
"Kau bersiap-siaplah, ikut aku ke kantor!" Ujar Dave tiba-tiba saat ia sudah rapi berpakaian.
"Apa?"
"Apanya yang apa?"
"Kau menyuruhku ikut ke kantor!" Erika berusaha mengulang kalimat yang terlontar dari bibir Dave.
"Kau sudah dengar kan! Yasudah turuti saja!" Dave berjalan ke arah cermin seraya membenarkan dasi yang di kenakannya.
Erika melirik ke arahnya sejenak, ingin mengajukan protes, tapi lidahnya seolah kelu. Sedangkan Dave, dari balik pantulan cermin, matanya melirik ke arah Erika yang tiba-tiba saja terdiam dengan wajah yang berubah sedikit murung. Ada apa pikirnya? Apa ia enggan pergi ke kantor? Tapi kenapa? Begitu pikir Dave.
"Hei..Kau kenapa tiba-tiba diam begitu?" Tanya Dave akhirnya setelah memutar badannya menghadap ke arah Erika sekarang, Dasinya masih tampak belum rapi. "Bisakah membantuku lagi pasangkan dasi ini!" Lanjutnya lagi sebelum mendapatkan jawaban apapun dari gadis yang kini tengah berjalan ke arahnya.
Erika sudah tampak memasang dasi Dave dengan sangat telaten. Paling tidak ia pernah mempelajarinya dulu saat berpacaran dengan Ken. "Kau harusnya membuat bagian yang ini lebih kencang, agar dasimu tampak lebih rapi!" Seru Erika sambil tangannya sibuk membenarkan dasi yang di kenakan Dave. "Oh..Iya, untuk apa kau ingin aku pergi ke kantor? Sejujurnya aku sedang malas pergi ke luar rumah." Erika sudah tampak selesai dengan pekerjaannya sekarang.
Tiba-tiba tangan Dave menyentuh tangan Erika, membuat Erika sedikit terhenyak. Dave juga tampak kaget, kenapa tiba-tiba ia ingin menggenggam tangan gadis itu. Dan sebenarnya di dalam hatinya juga ada keinginan untuk mencium gadis yang ada di hadapannya sekarang. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa menahan diri, meskipun sekarang gadis itu sekarang adalah istri sahnya. Tapi tetap saja, ia tetap tak ingin melibatkan hubungan fisik, apalagi melibatkan perasaan.
Erika nampak menunggu, seandainya Dave ingin menciumnya, ia merasa tak keberatan. Tapi sayang itu hanya angannya saja. Tiba-tiba saja Dave melepaskan genggaman tangannya dan segera pergi ke arah pintu untuk keluar kamar.
"Baiklah! Tinggallah di rumah saja jika kau tak ingin pergi kemana-kemana" Ujar Dave sesaat sebelum keluar dari pintu kamarnya.
Erika masih berdiri terpaku di tempatnya berdiri, semua terasa begitu canggung baginya, bagaimana bisa ia tadi berpikir mengharapkan sebuah ciuman dari Dave. Jelas pria itu tak mungkin melakukannya.
"Huaaahhh...!" Seketika ia kembali membanting tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa sedihnya sendiri.
__ADS_1
Kenapa aku harus terlibat dengan drama seperti ini, bukan ini yang sebenarnya aku inginkan? Apa aku benar-benar tidak bisa menjadi istri sungguhan? Apa aku tak layak di cintai? Kenapa semua jadi begini?
******
Mark sudah berdiri di ambang pintu rumah Dave sekarang. Tadi Erika menelponnya dan memintanya untuk datang. Kalo saja Erika tidak merengek dengan suara yang terdengar sedih, ia pasti tidak akan mau untuk datang. Sayangnya Erika melakukannya dan itu membuatnya merasa tidak tega.
"Hei, kau sudah datang!" Ujar Erika ketika telah membuka pintu utama rumah besar itu. Ia sengaja menghentikan langkah bibi Ema untuk membukakan pintu, agar dia sendiri yang membukakan pintu untuk Mark.
"Iya." Jawab Mark datar tanpa ekspresi.
"Baiklah, ayo masuk! Aku ingin bicara." Ujar Erika lagi sambil membuka pintunya lebih lebar lagi.
Mark terlihat sedikit ragu. "Erika! Apakah menurutmu ini pantas? Maaf bukan bermaksud membuatmu tersinggung, tapi kita sama-sama tahu, kau istri dari bos ku sekarang dan...."
"Bukan seperti itu, jangan salah paham, tentu saja aku masih ingin berteman denganmu, tapi aku juga harus bisa menjaga sikap dan perilakuku, aku hanya ingin menjaga perasaan tuan Dave." Mark tampak sungguh-sungguh saat mengucapkannya.
Tiba-tiba Erika tersenyum hambar, merasa konyol mendengar kata-kata yang di ucapkan Mark. "Mark, kau jelas tahu pernikahanku dengan Dave itu palsu, bahkan ia juga tidak peduli dengan perasaanku, jadi kenapa kau begitu kawatir dengan perasaanya. Ia pasti sama sekali tidak keberatan dengan hubungan pertemanan kita. Jadi tenanglah dan janga mengkawatirkan apapun. Aku sungguh butuh teman bicara saat ini Mark itu saja." Jelas Erika seraya menatap mata Mark dengan tatapan memohon.
Kau juga tidak tahu apa yang ku rasakan Erika, aku hanya tak yakin bisa menahan diriku bila terus ada di dekatmu. Ku mohon mengertilah. Bagaimana caranya aku menghentikan perasaanku sendiri untuk tidak tertarik padamu!
"Baiklah, bagaimana kalo kita bicara di luar saja sambil makan siang!" Jawab Mark akhirnya. Bagaimanapun sebenarnya ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk dekat dengan gadis itu. Ia tahu ini terlalu berisiko. Tapi sepertinya Erika yang membuka jalan untuknya.
"Apa itu tandanya kau bersedia Mark?" Wajah Erika seketika berbinar.
Mark hanya mengangguk kecil seraya tersenyum sebagai jawaban. Ia senang sekali melihat wajah Erika yang tampak senang dan menggemaskan itu.
__ADS_1
"Yeiii...Baiklah Mark, tunggu sebentar ya, aku akan berganti pakaian dulu, setelah itu kita pergi keluar!" Ujar Erika dengan bersemangat.
"Baiklah kalo begitu, aku akan menunggumu di mobil saja." Seru Mark seraya berlalu dari hadapan Erika.
*****
Erika dan Mark sudah tampak di sebuah restorant sederhana yang tidak terlalu mewah, sebuah kedai makan dengan menu makanan ala Korea yang harganya sangat terjangkau.
"Wah tempat ini seru juga, kau pandai juga memilih tempat!" Ujar Erika dengan nada riang.
Diam-diam mata Mark terus mengawasi ke arah Erika. Gadis itu benar-benar sudah membuatnya kehilangan akal. Sebenarnya tadi Dave juga diam-diam menyuruh dirinya mendekati Erika. Jadi saat Erika menelponnya tadi, Dave juga mengetahuinya dan malah menyurhnya untuk mendekati gadis itu. Awalnya Mark merasa bingung dengan perintah bosnya itu. Tapi pada akhirnya ia menurut saja. Ia juga sebenarnya senang jika harus berada terus di dekat Erika.
Mark tidak ingin memikirkan alasan kenapa Dave malah menyuruhnya mendekati istri pura-puranya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya bisa berada di dekat gadis itu.
"Apa maknannya enak menurutmu?" Ujar Mark yang nampak senang melihat Erika menyantap makanan yang di hadapannya dengan lahap.
"Ya..Ini enak sekali Mark, pasti saat ini aku tidak terlihat seperti seorang nona muda ya jika melihatku makan seperti ini!" Erika berkata dengan mulut yang penuh makanan. Ia tampak lucu dan membuat Mark semakin gemas.
"Kau memang tidak seperti nona muda kalo seperti itu, tapi kau terlihat seperti...." Kalimat Mark menggantung.
"Seperti apa?" Erika nampak menunggu lanjutan kalimat dari Mark.
Seperti gadis yang aku sukai. Aku menyukaimu Erika. Mark berkata dalam diam dan tatapannya seolah penuh arti.
BERSAMBUNG....
__ADS_1