
Asap dari sayur sup yang di buat Mark dan Erika masih mengepul, aromanya tercium harum dan sangat menggoda. Segera Erika memindahkan supnya ke dalam mangkuk berukuran sedang, kemudian mulai menatanya di meja makan.
Untuk beberapa waktu ia menunggu disana. Di meja makan, di temani oleh Mark yang sejak tadi tiba-tiba terdiam, ia masih memikirkan kata-kata dari bibi Ema tadi. Tentang Erika yang perlahan menyukai Dave. Bukanya Mark tidak mau tahu soal itu. Tapi siapa yang bisa mengatur perasaan. Bahwa kenyataannya Mark juga mulai menyukai Erika. Senyum periang dan gayanya yang kadang konyol dan juga lucu, membuat Mark perlahan mulai menyukainya. Seandainya suatu saat ia harus terluka untuk itu. Ia akan siap meskipun itu sangat menyakitkan.
Erika mengetuk-ngetuk meja makan dengan jarinya. Mulai gelisah, beberapa kali ia memeriksa jam tangannya. Beberapa menit sudah berlalu, sup pun kian mendingin. Tapi Dave belum juga menampakkan batang hidungnya. Pikiranya sedikit kalut sekarang.
"Apa kau ingin aku menelpon tuan Dave agar dia segera pulang?" Ujar Mark yang seolah tahu kegelisahan yang di rasakan Erika.
"Eh..Tidak perlu Mark, biarkan saja aku menunggu, aku tidak ingin mengganggunya. Mungkin saja dia masih sibuk!" Jawab Erika seraya menyunggingkan senyum paksa. Padahal hatinya sudah mulai merasa nyeri. Padahal juga baru permulaan, tapi kenapa rasanya sudah menyakitkan seperti ini. Batin Erika sedikit pilu.
"Kalo begitu baiklah, kau tunggulah disini, aku mau keluar sebentar." Mark berkata seraya mendorong kursi yang di dudukinya ke belakang dan bersiap untuk pergi dari sana.
"Ah..Mark, kau mau kemana? Apa kau mau cari makan di luar? Oh..iya aku sampai lupa, bukankah kau bilang tadi kau lapar ya? Maaf kan aku Mark aku malah merepotkanmu?" Erika memasang wajah bersalah.
Sedangkan Mark hanya tersenyum kilas. "Santai saja Erika, aku senang bisa membantumu! Oh..iya aku memang mau keluar cari makan, habisnya Aku bosan disini." Lanjut Mark seraya menatap bola mata Erika yang baginya tampak indah. Sepasang bola mata besar dengan bulu mata lentiknya. Cantik batin Mark.
"Baiklah Mark, pergilah, nanti kau kembali lagi kan?"
Deg..! Kenapa juga Erika harus mengatakan hal itu? Membuat hati Mark kembali bergetar. "Hemm..tentu!" Jawab Mark datar. "Aku pergi ya, Da!" Lanjut Mark sambil buru-buru berlalu dari hadapan Erika. Lagi-lagi ia merasa kesusahan untuk menata hatinya. Sekuat dan setebal apapun ia memasang perisai di hatinya. Kalo gadis itu terus-terusan ada di dekatnya pasti ia tak sanggup untuk membendung perasaanya sendiri.
*****
Sepeninggalan Mark, Erika benar-benar merasa bosan karena harus menunggu Dave terlalu lama. Bibi Ema dan pelayan yang lain juga sudah kembali pada aktifitasnya masing-masing. Tinggallah di meja makan Erika sendirian dan ketiduran.
Samar terdengar suara langkah kaki datang mendekat. Langkah itupun terhenti di meja makan yang tampak ada Erika tertidur di atasnya.
"Tuan..." Bibi Ema datang mendekat ke arah pemilik langkah tersebut.
"Ssstttt...!" Dave segera menghentikan kalimat bibi Ema seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Memberi isyarat agar bibi Ema Jangan berisik agar Erika tidak terbangun.
__ADS_1
Segera bibi Ema mengangguk tanda mengerti. Kemudian perhatian Dave kembali pada Erika, sekilas ia tersenyum melihat wajah gadis itu yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat polos dan menggemaskan.
Dave segera melepas jasnya dan segera menyerahkannya pada bibi Ema, setelah itu bibi Ema pun mengerti dan mulai meninggalkan tempat itu. Dave segera menggulung lengan kemejanya dan sedikit melonggarkan dasinya. Selesai dengan itu ia segera mengangkat tubuh ramping Erika perlahan. Dengan langkah sangat hati-hati ia mulai membawa tubuh gadis itu ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Dave pun segera merebahkan tubuh Erika di atas ranjangnya yang berukuran king size. Kamar itu juga terlihat sangat luas.
Erika masih tertidur sangat nyenyak dan seolah tak terganggu oleh suara apapun, bahkan ia tak sadar Dave sudah memindahkannya ke dalam kamarnya. Dave yang merasa lelah karena seharian bekerja, ia pun segera merebahkan tubuhnya sendiri di sisi Erika. Kebiasaan Dave, ia selalu tidur dengan bertelanjang dada.
Selang beberapa jam, hari juga sudah berganti malam, Erika mulai terbangun dari tidurnya, perlahan ia mulai mengerjab-ngerjabkan matanya agar bisa terbuka sempurna. Pertama kali yang ia lihat saat membuka mata adalah langit-langit kamar Dave. Sejenak ia tersadar bahwa ia tak lagi di tempatnya semula. Saking terkejutnya ia segera bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk. Mengambil nafas panjang sejenak, kemudian pandangannya teralih pada sosok pria yang sedang tidur di sisinya. Wajah pria itu terlihat sedang tertidur pulas.
"Wuuuaaaa...!!!!" Teriak Erika seketika merasa reflek, kenapa tiba-tiba ia ada di kamar Dave dan lebih parahnya lagi tidur satu ranjang dengannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Erika panik. Kemudian ia segera memeriksa pakaiannya sendiri, masih utuh, tidak ada yang terlepas satupun. Lalu tadi kenapa ia bisa tidak sadar akan hal apapun? Erika semakin panik.
Mendengar teriakan Erika, mau tidak mau Dave jadi ikut terbangun. Ia pun mulai membuka matanya perlahan dan mendapati Erika sudah memandanginya dengan tatapan horor.
"Ah...Ya ampun! Kenapa kau berisik sekali sampai-sampai aku harus terbangun dari tidurku yang nyenyak ini!" Tukas Dave seraya turut mengambil posisi duduk.
Melihat itu, Erika langsung reflek menutup mukanya sendiri dengan bantal, ia merasa malu dengan penampilan Dave yang bertelanjang dada memperlihatkan tubuh atletisnya. "Maaf, aku tadi hanya kaget saja." Ujarnya dari balik bantal.
Erika perlahan menurunkan bantalnya sedikit untuk mengintip Dave. "Heee..Habisnya kau tidak mengenakan baju!" Seru Erika seraya menaikkan bantalnya lagi ke seluruh mukanya.
"Haiissss...Apa-apaan kau ini!" Meraih bantal dari muka Erika dan segera membuangnya ke segala arah.
"Eh..apa yang kau lakukan!" Seru Erika panik, Ia segera menggunakan kedua tangannya untuk menutup wajahnya saat ini.
Dave semakin gemas melihat tingkah Erika yang tampak malu-malu. "Kenapa kau bicara tanpa melihat ke arahku, itu tidak sopan tahu!" Tangan Dave segera meraih tangan Erika dan membuka paksa tangan tersebut dari mukanya.
"Aaaaa...Dave, apa yang kau lakukan!" Erika tampak benar-benar terkejut, mau tidak mau ia harus melihat ke arah Dave. Jantungnya sekarang sudah berpacu sangat kencang.
"Bukankah di awal kau yang terus saja menggodaku? Bukankah kau sendiri yang bilang ingin menyerahkan tubuhmu untukku? Lalu apa ini? Kau itu mirip sekali rubah kecil yang pemalu. Dasar payah!" Ujar Dave seraya melepaskan tangannya dari tangan Erika.
__ADS_1
Erika seolah berhenti bernafas, ia tak bisa berkata-kata apa-apa lagi untuk mengelak, jelas yang kemarin ia lakukan hanya sebagai topeng saja. Supaya tidak jadi gadis polos yang tertindas lagi. Erika menundukkan kepalanya dalam. Berharap Dave tidak bisa melihat rona wajahnya yang kian memerah.
Dave tersenyum tipis dari balik punggungnya, sekarang ia sudah beranjak dari ranjang dan berjalan menuju lemari, mengambil satu pakaian santai dari dalamnya. Kemudian mengenakan kaos berwarna hitam yang baru saja di ambilnya dengan asal.
"Aku bukan pengecut!" Tiba-tiba Erika memeluk Dave dari arah belakang. "Aku tidak takut padamu, aku hanya kaget saja tadi!" Lanjutnya seraya tersenyum senang.
Dasar gadis bodoh, apa yang dia lakukan sebenarnya! Jadi dia tak mau kalah, hemm..dia benar-benar rubah kecil. Baiklah aku akan temani kau main-main.
"Kau itu kenapa? Walaupun kau menawarkan tubuhmu aku tidak selera, aku bisa tidur dengan gadis manapun jika aku mau, kenapa aku harus mau denganmu." Ujar Dave seraya melepaskan pelukan Erika dari tubuhnya.
Sejenak Erika merasa terkejut dengan perubahan sikap Dave. Bicara Dave terlalu menyakitkan di telinga dan hatinya, membuat Erika hampir menangis. Lalu semua kebaikannya terhadapnya selama ini apa? Gumam Erika dalam hati.
"Dave, kenapa sikapmu aneh sekali, apa kau tidak takut jatuh cinta padaku jika kau kejam begini padaku?" Erika memberanikan diri untuk menyambut permainan Dave.
Seketika Dave tergelak. "Hahahaha..Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Bukannya kau yang sudah tergila-gila padaku?"
Erika seolah tak ingin berdebat dengan Dave, ia menjawab pertanyaan Dave dengan cara mendaratkan bibirnya pada bibir pria itu.
Sejenak Dave hanya terdiam, tidak menyangka kalo Erika akan seberani itu? Kalo saja ia tak memasang perisai dalam hatinya, pastilah ia akan menyambut ciuman gadis itu dengan penuh gairah. Tapi sayangnya tidak, ia belum cukup berani untuk melakukannya.
Erika hanya mencium bibir Dave kilas, pria itupun langsung terdiam, suasanya jadi sedikit canggung sekarang.
"Pergilah, aku ingin di kamarku sendiri!" Ujar Dave akhirnya. "Pulanglah ke rumahmu, biar Mark yang akan mengantarmu." Lanjutnya dengan suara datar dan wajah dingin.
Erika hanya bisa menunduk lesu, ia tak berpikir panjang ketika melakukan hal tak terduga tadi. Bahkan sebuah ciuman saja seolah belum bisa menghangatkan hati Dave yang beku.
"Baiklah aku mengerti, terimaksih atas perhatianmu Dave, aku terkesan!" Seru Erika seraya memaksakan senyum manisnya. Berharap Dave melihatnya kalo ia baik-baik saja. Padahal hatinya sedang bergejolak hebat. Bagaimana bisa ia mencium lelaki itu dengan tidak tahu malunya.
"Aku bukan perhatian padamu, kau hanya mainanku, aku hanya tidak ingin mainanku rusak sebelum waktunya. Karena itu pasti akan sangat membosankan." Kata-kata Dave terdengar sangat kejam.
__ADS_1
"Baiklah Dave, aku mengerti!" Membalikkan badan dan segera berlari ke arah pintu, air matanya tak bisa di bendung lagi sekarang.
BERSAMBUNG...