
Di parkiran cafe. Seorang pria dengan tubuh proposional sedang duduk di sisi depan mobilnya. Wajahnya yang tampan di bawah sinar bulan tampak sedang menunggu seseorang keluar dari cafe. Sosok pria itu adalah Dave. Ia menunggu Erika keluar dari cafe bersama teman-temannya. Dari kejauhan Dave sudah melihat keberadaan mereka. Dave bangkit berdiri saat Erika yang di papah oleh Tari dan Dewi sudah makin mendekat ke arahnya. Melihat keadaan Erika yang seolah tak berdaya karena mabuk. Dave pun segera membopong tubuh istrinya itu ke dalam mobil.
Selesai dengan itu ia kembali keluar mobil dan mengucapkan terimakasih pada Tari dan kedua rekannya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
Tari dan dua rekan kerjanya membungkuk kan badannya sedikit untuk tanda hormat sebelum mobil Dave benar-benar melesat pergi.
"Semoga nona Erika baik-baik saja!" Ujar Dewi yang daritadi tampak panik.
"Tenang saja. Dia pasti akan baik-baik saja. Suaminya akan mengurusnya." Sergah Tari sambil tersenyum. "Ayo kita pulang juga." Lanjutnya sambil mulai melangkahkan kakinya.
"Hei...tunggu, jangan lupakan aku, ah...kalian ini, teman macam apa?" Seru Indri pura-pura marah. Ia tadi tampak sedang melamun saat Tari dan Dewi mulai berlalu dari tempat itu menuju mobil Tari yang terparkir tak jauh dari situ.
"Makanya jangan kebanyakan melamun!" Goda Dewi, mereka kini sudah tampak memasuki mobil Tari.
Dari tadi Tari hanya diam saja. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
****
Sesampainya di pelataran rumah Dave. Dave turun dari mobil seraya membopong tubuh Erika yang kini tampak sedang mearacau layaknya orang mabuk.
Di sepanjang perjalanan tadi Erika mengumpati Dave. Sekarang dalam gendongan Dave, Erika masih melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Dave, Kau itu jahat, manusia dingin, kenapa kau abaikan aku!" Racau Erika dalam ketidak sadarannya. Tapi Dave hanya diam saja mendengar racauan Erika, ia pun dengan Saba membopong tubuh istrinya hingga ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, ia pun segera meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang secara perlahan.
Selesai dengan itu. Dave berniat untuk pergi, tapi Erika malah menarik dasi Dave yang menggantung di atas tubuhnya hingga Dave terjatuh dan menindih tubuh istrinya. "Cium aku, peluk aku!" Erika mulai meracau lagi. Wajah Dave yang kini tampak memerah, ia masih berusaha untuk menahan diri. Ia berusaha menyingkirkan tangan Erika dari dasinya dengan perlahan agar ia bisa kembali bangkit berdiri dan pergi. Tapi tak di sangka Erika malah meraih kepala Dave hingga wajah Dave jaraknya sangat dekat dengan wajah Erika. Hanya terhalang hidung saja.
Mata Dave terbelalak. Ia merasa tak bisa menahan diri lagi. Dan akhirnya ******* bibir Erika dengan penuh gairah. Erika pun seolah menikmatinya. Ciuman Dave pun berangsur-angsur turun ke leher Erika. Seolah ada kerinduan yang mendalam yang bercampur dengan keinginan yang terpendam selama ini.
Bahwa kenyataanya ia ingin menyentuh wanita ini. Istrinya. Tapi apalah daya. Ia harus menjaga jarak sedemikian rupa agar istrinya itu tidak jatuh cinta padanya. Tapi malam ini, semua terjadi begitu saja. Dave larut dalam gairahnya bersama Erika yang terus saja menggodanya sejak tadi. Yah...Walaupun dalam keadaan tak sadarkan diri.
*****
Keesokan paginya. Erika membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pusing akibat sisa mabuk semalam. Ia benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi. Saat ia ingin bangkit dari tidurnya, ia berusaha membuka selimut yang kini tengah menutupi tubuhnya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati saat ini ia tak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Apa yang terjadi? Pikirannya bertanya-tanya.
"Hai...kau sudah bangun rupanya. Ayo sarapan dulu, kau pasti lapar karena semalam aku..." Dave seolah enggan melanjutkan kalimatnya. Ia kini tengah duduk di sisi ranjang dan meletakkan makanan yang sempat ia bawa di meja kecil sisi ranjang.
"Semalam apa yang terjadi?" Erika tak bisa membendung lagi rasa penasarannya. Ia juga merasa malu dengan keadaanya yang tak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Ia pun menarik selimut hingga ke leher untuk menutupi tubuhnya.
"Apa kau sungguh tidak ingat?" Dave berkata sambil sedikit tersipu malu. Dan Erika hanya menggeleng cepat tanda tidak ingat apa-apa.
"Kita...telah melakukannya tadi malam. Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri. Kau terus saja menggodaku semalam karena mabuk!" Jelas Dave sambil kini wajahnya merona merah.
Benarkah? Apa semalam aku benar-benar menggodanya? Apa yang ku lakukan semalam? aku benar-benar tidak ingat, dasar payah. Dan suasananya kenapa malah jadi canggung begini.
__ADS_1
"Hei kenapa malah melamun, makanlah sarapan mu! nanti keburu dingin, aku mandi duluan ya!" Ujar Dave dengan tampak salah tingkah. Entah mengapa setelah mengatakan hal itu, ia malah mencium kening Erika kilas. Dan itu sontak membuat wajah Erika memerah.
Apa dia salah minum obat? kenapa dia tiba-tiba jadi semanis ini?
Tak berapa lama kemudian, Dave mulai keluar dari kamar mandi. Dan Erika juga sudah tampak menyelesaikan sarapannya. Erika tiba-tiba memalingkan wajahnya ke segala arah setelah tadi sempat tanpa sengaja matanya menatap tubuh suaminya yang atletis hanya terbalut handuk saja yang melilit di pinggangnya. Meskipun ini bukan pemandangan yang pertama kalinya untuk Erika. Tapi entah mengapa pagi ini ia merasa sangat malu sekali sekaligus jantungnya berdegup sangat kencang.
Dave masih tampak mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya. Kemudian ia melirik ke arah Erika yang tampak salah tingkah. Ia pun mendekat dan kini ia duduk tepat di hadapan istrinya itu.
Erika pun merasa gugup. Jantungnya tak berhenti berdegup sangat cepat. Ia kembali menarik selimut yang menutupinya hingga ke leher.
Melihat itu Dave jadi ingin tertawa. "Kenapa kau pura-pura polos seperti itu, aku sudah lihat semuanya!" Ujar Dave sambil menatap tajam ke arah istrinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Apa semalam kita benar-benar melakukannya?" Ujar Erika malu-malu.
"Jadi yang semalam kau benar-benar lupa? Apa perlu kita ulangi sekali lagi?" Goda Dave.
"Eh...apa maksudmu?" Erika sudah mulai tampak panik.
Dave terkekeh. "Haha...bukan apa-apa? Apa kau tidak marah padaku karena telah lancang melakukannya? Maafkan aku!" Ujar Dave terdengar tulus. "Seandainya terjadi apa-apa jangan kawatir. Aku akan bertanggup jawab. Meski pada akhirnya nanti kita bercerai. Aku akan bertanggung jawab jika saja kau hamil dan melahirkan. Biar aku yang urus anak itu dan kau bisa bebas." Lanjut Dave. Dan perkataan Dave itu membuat Erika merasa kecewa dan ingin marah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1