
Hari-hari terasa terlewati dengan begitu cepatnya, semua rasa sedih juga seakan memudar, ternyata benar, waktu adalah obat dari segalanya. Perlahan tapi pasti, Erika tidak merasa begitu sedih lagi dengan kepergian ayahnya. Tapi bukan berarti ia melupakan kenangannya bersama mendiang ayahnya. Ia hanya saja bisa mengenangnya dengan hati yang lebih tegar.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Dave. Ia sudah tampak mengenakan baju pengantinya sekarang. Erika terlihat sangat cantik hari ini dengan balutan dress pengantin warna putih. Perlahan ia keluar dari kamar dengan di iringi Ibunya.
Sedangkan Dave sudah nampak menunggu di antara kerumunan para tamu undangan. Tiba-tiba matanya tertuju pada Erika yang perlahan menuruni tangga menuju lantai bawah. Bukan hanya Dave yang menoleh ke arah Erika, namun tamu undangan yang lain melakukan hal yang sama. Mata mereka seolah tersihir oleh kecantikan seorang Erika yang bagaikan seorang putri raja dari negri dongeng.
Dan ada sepasang mata yang diam-diam menatap sedih ke arah Erika, hatinya hancur berkeping, seolah kesempatan untuk lebih dekat dengan gadis itu tertutup sudah. Tidak mungkin ia bisa mendekati Erika lagi. Sekarang gadis itu adalah resmi milik orang lain. Meskipun ia tahu, bahwa pernikahan itu hanya sandiwara, tapi tetap saja, bisa jadi cinta di antara Erika dan Dave bosnya bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.
Mark masih berdiri di sudut jauh dari para kerumunan tamu undangan. Ia bukannya tak ingin memberi selamat pada Erika, ia hanya takut tak bisa menahan diri bila berada di hadapan gadis itu. Jadi ia lebih baik menatapnya dari kejauhan. Melihat senyum Erika itu sudah cukup baginya.
Aku turut bahagia untukmu Erika, aku harap kau selalu bahagia.
Rupanya tak hanya Mark yang patah hati, dari kejauhan tampak Keinan tersenyum hambar saat menghadiri pesta pernikahan tersebut. Tapi pria itu memang sungguh pandai menutupi perasaannya, ia berani mendatangi Erika seraya memberikan pelukan serta ucapan selamat dengan senyum yang nampak menawan. Sampai-sampai tak ada yang tahu jika hatinya terluka.
"Wow..Kau sangat cantik tuan putri, andai saja kau yang jadi mempelaiku, pasti aku akan sangat bahagia!" Ujar Kei dengan nada berseloroh, padahal itu adalah murni ungkapan dari dasar hatinya yang paling dalam.
Erika tergelak. "Hahaha.. Kau masih saja sempat-sempatnya menggodaku!" Erika menutup mulutnya menahan geli tawanya.
__ADS_1
Dave yang tak jauh dari situ pun langsung menghampiri kedua sahabat lama yang tengah berbincang itu. "Sayang! Apa kau ingin berdansa?" Ujar Dave tiba-tiba. Sejenak Erika jadi tertegun, dan sesaat memandang dengan perasaan tidak enak pada Kei. Karena Erika pikir Kei masih ingin mengobrol dengannya.
Melihat itu Kei hanya tersenyum. "Pergilah Erika, bersenang-senanglah. Aku akan pulang mungkin sebentar lagi, yang penting aku sudah bertemu denganmu langsung hari ini untuk memberi selamat." Kei berkata dengan bibir setengah bergetar, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya yang terluka.
"Maaf ya, tapi Erika ini istriku sekarang!" Kata Dave dingin. Seolah-olah ia ingin menunjukkan hak kepemilikannya atas gadis itu.
Ah ya ampun, apa pria ini lagi-lagi salah minum obat?
"Kei..Maafkan aku!" Ujar Erika sambil mengikuti langkah Dave yang menuntunnya ke area dansa.
Dan dari sudut yang lain, tampak sepasang mata mengawasi Erika dengan tatapan cemburu. Ken, entah sudah berapa gelas wine yang di teguknya dari tadi. Setiap pelayan yang lewat membawa senapan wine, ia selalu mengambilnya, kemudian segera menenggaknya dengan sekali teguk. Perasaanya seakan sedang kalut, hampir-hampir ia setengah mabuk sekarang.
"Ken, kau ini apa-apaan, kenapa kau minum begitu banyak! Sadarlah!" Ujar Ana tunangannya yang kini juga ada di sampingnya. Ia meraih gelas wine yang akan di teguk oleh Ken. "Atau jangan-jangan kau masih menyimpan rasa untuk gadis itu?" Nada suara Ana meninggi.
"Cerewet, kalo iya kenapa? Aku memang masih mencintai Erika, kalo saja bukan demi ayah, aku juga tidak ingin di jodohkan denganmu!" Ken nampaknya sudah mulai kehilangan kesadarannya, hingga ia tak bisa mengendalikan bicaranya. Ia malah mengeluarkan isi hatinya sendiri tanpa ia sadari.
"Jadi selama kau tak pernah mencintaiku? Jadi selama ini kebaikanmu padaku itu apa?" Ana sudah mulai terisak, tapi Ken nampaknya tak peduli. Ia terus saja mengehentikan pelayan yang lewat di depannya. Dan mengambil minuman dari nampan para pelayan tersebut. "KAU JAHAT KEN..JAHAT..!" Teriak Ana sambil berlari meninggalkan Ken sendiri yang sudah mulai mabuk berat.
__ADS_1
Keributan kecil antara Ken dan Ana sempat menarik perhatian para tamu undangan lain. Ada beberapa orang yang sempat menoleh melihat ke arah pertengkaran mereka. Ada yang langsung berbisik-bisik karena wajah mereka yang familiar. Undangan pesta pernikahan mereka juga sudah di sebar, akan berlangsung beberapa hari lagi, dan malam ini di pesta pernikahan paman tirinya, gadis itu malah bertengkar dengan calon suaminya. Itu terlihat menyedihkan. Kira-kira begitulah arti tatapan para tamu yang menatap ke arah mereka.
******
Pesta pernikahan akhirnya usai sudah. Erika akhirnya bisa bernafas lega. Gaun yang di kenakannya sangat berat dan itu sangatlah melelahkan.
Sekarang ia sudah ada di dalam kamar Dave. Ia segera mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian biasa untuk tidur. Tanpa pikir panjang, ia pun segera menghambur ke ranjang Dave setelah berganti pakaian. Dave belum masuk ke dalam kamar, ia masih sibuk dengan menjamu para client yang datang ke pesta dengan terlambat.
"Ceklek..!" Terdengar handle pintu kamar Dave terbuka, keadaan kamar sangat hening, rupanya Erika sudah tertidur pulas di atas ranjang Dave.
Dave menutup handle pintu dengan perlahan agar tak menimbulkan suara seperti saat ia membukanya tadi. Ia tak ingin membangunkan Erika. Perlahan kakinya melangkah mendekat ke arah ranjang. Sejenak memperhatikan wajah Erika yang tertidur pulas dengan posisi telungkup. Senyum tipisnya tiba-tiba mengembang.
"Kau manis juga kalo sedang tidur!" Gumamnya lirih. Kemudian wajahnya di dekatkan pada gadis itu, menoel hidungnya pelan. "Selamat istirahat Erika!" Bidiknya lagi dengan senyum yang lebih lebar. Ia seolah terlihat malu-malu
Kemudian setelah itu ia melucuti pakaiannya sendiri, seperti kebiasaanya, Dave akan tidur dengan hanya bertelanjang dada. Setelah itu ia segera ingin merebahkan tubuhnya yang letih di sisi Erika. Tapi ia urung. Di pandangnya wajah Erika dalam-dalam. Dan dengan langkah malas ia mulai melangkah ke arah sofa dan membanting tubuhnya sendir di sana. Ia tak ingin terjadi apa-apa antara dirinya dengan gadis itu. Baginya semuanya masih terasa jauh. Ia belum bisa merasakan apapun terhadap gadis itu, atau mungkin ia ingin memasang prisai agar tidak jatuh cinta atau pun membuat Erika jatuh cinta padanya. Ia tak ingin mengulangi luka yang sama seperti yang ia alami di masa lalunya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1