
Langit terlihat teduh, awan hitam menggantung menutup sinar matahari pagi. Itu terlihat saat Erika mulai membuka tirai kamar di pagi hari ini. Langit yang terlihat redup, bagaikan hatinya yang juga sendu.
Di tatapnya wajah Dave yang masih tertidur lelap di sofa dekat jendela. Untuk sejenak Erika memandang wajah lelah Dave yang masih dengan mata terpejam. Hatinya sedikit bergetar. Rasanya ia ingin mengungkapkan seluruh perasaanya terhadap suami pura-puranya itu. Tapi lagi-lagi lidahnya terasa kelu.
Perlahan ia mendekat, duduk bersimpuh di dekat sofa, tanpa aba-aba Erika pun mulai mencium pipi Dave lembut. Kemudian dengan wajah bersemu merah ia tersenyum. Setelah itu menjauh dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Mungkin ini hal gila yang pernah ia lakukan, tapi ciuman di pipi tadi terasa manis baginya. Ciuman curian di pagi hari yang teduh.
Setelah Erika berlalu, Dave mulai membuka matanya, rupanya ia tadi hanya pura-pura tertidur. Di pegangnya pipinya sendiri yang bekas ciuman dari Erika tadi. Sebuah senyum tipis pun tersembul dari bibirnya.
"Hemm..Dia manis juga!" Gumam Dave lirih. "Apa hatiku sudah mulai tersentuh? Ah tapi jangan dulu, aku masih butuh waktu!" Lanjutnya seraya mengubah posisi tidurnya mengahadap ke langit-langit kamarnya.
Tak lama setelah itu, Erika sudah mulai kembali dari kamar mandi. Menyadari hal itu Dave kembali pura-pura tertidur. Erika masih berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil seusai mandi tadi. Matanya sambil terus tertuju pada Dave.
Hemm dia belum bangun juga. Tidurnya pulas sekali.
Sambil menuju ke arah lemari untuk mengambil baju ganti. Erika hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya. Saat ia berjinjit untuk mengambil baju di rak lemari paling atas, Dave tiba-tiba saja datang dan membantunya untuk meraih baju yang ia inginkan. Posisi Dave tepat di belakangnya, membuat jantungnya terasa mau copot saat itu juga. Mungkin saat itu juga wajah Erika sudah mulai panas dan bersemu merah.
"Kau su..dah ba..ngun?" Ujar Erika dengan suara terbata. Tapi bicara tanpa menghadap ke arah Dave yang ada di belakangnya.
Dave mundur beberapa langkah setelah melakukan aksinya mengambilkan baju untuk Erika.
"Hei..! Kenapa bicara tanpa menghadap ke arahku, itu tidak sopan tahu!" Ujar Dave dengan nada sedikit ketus.
Dengan perasaan berdebar Erika pun memberanikan diri untuk menghadap ke arah Dave sekarang. Masih dengan malu-malu Erika tampak salah tingkah, apa lagi ia merasa risih saat Dave mulai memandanginya dengan penampilannya saat ini.
"Kenapa kalo aku sudah bangun?" Seru Dave lagi, sambil menatap ke arah Erika yang masih tampak salah tingkah.
"Se..Jak..kapan?" Erika benar-benar merasa gugup hingga masih terbata-bata saat bicara.
"Sejak kau dengan lancang tadi berani-beraninya kau mencuri untuk mencium pipiku." Tatapannya kini makin dingin ke arah Erika.
__ADS_1
Jantung Erika lagi-lagi terasa mau copot mendengarkan penuturan terus terang dari Dave. Seketika itu juga ia membekap mulutnya sendiri, merasa kaget sekaligus malu yang bercampur menjadi satu.
Jadi dia tadi sadar aku menciumnya? Ya ampun, bagaimana ini? Aku tidak ingin ia tahu perasaanku yang sebenarnya.
"Kenapa kau!" Seru Dave yang melihat Erika tampak syok dan belum bicara apa-apa.
Seketika Erika menggeleng cepat. "Ahahaha..aku pasti sudah gila melakukan hal semacam itu, itu aku hanya terbawa suasana saja karena aku baru saja membaca novel romantis tadi malam. Ahaha." Lagi-lagi Erika berusaha tertawa konyol untuk menutupi kegugupannya.
"Benarkah? Jadi bukan karena kau sudah mulai suka padaku?" Seru Dave tanpa mengubah ekspresi datarnya.
Sebenarnya aku suka, suka sekali malah. Tapi Aku tahu kau tidak suka padaku, jadi aku tak mau mengatakannya. Biar saja begini. Sampai kau menyadarinya sendiri suatu saat nanti.
"Hei..! Kenapa lagi-lagi bengong seperti itu? Kau terlihat sedikit menggoda juga ya kalo berpenampilan seperti itu!"
"Apa?"
"Ya..tapi sayangnya aku tidak tergoda!" Ujar Dave lagi sambil berlalu dari hadapan Erika.
*****
Erika sudah selesai berpakaian saat Dave baru selesai dari kamar mandi. Seperti biasa Erika menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan Dave dan membantunya mengenakan dasi untuk pria tersebut. Selama itu pula semuanya jadi kembali terasa canggung. Erika tak mengatakan apapun dari tadi, begitupun juga Dave. Hanya ucapan terimakasih dan ya saja sejak tadi yang terdengar.
"Kau masih mau dirumah, atau ikut Akau ke kantor?" Ujar Dave akhirnya mencoba membuka percakapan.
Erika terlihat agak tersentak sedikit karena terkejut. "Eh..itu, aku masih ingin di rumah saja sepertinya." Jawab Erika cepat.
"Oh..!"
"Kok..Hanya oh?" Erika merasa bingung dengan tanggapan Dave.
__ADS_1
"Tidak, Aku kira kau ingin jalan-jalan lagi bersama Mark. Bukankah kalian kemarin jalan-jalan berdua saja?" Ujar Dave sambil berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil sesuatu.
Hah..Mati aku, kenapa Aku tidak cerita soal itu semalam, apa dia akan salah faham? Tapi sepertinya dia cuek saja. Hemm.
"Ya..aku pergi keluar dengan Mark kemarin, aku merasa suntuk di rumah terus. Apa kau marah?" Pasti ini pertanyaan konyol, pikir Erika. Mana mungkin dia marah, Dave kan tidak pernah peduli padanya. Lagi-lagi pikirannya mengumpat dirinya sendiri.
Dave sedikit tergelak. "Ahaha..Untuk apa aku marah, kau itu konyol sekali, kau pikir kau siapa? Justru aku yang menyuruh Mark untuk menemanimu kemarin."
Hah..Jadi dia yang menyuruh? Untuk apa? Apa sebenarnya yang dia rencanakan? Hemm..kenapa pria ini penuh misteri sih.
"Kalo kau ingin pergi lagi bersamanya, biar nanti aku suruh Mark untuk menemanimu lagi." Lanjut Dave dengan suara datar, dan kini sudah tampak selesai mencari benda yang di carinya tadi, yaitu ponsel.
"Kau jangan berpikir macam-macam, aku menyuruh Mark untuk pergi bersamamu karena ia adalah orang kepercayaanku, jadi kau pasti aman bersamanya." Dave seolah tahu apa yang ada di pikirkan Erika.
Jadi dia mengkawatirkan aku? Benarkah? Tapi kenapa aku seperti belum bisa mempercayainya sepenuhnya.
"Terimaksih ya sayang atas perhatiannya." Ujar Erika seraya tersenyum manja pada Dave. Pikiranya mengatakan pasti dia sudah gila karena lagi-lagi berani mengatakan hal semenggelikan itu.
Erika menyentuh bagian kancing bajunya.
"Kenapa kau? Sudah ku bilang aku tak berselera padamu." Dave kembali bermuka masam. Ia merasa sebal tiap kali Erika berusaha menggodanya.
Ahaha apa-apaan dia itu, baru segitu saja wajahnya sudah merah.
"Aku pikir kau menginginkannya tadi, jadi aku hanya berinisiatif saja."
Ah Aku pasti salah minum obat, bagaimana bisa aku melontrkan kata-kata seperti itu.
"Cih..apa-apaan kau ini!" Berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi pada Erika.
__ADS_1
Huaaahh...Aku harus bagaimana lagi, aku juga sebenarnya tidak ingin seperti ini.
BERSAMBUNG...