
Di dalam ruangan Dave. Tiba-tiba sikap Dave berubah lagi. Ia kembali acuh terhadap Erika.
"Kenapa kau mengikutiku ke ruangan ku?" Ujar Dave dengan sedikit ketus.
Erika merasa sedikit terkejut. "Bukankah kau yang mengajakku tadi kesini...Tadi di luar kau..." Kalimat Erika terhenti.
"Kau pikir aku tadi serius?" Dave menatap dalam ke arah Erika.
Erika masih tampak menganga memperhatikan wajah Dave. Seolah sedang mencari kejujuran di dalam mata pria itu.
Namun akhirnya Erika pun faham. "Ya...Aku mengerti, kau tadi hanya berpura-pura saja di depan mereka. Agar aku tidak terlihat menyedihkan, iya kan?" Seru Erika berat, seolah ada yang menahan di tenggorokannya.
Dave berdecak sinis. "Jangan memandang dirimu terlalu tinggi nona. Aku hanya tidak suka melihat mereka terlalu lama basa-basi itu saja."
"Oh..." Erika seolah tak bisa mengeluarkan suara apapun lagi. Jika ia mulai bicara, ia takut ia akan menangis. Untuk itu, sesaat kemudian ia mulai menghela nafasnya panjang. Kemudian menghembuskanya dengan cepat. Seolah sedang ingin mengeluarkan kekecewaan yang sempat menghampirinya tadi.
"Baiklah...Aku akan keluar!" Ujar Erika lagi sambil ingin berlalu dari hadapan Dave.
"Tunggu! Kau mau kemana?" Panggil Dave, dan membuat Erika kembali menoleh ke arahnya. "Pergilah ke ruang HRD, kau harus interview disana. Waktumu tinggal 10 menit lagi. Pergilah sekarang juga." Lanjut Dave dengan tatapan datar.
Jadi kau sengaja ingin menyiksaku rupanya.
"Baik!" Ucap Erika singkat. Ia tak ingin berlama-lama lagi satu ruangan dengan Dave. Bisa-bisa nanti hatinya kesakitan mendengar ucapan-ucapan tajam dari pria tersebut.
******
__ADS_1
Di tempat lain. Di sebuah cafe. Yaitu sepasang kekasih Ken dan Ana sedang menikmati sarapan pagi mereka sembari berbincang ringan.
"Sayang, menurutmu kenapa paman Dave mengajak istrinya ke kantor?" Ujar Ana sambil sibuk menyiapkan potongan sandwitch ke dalam mulutnya.
"Entahlah?" Jawab Ken singkat, ia juga sedang sibuk menyeruput kopi pesanannya tadi. "Kalo menurutmu?" Ken malah balik bertanya.
"Hemmm...Mungkin paman Dave ingin Erika bekerja! Paman Dave kan sudah memberikan sekitar 20 persen sahamnya untuk istri pu..." Ana tak melanjutkan kalimatnya, ia sadar ia hampir saja keceplosan hendak ingin mengatakan istri pura-pura. Demi mengalihkan perhatian Ken, Ana pun pura-pura tersedak. "Uhuk...uhuk...Sayang, bisakah ambilkan air minum untukku!"
"Ah...kau ini, ada-ada saja!" Ujar Ken seraya mengambilkan minuman untuk Ana. "Makanya kalo sedang makan jangan sambil bicara. Akhirnya begini kan?" Seru Ken sambil meminumkan minuman ke bibir Ana. Bagaimanapun sebenarnya Ken adalah pria yang lembut dan penuh perhatian. Oleh sebab itu dulu Erika lebih menyukai Ken daripada Key kembarannya.
"Hemmm...dengan saham sebesar itu, aku rasa itu cukup untuk Erika bisa menjabat sebagai kepala direksi di kantor. Tapi itu akan mengancam grup F. Apa jangan-jangan Erika berencana ingin menghancurkan grup F. Oh..tidak, aku harus mulai waspada!" Ken tergelitik untuk melanjutkan obrolan sebelumnya.
"Tenang sayang, kamu tak perlu kwartir seperti itu, Grup F dapat dukungan sepenuhnya dari grup K, keluargaku. Jadi kau tak perlu kawatir berlebihan seperti itu. Kau tahu kan grup K adalah pemegang saham terbesar di PT. Dirgantara grup. Jadi kau jangan pesimis seperti itu. Lagi pula apa yang bisa di lakukan seorang Erika? Dia hanya mantan nona muda yang manja, iya kan?" Jelas Ana panjang lebar.
Ken tampak berpikir sejenak, mencoba mencerna setiap kata yang terucap dari bibir tunangannya tersebut. Ia merasa ada benarnya juga. Memangnya apa yang bisa di lakukan oleh seorang Erika. Begitu pikirnya.
Aku akui sebenarnya aku sedikit merasa kawatir, aku memang telah menggelapkan banyak uang dari grup E. Dan itu yang membuat grup E kolap. Kalua Erika sampai tahu hal ini, aku yakin gadis itu tak kan tinggal diam.
******
Di ruang HRD. Erika tampak terlihat gugup. Kini ia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah HRD yang akan mengiterview nya.
"Silahkan untuk memperkenalkan diri!" Perintah sang HRD dengan tatapan datar.
"Emmm...Namaku Erika, aku berusia 25 tahun. Dan aku belum punya pengalaman kerja sama sekali." Akhirnya Erika bisa menjawab pertanyaan dengan sangat lancar meski perasaanya tadi begitu gugup.
__ADS_1
"Hemmm...Lalu bagaimana dengan pendidikanmu?" Ujar sang HRD lagi, yang di ketahui bernama Andre teman seangkatan Dave waktu masa kuliah dulu.
"Aku lulusan S1 jurusan design busana. Mungkin tidak ada hubungannya dengan perusahaan ini yang bergerak di bidang jasa traveling dan resort juga properti. Tapi aku suka belajar. Jadi aku mohon terimalah aku!" Jawaban Erika tampak polos apa adanya dan itu membuat Andre sedikit tersenyum.
"Hemmm...menarik, kamu percaya diri sekali. Tidak salah Dave merekomendasikamu sebagai sekertarisnya. Baiklah aku akan menerimamu, mulai besok kau sudah bisa bergabung di perusahaan ini." Andre mengatakannya dengan sangat mantap.
"Apa?"
Aku tidak menyangka proses interviewku akan berjalan semudah ini. Ternyata tidak sesulit yang aku duga. Tunggu, Apakah karena dia tahu aku istri nya Dave?
"Ya...kamu di terima, selamat, mulai besok kau sudah boleh bekerja. Untuk belajar kau bisa minta bimbingan pada sekertaris senior yang akan segera di pindahkan ke kantor cabang." Andre memang sudah tampak terpesona dengan Erika dari sejak pandangan pertama tadi. Tapi ia sadar, wanita yang tengah duduk di hadapannya saat ini adalah istri dari sahabatnya sendiri yaitu Dave. Dan sebenarnya tadi Dave berpesan untuk memperlakukan Erika sama dengan kariawan lain saat interview. Dan menurut Andre, Erika memang sangat menarik dengan kepolisan dan rasa percaya dirinya yang tinggi.
"Kalo begitu terimakasih Pak atas bantuan dan kerja samanya. Saya janji akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk turut mengembangkan perusahaan ini agar semakin maju lagi." Entah darimana Erika bisa mengeluarkan kalimat selancar itu. Yang pasti ia hanya mengikuti instingnya saja. Ia hanya ingin berjuang demi kebangkitan kembali grup E.
"Aku suka dengan semangat dan rasa percaya dirimu Erika, oh...iya ngomong-ngomong jangan panggil aku pak. Panggil saja namaku Andre."
"Baiklah Andre terimakasih atas bantuannya.!" Ulang Erika seraya tersenyum. Ia hanya bermaksud beramah tamah saja.
"Iya...Sama-sama Erika. Semoga kamu betah ya bekerja disini. Oh..iya untuk bimbingan kamu bisa hubungi Tari, Ia adalah sekertaris Dave yang sebelumnya. Karena kamu sudah mulai di terima kerja disini. Maka Tari akan di pindahkan ke kantor cabang. Tapi sebelum pindah, dalam seminggu ini ia yang akan membimbingmu." Jelas Andre panjang lebar. Ia juga sempat menyunggingkan senyum pada Erika. Sepertinya Andre juga mulai tertarik pada Erika.
"Oh...Jadi seperti itu. Baiklah, nanti aku akan menemui wanita bernama Tari itu." Seru Erika seraya mengangguk tanda mengerti. Ia malah tak faham dengan Andre yang terus memandanginya sejak tadi.
"Baiklah Erika, semoga berhasil!" Ucap Andre, dan kali ini seraya mengulurkan tangannya pada Erika untuk ucapan selamat karena telah berhasil bergabung di perusahaan ini.
Erika menyambut uluran tangan Andre dengan sedikit ragu. "Ya...sekali lagi terimakasih untuk semuanya!" Ujar Erika datar.
__ADS_1
Setelah itu Erika pun berlalu dari ruangan tersebut. Namun Andre memandangi punggung Erika yang menjauh hingga hilang dari pandangannya.
BERSAMBUNG.