Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Bekerja di kantor Part 1


__ADS_3

Seperti biasanya. Malam berlalu dan pagipun menjelang. Erika sudah tampak bangun dari tidurnya yang begitu lelap semalam. Perlahan badannya menggeliat mencoba meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Semalam ia tak ingat kalo ketiduran saat perjalanan pulang dari restorant. Sejenak kemudian ia terduduk di atas ranjang dan melihat ke arah sofa. Disana tampak ada Dave yang masih tertidur pulas. Sebuah senyuman tersenyum dari bibir Erika. Pasti semalam Dave yang tengah menggendongnya saat ketiduran di mobil hingga ke kamar semalam.


Perlahan Erika menyingkapkan selimut yang tengah menutupi tubuhnya. Kemudian segera beranjak dari ranjang dan mulai melangkah berjalan menuju sofa tempat Dave berada.


Setelah sesampainya di dekat sofa. Erika merundukkan tubuhnya sembari menatap ke wajah Dave yang kebetulan tidur dengan memiringkan tubuhnya. Erika kembali tersenyum saat memandangi wajah tenang Dave saat tertidur. Betapapun ia ingin membenci pria itu. Erika tahu. Ia tak kan pernah bisa melakukannya.


Tak beberapa lama kemudian Dave perlahan membuka matanya. Tapi kali ini ia tidak tampak terkejut, ia malah menatap dalam ke dalam mata Erika yang kini juga menatap ke arahnya. Untuk kesekian detik mata mereka berpandangan. Kemudian tanpa disangka, Dave malah menarik tubuh Erika ke dalam pelukannya. Erika merasa terkejut, ia membulatkan matanya, nafasnya seolah terhenti seketika. Kini tubuhnya yang ramping tengah berada di atas tubuh Dave yang atletis.


"Dave kau..." Erika baru saja ingin membuka suara, tapi kalimatnya tiba-tiba terhenti ketika Dave tiba-tiba saja menarik kepala Erika untuk mendekat ke wajahnya dan mulai mencium bibirnya dengan penuh kelembutan.


Erika merasa lunglai seketika, ia hanya bisa menurut, seolah larut dalam permainan Dave.


"Apa kau ingin melakukannya?" Bisik Dave di telinga Erika seraya meniup telinga gadis itu bermaksud menggoda.


Nafas hangat Dave di telinga Erika, mbuat Erika kian terbuai.


Apa aku harus menyerahkan diriku kepada orang yang tidak mencintaiku? Apa diriku ini benar-benar tidak punya harga diri jika aku melakukannya. Aku hanya punya harga diri. Jika harga diri pun aku korbankan. Aku tidak akan memiliki apa-apa lagi. Dan mungkin setelah ini, Dave bisa menghancurkan ku dengan mudah.


Erika seolah sedang berperang dengan logikanya sendiri. Tapi tubuhnya malah seolah bersikap pasrah. Bahwa ia juga mengingini setiap sentuhan dari Dave.

__ADS_1


"Jika kau tidak mau tidak apa-apa, aku tidak akan menyentuhmu lagi." Ujar Dave seraya menghentikan aksinya.


Erika merasa malu dengan sikapnya yang seolah pasrah tadi. Dan sekarang segera menarik diri dan kini sudah tampak berdiri di sisi sofa dengan wajah menunduk.


"Aku tidak bisa menyerahkan diriku kepada orang yang sama sekali tidak mencintaiku. Karena aku bukan siapa-siapa lagi sekarang, aku hanya punya harga diri. Jika aku korbankan juga harga diriku juga. Aku tak kan memiliki apa-apa lagi. Dengan begitu aku pasti akan mudah hancur berkeping-keping saat nanti pada akhirnya kau meninggalkanku." Tutur Erika dengan wajah iba menatap ke arah Dave.


Aku mohon, katakanlah kalo kau mencintaiku juga Dave. Agar aku merasa aman dan nyaman untuk selalu berada di sisimu.


Dave hanya tersenyum miring seraya memasang wajah dingin saat mendengarkan penuturan dari Erika. "Kau itu naif sekali ya rupanya, sejak kapan kau punya harga diri, bukankah dari awal kau sudah tak punya harga diri? bahkan kau telah menggadaikannya padaku hanya demi membayar hutang, iya kan?" Jelas Dave dengan sangat lugas dan terus terang. Ia benar-benar terlihat seperti orang yang tak berperasaan.


Air mata Erika sudah mulai mengambang di sudut matanya, kata-kata Dave seolah membakar hatinya hingga menjadi panas, matanya pun turut terasa panas hingga membuatnya hampir menangis.


Tapi Erika tak ingin menunjukkan kelemahannya lagi kali ini. Kemudian Ia memasang senyum elegantnya. "Ya ampun aku hampir saja lupa kalo aku sudah tidak punya harga diri. Harusnya aku bersedia saja tadi saat kau ingin tidur denganku. Tapi karena waktu itu kau pernah bilang tak berselera dengan tubuhku. Jadi Aku hanya membantumu agar tak menyentuhku kali ini. Bukankah aku sudah berbaik hati padamu? Harusnya kau akan memberiku banyak imbalan lagi, benar tidak. Hahaha." Erika berusaha tergelak di kalimat terakhirnya. Ia sengaja melakukannya untuk menunjukkan pada Dave kalo dirinya baik-baik saja.


"Terserah padamu sajalah!" Ujar Dave dingin, kemudian ia segera beranjak dari sofa dan melangkah menuju ke kamar mandi.


*****


Dave sudah tampak rapi berpakaian dan sudah bersiap hendak pergi ke kantor. Begitupun dengan Erika, pagi ini penampilannya tampak berbeda. Gadis itu sudah tampak rapi berpakaian mengenakan baju ala kantoran. Ya...Pagi ini ia memutuskan akan ikut Dave ke kantor dan akan mulai bekerja. Ia berpikir tidak ingin jadi pengangguran lagi. Ia ingin bekerja dan mandiri agar bisa mengembalikan semua uang Dave, agar ia bisa pergi dari kehidupan Dave tanpa merasa seperti orang yang menyedihkan.

__ADS_1


"Apa kau yakin akan mulai bekerja hari ini juga?" Seru Dave dengan menatap ragu ke arah Erika.


"Tentu saja, kenapa tidak!" Jawab Erika mantap, ia sudah begitu merasa dongkol dengan pria yang kini tengah ada di hadapannya. Yang dengan tidak punya hatinya selalu mempermainkan perasaanya.


Dave berdecak. "Cih, kau pikir bekerja itu mudah, aku tidak akan pandang bulu, nanti kau harus tes dan interview dulu dengan HRD di kantor." Bicara dengan nada merendahkan.


Mendengar itu Erika bertambah makin geram. "Itu sih mudah, begini-begini aku sudah berhasil menyelesaikan S1 ku, ya meskipun di bidang Designer sih. Tapi aku yakin bisa." Ujar Erika dengan sedikit ragu. Tapi ia bertekad tidak ingin kalah dari Dave, tidak ingin Dave melukainya untuk kesekian kalinya. Ia ingin menunjukkan kalo ia bisa mandiri dan tidak akan bergantung pada Dave lagi.


"Hai..Nona, tekadmu sih bagus, tapi jangan sampai kau mengeluh di tengah jalan kalo pekerjaanmu berat ya! Aku tidak akan segan-segan untuk memecatmu kalo pekerjaanmu tidak beres." Seru Dave yang semakin ingin mengetes kesabaran Erika.


Ya ampun orang ini, bisa tidak kata-katanya tidak harus pedas seperti itu. Telingaku lama-lama sakit mendengarnya. Ya ampun...Sabar Erika sabar. Gumam Erika dalam hati.


"Kenapa kau harus memecatku. Bukankah jabatanku sebagai kepala bagian direksi? Kan aku sudah memiliki 20 persen saham darimu?!" Erika berkata dengan nada tak mau kalah.


Ya...mungkin aku ini mantan nona muda yang manja. Tapi aku itu tidak bodoh tuan.


"Hemm...Siapa bilang kau akan langsung jadi kepala bagian dewan direksi. Kau harus mulai dari bawah dulu. Agar kau cepat belajar, kau harus jadi sekertarisku terlebih dahulu, dengan begitu kau akan sering ikut meeting denganku dengan para investor dan para client. Dari situ kau baru bisa belajar mengelola sahammu sendiri saat nanti sudah menjadi kepala bagian dewan direksi." Jelas Dave dengan panjang lebar.


Mendengar itu Erika sedikit melongo. Hari-harinya pasti tidak akan mudah di akui jika harus jadi sekertaris Dave. Jadi istrinya saja sudah sangat merepotkan dan sangat menguras seluruh kesabarannya. Apa lagi sekarang di tambah harus jadi sekertarisnya. Habislah sudah.

__ADS_1


Mending kau tusuk aku saja Dave, dari pada kau siksa aku, rupanya kau sengaja ingin menghancurkan ku secara perlahan. Ya Tuhan...aku mohon kuatkan aku.


BERSAMBUNG.


__ADS_2