
"Cukup, E, tidak perlu di teruskan!" Potong Mark cepat. Ia tak ingin mendengar hal yang lebih menyakitkan lagi.
Erika menghela nafas pelan. "Baiklah, aku mengerti!" Dan mereka kembali sama-sama terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sepertinya aku harus pulang, ini sudah sangat larut, maaf kalo telah mengganggu waktu istirahatmu!" Ujar Mark tiba-tiba seraya berdiri dan membungkukkan sedikit badannya di hadapan Erika.
"Tidak perlu sungkan, Mark, aku sama sekali tidak merasa keberatan!" Balas Erika seraya membungkukkan sedikit badannya juga.
"Sampai jumpa, E. Aku akan mengabarimu secepatnya begitu aku tahu kabar tentang tuan Dave!" Saat mengatakan kalimat terakhirnya, Mark berusaha menghindari tatapan Erika.
Erika mengangguk seraya tersenyum, "aku berharap suamiku baik-baik saja!"
Suamiku?
Kata-kata Erika terngiang di benak Mark, membuat perasaanya sedikit merasakan nyeri.
Tentu saja kau sangat mencintai tuan Dave. Bodohnya aku! yang masih mengharapkanmu! Gumam Mark dalam hati, lalu tersenyum mengejek dirinya sendiri.
"Kau kenapa Mark?" Erika menatap Mark yang tiba-tiba terdiam lagi kemudian tersenyum sendiri dengan miris.
"Tidak apa-apa!" Erika pun mengangguk dan tak ingin lanjut bertanya lagi. Ia hanya menduga kalo dia salah berucap tadi.
Setelahnya Dave berjalan ke arah mobilnya dan masuk ke dalamnya lalu pergi.
*******
Di rumah sakit.
"Augghh... kepalaku!" Dave baru saja membuka matanya dan berusaha ingin mengangkat badannya untuk duduk.
"Tuan...! Kau sudah bangun!" Suara Erangan dari Dave membangunkan wanita yang tengah tidur di sisi ranjangnya. Wanita itu menemani Dave semalaman.
"Seharusnya anda jangan banyak bergerak dulu tuan. Pasti kepala anda masih sangat pusing saat ini!" Rihana dengan telaten memasang beberapa bantal di punggung Dave agar pria itu nyaman saat duduk.
"Terimakasih!" Ujar Dave sedikit sungkan. "Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanyanya lagi sambil menatap wanita yang ada di samping kanannya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Anda tidur dari kemarin sore hingga semalaman dan baru terbangun pagi ini!" Jawab Rihana seraya tersenyum.
"Apa sudah ada kabar tentang keluargaku? Oh... apakah ada yang datang untuk mencariku?" Ujar Dave kemudian tampak antusias menatap Rihana dengan penuh harap.
Rihana menggigit bibir bawahnya merasa ragu untuk mengatakannya. "Belum ada, tuan. Dan tak ada yang mencarimu juga!" Jawabnya akhirnya seraya menggeleng.
Dave menghela nafas pelan. Sorot mata nya terlihat kecewa. "Aku pikir aku akan segera bisa melihat anak dan istriku!" Ucapan Dave sontak membuat Rihana terkejut dan membuat mulutnya menganga.
"Apa anda sudah mulai bisa mengingat semuanya tuan!" Ada sorot bahagia sekaligus kekhawatiran di mata Rihana. Ia bahagia ingatan Dave kembali. Tapi ia juga khawatir, saat pria itu kembali pada keluarganya. Bagaimana nasib putrinya yang menganggap pria itu sebagai ayahnya sendiri, dan bagaimana juga dengan perasaanya yang perlahan tumbuh tanpa bisa ia cegah.
Dave menggeleng pelan. "Entahlah, aku hanya melihat dalam tidurku, aku memiliki sebuah keluarga. Ada seorang istri dan seorang anak menyambutku saat pulang kerja. Mimpi itu terlihat nyata. Tapi sayangnya wajah mereka tidak bisa terlihat jelas!" Jelas Dave dan membuat Rihana semakin gusar. Bagaimana pun prisa itu pada akhirnya akan mengingat semuanya.
"Itu bagus tuan, semoga anda cepat kembali pada keluarga anda, mereka pasti sangat mengharapkan kehadiran anda di tengah-tengah mereka!" Rihana berusaha untuk tulus saat mengucapkannya meskipun hatinya sendiri terluka.
"Um... terimakasih, kau juga, semoga kau bisa bertemu dengan suamimu kembali, dan kalian akan kembali menjadi keluarga yang utuh!" Sahut Dave seraya tersenyum tipis. Ia juga merasa prihatin dengan wanita yang kini tengah duduk di sisi ranjangnya.
Rihana menghembuskan nafas kasar. Ia merasa tidak nyaman dengan kata-kata Dave. "Sejujurnya, tuan. Saya tak pernah mengharapkan pria itu kembali ke dalam kehidupan saya dan putri saya. Bagi saya dia sudah mati!" Ucap Rihana pilu.
"Maaf..., aku tak... ber...,"
"Ayah...!!" Kalimat Dave terpotong dengan masuknya Marsya ke kamar rawatnya dan langsung berlari menghambur ke arahnya. Kakeknya berjalan mengikuti gadis kecil itu di belakangnya.
Ibunya sigap menarik lengannya pelan seraya menggeleng. "Pelan-pelan Marsya, emm... ayahmu masih sakit...," Ujar Rihana dengan ragu-ragu, ia melirik Dave sekilas merasa sungkan saat harus memanggil pria itu dengan sebutan 'Ayah' untuk Marsya, putrinya.
Dave balas menatap Rihana, seolah sorot matanya mengatakan bahwa, ia sama sekali tak keberatan.
"Tapi, Bu, aku kangen sekali pada ayah!" Rajuk Marsya seraya menatap iba ke arah ibunya dan Dave.
Dave tersenyum pada gadis kecil itu, "kemarilah nak! apa kau sangat merindukanku!" Ujarnya saat Marsya sudah mendekat ke arahnya dan gadis kecil itu pun mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat adegan itu, kakeknya jadi tidak tega dan permisi ingin keluar ruangan.
"Aku juga merindukanmu!" Dave memeluk tubuh mungil itu dan mencium pucuk kepalanya lembut. Ia seolah sedang menyalurkan perasaan rindunya pada seorang anak kecil yang muncul dalam mimpinya.
Rihana tampak terharu, ia buru-buru mengusap air matanya yang hampir saja jatuh dari sudut matanya. Dave menatapnya sekilas lalu tersenyum. Wanita itupun balas tersenyum dengan sorot mata berterimakasih.
Untuk sejenak Dave menanggapi celotehan Marsya yang begitu bersemangat. Ia berusaha mendengarkan dengan tulus sambil sesekali tertawa kecil merasa lucu dengan anak kecil yang mengemaskan itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya seseorang kembali masuk ke dalam kamar rawatnya. Dave menatap pira yang baru saja masuk bersama ayah Rihana. Pria itu terlihat asing baginya, sedangkan Rihana sangat mengenalnya.
Bukankah itu...
"Tuan Mark...," Seru Rihana dan di balas senyum tipis oleh Mark.
"Mark...," Ujar Dave lirih dengan sorot mata yang tampak ingin mengingat sesuatu.
"Tuan Dave...," Sapa Mark dan itu membuat Dave melongo.
"Apakah itu namaku? Apakah kau mengenaliku!" Seru Dave tampak antusias.
Lagi-lagi Mark hanya tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke arah Dave. Sebelum ia lanjut ingin bicara dengan Dave, ia sempat menatap ke arah Rihana. Sorot matanya seolah sedang memberi isyarat kalo ia ingin bicara berdua saja dengan Dave.
Rihana mengangguk tanda mengerti, "Sayang, kita keluar sebentar ya, ayo!" Ujar Rihana lembut pada putrinya dan gadis kecil itu hanya mengangguk dan menuruti perintah ibunya.
Rihana dan putrinya sudah menghilang di balik pintu. "Sebaiknya saya keluar juga!" Pamit ayah Rihana yang kemudian turut keluar bersama putri dan cucunya.
"Jadi, siapa kau?" Tanya Dave yang sudah tak sabar saat mereka sudah tinggal berdua saja di dalam kamar tersebut.
Mark mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk dan mulai menatap Dave. "Aku adalah seseorang yang kau kenal tuan!" Mark tersenyum hangat.
"Benarkah?" Dave masih menatap pria di hadapannya dengan tak percaya.
"Entahlah..., aku tak bisa mengingat apapun! Kalo kau kenal denganku, apa kau kenal juga dengan keluargaku?" Cerocos Dave Saking tak sabaran.
Mark mengangguk pelan. Ia masih merasa ragu antara ingin mengatakan yang sebenarnya atau membiarkan semua menjadi rahasia sebentar lagi.
"Lalu, katakan padaku, dimana mereka sekarang!" Dave menatap Mark dengan mata membulat. Berharap pria itu tak membuatnya penasaran lagi. Sedangkan Mark membalasnya dengan tatapan yang seolah tampak berpikir. Ia benar-benar merasa bingung.
"Tolong, katakan sesuatu padaku!" Pinta Dave dengan suara mengiba.
"Ak...,"
"Maaf, mengganggu, bisakah kita bicara sebentar di luar, tuan Mark!" Potong Rihana yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Tadi tanpa sengaja ia menguping pembicaraan antara Dave dan Mark. Dan ia memutuskan untuk, agar Dave tidak perlu tahu dulu soal keluarganya.
__ADS_1
"Kau...,"
BERSAMBUNG.