
Senja kelabu.
Erika masih nampak menunggu kedatangan Dave di kamar rawatnya. Tatapannya kosong memandang langit senja di balik jendela kaca lebar dalam kamar rawatnya. Mark sudah pamit untuk kembali ke kantor. Sedang kan Ibu nya juga sedang ada urusan dengan teman-teman bisnisnya yang baru. Erika sendirian sekarang dan merasa sepi.
Dave kau kemana? Apa kau tak mengkhawatirkanku sedikit pun? Gumam Erika pilu dalam hatinya.
Tak lama kemudian terdengar suar langkah kaki yang mulai memasuki ruangan tempat ia di rawat. Seketika Erika menoleh, berharap itu suara langkah kaki Dave suaminya.
Tapi wajah Erika seketika berubah kecewa. Ternyata yang datang adalah Tari. Bukanya ia tak senang dengan kedatangan Tari. Tentu saja Erika senang di jenguk oleh teman barunya tersebut. Tapi sore ini, entah mengapa ia begitu merindukan Dave. Meskipun Dave sangat menyebalkan. Tapi Erika seolah tak bisa membencinya dan berhenti merindukannya.
"Hai...Erika! Bagaimana keadaan mu?" Seru Tari seraya tersenyum dan mendekat ke ranjang tempat Erika berbaring saat ini.
Erika membalas tersenyum. "Seperti yang kau lihat!"
"Sepertinya keadaanmu sudah membaik! Syukurlah kalo begitu!" Ujar Tari seraya meraih tangan Erika berusaha untuk memberi dukungan.
"Kok...kamu bisa tahu aku ada disini?" Erika menatap bingung pada Tari.
"Oh...itu, tadi di kantor Mark yang memberitahukannya padaku."
"Oh...Jadi seperti itu, lalu Dave....." Erika tak melanjutkan kalimatnya, ia merasa ragu.
"Pak Dave tidak ada di kantor sejak tadi pagi. Entah ia pergi kemana seharian ini!" Jelas Tari yang seolah tahu arah pembicaraan Erika.
Hemm...Pergi kemana dia?
"Hemm...Jadi begitu ya!" Jawab Erika dengan raut wajah sedih.
Tari pun kembali tersenyum untuk menghiburnya. "Sudahlah...nanti pasti Pak Dave akan kembali menemui mu!"
Erika pun jadi ikut tersenyum setelah mendengar ucapan Tari. Meskipun hatinya masih meragu.
"Tari!"
__ADS_1
"Ya..."
"Apa kau tahu sesuatu tentang pak Dave? Semisal dulu, apa dia pernah punya seorang kekasih?" Tanya Erika dengan rasa ingin tahu. Selama ini Erika tak mengetahui apa-apa tentang Dave. Dave sulit sekali di ajak bicara. Dan Mark. Juga selalu menghindar jika di tanya soal masa lalu Dave.
"Oh...Soal itu..." Tari merasa sedikit ragu untuk menjawab.
"Katakan padaku jika kamu sesuatu tentang Dave!" Ucap Erika dengan tatapan memohon.
Tari pun jadi merasa serba salah. Di satu sisi ia merasa tidak enak pada Erika. Karena ia memang tahu sedikit tentang Pak Dave dengan seorang wanita di masa lalunya. Tapi di satu sisi ia takut Dave akan memecatnya kalo ia sampai ketahuan menceritakan hal ini pada Erika.
"Kenapa kau tidak coba langsung tanyakan saja pada Pak Dave?" Tari berusaha mengalihkan perhatian Erika agar tak mendesaknya lagi untuk cerita.
"Bagaimana aku mau tanya padanya? Kami saja jarang sekali mengobrol. Kau tahu sendiri kan, sikap nya sangat dingin! Huh!" Dengus Erika merasa kesal.
"Aku tahu sih sedikit tentang cerita Pak Dave dengan seorang wanita di masa lalunya!" Tari malah seolah salah bicara sekarang. Itu jadi semakin rasa penasaran Erika.
"Aduh...!" Tari tampak menyesal karena telah mengucapkannya.
"Ayo Tari, ceritakan padaku! plies!" Erika berkata seraya membuat gerakan tangan memohon.
"Baiklah...aku janji tidak akan memberitahukannya pada si dingin itu, hehehe!" Seloroh Erika, dan itu membuat mereka berdua jadi tertawa cekikikan. Apa katanya tadi? Dingin! Erika merasa geli mendengar kalimatnya sendiri.
"Ya jadi seperti itu ceritanya!" Tari seolah tampak sudah selesai menceritakan sedikit tentang Dave dan mantan kekasihnya Elsa yang sudah meninggal.
"Oh...jadi seperti itu?" Erika mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Terimakasih sudah mau memberi tahuku, jadi aku tidak perlu menerka-nerka kenapa sikap Dave jadi seperti ini!"
"Sama-sama Erika!" Tari tersenyum. "Tapi kalian itu aneh deh. Bukan kah kalian suami istri, tapi aku melihat kalian berdua seolah bertingkah seperti orang asing!" Celetuk Tari yang sebenarnya sudah curiga ada yang tidak beres dengan pernikahan antara Dave dan Erika.
"Jadi kau melihatnya seperti itu ya?" Erika malah balik bertanya.
"Bukan hanya aku sih yang berpikir begitu! Tapi gosip itu juga sudah menyebar ke seluruh kantor. Bahkan ada yang mengatakan kalo kau hanya istri pura-pura pak Dave."
"Apa?!" Mulut Erika seketika menganga merasa terkejut.
__ADS_1
"Ya...begitu!"
"Hemm..."
"Kenapa Erika? Kalau kau tidak ingin menjelaskan sesuatu pada ku juga tidak apa-apa. Aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Lagi pula aku yakin itu hanya gosip murahan. Jadi lupakan saja, dan tidak usah dengarkan mereka." Jelas Tari sambil mengelus punggung tangan Erika. Bermaksud kembali memberinya dukungan.
"Terimakasih Tari atas pengertiannya, bukannya aku tak mau cerita, hanya saja aku belum siap!" Erika berusaha tersenyum paksa. Padahal hatinya sudah sangat gusar. Gosip tersebut memang benar begitu adanya. Kenyataanya, dirinya hanyalah istri pura-pura Dave.
******
Keesokan paginya.
Orang yang di tunggu-tunggu Erika akhirnya datang juga. Dave datang untuk menjenguk Erika. Dan tadi Dave sempat menemui dokter yang menangani Erika. Katanya istrinya itu sudah boleh pulang ke rumah.
"Bagaimana kabarmu hari ini? Apa sudah lebih baik?" Sapa Dave berusaha terlihat ramah di hadapan Erika. Perubahan sikap Dave ini malah membuat mereka berdua terlihat canggung.
Erika berusaha tersenyum. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" Ujar Erika dengan sama ramahnya. Ia sudah mendengar cerita tentang Dave dan mantan kekasihnya kemarin. Jadi sekarang ia akan berusaha untuk mengerti Dave.
"Hemm...Baguslah kalau begitu!" Dave menganggukkan kepalanya. "Hari ini kata dokter kau sudah boleh pulang. Aku akan membereskan barang-barang mu, kau bersiap-siap lah!" Lanjut Dave sambil menyerahkan goody back pada Erika yang di dalamnya berisi pakaian ganti. Dave baru saja membelikan baju baru untuk Erika. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Setidaknya ia ingin bersikap baik pada Erika demi menebus kesalahannya selama ini.
"Apa ini?" Erika masih tampak bingung.
"Coba pakailah, aku tidak tahu selera mu, semoga kau suka dengan pilihanku!" Dave berkata seraya tersenyum malu-malu.
Erika pun turut tersenyum. Ia sempat mengintip ke dalam goody back yang kini ada di tangannya. "Terimaksih banyak. Apapun pilihan mu, aku pasti akan suka. Terimakasih ya!" Ujar Erika sekali lagi dengan wajah ceria.
Sementara Dave sibuk membereskan barang-barang Erika. Erika pun sudah tampak keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang di beri oleh Dave tadi.
Erika keluar dengan malu-malu. Dave menatapnya takjub. Dres warna biru muda itu tampak pas di tubuh Erika.
"Kau kelihatan...Cantik!" Ujar Dave tqmpak tulus.
"Benarkah?" Erika mengembangkan senyum manisnya. Akhirnya Dave mau juga bersikap manis padanya. Semoga ini bukan karena rasa kasihan. Tapi karena perasaan cinta Dave yang mulai tumbuh di hatinya. Semoga. Harap Erika.
__ADS_1
BERSAMBUNG.