Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Dave dan perasaanya


__ADS_3

Selang beberapa saat setelah kepergian Kei, tiba-tiba sebuah mobil kembali terparkir di halaman rumah Dave. Mobil yang tidak asing lagi. Itu mobil milik Mark. Erika langsung bisa mengenalinya. Mobil ports warna hitam. Gadis itu masih berdiri mematung disana. Tak beberapa lama kemudian seorang pria dengan wajah kaku keluar dari dalam mobil tersebut.


Mark berjalan mendekat ke arah Erika yang seolah sedang menunggunya di tempatnya berdiri.


"Hai E!" Ujarnya datar saat sudah berdiri tepat di hadapan Erika. Wajahnya sedikit terlihat salah tingkah walaupun ia berusaha menutupinya dengan gayanya yang sok cuek. Tapi tetap saja bahasa tubuh tak bisa menipu.


"Hai Mark!" Sahut Erika seraya tersenyum. Tapi senyum yang di paksakan. Ia masih sedikit merasa bersedih dan bersalah karena kepergian Kei tadi.


"Emm..." Lagi-lagi Mark terlihat gugup. Lidahnya seolah kelu untuk berkata-kata.


"Ya..aku tahu!" Sela Erika cepat. Ia tak ingin membuat Mark susah payah menjelaskan.


Mata Mark langsung menatap terkejut pada Erika. Seolah sedang berkata. Kau tahu apa? Jantung Mark hampir saja copot kalo saja Erika benar-benar tahu isi hatinya. Ia benar-benar tak siap.


"Aku tahu pasti kau datang di suruh Dave kan? Untuk menemaniku jalan-jalan? Benarkan?" Sambung Erika yang seketika membuat Mark seketika langsung bisa bernafas lega. Ternyata itu yang di pikirkan Erika. Bukan seperti yang dipikirkannya tadi. Bisik hati Mark merasa lega.


"Iya..Kau benar E.." Jawab Mark agak sedikit canggung. Ia benar-benar merasa luar biasa gugup setiap kali harus berhadapan dengan gadis yang di sukainya itu.


"Baiklah Mark, kau masuklah dan tunggu aku di ruang tamu, aku akan berganti pakaian dulu , setelah itu baru kita pergi ke luar." Seru Erika dengan suara sedikit lesu. Suasana hatinya benar-benar buruk pagi ini.


"Hemm..Baiklah." Ujar Mark singkat.


*****


Singkat cerita. Mark dan Erika kini sedang berada di suatu pusat perbelanjaan di kota J. Mereka sedang berjalan-jalan sambil melihat-lihat, Erika tampak senang sekali melihat barang-barang lucu yang ia temui di toko-toko yang berjajar di dalam mall tersebut.


Senyumnya tampak mengembang saat mencoba sebuah kacamata yang menurutnya lucu. Ia menghadap ke arah cermin, dan gadis itupun menarik Mark untuk mengikuti aksinya. Kemudian sambil tertawa ceria Erika mengambil ponselnya dari saku outernya dan mulai mengambil gambar Mark dengan ponselnya. Mark hanya bisa menurut, melihat Erika yang begitu ceria, Mark tak tega untuk mengecewakan gadis tersebut. Sepertinya cinta Mark pada Erika sudah semakin dalam. Hingga ia rela melakukan apapun demi melihat senyum ceria di wajah Erika. Senyum yang selalu membuatnya rindu ingin bertemu.


"Ahaha yang tadi itu lucu ya!" Ujar Erika sambil melihat-lihat hasil jepretannya di kamera ponselnya. Mereka sekarang berjalan mencari restoran untuk makan siang.


Mark yang berjalan di samping Erika. Hanya bisa tersenyum sambil menoleh ke arah Erika yang sedang tersenyum ceria.

__ADS_1


Erika tak memperhatikan jalan karena sibuk melihat-lihat foto dalam panselnya. Tiba-tiba seseorang dengan troli belanjaannya hampir saja menabrak tubuh Erika. Tapi untung saja Mark cepat tanggap. Ia menarik tubuh Erika ke dalam pelukannya untuk menghindari troli tersebut.


Untuk sejenak Erika merasa terkejut. Mark tengah memeluknya sekarang. "Apa kau baik-baik saja!" Seru Mark saat mendapati Erika belum lepas dari pelukannya.


Dengan gugup Erika kemudian segera menarik diri dari pelukan Mark. "Ya..aku baik-baik saja Mark, terimakasih ya, untung ada kamu, aku tidak tahu apa yang terjadi tadi seandainya kamu tadi tidak ada." Ujar Erika sambil mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ia tampak sedikit salah tingkah. Mark terus saja menatapnya dengan seksama. Rasanya ia tak ingin melepaskan gadis itu untuk selamanya.


Mark baru saja ingin meraih tangan Erika, bermaksud untuk menggandengnya, tapi sialnya Erika sudah berjalan duluan meninggalkannya. Erika yang merasa sedikit gugup ingin segera menghindar dari hadapan Mark. Tadi sempat terjadi sedikit kecanggungan di antara keduanya.


Akhirnya Mark pun berlari kecil demi bisa menyamai langkah Erika. "Maaf tadi sudah membuatmu terkejut!" Ujar Mark saat sudah berada tepat di sisi Erika.


"Tidak apa-apa Mark, kenapa kau harus minta maaf, harusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kau baru saja menyelamatkan hidupku." Jawab Erika dengan nada senormal mungkin. Perlahan kecanggungan yang sempat terjadi di antara mereka menghilang. Mereka bisa mengobrol biasa lagi sekarang.


"Oya Mark bagaimana kalo kita cari makan di luar saja, semisal makan di pinggir jalan begitu, mau tidak?" Tiba-tiba Erika mangajukan ide.


"Emm kenapa?" Tanya Mark sedikit ragu.


"Emm..Tidak apa-apa, aku hanya merasa bosan makan di restorant mewah terus, sekali-kali ingin mencicipi makanan di pinggiran jalan. Kamu mau ikut tidak?" Jawab Erika dengan sorot mata berbinar. Membuat Mark tak bisa menolak ajakan gadis manis tersebut.


"Baiklah ayo!" Ujar Mark akhirnya.


"Yeiii..!!" Seru Erika senang.


*****


Di kantor tampak Dave sedang melihat-lihat pekerjaan di layar laptopnya. Sesekali ia melirik jam tangannya. Kemudian segera mengecek ponselnya. Ia menyekrol ponselnya seperti sedang mencari sesuatu. Tapi ia tak menemukan apa yang ia cari di notivikasi ponselnya tersebut. Lebih tepatnya tak ada pesan apapun dari Erika yang ia temui sekarang. Raut wajah Dave mendadak gelisah. Biasanya gadis itu selalu mengabarinya lebih dulu dengan banyak pesan meskipun Dave kadang tak membalas pesannya.


"Apa kau sekarang sudah mulai merasa nyaman dengan Mark? Sampai-sampai kau lupa menghubungiku?" Dave bergumam pada dirinya sendiri.


Kemana perginya gadis bodoh itu.


Tanpa sadar Dave sudah mulai mengkawatirkan keadaan Erika dan mulai mengharapkan keberadaan gadis itu di sisinya. Tapi lagi-lagi ia sekuat tenaga berusaha mengingkari isi hatinya.

__ADS_1


"Dia kan sedang bersama Mark, pasti dia sedang baik-baik saja sekarang, Yach..lagipula apa peduliku." Gumamnya lagi sambil berdiri dari duduknya.


"Ah tapi tidak, kenapa aku merasa kalo aku mulai merin du kan nya.." Gumam Dave ragu-ragu.


"Ah..tidak..tidak, ini tidak boleh sampai terjadi. Aku tidak mau memiliki perasaan yang seperti ini lagi." Dave mengacak-ngacak rambutnya sendiri seolah merasa frustasi dengan perasaanya sendiri.


Kemudian pandangannyapun teralih pada seseorang yang segera ingin memasuki ruangannya. Itu terlihat dari pintu ruang kerjanya yang terbuat dari kaca.


Dengan buru-buru ia kembali duduk di balik meja kerjanya dan memasang gaya elegant. Tatapannya pura-pura ke arah laptop.


Rupanya yang baru akan memasuki ruangannya adalah sekretarisnya.


"Maaf Pak mengganggu, ini berkas yang bapak minta." Ujar sang sekretaris saat sudah berada tepat di depan meja kerja Dave. Sekilas ia melirik ke rambut Dave yang tampak berantakan.


"Baiklah letakkan disitu!" Seru Dave datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


Sang sekretaris pun tersenyum simpul melihat penampilan Dave yang seperti itu. Biasanya Bosnya sangat rapi dan cool. Tapi kali ini penampilannya sedikit berantakan. Dan ia merasa pasti ada yang tidak beres. "Baik pak!" Jawab sang sekertaris akhirnya sambil terus menahan tawanya.


"Hei..kau ini kenapa? Kenapa tersenyum begitu sambil memandangi aku seperti itu? Tegur Dave akhirnya saat menyadari ada gelagat mencurigakan dari sang sekretaris.


"Tidak ada apa-apa Pak, maafkan saya! Permisi!" Seru sang sekretaris sambil ingin buru-buru berlalu dari hadapan Dave karena tak ingin kena masalah. Apalagi sepertinya sekarang Dave sedang ada masalah.


"Emm..tunggu Tari!" Seru Dave berusaha menghentikan langkah sekretarisnya.


Tari merasa terkejut, jantungnya hampir saja lepas rasanya.


Matilah aku, kenapa juga tadi aku diam-diam menertawakan penampilannya yang berantakan.


Taripun dengan ragu-ragu kembali memutar tubuhnya agar bisa melihat ke arah Bosnya lagi yaitu Dave. "Ya pak ada apa?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2