Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Sahabat


__ADS_3

Tari sang sekertaris tampak susah payah menelan salivanya. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa tercekat saat ia sudah menghadap menatap ke arah Dave bosnya.


"Jangan tegang begitu, aku hanya bermaksud untuk meminta sedikit bantuanmu." Ujar Dave yang mendapati kalo sekertarisnya itu sedang merasa ketakutan karenanya. Dalam hati Dave kadang ia ingin tertawa tiap kali melihat para karyawannya memasang wajah ketakutan saat berhadapan dengannya. Apa dia seperti monster yang menakutkan sampai-sampai mereka merasa takut? Begitu pikirnya. Hah..ternyata memang benar, hanya Erika lah sang istri pura-puranya yang berani berkata lancang padanya. Padahal semua karyawannya sangat sopan dan penurut saat di hadapannya.


"Bisakah aku meminta tolong padamu? Pesankan aku tempat untuk makan malam di sebuah restorant? Aku ingin candle light dinner dengan seseorang. Tolong di dekorasi sekalian ya!" Ujar Dave lagi dengan suara datar dan normal. Ia sadar tadi sudah membuat sang sekertaris ketakutan padanya.


"Emm..Baik pak!! Saya akan segera laksanankan.." Ujar Tari dengan masih sedikit gugup. Ia sampai-sampai menganggukkan kepalanya beberapa kali ke arah Dave.


Ya ampun, aku kira Pak bos mau marah-marah seperti biasanya. Mulutnya kan kalo marah menyakitkan. Ternyata ia hanya ingin aku memesan tempat di sebuah restorant untuk makan malam.


"Apakah masih ada yang bisa saya bantu pak?" Ujar tari berusaha bertanya dengan seramah mungkin.


"Jangan sok akrab ya! Kerjakan saja yang tadi ku perintahkan. Nanti kalo ada apa-apa aku hubungi kami lagi." Jawab Dave dengan nada dingin seperti biasnya. Sikapnya memang suka berubah-ubah.


Hah..Siapa juga yang mau sok akrab? Aku kan hanya bertanya. Apa perlu sewot begitu. Dasar Bos sinting. Umpat Tari dalam hati.


Untung tampan. Tapi tetap saja menyebalkan. Istrinya bagaimana ya? Apa dia betah dengan orang seperti itu?


Tari masih berdiri termangu dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa masih berdiri disitu? Apa kau tidak ada kerjaan? Atau kau memang tak ingin kerja lagi disini?" Dave menatap sekretarisnya dengan tatapan mengiris.


"Maaf pak, jangan pecat saya, saya masih mau kerja pak, maaf, saya akan kerjakan perintah bapak yang tadi, sekali lagi maaf!" Ujar Tari yang merasa ketakutan sampai-sampai ia kembali menganggukkan kepalanya berkali-kali.


Oh..ya ampun, dasar bos sinting. Bikin aku was-was saja.

__ADS_1


"Nah..Tunggu apa lagi, cepat sana kerjakan!"


"Baik Pak!"


*****


Sementara itu di tempat lain, Erika dan Mark sedang mengunjungi kedai makan kecil di penggir jalan. Entah apa yang mereka pesan. Tapi sepertinya mereka sangat menikmati makanan yang sudah terhidang di meja mereka.


Tanpa sadar, karena makan dengan lahapnya, bibir Erika terlihat belopotan karena makanan. Mark yang melihat itu dengan cekatan mengambil tisu dan segera melap bibir Erika yang belepotan karena bekas makanan.


Awalnya Mark merasa canggung, tapi mungkin inilah kesempatannya untuk menyentuh gadis itu. Menyalurkan seluruh perasaanya yang sebenarnya dengan diam-diam.


Erika sejenak hanya bisa terpaku. Pancaran sinar mata Mark terlihat lembut, seolah memancarkan ketulusan dari dasar hatinya. Tiba-tiba perasaan hangat menyusup ke dalam hati Erika tanpa ia sadari.


"Ah..maaf aku lancang, aku hanya berusaha membersihkan sisa makanan di bibirmu saja, sekali lagi maaf kalo sudah lancang." Ujar Mark dengan malu-malu. Ia sebenarnya tak sanggup menahan debar jantungnya sendiri. Ini pertama kalinya baginya bisa sedekat ini dengan seorang wanita.


"Aku..." Mereka bicara bersamaan. Lalu kemudian saling tertawa.


"Baiklah kau bicara lebih dulu." Sela Mark cepat.


Seandainya Dave juga bisa bersikap lembut seperti Mark. Pasti keadaan kami berdua akan jauh lebih baik.


"Tidak jadi Mark, kau saja yang lebih dulu bicara." Ujar Erika sambil menggeleng pelan. Ia memang lupa apa yang akan ia bicarakan tadi. Pikirannya sudah melayang jauh berpikir tentang Dave. Pria itu yang selau di hatinya. Meskipun sikap hangat dari Mark sempat menyentuh hatinya tadi.


"Katakan saja Erika ada apa? Kau bisa bicara apapun padaku, aku akan selalu mendengarkanmu. Percayalah padaku." Mark berusaha meyakinkan Erika yang terlihat jelas di wajahnya menyimpan banyak keraguan.

__ADS_1


"Mark..Apa menurutmu Dave akan jatuh cinta padaku? Aku ingin tahu perasaannya padaku seperti apa. Setiap hari aku memikirkan hal itu. Sikapnya yang sulit di tebak juga kadang menyiksaku, meski begitu aku tak pernah bisa membencinya." Wajah Erika terlihat benar-benar sedih sekarang. Tak mengerti harus berbuat apa. Dan bagaiman caranya mengungkapkan perasaanya pada Dave.


Melihat itu Mark jadi ikut sedih. Tapi ia tak ingin menunjukkannya pada Erika. Tapi terlebih lagi perasaanya sangat tersakiti oleh kenyataan bahwa Erika hanya mencintai Dave. Dan ia mencintai Erika. Cinta Mark jelas bertepuk sebelah tangan. Meski begitu Mark juga tidak mungkin bisa membenci Erika.


"Kalo kau suka pada tuan Dave. Kau harus punya keberanian untuk mengatakannya E, kau tidak bisa diam terus seperti ini." Jawab Mark sambil berusah tersenyum, meskipun hatinya sendiri terasa nyeri dan pilu.


"Andai saja mengungkapkan kata cinta itu mudah, tapi sayangnya tak semudah itu untukku." Wajah Erika terlihat semakin sedih.


"Iya, aku mengerti E!"


Karena aku juga tak bisa mengungkapkan perasaan cintaku padamu.


"Aku tidak ingin mengingkari perasaanku sendiri, aku tahu kadang dia menyakitiku dengan sikapnya, tapi aku masih bertahan, belum ingin menyerah. Aku hanya ingin suatu saat nanti, ia bisa menyadari keberadaan ku di sisinya bukanlah hal kepura-puraan."


Sejenak Erika mengambil nafas panjang dan melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak akan pergi, meskipun semua orang pergi darinya, aku ingin dia melihatku, aku ingin tahu perasaanya terhadapku. Aku ingin menyakinkannya, bahwa ada cinta yang tulus untuknya, aku pasti akan melakukan apapun demi dirinya, dan tidak akan berusaha untuk membuatnya terluka."


Jadi perasaanmu sedalam itu pada Tuan Dave, hemm.


"Ya..nanti suatu saat pasti tuan Dave akan menyadari perasaanmu itu terhadapnya. Jangan sedih lagi E, masih ada aku disini, untukmu." Perlahan tapi pasti, perasaan Mark yang berasal dalam hatinya, pelan-pelan tersampaikan juga pada Erika meskipun samar.


Erika tersenyum melihat pancaran sinar mata Mark yang begitu lembut dan menenangkan hati. "Terimakasih Mark, kau memang sahabat yang baik."


Ah..Jadi aku hanya sebatas sahabat di matamu? Suatu hari, bolehkan aku berharap lebih? Bolehkah?


"Ya..Aku senang kau menganggapku sahabatmu E, itu sangat berkesan, terimakasih!" Mark tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya menahan getir dalam hatinya.

__ADS_1


Bagaimanapun juga ia harus menerima kenyataan ini. Untuk saat ini memang itulah yang terbaik. Sahabat.


BERSAMBUNG.


__ADS_2