Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Ke pernikahan Ken dan Ana


__ADS_3

Di perjalanan pulang dari rumah sakit.


Dave teringat kalo hari ini adalah hari pernikahan keponakan tirinya, Ana dengan Ken mantan kekasih Erika.


"Kau mau langsung pulang ke rumah? Atau ikut aku pernikahan Ana dan Ken?" Ujar Dave tiba-tiba. Sementara tangannya masih sibuk menyetir dan matanya tak lepas mengawasi jalanan yang ada di hadapannya.


Seketika itu Erika yang duduk di samping nya menoleh ke arah Dave. "Terserah kau saja!" Jawab Erika pasrah.


"Hem...Ku pikir setelah mengantarmu ke rumah, aku akan langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan mereka!"


"Boleh kah aku ikut?" Sejenak Erika merasa ragu. Tapi entah mengapa ia masih ingin berlama-lama dengan pria yang kini tengah sibuk menyetir di sampingnya.


Dave pun hanya mengulum senyum. "Baiklah!" Hanya kalimat itu saja yang keluar darinya. Sangat ambingu. Dave suka sekali mengucapkan hal semacam itu.


Erika menggelengkan kepalanya perlahan seraya tersenyum. Ia sudah memahami arti ucapan Dave. Jadi ia pikir hanya akan diam saja dan menurut.


Tak butuh waktu lama.


Dave dan Erika pun telah sampai di depan gedung resepsi di mana pernikahan Ana dan Ken di gelar.


Dave mematikan mesin mobilnya. Kemudian ia segera keluar duluan bermaksud untuk membukakan pintu untuk Erika.


Erika lagi-lagi hanya bisa tersenyum senang di perlakukan manis oleh suaminya itu. Kenapa Dave jadi mendadak berubah lembut dan manis begini? Pikirnya. Tapi apapun alasannya Erika hanya ingin menikmatinya dan merasa bersyukur juga senang atas perubahan sikap Dave terhadapnya.


"Ayo...!" Kata Dave lagi sembari menawarkan lengannya agar di gandeng oleh Erika.


"Baiklah...!" Jawab Erika dengan senyum bahagia di wajahnya. Ia pun segera melingkarkan tangannya di lengan Dave yang besar dan kuat.


Erika dan Dave mulai memasuki ruang Resepsi. Banyak sepasang mata yang langsung tertuju pada mereka. Rupanya kehadiran mereka langsung bisa menarik perhatian. Dave sangat terkenal di kalangan para pengusaha. Selain itu wajahnya juga tampan. Sedangkan Erika terlihat sangat cantik siang itu dengan balutan dress pemberian dari suaminya tadi pagi. Mereka berdua benar-benar terlihat serasi sekali.


"Hai...brother...akhirnya kau datang juga!" Seorang pria tiba-tiba menghambur ke arah Dave dan Erika sedang berdiri.


"Andre!" Seru Dave yang mengenali sosok itu.


"Wow...Erika, kau tampak cantik sekali dengan dress itu. Dress nya sederhana. Tapi kau yang cantik." Puji Andre sambil memandang takjub pada Erika.


"Benarkah? Terimakasih atas pujiannya. Tapi ku rasa dress ini sangat bagus, karena ini adalah pemberian suamiku!" Ucap Erika malu-malu di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"Wow...Dave!" Andre melirik ke arah Dave dengan penuh arti.


"Kenapa tiba-tiba memandangiku seperti itu?" Sergah Dave menatap masam ke arah Andre. Ia tahu pria itu sedang berusaha menggodanya.


"Aku heran saja Dave...Hahahahaa!" Andre tergelak dan itu membuat wajah Dave tampak memerah. Sedangkan Erika masih belum mengerti pembicaraan antara kedua pria yang ada di hadapannya.


"Apa ada masalah?" Erika bertanya dengan wajah polos.


"Bukan apa-apa! Aku hanya menggodanya saja tadi! hehe!" Jawab Andre menjelaskan. "Kau tidak ingin menyalami sang mempelai?" Lanjut Andre sambil matanya teralih pada Ken dan Ana yang tampak Sibu menyalami tamu di tengah kerumunan tamu undangan.


"Baiklah, aku akan kesana sebentar." Ujar Dave sambil tangannya bergegas menggandeng tangan Erika.


Erika merasa tersentak. Namun setelahnya ia tersenyum. Ia terus saja mengawasi wajah Dave yang berjalan di sampingnya dengan tersenyum senang.


Aku ingin kita seperti ini selamanya. Aku ingin kau selalu menggenggam tanganku sampai kapanpun.


"Selamat untukmu Ana, dan kau juga Ken!" Ujar Dave ketika sudah berada di hadapan sepasang mempelai tersebut.


Ken tampak terkejut dengan kedatangan Dave dan Erika yang tiba-tiba. Matanya seketika melirik ke arah tangan Dave yang sedang menggenggam erat tangan Erika. Tiba-tiba ada perasaan tidak suka menggelayutinya.


"Paman, Erika, terimaksih ya sudah mau hadir, kami sungguh terkesan!" Sebaliknya Ana bersikap seriang mungkin dan berusaha menunjukkan kemesraan ya dengan Ken, ia pun segera melingkarkan tangannya di lengan Ken yang kini wajahnya tampak sedang di tekuk.


"Ya sama-sama!" Jawab Erika datar. Dahinya sedikit mengeriyit, karena merasa ada yang tidak beres dengan Ken dan Ana. Tapi apapun itu, Erika tak ingin lanjut memikirkannya.


"Baiklah...Aku dan Erika akan kesana untuk mengambil makan, permisi!" Ujar Dave berusaha mecah keheningan yang sesaat terjadi.


"Baiklah Paman, silahkan! Nikmatilah pestanya." Ujar Ana masih dengan ekspresi yang sama. Erika menganggapnya itu sedikit berlebihan.


Sedang kan Ken tak mau bicara apa-apa lagi, ia hanya diam mematung sambil memasang wajah murung.


"Sayang apa kau lelah?" Ujar Ana yang merasa Ken tiba-tiba berubah sikap. "Apa ini karena Erika?" Ujar Ana setelah Erika dan Dave berlalu dari hadapan mereka.


"Bukan urusanmu!" Jawab Ken dingin.


Seketika Ana menjadi kesal. Pasti perubahan sikap Ken di sebabkan oleh istri pura-pura pamannya itu. Pikir Ana kesal. Ia pun merencanakan untuk memberi pelajaran pada Erika.


"Perhatian semuanya!" Tiba-tiba Ana sudah berdiri di atas podium dan bicara menggunakan pengeras suara. Semua orang jadi mengalihkan perhatiannya ke arahnya.

__ADS_1


Lihat apa yang akan ku katakan pada semua orang Erika. Kau pasti tidak akan pernah melupakannya untuk seumur hidupmu. Batin Ana sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Ada hal penting yang ingin ku sampaikan pada kalian. Ini mengenai paman ku tersayang dengan istrinya yang bernama Erika!" Sontak pernyataan Ana membuat para tamu undangan sedikit riuh dengan bisik-bisik di antara mereka.


"Mau apa sebenarnya dia!" Gumam Dave merasa geram. Tapi ia masih berusaha untuk menahan diri. Sedangkan Erika yang berdiri di sampingnya tidak tahu harus mengatakan apa demi menenangkan suaminya tersebut.


"Aliran pasti penasaran kan, seperti apa hubungan Paman ku dan istrinya tersebut? Kalian pasti ada yang merasa curiga dengan pernikahan mereka yang tiba-tiba? Aku tahu jawabannya!" Ujar Ana lagi sembari mengulum senyum. Ekspresinya mengisyaratkan senyum kemenangan.


"Apa sebenarnya yang ingin ia bicarakan? Kenapa ia tak bisa berhenti mengacau. Bahkan di pesta pernikahannya sendiri!" Dengus Ken yang juga merasa geram.


"Paman ku hanya melakukan nikah kontrak dengan istrinya. Mereka menikah karena bisnis. Pamanku berharap dengan menikahinya bisa mendapat warisan yang utuh dari kakek ku, sedang kan wanita itu terpaksa menikahinya demi uang. Pasangan pembohong yang benar-benar cocok bukan!" Sambung Ana seperti seolah tak terkendali. Semua orang tampak tercengang mendengar semua ucapannya.


"Apa?!" Ken pun melongo tak percaya setelah mendengar kenyataan tersebut. Seketika ia pun menoleh ke arah Erika. Tapi Erika segera mengalihkan pandangannya ke segala arah demi menghindari tatapan dari Ken.


"Ana? Apa kau sudah puas bicara?" Ujar Dave yang tiba-tiba sudah berada diatas podium berdiri di sebelah Ana keponakan tiri nya.


"Tentu saja belum paman, kenapa tidak paman saja yang memberitahukan kenyataan yang sebenarnya pada semua orang? Kau telah melakukan kebohongan publik!" Balas Ana tanpa merasa takut sedikit pun pada Dave.


"Oh...jadi menurutmu seperti itu? Jadi kau ingin tahu kenyataan yang sebenarnya? Baiklah akan ku beri tahu!" Ujar Dave sambil meraih mix yang ada di tangan Ana.


"Dengarkan baik-baik semuanya. Aku disini bukan ingin melakukan pembenaran diri atau semacamnya. Yang di katakan oleh Ana itu benar!" Dave memulai kelarifikasinya.


Lagi-lagi para tamu undangan di buat tercengang, begitupun dengan Erika, ia merasa sangat malu dengan pandangan orang-orang yang seketika menatap sinis ke arahnya.


Sedangkan Ana lagi-lagi tersenyum merasa menang.


Untuk beberapa saat Dave masih terdiam untuk menunggu para tamu tenang kembali. Baru setelah itu ia akan mulai untuk bicara lagi.


"Tapi perlahan, seiring berjalannya waktu, aku merasa...."


Keadaan kembali menjadi hening ketika Dave mulai bicara. Mereka yang ada di bawah podium seakan sedang memberikan perhatian penuh. Seolah sedang menunggu lanjutan kalimat dari Dave yang sengaja Dave gantung.


"Aku merasa.....!" Ulang Dave sekali lagi.


Dan...


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2