. Dan mereka berdua meminum wine di gelas mereka masing-masing dengan wajah gembira.


Erika masih terdiam. "Sepertinya aku tidak suka wine ini!" Erika menolak dengan lembut.


"Nah ini dia minuman sodanya!" Tari tampak antusias ketika sang pelayan sudah mulai meletakkan minuman pesanannya di atas meja.


"Minumlah Erika, yang satu ini untukmu!" Tawar Tari sambil menggeser satu gelas minuman ke arah Erika.


Erika tak buru-buru meraihnya. Perhatiannya teralih dengan suara ponsel yang berdering dari dalam tas kerjanya. "Sebentar ya, sepertinya ada telpon masuk!" Seru Erika sambil berusaha meraih ponselnya dari dalam tas. Teman-temannya yang lain terlihat tampak asik menikmati minuman mereka masing-masing.


Erika mendapatkan ponselnya. Tapi sayang, ketika Erika hendak mengangkat telponnya. Tiba-tiba panggilan telponnya terputus. Ia berusaha memeriksa siapa yang tengah menelpon. Ternyata Dave. Untuk apa dia nelpon? Tumben. Benaknya mulai bertanya-tanya.


Melihat Erika yang sempat bengong. Tari kembali menawarkan Erika untuk segera mencicipi minuman yang ada di hadapannya.


Karena tadi sempat melamun. Erika jadi tidak fokus. Dan akhirnya ia malah meraih segelas wine pesanan Dewi yang berdiri berjejer dengan gelas minuman soda dari Tari.

__ADS_1


Dengan tanpa memperhatikan, Erika langsung menenggak wine yang kini di tangannya sampai habis tak bersisa. Dan tak lama kemudian kepalanya menjadi pusing tak karuan. Pandangan matanya pun menjadi kabur.


Astaga...apa yang ku minum tadi? Apa aku salah minum? Bagaimana ini? Gumam Erika di sisa-sisa kesadarannya.


"Erika! Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Wajah Tari tampak kawatir. "Astaga...sepertinya dia salah minum!" Seru Tari lagi sambil memandang ke arah ke dua rekan kerjanya yaitu Dewi dan Indri.


"Apa Erika minum wine pesanan dariku? Apa dia mabuk?" Ujar Dewi sedikit terkejut.


"Kau pesan minum apaan sih? Katamu alkoholnya ringan...Tapi lihat Erika hampir tak sadarkan diri seperti ini!" Tari mulai panik.


"Aku pesan minuman wine dengan alkohol ringan. Mungkin Erika tidak terbiasa minum. Dan lagipula dia langsung menghabiskannya sekaligus. Maka dari itu dia mabuk!" Jelas Dewi yang terlihat sedikit kawatir.


"Kalo begitu kita langsung pulang saja. Kasihan Erika kalo mabuk seperti ini!" Usul Tari dan di anggukki kedua rekan kerjanya tanda setuju.


Tari sudah bersiap memapah badan Erika yang di bantu oleh Dewi. Sedangkan Indri membawakan Tas Erika.


Dan tak lama kemudian. Ponsel dari dalam tas Erika kembali berdering. "Ada telpon di ponsel Erika. Angkat tidak? Siapa tahu penting." Seru Indri yang membawakan tas kerja milik Erika.


"Coba lihat dulu siapa yang menelpon?"


"Pak Dave!" Jawab Indri dengan mata terbelalak kaget setelah mendapati sederet nama yang tengah melakukan panggilan telpon di ponsel Erika.


"Yasudah angkat! Buruan!" Tari berkata dengan suara lirih namun tegas.


"Tapi aku harus bicara apa?" indri tampak panik dan bingung.


Tanpa pikir panjang, akhirnya Tari meraih ponsel Erika yang kini ada di tangan Indri.


"Halo Pak, ini Tari, nona Erika sedang mabuk sekarang!" Seru Tari setelah mengangkat sambungan telpon dari Dave di ponsel Erika.


Tut...Tut...Telpon pun terdengar terputus.

__ADS_1


"Pak Dave sudah ada di depan, di parkiran cafe ini, kita antar Erika segera kesana!" Ujar Tari sembari menyerahkan ponsel milik Erika kembali pada Indri. Dan Indri pun kembali memasukkannya kembali ke dalam tas kerja Erika. Setelah itu buru-buru menyusul langkah Tari yang memapah Erika yang sudah jalan terlebih dahulu tadi.


BERSAMBUNG.


__ADS_2