Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Menggoda


__ADS_3

Erika tiba di rumah Dave ketika hari sudah mulai menggelap, matahari senja pun sudah kian memudarkan cahayanya. Kini langit berganti hitam dengan taburan bintan malam yang indah.


Erika sudah mulai memasuki kamar Dave dan segera membanting tubuhnya sendiri di atas ranjang. Masih teringat jelas di ingatannya saat mengobrol bersama Mark di sebuah taman kota tadi.


Tiba-tiba saja pria itu memeluknya saat ia mulai menangis menceritakan tentang perasaanya terhadap Dave.


Flash back..


"Ada apa Erika? Wajahmu terlihat murung begitu, kau boleh menceritakan apapun padaku, aku akan mendengarnya." Ujar Mark saat mereka tengah duduk di sebuah bangku taman sore itu.


Erika masih terdiam, merasa ragu untuk membuka suara.


"Apa ini ada hubungannya dengan tuan Dave? Apa kau benar menyukai tuan Dave? Tidak apa-apa jujur saja padaku, mungkin dengan begitu beban di hatimu akan sedikit terobati." Bujuk Mark lagi dengan tatapan tulus.


Melihat mata Mark yang begitu teduh dan menenangkan, membuat Erika tak lagi segan untuk mulai bercerita. "Mark, apa menurutmu apa aku salah jika aku mulai memiliki perasaan terhadap Dave?" Perasaan Erika tiba-tiba bergetar saat memulai pembicaraannya sendiri. Bibirnya pun sampai bergetar saat mengucapkan kata demi kata, mungkin karena perasaan yang di pendam ya sudah kian mendalam.


Jadi benar, Erika sudah mulai jatuh cinta dengan Tuan Dave. Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak begini, sakit!


"Lalu?" Mark nampak menunggu kelanjutan cerita dari Erika dengan hati yang hancur namun ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan Erika.


"Ya..Sebenarnya sejak awal aku memang sudah tertarik padanya, sikapnya yang susah sekali di tebak, membuatku semakin penasaran padanya. Dan akhir-akhir ini aku semakin tidak bisa tahan dengan perasaanku sendiri, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan agar aku bisa merasa lebih baik." Air mata Erika sudah mulai menggenang disudut matanya.


Mark yang melihat Erika yang terlihat rapuh, ia ingin sekali memeluk gadis itu, tapi apalah daya, ia tak berani melakukannya. "Jangan sedih E, kau biasanya selalu tersenyum dan ceria, kalo kau benar-benar mencintai tuan Dave, kau harus mengatakannya." Ujar Mark akhirnya.


"Bagaimana bisa aku mengatakanny Mark, dia saja sudah menolakku berulang kali sebelum aku sempat mengutarakan perasaanku. Dia sudah berkali-kali mengatakan padaku, jangan pernah melibatkan perasaan dalam hubungan pura-pura ini." Erika sudah mulai terisak sekarang. Dan suaranya pun bergetar hebat.


Kali ini Mark tak tahan lagi untuk tidak memeluk gadis yang ada di dekatnya demi menenangkannya. "Sabar E, masih ada aku disini, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Mark yang tanpa sadar sudah mengungkapkan sebagian perasaanya.


Tiba-tiba rasa hangat dan nyaman menelusup ke dalam dada Erika, meskipun itu sangat samar. Tapi Erika dapat merasakan rasa aman bila di dekat Mark.


Erika terdiam. Tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Untuk sejenak waktu ia membiarkan tubuhnya ada di dekapan Mark. Namun setelah itu, Mark seolah sedang tersadar dari kelancangan dirinya sendiri. Ia segera menarik diri dan melepaskan pelukannya pada Erika. "Maafkan aku Erika, aku hanya terbawa suasana tadi, aku hanya ingin menenagkanmu." Ujar Mark dengan suara gugup.


"Ah..tidak apa-apa Mark, aku mengerti, maaf juga karena aku terlihat cengeng hari ini. Hehe." Erika berkata dengan memaksa tertawa sekaligus berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang tadi sempat menetes di pipinya.


Sejenak suasana jadi canggung. Mark berusaha tersenyum dan kembali menata hatinya. Ia senang melihat gadis itu tak menangis lagi sekarang. Ia juga berharap Erika tidak menyadari tentang perasaanya yang sebenarnya tadi. Kalo sampai itu terjadi. Suasananya pasti akan lebih canggung dari ini.


*****

__ADS_1


Tanpa sadar, Erika sudah mulai terlelap dia tas ranjang berukuran king size itu. Sepertinya ia merasa sangat lelah sekali Ahri ini. Sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Dave yang sudah pulang dari kantor.


Perlahan Dave membukan pintu kamarnya, ia tak mau menimbulkan suara berisik yang bisa membuat istrinya terbangun. Lalu setelah itu ia melepas sepatunya agar juga tak menimbulkan suara berisik. Kemudian setelahnya berjalan mendekat ke arah ranjang.


Seulas senyum tiba-tiba tersembul di bibirnya. Wajahnya kini sudah tampak dekat dengan wajah Erika. Dave mengawasi wajah gadis itu dengan seksama, dan perlahan tak tahan untuk menyentuh pipi halus Erika.


"Kau bilang kau merindukanku tadi, tapi apa-apaan ini, aku pulang kerja, kau malah tidur." Gumam Dave lirih. Dan kemudian wajahnya tiba-tiba mendekat ke wajah Erika seperti hendak mencium. Tapi sial, Erika tiba-tiba saja bangun.


Mata mereka saling melotot sekarang. Padahal jarak di antara keduanya sudah sangat dekat. Bahkan ujung hidung mereka saling menempel sekarang.


Menyadari hal itu, Dave buru-buru menarik diri dan segera mengalihkan pandangannya ke segala arah. Sedangkan Erika memasang wajah kecewa. Padahal ia merasa tidak keberatan kalo pria yang di hadapannya saat ini berniat ingin menciumnya tadi.


"Hei, suamiku, kenapa wajahmu tiba-tiba merah begitu, pasti kau ingin menciumku ya!" Seru Erika yang kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk di tas ranjang.


Dave berdecak. "Cih..Jangan berharap aku melakukannya, aku hanya melihat ada nyamuk di pipimu tadi." Ujar Dave dengan datar. Sepertinya ia orang yang pandai sekali menyembunyikan perasaan.


Apa? Nyamuk?


Seketika Erika mengeriyitkan dahinya, memandang tak percaya pada suami pura-puranya itu.


"Kenapa memandangku terus seperti itu? Apa kau sungguh berharap aku akan menciummu?" Dave berkata seraya mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Seperti biasa, ia akan tidur dengan bertelanjang dada.


"Tuan, tubuhmu sangat bagus, mana mungkin aku tidak tergoda, aku bahkan ingin menciummu saat ini juga." Kalimat Erika terlontar dengan lugasnya, membuat Dave sempat terkejut dan memandang tak percaya ke arahnya.


Tidak ku sangka dia berani mengatakan hal semacam itu? Aku ingin tahu sampai dimana keberaniannya. Dave.


Biarkan saja, pasti aku sudah gila, sudah gila, karena berani mengucapkan hal semacam itu, aku Hanya ingin tahu, apa ia tergoda dengan ucapanku. Erika.


Dave berjalan mendekat ke arah Erika. Menatapnya dengan tatapan tak biasa. "Dasar rubah kecil." Ujarnya, setelah itu langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Erika.


Erika merasa sangat terkejut, tapi setelahnya malah memejamkan matanya dan mulai menikmati ciuman dari Dave.


"Apa kau senang sekarang?" Ujar Dave seusai menghentikan ciumannya sendiri.


"Sebenarnya aku ingin lebih, tapi aku tak yakin kau bisa melakukannya, kau kan tidak suka wanita, dan yang tadi itu aku rasa, hanya kamunflase saja." Erika berkata dengan nada santai, tapi sebenarnya tubuhnya sudah gemetaran. Entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk mengatakan semua itu pada Dave. Ia merasa Dave sebenarnya pria yang baik. Jadi ia merasa aman saat mengatakan semua itu.


"Apa katamu! Hahaha!" Dave seketika terbahak saat mendengar celoteh Erika yang terdengar lucu. Bagaiman bisa gadis yang ada di hadapannya saat ini berpikir kalo dirinya tidak tertarik ada wanita, dan berkata kalo ciuman tadi hanya kamunflase. Erika berhasil menghiburnya rupanya, sampai-sampai Dave bisa tertawa selepas itu.

__ADS_1


Ternyata saat tertawa seperti itu, ia terlihat sangat manis. Erika memandangi wajah Dave yang baginya belum pernah ia lihat sebelumnya. Tawa Dave yang lucu.


"Jadi kau ingin berbuat lebih denganku? Kau sedang memancingku rupanya." Dave menghentikan gelak tawanya sejenak. Dan memandang Erika dengan sisa-sisa tawanya yang mulai mereda.


"Kalo iya kenapa? Kau kan suamiku. Tapi sayangnya kau tidak suka wanita sih, jadi aku malas!" Erika berkata sambil berlagak sok cuek.


Dave kembali tersenyum, sepertinya hari ini ia sudah banyak lagi tersenyum. "Jadi kau benar ingin mencobanya, kau pikir aku takut melakukannya." Dave menghambur ke arah Erika, sekarang Dave sudah berada tepat di atas tubuh gadis itu. Hawa panas pun sudah mulai merayapi tubuh keduanya.


"Lihat! Siapa yang takut sekarang, tanganmu sudah tampak gemetaran dan berkeringat tuh!" Dave menekan kedua tangan Erika di atas ranjang.


Jantung Erika sudah berdetak sangat kencang sekarang, ia merasa sekarang ialah yang mati kutu, bagaimanapun juga sebenarnya ia tak berniat benar-benar menggoda Dave. Ia hanya ingin tahu reaksinya saja. Tapi tak sampai seperti ini. Kalo seperti ini Erika juga merasa belum siap.


"Eh..Tuan, kau kan baru pulang kerja, memangnya kau tidak lapar? Bagaimana kalo aku ambilkan makanan untukmu!" Ujar Erika seraya memaksa tersenyum, berharap Dave mau melepaskannya dari cengkramannya.


"Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu? Apa kau takut? Jadi kau ingin menghindar rupanya." Dave sudah mulai menyusuri leher dan bahu Erika dengan bibirnya.


"Bukan begitu Tuan, aku hanya tidak ingin tuan kelaparan, itu saja." Erika sudah mulai panik dan akhirnya malah mengeluarkan kata-kata sekonyol itu.


"Apa kau sungguh takut sekarang? Tabi tubuhmu terasa panas, bagaiman kalo aku memakanmu saja!"


Apa?


"Eh..Tuan, sebentar, aku kan tadi baru pulang dan belum mandi, apa boleh aku mandi dulu!" Erika masih berusaha membujuk Dave yang kini makin liar menyusuri tubuhnya.


"Jadi kau mau mengajakku mandi bersama?"


Hah..apa-apaan ini, bukan itu maksudku!! Huaaa...bagaimana ini!


"Wah..ternyata kau sangat payah rupanya, bahkan kau tidak berusaha menyenangkanku dengan tubuhmu, bagaimana aku bisa tertarik dengan gadis sepertimu!" Tiba-tiba Dave menghentikan aksinya sendiri. Sekarang ia sudah mengubah posisinya dan duduk di atas ranjang.


Akhirnya Erika bisa bernafas lega. Tapi tunggu dulu, apa dia bilanga tadi, aku gadis payah katanya, dasar pria mesum, malah menyalahkan aku yang tidak bisa melayani.


"Kau itu gadis payah, hanya bisa bermulut besar, lain kali jangan menggodaku, aku benar-benar tak berselera padamu!" Dave kini sudah beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Apa-apaan dia itu, bicara sembarangan seperti itu, tadi yang menggoda itu siapa? Aku memang bodoh, suka asal bicara. Tapi bicaramu kejam seperti itu!


Karena saking merasa gemasnya pada ucapan Dave, Erika menggigit bantal yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Dasar pria aneh, aku gemas, aku gemas!" Gumam Erika lirih sambil melihat punggung Dave yang mulai menjauh dari hadapannya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2