Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Pria malang


__ADS_3

"Bagaimana keadaanya?" Seru seorang laki-laki paruh baya pada wanita muda yang duduk di sisi ranjang menemani seorang pria yang sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang.


Raut wajah wanita muda itu tampak sumringah. "Tadi dia sempat siuman dari pingsannya, tapi setelah makan dan minum obat, ia kembali tertidur, kata dokter yang memeriksanya tadi, kalo dia banyak istirahat keadaanya akan cepat pulih." Ujarnya dengan mata berbinar.


Dua hari yang lalu laki-laki paruh baya yang hendak memancing di sungai, tiba-tiba di kejutkan dengan sesosok tubuh yang mengapung di sungai. Karena merasa penasaran, ia pun segera menghampiri sosok tubuh tersebut.


Setelah cukup dekat, ia segera membawa tubuh tersebut ke tepi sungai kemudian memeriksa detak jantungnya. Masih berdetak, pikirnya, ia pun segera memberikan pertolongan pertama dengan gerakan memompa di bagian dadanya.


"Uhuk...uhuk...!" Sosok tubuh yang ternyata adalah seorang pria muda itu terbatuk dan mengeluarkan air yang sempat memenuhi rongga paru-parunya. Sejenak kemudian ia kembali tak sadarkan diri.


Laki-laki paruh baya tersebut kemudian berinisiatif membawa pria muda itu ke rumahnya yang letaknya di perkampungan di dekat sungai.


Sesampainya di rumah, ia memanggil dokter terdekat untuk memeriksa keadaan pria malang yang hampir di sekujur tubuhnya terdapat luka lecet. Beruntung tidak ada luka yang serius yang mengharuskannya di rawat di rumah sakit.


"Baguslah, sebentar lagi pasti dia akan segera pulih!" Laki-laki paruh baya itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Saat ia sempat sadar tadi, apak kau sempat menanyakan siapa namanya, dan di mana tinggalnya?" Ujar nya lagi pada wanita muda yang tak lain dan tak bukan adalah putrinya.


"Tadi aku..."


"Ibu...!" Suara seorang gadis kecil memutus kalimat Wanita muda.


"Ibu...!" Ulang gadis kecil itu seraya menghambur ke pangkuan ibunya. "Ibu...kapan ayah akan bangun bu?" Matanya menatap wanita muda yang kini juga menatap ke arahnya. Kemudian wanita muda itu mengalihkan pandangannya untuk melihat ayahnya yang masih berdiri di sisi lain ranjang.


"Ayah?" Laki-laki paruh baya tersebut mengulang perkataan gadis kecil yang merupakan cucunya dengan tatapan bingung menatap putrinya, meminta penjelasan.


******


Mark sudah tampak keluar dari kantor polisi. Ia baru saja membuat laporan tentang orang hilang. Sekarang ia menuju mobilnya dan bersiap untuk langsung pergi ke rumah Erika.


Tak butuh waktu lama, mobil Mark sudah terparkir rapi di halaman rumah keluarga mantan Bosnya.

__ADS_1


"Erika!" Serunya saat sudah masuk ke dalam rumah.


"Mark!" Erika yang duduk di ruang tamu langsung berdiri dan mengusap air matanya. "Apa kau sudah ke TKP tadi?" Lanjutnya sambil berusaha menahan air mata yang seolah tak mau berhenti meluncur keluar.


"Hum!" Mark mengangguk. "Kemungkinan Dave masih hidup!"


"Apa! Benarkah?" Sorot mata Erika mendadak berubah. Seolah timbul lagi harapan di matanya.


"Aku tadi sudah tanya-tanya dengan polisi di lokasi TKP, dan aku juga sudah membuat laporan orang hilang." Jelas Dave lagi.


Erika tersenyum di antara tangisnya. "Astaga...aku senang sekali mendengarnya. Aku berharap Dave bisa segera di temukan!"


"Hum!" Mark mengangguk, "Mana Leo, apa dia tahu soal ini?" Tanya Mark sedikit kawatir.


Erika menggeleng. "Mana mungkin aku memberitahunya soal ini, sekarang anak itu sedang tidur siang di kamarnya."


"Humm...Syukurlah!" Mark menghela nafas lega.


Tiba-tiba suara handphone nya bergetar. Mark menatap Erika sejenak. Kemudian segera meraih ponselnya yang ada di saku jas nya.


"Halo! Mina, ada apa?" Seseorang yang menelphone seolah sedang berbicara sesuatu. "Baiklah, aku akan segera kesana!" Mark mengakhiri percakapan dan menutup sambungan telphone nya.


"Maaf E, aku tidak bisa lama-lama, aku harus segera pergi!" Ia mengatakannya dengan sedikit ragu. Sebenarnya batinnya ingin menemani Erika. Tapi ia tak mungkin mengabaikan permintaan calon istrinya yang ingin bertemu dengannya.


"Iya Mark, aku mengerti, pergilah, aku tidak apa-apa, terimakasih atas bantuannya!" Erika berusaha tersenyum agar Mark tak lagi merasa kawatir terhadapnya.


"Kalo ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku, aku pasti akan datang!" Ujar Mark yangasih berdiri di ruang tamu Erika. Langkahnya seolah masih berat untuk meninggalkan rumah itu. Tapi tak banyak yang bisa ia lakukan.


"Iya Mark, pasti. Sekarang pergilah, yang menelphone mun tadi calon istri mu kan? Cepatlah temui dia, jangan membuatnya menunggu, kau harus memperlakukan wanita mu dengan baik." Erika tersenyum jahil, bermaksud menggoda Mark.

__ADS_1


Mark hanya tersenyum kecil. Matanya masih menatap Erika lekat, Entahlah E, setelah sekian tahun berlalu, aku masih saja belum bisa menghilangkanmu dari dalam hatiku. Gumam Mark dalam hati.


"Baiklah E, aku pergi, jaga dirimu dan Leo baik-baik!" Ucapnya sambil melangkah pergi ke luar pintu. Sejenak ia kembali menoleh ke arah Erika dan tersenyum. Erika melambaikan tangan ke arahnya dan membalas senyumnya. Sorot matanya seolah sedang memberi tahu Mark. Bahwa pria itu tak perlu kawatir. Ia dan Leo pasti akan baik-baik saja.


Mark pun kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya dan kemudian melesat pergi dari sana.


*****


Di tempat lain.


Seorang laki-laki paruh baya masih nampak menunggu penjelasan dari putrinya. Apa maksud dari cucu perempuannya yang tiba-tiba memanggil pria yang sedang terbaring lemah dengan sebutan Ayah.


Wanita muda itu pun masih terdiam, ia menatap gadis kecil yang ada di pangkuannya. "Marsya masuk dulu ya ke kamar Marsya, ibu mau bicara sebentar dengan kakek mu!" Ujar wanita muda itu dengan lembut.


Tanpa banyak bicara, gadis kecil bernama Marsya itupun menurut. "Bai bu!" Ia segera beranjak dari pangkuan ibunya.


"Anak pintar!" Wanita muda itu tersenyum seraya mengelus pelan kepala putrinya sebelum akhirnya gadis kecil itu berlaku dari ruangan itu.


"Sebelumnya, maaf kan aku ayah!" Wanita muda tersebut memulai, ia menundukkan pandangannya karena merasa bersalah. "Aku hanya kasihan pada Marsya, jadi aku mengarang cerita kalo pria yang sedang terbaring lemah ini adalah ayah nya! Maaf kan aku!" Ia memberanikan di untuk menatap ayahnya dengan tatapan iba. Berharap lelaki paruh baya itu memaklumi tindakannya.


"Rihana! Kenapa kamu melakukan semua itu? Kenapa kau tega membohongi putri mu sendiri?" Lelaki tua itu tak habis pikir.


"Ayah tentu lebih tahu daripada siapapun kenapa alasan ku melakukan itu, ayah mengerti maksud ku kan?"


"Ya...tapi!"


"Yah...aku mohon kali ini saja, demi kebahagiaan Marsya, ku mohon!" Rihana memotong kalimat ayahnya yang hendak mengajukan protes.


Ayahnya hanya menghela nafas pasrah. "Lalu bagaimana kalo dia siuman?" Ujar Ayah nya sambil menunjuk pria yang tak berdaya itu dengan dagunya.

__ADS_1


"Sepertinya ia tidak ingat identitas dirinya sendiri!" Rihana seketika menunduk, ia tahu ia telah menutupi masalah ini dari ayahnya. Sebenarnya saat pria tadi sempat siuman. Ia sudah berusaha mengintrogasi pria tersebut. Tapi bahkan ia tak ingat dengan namanya sendiri.


BERSAMBUNG.


__ADS_2