
Drrtt... drrtt... drrtt...
Tiba-tiba saja hp Mark bergetar. Ia segera merogohnya di saku celananya.
Satu panggilan telepon dari Mina terpampang di layar ponselnya. Ia pun segera memencet tombol hijau.
"Halo...,"
"Baiklah, mungkin sekitar 1 jam lagi aku baru akan sampai."
Setelah itu terdengar sambungan telpon terputus.
"Maaf, aku harus segera pergi, aku titip tuan Dave pada anda, tolong jaga ia baik-baik, aku akan selesaikan administrasinya. Anda tak perlu khawatir lagi soal biaya." Ujar Dave pada Rihana sambil beranjak dari duduknya.
Rihana turut berdiri dan membungkukkan sedikit badannya memberi tanda hormat. "Terimakasih Tuan!" Ucapnya dengan sopan.
Mark turut membungkukkan badannya sebentar. "Sama-sama." Sahutnya, setelah itu melenggang pergi.
******
Akhirnya setelah satu jam perjalanan. Mark sampai juga di tempat Mina tunangannya. Wanita itu menunggu Mark di cafe milik pria tersebut.
"Maaf, kalo membuatmu menunggu lama!" Ujar Mark yang kini sudah berdiri di hadapan Mina.
Wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng. "Duduklah!" Pintanya.
Mark pun menurut, ia melihat ada raut wajah yang tidak beres di wajah Mina. Wanita itu terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Mina menarik punggungnya dari sandaran sofa, kemudian tangannya sibuk mengaduk-aduk secangkir kopi yang sudah ia pesan sebelumnya. Mulut nya masih terkatup rapat. Dan matanya seolah sedang memikirkan sesuatu.
Mark masih sabar menunggu tanpa berani bertanya. Ia biarkan keadaan hening beberapa saat sampai wanita yang ada di hadapannya itu mau membuka suara dengan sendirinya.
"Mark...,"
"Ya...,"
"Bagaimana kalo kita batalkan saja pernikahan kita!" Ujar wanita bernama Mina itu tiba-tiba.
"Apa?!" Mark tampak terkejut.
"Ya..., aku pikir hubungan kita tak kan berhasil!" Mina tersenyum seolah mengejek dirinya sendiri.
"Apa yang membuatmu berfikir seperti itu Mina?" Tanya Mark lembut.
"Aku merasa, bukan aku yang selama ini ada di hati mu, ada orang lain, benar kan Mark?" Sekarang tatapannya ia alihkan pada Mark yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Mina, kau itu bicara apa?" Mark tampak salah tingkah.
Mina menarik nafas panjang. "Sudahlah Mark, jangan berpura-pura terus, aku tahu kau memilihku karena terpaksa, iya kan?" Desak Mina lagi.
Mark semakin salah salah tingkah. "Mina, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!" Kilah Mark.
"Kau menerima perasaanku hanya sebagai pelarian, iya kan? Apa perlu aku jelaskan secara detail?" Mina seolah tak bisa lagi menahan gejolak jiwa nya yang ia rasakan selama ini.
"Bukan seperti itu Mina, kau salah faham!" Kali ini Mark benar-benar kebingungan tidak tahu harus berkata apa. Karena apa yang di katakan Mina adalah kenyataanya.
Mina mengeleng. "Aku yang bodoh Mark, ku pikir seiring berjalannya waktu, aku bisa sedikit demi sedikit menempati ruang di hatimu. Tapi selama ini yang ku rasakan justru, aku bersamamu tapi tidak dengan hatimu!" Tatapan Mina berubah sendu.
"Aku tahu, kau diam-diam masih memperioritaskan wanita itu, dia masih sangat menyita perhatianmu hingga terkadang kau mengabaikan aku!"
"Mina...,"
"Aku ingin jadi istri sungguhan Mark, bukan istri pura-pura mu!" Mina nampaknya sudah tidak tahan lagi, ia pun segera beranjak dari duduknya dan melenggang pergi dari tempat itu.
"Mina...," Mark hanya bergumam lirih sambil mengusap wajahnya dengan frustasi.
Sejenak Mina menoleh ke arah Mark. Memandangi punggung pria itu yang masih duduk disana.
"Bahkan kau tidak berusaha untuk mengejarku Mark, aku sungguh kecewa!" Gumamnya dengan tatapan sedih dan akhirnya benar-benar pergi.
******
"Ibu kapan ayah pulang?" Ujar Leo yang saat ini tengah berada di meja makan untuk makan malam bersama ibunya.
Seketika Erika terdiam, menghentikan aktifitasnya menyendok nasi di piringnya. Leo menatapnya menunggu.
"Cepat habiskan makananmu, nanti keburu dingin!" Ujar Erika kemudian berusaha menghindari pertanyaan putra semata wayangnya. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Mark belum juga memberi kabar tentang keberadaan Dave.
"Ibu, apa jangan-jangan ayah lupa jalan pulang?" Tanya Leo dengan polos.
Mendengar itu, Ibunya tersenyum, "kenapa Leo tiba-tiba berfikir seperti itu? Maksud Leo saat ini ayah sedang tersesat?" Erika tertawa kecil merasa gemas dengan tingkah putranya yang bicara layaknya orang dewasa.
Leo yang polos itu hanya mengangguk. "Aku harap ayah akan segera menemukan jalan pulang Bu!" Ujarnya kemudian sambil menatap ibu nya penuh harap.
"Iya sayang!" Jawab Erika seraya tersenyum. kemudian menarik putra kecilnya itu dalam pelukannya.
Kamu dimana Dave? Kami merindukanmu.
*******
Di tempat lain.
__ADS_1
"Ayah kapan bangunnya Bu?" Ujar bocah perempuan kepada ibunya.
"Ibu juga tidak tahu Marsya!" Jawab ibu nya sambil membelai rambut putrinya lembut.
"Marsya rindu ayah Bu!" Ujarnya lagi seraya menghambur ke pelukan ibunya.
Ibu nya tersenyum. "Ibu juga!" Timpal wanita itu yang tidak lain adalah Rihana.
"Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan ayah, aku harap setelah ini ayah tidak akan lagi meninggalkan kita, Bu!" Wajah gadis kecil itu mendongak menatap wajah ibunya dengan penuh harap.
Rihana terdiam, seolah kebingungan untuk menjawab. Tapi akhirnya ia tersenyum pada putrinya dan mengatakan iya.
Marsya pun terlihat senang dan kembali memeluk ibunya dengan erat.
"Aku sayang ayah dan ibu!" Ujar Marsya lagi yang masih membenamkan wajahnya di pelukan ibunya.
Rihana masih diam dan hanya mengelus kepala putrinya itu dengan lembut. Matanya menerawang memikirkan sesuatu.
"Ehem...," Suara di ambang pintu membuyarkan lamunannya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati ayahnya yang sedang berdiri di sana.
"Ayah...," Wajahnya sedikit terkejut.
"Marsya pergi ke kamar Marsya dulu ya? Kakek ingin bicara dengan ibu mu!" Ujar laki-laki paruh baya itu dengan lembut.
Sejenak Marsya menatap ibunya kemudian mengangguk. Ia pun segera beranjak dari ruang tamu kemudian berjalan menuju kamarnya.
Setelah Marsya benar-benar masuk ke kamarnya. Laki-laki paruh baya itu duduk di sofa ruang tamu bersama putrinya. "Kau masih juga belum mengatakan yang sebenarnya pada Marsya?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Rihana menggeleng pelan, "belum."
Ayahnya menghela nafas panjang. "Sampai kapan kau akan menutupi kenyataan ini darinya?"
"Entahlah ayah, aku juga bingung bagaimana caranya aku mengatakan kebenaran ini pada Marsya. Ia masih terlalu kecil. Aku tidak tega menghancurkan harapan nya. Harapannya agar bisa bersama dengan ayahnya selama ini!" Rihana terlihat frustasi.
"Lagi pula tuan Dave tidak keberatan pada Marsya yang menganggapnya seperti ayahnya!"
"Kau sudah menanyakan Kanya padanya? Kapan?" Kini gantian ayahnya yang tampak terkejut.
"Kemarin sebelum ia pingsan!"
"Hem...," Ayahnya kembali menghela nafas panjang. "Tapi bagaimana dengan keluarganya?"
"Temannya yang kemarin belum memberitahukan keadaan tuan Dave yang sebenarnya pada keluarganya. Ia masih menunggu waktu yang tepat."
Ku harap anak dan istrinya tidak buru-buru tahu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.