
Dave yang tak tahu harus berbuat apa. Ia pun segera berlalu dari ruang rawat yang di tempati Erika sesuai permintaan wanita itu. Ia hanya berpikir itu benar adanya. Sudah sepantasnya Erika tak ingin melihat wajahnya lagi.
Dengan langkah gontai, Dave pun segera berjalan menuju mobilnya. Kemudian ia membuka pintu mobil dan segera duduk di belakang kemudi dengan wajah lesu. Entah kemana tujuannya saat ia ini. Ia sedang merasa malas untuk pergi ke kantor. Kemudian ia menghubungi sekretarisnya Tari melalui ponselnya dan mengabarkan kalo Erika tidak bisa datang bekerja hari ini. Selesai menghubungi Sekretarisnya. Dave berinisiatif untuk menghubungi Mark.
"Mark! Apa kau sudah selesai meeting?" Ujar Dave ketika sambungan teleponnya sudah mulai terhubung pada Mark. "Datanglah ke rumah sakit dan temanilah Erika!" Lanjutnya dengan perasaan kalut. Ia berharap kedatangan Mark nanti bisa menghibur Erika.
Sambungan telpon pun terputus. Sepertinya Mark tadi menyetujuinya. Selesai menelpon, Dave pun segera melajukan mobilnya. Ia ingin pergi ke suatu tempat.
Dan tak lama kemudian. Dave sudah tampak sampai di pelataran sebuah areal pemakaman umum. Dengan seikat bunga yang sempat ia beli di jalan. Dave pun mulai keluar dari mobil. Dan langkahnya tertuju pada satu makam. Ia terhenti tepat di hadapan makam tersebut. Segera ia membuka kacamatanya dan mulai duduk bersimpuh di dekat makam. Ia mengelus batu nisan makam itu perlahan, kemudian menaruh seikat bunga yang di bawanya tadi di atas makam tersebut.
"Elsa!" Serunya lirih. "Maafkan aku!" lanjutnya dengan perasaan yang masih kalut.
"Seandainya aku mau mendengarkan alasanmu yang sebenarnya waktu itu. Kau pasti tidak akan sedih dan melakukan hal konyol, tapi..." Kalimat Dave terhenti, seolah ia tak bisa menahan gejolak di hatinya, batinnya terasa perih bila mengingat semua itu. "Maaf kan aku!" Ulangnya sekali lagi akhirnya.
"Aku hanya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang ada gadis selain dirimu yang mencintaiku sama sepertimu mencintai aku? Apakah menurutmu aku harus menerima cintanya?" Dave bicara sendiri pada di hadapan makam Elsa mantan kekasihnya. "Dia gadis yang baik. Aku tak pernah bermaksud mengabaikannya. Hanya saja aku takut, semakin ia mencintaiku, ia akan semakin terluka. Dan aku tak ingin semua itu terjadi. Aku takut tidak bisa membalas rasa cintanya dengan sama besarnya. Kau mengerti kan maksudku?" Jelas Dave panjang lebar. Ia seolah ingin mencurahkan isi hatinya kepada mantan kekasihnya itu.
"Sampai saat ini di hatiku masih ada kamu, dengan segala rasa penyesalanku tentunya. Tapi belakangan aku mulai ragu. Seseorang tengah berusaha mengusik hatiku. Mencoba menerobos masuk dengan caranya yang tak biasa. Aku hanya belum siap saja untuk mengakui apa yang sebenarnya ku rasakan juga terhadapnya. Aku masih takut. Aku takut melukai diriku sendiri, juga takut melukainya. Itu saja!" Dave mengajari kalimatnya.
Setelah puas mengutarakan segala kerisauan di hatinya. Ia pun segera bangkit berdiri. Tapi sebelumnya ia sempat mencium kilas batu nisan yang ada di hadapannya.
*****
Di rumah sakit.
__ADS_1
Sudah tampak Mark ada disana. Ia baru saja sampai dan kini tengah berdiri di ambang pintu kamar dimana Erika di rawat. Tampaklah di sana Ibu Erika yang terlihat sudah sampai duluan.
"Eh...ada Nak Mark! Sini masuklah!" Tegur Ibu Erika dengan senyum hangat.
Mark pun balas tersenyum, kemudian segera berjalan mendekat ke arah Erika dan Ibunya.
Ia tak lupa untuk membungkukkan badannya tanda hormat kepada ibu Erika yang kini tengah ada di hadapannya. Dan ibu Erika yang sedang duduk di sisi ranjang Erika, hanya menundukkan kepalanya sedikit untuk membalas salam dari Mark.
"Erika? Bagaimana keadaanmu?" Sapa Mark seraya tersenyum. "Ini bunga untukmu!" Lanjut Make seraya menyerahkan bunga yang sempat di belinya di jalan tadi kepada Erika.
"Apa bunga ini dari Dave?" Wajah Erika terlihat penuh harap. Meski hatinya sakit karena pria itu. Tapi tetap saja Erika tak bisa berhenti memikirkan Dave.
Mark menggeleng seraya tersenyum. "Bukan! Itu dariku!" Seru Mark datar. Padahal saat ini jantungnya berdegup sangat cepat. Ia senang sekali bisa melihat wajah Erika lagi. Karena beberapa hari terakhir ini Mark belum bertatap muka lagi dengan Erika karena kesibukan masing-masing.
"Aku sengaja memilihkan yang terbaik untukmu!" Lanjut Mark tampak bersemangat. "Oh iya...Aku juga bawa buah dan sedikit makanan untuk Bibi!" Lanjut Mark sambil menyerahkan sekeranjang buah dari tangan yang satunya lagi. Juga sebungkus makanan yang ia beli di restaurant saat di jalan tadi.
Ibu terlihat senang dengan pembawaan Mark yang hangat dan pengertian juga perhatian. "Andai saja aku punya dua putri, pastia ku juga bersedia menjadikanmu menantuku!" Seloroh Ibu ambil menerima semua pemberian dari Mark.
Mark seketika terkekeh kecil, dan pipinya seakan merona merah. "Bibi bisa saja!" Jawab Mark dengan malu-malu.
"Kau anak baik, semoga kau mendapatkan jodoh yang pula!" Lanjut Ibu Erika, dan itu membuat Mark makin tersipu malu karena di puji.
"Sudahlah Bu, jangan menggodanya terus seperti itu. Lihatlah! Pipi Mark sudah tampak merah seperti tomat!" Seloroh Erika sambil ikut tertawa.
__ADS_1
Akhirnya Erika tertawa juga. Sejak tadi mood nya sangat buruk dan wajahnya selalu cemberut. Mark bersyukur kedatangannya bisa menghibur Erika yang tengah sakit.
"Hei...kau ini! Kau sebenarnya sakit apa? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit? Dari tadi ibu tanya kau belum juga menjawab" Seru Ibu akhirnya yang teringat kalo pertanyaannya belum juga di jawab oleh putri semata wayangnya itu.
Wajah Erika pun seketika langsung memucat. Ia tak tahu harus menjawab apa pada ibunya. Sedangkan Mark menatapnya dengan seolah dengan tatapan menunggu.
"Aku hanya sakit asam lambung," jawab Erika sekenanya.
Sang Ibu pun tak langsung percaya. "Masa' cuma gara-gara sakit asam lambung sampai masuk rumah sakit?" Ibu menatap menyelidik ke arah Erika. Ia tahu putrinya itu pasti sedang berbohong.
"Bisa jadi Bibi!" Mark langsung menyela. Ia tak ingin Erika terkena masalah. Mark faham Erika sedang menyembunyikan sesuatu dan tak ingin beliau tahu. Jadi Mark membatu Erika untuk membuat alasan. "Karena asam lambung Erika sangat kronis, makanya ia di larikan ke rumah sakit. Tadi tuan Dave yang bilang padaku seperti itu!"
"Oh...jadi seperti itu?" Gumam ibu masih merasa ragu. "Tapi kenapa bukan Dave saja yang datang kemari untuk menjaga Erika? Suami macam apa dia itu! Istrinya sakit, dia malah pergi entah kemana!" Rutuk ibu kesal.
"Hei...sudahlah ibu, jangan bicara seperti itu! Bagaimanapun Dave itu kan menantu ibu. Tidak baik menjelekkannya di depan orang lain seperti ini!" Erika merasa tidak enak dengan sikap ibunya yang menjelekkan suaminya di depan Mark.
"Ya...Maaf, ibu hanya asal bicara tadi, maaf ya!" Sesal ibu seraya mengelus lembut kepala Erika.
Mark hanya terdiam dan tersenyum. Benaknya membayangkan, seandainya saja saat ini ia lah yang menjadi suami Erika. Pasti ia akan merasa sangat bahagia.
Tapi sayangnya semua itu hanya mimpi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1