
Di cafe sore itu. Sudah tampak ada Erika, Tari, Dewi dan i
lndri. Mereka sudah tampak menempati sebuah meja di sudut cafe. Sesekali mereka bercanda layaknya teman yang sudah lama kenal. Keakraban di antara mereka terjalin begitu saja.
"Nona Erika coba ceritakan bagaimana kisah mu dengan Pak Dave, bagaimana kamu bisa sampai menikah dengannya, ayo ceritakan dong pliess, kami semua penasaran, iya kan teman-teman?" Celetuk Indri dengan tiba-tiba sambil memandang ke arah teman-temannya bermaksud meminta dukungan.
"Iya...benar-benar, aku juga ingin dengar!" Dewi menambahkan dengan raut wajah antusias.
Erika yang sedang menyeruput minuman jus yang ada di tangannya mendadak jadi tersedak. "Uhuk...uhuk...!" Kemudian ia segera meletakkan gelas minumannya dan segera menepuk-nepuk dada nya sendiri dengan pelan.
Tari yang melihat itu kemudian sigap mengambilkan air putih yang juga tersedia di meja tersebut. "Kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa kan?" Ujar Tari sedikit kawatir. Sedangkan Indri dan Dewi hanya saling berpandangan sejenak dengan tatapan heran.
"Maaf kan kami jika kami salah bicara," Ujar Indri dengan tatapan merasa bersalah pada Erika.
"Iya...maaf ya nona Erika?" Tambah Dewi yang juga tampak kawatir.
Erika mengatur nafasnya sejenak. "Ah...sudahlah tidak apa-apa, bukan masalah besar, jangan di pikirkan, aku tidak apa-apa. Kalian tidak salah bicara, aku hanya sedikit kaget saja!" Ujar Erika ramah sambil berusaha menyunggingkan senyumnya.
"Jadi apa kau akan menceritakannya pada kami?" Ujar Indri yang masih nampak penasaran.
Segera Tari mencubit paha Indri pelan. "Heh...Kau ini, bodoh atau apa? Bicaralah yang sopan?" Umpat Tari kepada Indri dengan suara lirih.
"Aku kan hanya bertanya!" Sergah Indri dengan wajah tanpa bersalahnya.
Perasaan Erika merasa tidak enak, sebenarnya ia enggan menjawab. Kemudian ia segera menundukkan kepalanya merasa bingung entah harus menjawab bagaimana.
Tari yang terlihat lebih peka, berusaha menghibur Erika. "Sudahlah Erika, jangan dengarkan kata-kata mereka. Kau tak perlu menjawabnya disini." Tari meraih tangan Erika yang ada dia atas meja. Seolah sedang mengisyaratkan. Sudahlah, semua akan baik-baik saja.
"Ya...baiklah, lupakan pertanyaan konyol kami, kami tidak akan mendesak kalo nona tidak ingin cerita, benar kan Dewi?" Indri seolah baru menyadari kekeliruannya. Sedangkan Dewi hanya mengangguk tanda mengerti.
"Yasudah, bagaimana kalo sekarang kita main truth or dare. Buat seru-seruan aja!" Dewi berusaha memberi ide untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Erika hanya tersenyum. Sepertinya mood nya kembali pulih. "Baiklah kalo begitu, aku ikut!" Sahutnya tampak antusias.
"Oke kalo begitu ayo kita mulai, jadi permainannya begini, kita swit batu, gunting, kertas. Dan yang kalah harus memilih antara tantangan atau kejujuran! Bagaimana? Deal?" Seru Dewi lagi dengan bersemangat.
"Oke setuju!" Erika juga terlihat tampak antusias.
"Oke!" Sambung Tari dan Indri secara bersamaan.
"Baiklah, aku hitung sampai tiga ya, satu...dua...tiga...!" Dewi melemparkan tangannya yang tergenggam ke udara. Itu menandakan ia memilih batu dalam swit kali ini. Tari dan Indri ternyata melakukan hal yang sama. Dan hanya Erika yang mengeluarkan gunting.
"Wah Nona Erika, anda kalah!" Seru Dewi sambil tertawa. Dan Erika hanya bisa memanyunkan bibirnya tanda kecewa. "Nah...sekarang nona mau pilih kejujuran atau tantangan?" Lanjut Dewi tampak antusias.
Erika segera memutar bola matanya sejenak, ia tampak sedang berpikir. "Baiklah! Tantangan saja!" Jawabnya mantap.
"Baiklah, siapa yang mau memberikan tantangan untuk nona Erika? Bagaimana kalo kamu saja Indri!" Ujar Tari sambil menoleh ke arah Indri.
"Kenapa harus aku yang memberi tantangan?" Indri merasa sedikit terkejut. "Ya baiklah. Aku tak kan sungkan-sungkan lagi sekarang!" Akhirnya Indri pun menyetujui.
"Apa?!" Wajah Erika seketika memerah dan terkejut. "Kalo aku tidak mau melakukannya bagaimana?" Lanjutnya dengan suara lemah.
"Kalo anda tidak mau melakukan tantangan dari kami, sebagai hukumannya anda harus menghabiskan satu mangkuk wasabi ini, Hemm...bagaimana?" Indri mengangkat semangkuk wasabi Dari atas meja. Bermaksud mengacungkannya pada Erika.
"Hei...kalian ini apa-apaan, ini namanya pemerasan!" Rutuk Erika dengan memanyunkan bibirnya. Tapi sebenarnya ia tidak sedang marah sungguhan. "Baiklah, aku akan terima tantangan kalian!" Jawab Erika akhirnya dengan wajah mantap.
Indri dan yang lainya kini yang gantian tercengang, menatap satu sama lain.
"Baiklah Erika! Bersemangat lah!" Ujar Tari dengan tersenyum.
"Wah nona. Ayo semangat!" Di ikuti pula oleh Indri dan Dewi. Mereka juga tampak antusias.
"Nona yang akan menelpon tuan Dave, kenapa malah aku yang deg-deg kan?" Seru Dewi yang nampak exited sendiri.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, di sebuah ruangan di kantor, Dave tampak sedang meeting dengan seorang client. Tampak Mark juga ada disana menemaninya menemui client.
Di tengah-tenga meeting berlangsung. Tiba-tiba suara ponsel milik Dave yang di pegang oleh Mark berdering. Mark berusaha memeriksa sejenak. Dan sederet nama Erika sedang melakukan panggilan di ponsel tersebut. Mark pun segera mengambil inisiatif untuk mendekat ke tempat Dave sedang duduk. Dengan sedikit membungkuk dan mendekatkan mulutnya di sisi telinga Dave. Mark berusaha membisikkan sesuatu.
Dan tanpa pikir panjang Dave pun meraih ponselnya dan langsung menjawab panggilan telpon dari istrinya tersebut.
"I love you!" Seru Erika dan langsung segera menutup telponnya. Jantungnya saat ini pasti sudah berdegup sangat kencang.
Dave yang mendengar pernyataan Erika yang sekilas itupun, wajahnya tampak seketika memerah. Ia pun segera menyerahkan kembali ponselnya pada Mark tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya sedikit terkejut tadi. Kemudian setelah itu ia kembali melanjutkan meeting nya yang belum selesai.
******
"Wah...Nona, bagaimana perasaanmu setelah mengatakan hal itu pada tuan Dave?" Lagi-lagi jiwa keingin tahuan Indri terlontar.
"Bodoh, bicara apa kau? Mereka kan suami istri? Kenapa menanyakan hal itu padanya, pasti mereka sudah terbiasa mengatakan hal semacam itu!" Ujar Tari yang merasa tidak enak dengan Erika. Terlebih melihat perubahan wajah Erika yang benar-benar terlihat gugup.
"Tapi kalo ku lihat, nona Erika sangat tegang saat mengatakanya, seperti orang yang baru saja mengungkapkan cinta!" Dewi menatap menyelidik.
"Sok tahu, dari mana kamu punya teori seperti itu? Atau itu jangan-jangan adalah pengalamanmu?" Sergah Tari sambil terkekeh.
"Ah tidak...aku belum pernah menyatakan cinta pada seorang pria. Bukankah itu memalukan? Aku kan tahu dari film yang pernah ku tonton. Ekspresi gadis saat mengungkapkan cinta seperti ekspresi nona Erika lagi!" Jelas Dewi dengan tampang tanpa dosanya.
"Jadi menurut kalian, aku tadi itu memalukan ya?" Raut wajah Erika terlihat sedih sekarang.
"Eh...bukan begitu maksudku nona, maaf kan aku!" Ujar Dewi dengan segera. "Aduh...gawat-gawat, sepertinya aku salah bicara tadi. Bagaimana ini!" Gumam-gumam.
"Sudahlah, tidak apa-apa! Lupakan, ayo kita main lagi!" Seru Erika sambil tersenyum. Berusaha menutupi perasaan yang bergejolak di hatinya.
Sepertinya aku memang sangat memalukan. Tapi biarlah. Setidaknya perasaan ku ini sedikit demi sedikit tersampaikan. Tidak peduli siapa yang harus mengungkapkannya terlebih dahulu. Aku hanya ingin perasaanku lega. Itu saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG.