Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Kau kejam Dave


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu, tiba-tiba saja sang gelap sudah menyapa hari. Malam gelap nan dingin. Erika baru saja akan beranjak tidur, ia merasa lelah karena seharian tadi jalan-jalan bersama Mark. Tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Membuat Erika mengurungkan niatnya dan segera meraih ponselnya yang ada di meja kecil dekat ranjang.


Erika melihat ada sebuah pesan masuk di aplikasi chatnya.


**DAVE


Datanglah ke restorant xxxx segera, aku tunggu. Dan ingat jangan membuatku menunggu terlalu lama**.


Begitu kira-kira isi pesan singkat dari Dave.


Apa-apaan orang ini. Mendadak sekali memberitahunya, sudah tahu begitu aku di suruh harus buru-buru. Hah dasar manusia sinting. Hemm..tapi aku suka. Gumam Erika dalam hati. Dan ia tersenyum di kalimat terakhirnya.


Setelah itu gadis itu pun segera bergegas menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian ganti. Dengan tergesa-gesa ia mulai berganti pakaian, memoles wajahnya dengan sedikit make up. Lalu segera keluar kamar, kemudian berlari-lari kecil menuruni tangga. Ia tak ingin terlambat menemui Dave seperti pesan Dave. Mengingat mood pria itu gampang berubah. Dan tumben-tumbenan pria itu menghubungi Erika duluan dan mengajaknya untuk makan di restorant.


Hemm..ini sungguh hal yang tidak biasa, begitu pikir Erika, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat dengan pria itu. Sesampainya di pelataran rumah Dave, Erika segera masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir di halaman. Ia pun segera menyalakan mesinnya dan melesat pergi.


*****


Di restorant, tampak Dave menunggu dengan tidak sabar. Berkali-kali ia melirik jam tangannya. Wajahnya mulai terlihat kesal. Tapi tak lama kemudian ia melihat Erika sudah mulai memasuki area restorant. Erika mengedarkan pandangannya, matanya celingak-celinguk seolah sedang mencari keberadaan seseorang.


Saat matanya menemukan sosok itu, ia pun melambaikan tangan kepada pria yang kini juga tengah menatapnya.


Dengan senyum sumringah perlahan Erika datang mendekat. Ia merasa kagum dengan dekorasi yang ada di sekitar meja makan yang kini sedang di tempati Dave. Ada apa ini? Pikirannya tak bisa berhenti bertanya-tanya. Wajahnya sudah mulai sedikit puas karena menahan debaran jantung yang begitu kuat saat harus berhadapan dengan Dave.


"Hai!" Ujar Erika dengan sedikit canggung saat sudah berada di hadapan Dave.


"Hai juga, duduklah!" Jawab Dave dengan nada datar. Ia juga terlihat sedikit canggung.


Tapi mendengar itu, Erika masih berdiri memaku. Ia seolah masih tak percaya kalo pria itu akan menyiapkan candle light dinner untuknya.

__ADS_1


"Kenapa masih berdiri? Oh ya ampun!!" Ujar Dave sambil berdiri dari kursinya, setelah itu berjalan ke arah kursi di sebelah Erika, kemudian menariknya sedikit ke belakang agar Erika bisa duduk. "Duduklah!" Lanjut Dave masih dengan muka dinginnya.


Erika merasa terharu dengan perlakuan Dave kali ini. Ia tak menyangka jika Dave bisa juga bersikap manis dan romantis. Ya walaupun pria itu belum bisa mengubah ekspresi kaku di wajahnya.


"Terimakasih!" Ujar Erika seraya tersenyum dan mulai duduk di kursinya.


Setelah itu Dave kembali ke tempat duduknya semula.


Tiba-tiba keadaan kembali terasa canggung. Mereka kembali sama-sama terdiam sebelum pada akhirnya seorang pelayan datang menghampiri ke meja mereka untuk menawarkan makanan apa yang akan mereka pesan.


"Aku menu di urutan pertama saja!" Ujar Dave pada sang pelayan.


"Baik tuan! lalu minumnya?" Tanya sang pelayan lagi sambil sibuk mencatat pesanan Dave.


"Yang di menu pertama juga saja!" Jawab Dave singkat.


"Baik tuan, dan kau nona?" Kini sang pelayan beralih menghadap ke arah Erika.


"Emm..pesananku samakan saja dengan dia!" Ujar Erika seraya tersenyum ramah. Kemudian ia melirik ke arah Dave yang saat ini juga tengah menatapnya, wajah Erika seakan memerah karena di tatap Dave seperti itu.


"Baiklah tuan dan nona, kami akan segera mengantarkan pesanan kalian!" Ujar sang pelayan ramah, kemudian ia pun berlalu dari dari hadapan Dave dan Erika.


Kecanggungan di antara keduanya pun seakan kembali menyergap.


"Aku.." Mereka bicara secara bersamaan.


"Kau.." Dan lagi-lagi bicara bersamaan.


"Kau saja duluan!" Sela Dave cepat akhirnya agar tidak bicara secara bersamaan lagi.

__ADS_1


Baiklah mungkin ini kesempatanku untuk mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya.


Erika terlihat menarik nafas dalam-dalam. Seolah sedang berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. Matanya tampak indah berbinar karena banyak cinta untuk Dave di dalam mata itu.


Dan sebenarnya Dave tahu itu. Tapi entah mengapa ia seolah belum siap menerima pernyataan cinta dari Erika.


"Kau boleh mengatakan apapun asal jangan berhubungan dengan perasaan!" Ujar Dave lagi saat Erika baru saja ingin membuka mulutnya untuk mulai berbicara.


Seketika itu pula seolah kabut hitam segera mengelayuti perasaan Erika. Telinga dan matanya seketika terasa panas, terlebih hatinya, seolah tak bisa menahan sakitnya hingga air matanyapun sudah mulai mengambang di pelupuk matanya.


"Baiklah, aku mengerti!" Ujar Erika sambil menahan sesak di dadanya dan air mata yang hampir saja tumpah menahan rasa patah hati. Bahkan pria itupun tega untuk tidak memberikan kesempatan padanya walaupun hanya untuk sekedar mengungkapkan perasaanya.


Lalu semua ini apa Dave, kenapa kau mengajak aku ke tempat makan seperti ini, tempat yang romantis, apa arti semua ini. Apa memang sengaja hanya ingin mempermainkan perasaanku saja. Erika.


Maafkan aku, entah mengapa aku merasa belum siap menerima perubahan dalam hatiku sendiri.Aku belum siap, aku hanya takut bila nanti akhirnya hanya akan menyakitimu. Dave.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" Ujar Dave dengan nada santai, bukannya ia tak mngetahuin perubahan wajah Erika yang berubah sendu. Ia hanya ingin mengalihkan perhatian agar gadis itu tak sedih lagi.


"Ya baik, kau sendiri? Bagaiman dengan pekerjaanmu hari ini?" Jawab Erika seraya kembali bertanya.


Dave mengangguk pelan. "Ya aku juga baik, Ya begitulah seperti biasa, selalu saja ada yang harus ku kerjakan." Ujar Dave datar.


"Oh.." Ujar Erika tak kalah datar. Hatinya sedang di penuhi rasa kecewa, sehingga ia enggan untuk banyak bicara.


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Seorang pelayan nampak sibuk meletakkan pesanan makanan mereka di meja. Sedangkan Erika dan Dave saling tatap sejenak. Seolah ada hal yang ingin mereka sampaikan tapi tak bisa tersampaikan.


Akhirnya mereka melewati makan malam ini dengan hanya banyak diam dan sedikit bicara.


Mereka saling diam, tapi mata mereka sesekali bertemu. Erika tampak malas-malasan menyuapkan makanan ke mulutnya. Begitu juga dengan Dave. Ini sungguh makan malam yang buruk. Begitu pikir keduanya.

__ADS_1


Andai saja semuanya tampak mudah. Aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu Dave. Tapi kenapa kau seolah menahanku untuk tidak mengatakannya. Kau kejam Dave.


BERSAMBUNG...


__ADS_2