
Perlahan-lahan mata Dave mulia terbuka, cahaya matahari yang menembus masuk melewati jendela kaca mengenai kornea matanya, membuatnya harus menyesuaikan penglihatannya. Ia terpejam lagi saat merasa kan pusing di bagian kepala belakangnya. Kemudian kembali membuka matanya perlahan-lahan.
Sejenak ia merasa asing dengan keadaan sekitar. "Aku dimana?" Ujarnya sambil meringis memegangi kepalanya yang masih merasa nyeri.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu." Seru seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar dan langsung berlari menghampiri.
"Aku dimana?" Ulang Dave dengan masih memegangi kepalanya. Ia tetap memaksa ingin duduk.
"Tenang ya! Anda sedang ada di rumah ku, emm...sebenarnya rumah ayahku!" Ujar wanita bernama Rihana sambil berusaha membantu Dave untuk duduk. Ia meletakkan beberapa bantal di punggung Dave agar pria itu bisa duduk dengan nyaman.
Sejenak Dave termangu, sorot matanya tampak seolah berfikir, tapi sayangnya ia tak mengingat apapun, bahkan hanya sekedar mengingat namanya sendiri.
"Ayah!" Seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan, tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan segera menghampiri Dave dengan wajah antusias, "Ayah sudah bangun bu!" Seru gadis kecil itu menatap ibu nya dengan tatapan bahagia.
"Ayah?" Dave mengulang kata-kata gadis kecil itu dengan tatapan heran.
Kemudian pandangannya beralih pada Rihana, sorot matanya seolah sedang meminta penjelasan.
"Sayang, Marsya main di luar dulu ya, ibu mau bicara sebentar dengan...," Rihana tak melanjutkan kalimatnya, ia melirik Dave, merasa sungkan.
"Tapi Marsya ingin ngobrol juga sama Ayah!" Rajuk Marsya menatap memohon pada ibunya.
"Iya, nanti, tapi sekarang Marsya main dulu di luar, nanti ibu panggil Marsya lagi kalo ibu sudah selesai bicara!" Rihana menjelaskan dengan lembut, berusaha memberi pengertian pada putri semata wayangnya itu.
Tanpa banyak bicara lagi akhirnya gadis kecil itu pun menurut, dengan langkah berat ia pun melangkah menuju pintu kemudian keluar.
Sepeninggalan Marsya. Rihana sudah di tunggu oleh tatapan Dave yang minta penjelasan.
"Yang tadi itu putriku, namanya Marsya, usia nya saat ini kurang lebih lima tahun. Sejak ia lahir ia belum pernah melihat ayahnya...," Rihana memulai ceritanya, dan kalimatnya terhenti karena tenggorokannya terasa tercekat. "Ayahnya telah pergi meninggalkannya sejak ia di dalam kandungan. Ia pamit pergi kerja ke kota, tapi tak pernah kembali hingga sekarang. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana kabar atau keberadaanya sekarang. Dan itu membuatku kebingungan saat aku harus menjelaskannya pada putriku, aku selalu mengatakan padanya, pasti suatu saat ayahnya akan kembali, dan...,"
__ADS_1
"Dan ia mengira bahwa aku ini ayahnya?" Tebak Dave.
Rihana mengangguk. "Maafkan aku tuan, aku tak bermaksud untuk...,"
"Sudahlah, tidak apa-apa, dia hanya anak-anak!" Ujar Dave memangkas kalimat Rihana.
"Tapi tuan, apakah anda sudah ingat siapa nama anda? Tempat tinggal anda? Atau apapun, apakah anda sudah ingat tentang siapa dirimu?" Rihana menatap Dave dengan penuh harapan. Berharap pria itu mengingat sesuatu.
Dave menggeleng, "entahlah, aku masih tidak ingat apapun, kepalaku terasa sakit jika aku memaksakan diri untuk mengingat sesuatu!"
"Aku berharap anda bisa segera ingat sesuatu, agar anda bisa segera kembali ke keluarga anda, keluarga anda pasti cemas memikirkan keadaan anda yang tak tahu dimana rimbanya sekarang ini!"
"Terimakasih do'a nya, aku senang bertemu orang jujur seperti dirimu, kau tahu aku hilang ingatan, tapi tidak berusaha memanfaatkan itu!"
Rihana seketika menunduk, merasa tidak enak. Dave pun faham, pasti wanita itu memikirkan soal Marsya, putrinya yang telah mengira bahwa Dave adalah ayahnya.
"Soal putrimu, tenang saja, aku memakluminya!" Dave tersenyum mencoba memberi keyakinan. Bahwa dirinya sungguh tidak keberatan.
"Marsya...," Rihana memanggil Marsya yang berada di teras rumah melalui jendela kaca kamar.
Marsya pun seketika teringat janji ibunya. Selesai bicara akan memanggilnya. Marsya pun segera beranjak dari teras dan dalam sekejap telah masuk ke dalam kamar.
Gadis kecil itu masih berdiri di ambang pintu mengamati ibu nya yang tersenyum ke arahnya. Sedangkan pria yang duduk di ranjang, juga tersenyum ke arahnya. Dave pun melambaikan tangannya pada Marsya. Mengisyaratkan agar gadis itu datang mendekat.
"Ayah!" matanya tampak berbinar sekaligus berkaca-kaca saat gadis kecil itu berada di jarak yang sangat dekat dengan Dave. Dave tersenyum seraya merentangkan tangannya. Dan tanpa aba-aba,Arsya pun menghambur ke pelukannya.
Di saat-saat seperti itu, Dave seolah sedang teringat sesuatu di kepalanya. Bayangan seorang wanita dan seorang anak kecil tengah menyambutnya saat pulang bekerja. Dave mencoba untuk terus mengingat. Tapi kepalanya kembali terasa pusing. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya. Tak beberapa lama kemudian ia pun kembali tak sadarkan diri.
"Tuan, tuan, anda tidak apa-apa!" Rihana merasa panik, sedangkan Marsya menangis, merasa bersalah, ia mengira pria yang ia anggap ayahnya itu tiba-tiba kembali terkulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ayah, kenapa bu, hu... hu... hu...," Ujar Marsya di antara Isak tangisnya.
"Tenanglah sayang, ini bukan salahmu, sekarang Marsya tunggu disini ya, ibu mau panggil kakek dulu di kebun, agar kakek segera memanggil dokter kesini!" Bujuk Rihana seraya berpamitan.
"Baik bu!" Jawab Marsya sambil mengusap air matanya.
Rihana pun segera bergegas ke luar kamar untuk mencari ayahnya.
Tak lama kemudian ia kembali dengan ayah dan seorang dokter bersamanya.
Sang dokter pun bergegas memeriksa keadaan Dave. Pertama-tama mengecek detak jantungnya dengan alat stetoskop. Kemudian memeriksa bola mata Dave dengan cara membuka kelopak matanya yang terpejam.
"Bagaimana keadaanya Dok?" Tanya Rihana setelah sang dokter selesai memeriksa keadaan Dave.
"Saran saya. Sebaiknya pria ini segera di bawa ke rumah sakit terdekat, saya kawatir keadaannya akan bertambah buruk, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di kepalanya. Dan itu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut." Jelas Sang dokter sambil menatap Rihana dan Ayahnya secara bergantian. Seolah sedang meminta keputusan.
"Baik Dok," jawab Rihana sedikit ragu, "Saya akan berusaha mengikuti saran dari dokter!" Lanjutnya lagi masih dengan tatapan cemas. Cemas memikirkan biaya untuk El rumah sakit pastilah tidak sedikit. Dan ia bingung harus mendapatkan uang darimana.
"Kalo begitu saya permisi dulu!" Ujar Sang dokter saat sudah berasa di depan pintu utama.
"Terimakasih banyak atas bantuannya dok!" Ujar Rihana yang turut mengantar sang dokter ke pintu utama rumah nya.
Sepeninggalan sang dokter, Rihana bergegas kembali ke kamar untuk menemui ayahnya.
"Bagaimana ini yah?" Ujar Rihana dengan tatapan bingung.
Ayahnya menghela nafas panjang. Sorot matanya juga tampak sedang berpikir. "Masalah biaya, kita pikirkan nanti, yang penting saat ini adalah keselamatan tuan ini!" Ujar Sang Ayah mantap.
Rihana pun mengangguk seraya merengkuh bahu putrinya yang berdiri di dekatnya.
__ADS_1
**********