Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Kekesalan Erika


__ADS_3

Erika beberapa kali melihat ke arah layar ponsel yang ada di tangannya. Berharap ada pesan balasan dari Dave, gadis itu sudah mengirimi banyak pesan chat pada Dave, tapi tak ada satupun yang di balas oleh pria dingin itu. Erika benar-benar merasa frustasi sekarang. Ia tak bisa menebak apa maunya laki-laki yang sebentar lagi akan di nikahinya. Sikapnya yang sangat membingungkan dan dingin, membuat Erika malah larut dalam pesonanya.


Erika menarik nafas panjang dan dalam, berharap kekecewaan dalam hatinya terasa sedikit lebih ringan, tapi apa yang terjadi. Kini airmatanya sudah mulai menggenang di sudut matanya dan bersiap untuk tumpah membasahi pipinya. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, kini Erika sudah mulai menangis tersedu dalam diam. Tidak di sangka perasaanya akan sedalam ini pada Dave.


Dave, apa kau tidak merindukanku sedikitpun? padahal aku selalu merindukanmu di setiap detik yang ku lewati tanpa hadirnya dirimu. Dave..Dari kemarin kau tak memberiku kabar, kemana saja kau? Aku tahu aku Hanya bonekamu. Maafkan aku jika aku mulai memiliki perasaan lebih padamu.


Erika membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang di tekuk, mendekap diri sendiri di sana dalam sepi di dalam kamarnya.


"Tok..tok..tok.." Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu kamarnya. "Erika sayang! Ayo kita makan nak, makanan sudah siap, ibu baru saja memasak makanan kesukaanmu!" Cerocos ibu tampak antusias.


Erika segera menghapus air matanya dengan kasar. "Iya, tunggu sebentar ibu!" Jawabnya dengan suara serak karena menangis. Ia pun buru-buru merapikan rambutnya dan penampilan wajahnya yang sembab. Selesai dengan itu ia pun segera menuju pintu kamarnya dan menemui ibunya disana.


"Kenapa lama sekali membuka pintunya? Apa kamu baik-baik saja nak?" Ujar ibu dengan menatap menyelidik ke arah Erika. Instingnya sebagai seorang ibu seolah peka dengan apa yang terjadi pada putrinya.


"Maaf ibu, tadi aku sedang di kamar mandi, jadi aku lama membuka pintunya!" Sahut Erika berbohong. Ia tak ingin ibunya merasa kawatir terhadapnya.


Ibu sebenarnya tidak percaya dengan jawaban putrinya tersebut. Tapi ia memilih diam dan tak ingin mendesak putrinya. Ia adalah ibu yang sangat menghargai privasi putrinya. Ia akan menunggu sampai putrinya itu siap untuk bicara padanya dengan sendirinya.


"Baiklah kalo begitu sayang, ayo kita kebawah dan makan!" Seru ibu seraya tersenyum.

__ADS_1


"Kalo begitu, ayo Bu! Kebetulan sekali aku sangat lapar."


*****


Saat Erika dan ibu sudah berada di lantai bawah, tiba-tiba mereka sudah di kejutkan dengan suara bel pintu yang terdengar nyaring menggema ke seluruh ruangan.


"Siapa sih itu, memencet bel pintu berkali-kali seperti itu, dasar tidak sabaran!" Rutuk Erika merasa gemas.


"Tunggu sebentar, biar ibu saja yang bukakan!"


"Eh tidak perlu bu, biar Erika saja yang bukakan pintu, ibu duluan saja ke meja makan!" Pinta Erika dengan menghadang ibunya yang sudah mulai melangkah ke arah pintu utama.


Bunyi bel masih tampak nyaring memekakkan telinga.


"Eegghh..awas ya, akan ku beri pelajaran orang ini." Gerutu Erika sambil melangkahkan kakinya besar-besar ke arah pintu.


"Hei..kau ini punya..." Kalimat Erika menggantung ketika menemui sosok yang kini tengah ada di hadapannya saat baru saja membuka pintu.


Kenapa orang ini menyebalkan sekali, baru saja aku bertekad untuk tidak larut lagi dalam pesonanya. Tapi sekarang ia malah muncul tiba-tiba seperti ini di hadapanku. Ia sudah membuatku rindu setengah mati, tapi bahkan ia tak memberiku kesempatan untuk bisa membencinya. Kenapa kau jahat sekali Dave. Mempermainkan perasaanku sampai seperti ini.

__ADS_1


"Hei..Erika, aku sengaja mampir untuk mengantarmu makan siang, apa aku boleh masuk? Ibumu ada kan? Bagaimana kalo kita makan sama-sama!" Ujar Dave dengan wajah kalemnya seolah tak punya dosa.


Orang ini..! Aaaaahhh...kalo dia begini terus aku bisa apa? Kenapa sikapnya kadang baik, kadang menyebalkan. Aku benci, aku benci sekaligus mulai jatuh cinta padanya. Bagaimana ini, siapapun tolong aku!!! Gema suara isi hati Erika.


"Hei..Kenapa kau malah bengong begitu? Apa menurutmu Aku seperti hantu?" Ujar Dave lagi dengan cueknya. Ia benar-benar tidak peka kalo dirinya sudah membuat Erika merasa bodoh karena tak bisa mengartikan semua sikapnya selama ini.


"Aku cuma heran padamu, kadang kau bertindak seperti seorang kekasih, kadang kau bertindak seperti seorang bos yang sombong. Kenapa sikapmu itu membingungkan sekali."


Dave hanya tersenyum ketika mendengar celotehan polos dari bibir Erika. "Kalo begitu jangan kau pikirkan, lebih baik kita ke dalam dan makan bersama ibumu juga." Dave sudah mulai ingin melangkah masuk ke dalam rumah Erika.


"Tunggu dulu, kau harus menjelaskan sesuatu dulu padaku, jangan bertindak seenaknya begini dengan perasaanku!!" Kekesalan Erika nampaknya sudah pada puncaknya. Ia tak bisa lagi membendung gejolak hatinya. Hatinya yang terasa sakit meronta meminta penjelasan dan kejelasan.


"Hei..Erika! Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan sikapku selama ini? Atau jangan-jangan kau yang salah mengartikannya selama ini? Bukankah sudah ku katakan beruang kali dengan tegas. Jangan libatkan perasaan dalam hubungan pura-pura kita, aku tahu akhirnya akan begini, aku kira kau gadis yang kuat, untuk itu aku memilihmu untuk jadi istri pura-puraku, ternyata kau sama saja, lemah. Bagaimana aku harus bersikap padamu? Coba jelaskan padaku!" Dave menjawab denga panjang lebar. Di tatapnya mata gadis itu dalam-dalam. Ia berharap tak menemukan apapun disana. Karena toh pada kenyataannya hubungan mereka hanya pura-pura. Ia tak ingin banyak di tuntut. Karena itu akan membuatnya tertekan. Dan ia berharap Erika tahu batasannya seperti yang ia ucapkan sebelumnya.


"Ma..af kan aku Dave, mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan. Sekali lagi maaf!" Bibir Erika bergetar saat mengucapkan semua itu, ia pun sedikit terbata, segera ia menundukkan pandangannya. Ia tak ingin Dave mulai menyadari ada kristal bening di sudut matanya.


Dave menarik nafas panjang dan membuangnya dengan cepat. "Maafkan aku juga jika aku terlalu keras padamu, aku begini karena itu demi kebaikanmu juga! Maaf ya!" Ujar Dave datar. Dan Erika hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya. Ia merasakan sakit yang teramat perih. Belum pernah sebelumnya ia merasakan tertarik pada seseorang sampai sedalam ini. Meskipun sebenarnya ia belum lama mengenal Dave. Tapi perasaan itu seolah tumbuh dengan sendirinya.


Apa aku tidak akan pernah bisa melampaui batasan ku, apakah aku tak bisa lagi bergerak maju? Apa aku harus menghentikan perasaanku sendiri? Setidaknya bantu aku memahami semua ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2