
Selepas kepergian Mark. Erika segera mengantar Leo untuk pergi ke sekolah.
Erika sudah bersiap duduk di belakang kemudi dalam mobilnya, sedangkan Leo sudah duduk manis di sebelahnya. Wanita muda itu sengaja tak menyewa sopir untuk mengantar jemput putranya. Ia lebih memilih untuk mengantar jemput putranya sendiri. Selain bisa lebih dekat dengan Leo, ia juga bisa memantau keadaan Leo setiap waktu.
Sejak Erika hamil dan melahirkan Leo, Erika memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, dan melepaskan karirnya di kantor. Dan Dave sangat mendukung keputusannya itu. Oleh sebab itu ia sangat berusaha untuk menjadi seorang ibu sekaligus istri yang baik untuk keluarga kecilnya tersebut.
"Nah sudah sampai!" Ujar Erika saat menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah putranya. Ia pun segera melepas sit bell yang di kenakannya kemudian keluar dari dalam mobil, berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu juga untuk pangeran kecilnya.
"Ayo cepat sana masuk! Jangan nakal!" Ujar Erika setelah puas mencium pipi Leo yang menggemaskan.
Erika melambaikan tangan pada Leo yang berlari-lari kecil yang mulai memasuki halaman sekolahnya.
Wanita muda itu terus mengawasi putranya sampai sosok anaknya menghilang memasuki kelasnya.
Setelah itu bersiap kembali masuk ke dalam mobilnya, tapi seketika langkahnya terhenti dengan bunyi dering ponsel dari dalam tas selempang kecil yang ia kalung kan di lehernya. Erika pun segera merogoh isi tasnya untuk meraih ponselnya.
"Halo!" Ucapnya sesaat setelah mengangkat telpon dari sederet nomer yang ia tak ketahui namanya.
"Ya benar!" Jawab Erika pada si penelpon.
"Apa?!" Jawab Erika lagi, dan kali ini wajahnya tampak syok. Rasanya lutut nya terasa lunglai seketika hampir-hampir membuatnya tak kuat berdiri. Buliran air mata tiba-tiba sudah mengucur deras dari sudut matanya.
Dengan semua sisa kesadarannya di tengah kepanikannya, ia pun segera menelpon Mark. Ia tak tahu harus menghubungi siapa lagi. Hanya nama Mark yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
*******
Tak butuh waktu lama, Sebuah mobil sedan hitam sudah tampak berhenti di belakang mobil Erika. Dari dalam mobil tersebut keluarlah orang yang sangat di kenal oleh Erika.
"Mark!" Tangis Erika pecah saat Mark mulai berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa E? Apa kau baik-baik saja!" Ujar Mar dengan wajah kawatir.
Erika belum menjawab, ia masih menangis sesenggukan, melihat itu Mark jadi tak tega dan menarik Erika dalam pelukannya. Membiarkan Erika menangis di pelukannya sampai keadaanya sedikit membaik.
"Dave.....Mark, Dave!" Ujar Erika sambil menarik diri dari pelukan Mark.
"Kenapa dengan tuan Dave?" Mark menatap heran. "Apa terjadi sesuatu?"
Erika mengangguk dan seolah tak bisa berhenti menangis. "Tenanglah E, ceritakan pelan-pelan padaku, sebenarnya ada apa?"
"Dave kecelakaan Mark!" Suara Erika bergetar. "Mobil Dave di temukan jatuh ke jurang, dan mayatnya belum di temukan, baru saja pihak polisi menghubungi aku tadi!" Jelas Erika di sela-sela tangisnya.
"Apa?!" Dave menatap Erika terkejut.
"Iya...Mark, aku takut, kalo terjadi sesuatu pada Dave bagaimana? Bagaimana dengan Leo? Bagaimana dengan aku? Aku belum sanggup jika harus berpisah dengan Dave, Mark!" Cerocos Erika dengan panik. Mark pun seolah bisa memahami perasaan Erika saat ini. Ia kembali menarik Erika dalam pelukannya bermaksud untuk menenangkannya.
"Sabar E, lagipula jasad Pak Dave katanya belum di temukan. Siapa tahu saja ia selamat!" Ujar Mark berusaha memberikan harapan Pada Erika agar tak merasa sedih lagi.
"Bantuan apa?"
"Tolong jemput Leo saat pulang sekolah nanti, aku ingin ke TKP kecelakaannya Dave untuk memastikan. Jika Leo bertanya aku pergi kemana? Katakan saja aku sedang ada urusan penting yang mendesak!"
Mark menggeleng.
"Kenapa?" Erika merasa bingung. "Kau tak mau membantuku?" Katanya lagi dengan tatapan heran meantap pria yang ada di hadapannya itu.
"Bukan begitu E, kau tetap jaga Leo disini, biar aku saja yang cek ke TKP, aku janji akan urus semuanya dan segera mengabari kamu!" Ujar Mark berusaha meyakinkan Erika.
Sebenarnya Erika ingin mengajukan protes tapi niatnya urung saat Mark mulai bicara lagi.
__ADS_1
"Leo sedang merindukan Ayahnya, aku tidak ingin anak itu merasa kesepian karena tak ada ibunya di sampingnya walau hanya sedetik saja. Ku mohon percayalah padaku, aku akan urus ini, oke!" Mark menatap mata Erika lekat, seolah sedang meminta persetujuan wanita yang ada di hadapannya yang juga menatapnya dengan lekat.
Akhirnya Erika pun mengangguk tanda setuju. "Kabari aku secepatnya!" Ujar Erika saat Mark berlari ke arah mobil yang terparkir di belakang mobilnya. Erika melambai kan tangan pada Mark saat mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan areal sekolahan.
******
Mark segera menghampiri para polisi yang sedang berjaga di TKP saat ia sudah sampai di tempat tujuannya.
"Pagi pak! Apa disini baru saja terjadi kecelakaan tunggal yang terjadi pada sodara Dave?" Ujar Mark pada salah seorang petugas polisi.
"Benar!" Polisi itupun mulai memicingkan matanya berusaha menerka-nerka siapakah orang yang tengah mengajaknya bicara ini. "Anda siapanya sodara Dave?" Lanjut polisi tersebut membunuh rasa penasarannya.
"Saya Mark, Emm!" Mark tampak bingung harus mengatakan sebagai siapanya Dave. "Saya teman dekatnya sodara Dave pak, boleh saya tahu kronologis kecelakaannya.?"Ujar Mark akhirnya sambil lanjut bertanya.
Polisi itu pun mulai menceritakan kronologis terjadinya kecelakaan tersebut yang sudah diceritakan para saksi mata yang kebetulan melintas di jalan tersebut. Dan polisi sudah mencoba turun ke bawah untuk memeriksa keadaan korban. Tapi ternyata korban sudah tidak ada di dalam mobil. Beruntung polisi yang menemukan korban melihat ponsel korban tergeletak tak jauh dari mobilnya.
Oleh sebab itu tadi polisi bisa menghubungi Erika melalui nama-nama kontak yang tertera di handphone Dave.
"Jadi korban belum di temukan ya pak?! Jadi ada kemungkinan Dave masih hidup kan pak!" Mark berusaha meminta penjelasan lebih detail pada polisi yang sedang di interogasinya tersebut.
"Ya bisa jadi pak, kami juga sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi kami sedang menunggu keluarga korban untuk membuat laporan di kantor tentang orang hilang."
"Baik pak, biar saya saja yang ke kantor polisi dan membuat laporan mewakili keluarga korban!" Ujar Mark antusias.
"Yasudah, silahkan saja Pak."
"Baik pak, terimakasih banyak atas infonya."
"Ya sama-sama!"
__ADS_1
Mark pun segera berlalu dari TKP kecelakaan Dave. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi menuju kantor polisi terdekat.
BERSAMBUNG.