Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Kedatangan Mark


__ADS_3

Makan siang di rumah Erika siang itu terasa begitu canggung, Erika dan Dave tiba-tiba saling diam saat di meja makan, mata mereka sesekali bertemu, tapi di antara mereka tidak ada yang mau mengalah untuk membuka percakapan. Sikap mereka berdua membuat Ibu Erika merasa sedikit curiga.


"Nak? Apa kalian berdua ada masalah?" Ujar Ibu yang di dorong rasa penasarannya.


"Ya!" Erika.


"Tidak!" Dave.


Mereka berdua menjawab secara bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda iuuuhhh. Sejenak mata mereka kembali bertemu, seolah sedang memberikan isyarat masing-masing yang hanya mereka sendiri yang tahu.


Setelah itu Erika langsung membuang muka, begitu juga dengan Dave.


Kau pikir kau siapa? Dasar gadis aneh! Dave.


Dasar pria dingin, menyebalkan sekali! Erika.


Ibu bertambah bingung ketika melihat sikap mereka berdua yang tampak kekanak-kanakkan.


Ibu menaikkan kedua alisnya seraya menarik nafas panjang kemudian menghembuskanya dengan cepat. "Baiklah Ibu mengerti, Ibu tidak akan ikut campur urusan kalian. Tapi Ibu hanya ingin memberi saran kepada kalian, jika ada masalah sebaiknya di bicarakan, jangan saling diam seperti itu, itu sampai kapanpun tidak akan menyelesaikan masalah. Apa kalian mengerti!" Jelas Ibu, berharap dua insan yang saling berselisih itu bisa memahami nasehat yang baru saja ia berikan tadi.


"Tapi Bu, aku merasa tidak memiliki masalah apapun dengan Erika." Jawab Dave datar sambil sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya. Matanya sekilas melirik ke arah Erika. Gadis itu membalasnya dengan tatapan menusuk, seolah sorot matanya sedang berkata. Bagaimana bisa orang ini tidak peka, apa hatinya benar-benar terbuat dari batu.


"Ya..Ibu, aku tak ada masalah apapun dengan Dave, jangan kawatirkan aku." Akhirnya Erika menjawab dengan memaksakan senyum riangnya, dan menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terasa ngilu sakarang.


Sekali lagi Ibu mengangkat kedua alisnya. "Baiklah kalo begitu, Itu terserah kalian saja menyikapi masalah kalian yang sedang kalian hadapi saat ini. Sekali lagi Ibu hanya bisa menasehati dan mengingatkan saja. Bahwa dalam sebuah hubungan harus ada saling percaya, saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain dan mengesampingkan ego masing-masing. Baru sebuah hubungan itu akan terjalin harmonis dan langgeng." Ibu menutup nasehatnya dengan manis. Membuat dua insan yang ada di hadapannya kini tampak menunduk dan merenung dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Dave membenamkan wajahnya dalam, terlihat seperti ada gejolak dalam hatinya. Tapi ia buru-buru menepisnya. Mengangkat dagunya dan bersikap senormal mungkin dengan cara tersenyum paksa pada Ibu. "Aku akan ingat nasehat Ibu yang satu itu."


Sedangkan Erika memandang ke arah Dave dengan tatapan bingung, pikirannya seolah sedang berkata, bagaimana Pria itu masih bisa bersikap tenang seperti itu? Padahal kenyataannya tidak demikian adanya.


*****


Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, langit yang tadinya cerah terang benderang karena cahayanya kini telah berubah hitam dengan titik-titik bintang yang bertaburan. Erika duduk termenung di sudut balkonnya, matanya menerawang jauh ke angkasa. Ia merasa sangat bingung dengan semua kejadian hari ini. Percaya atau tidak, Setelah selesai makan siang tadi. Dan saat Dave berpamitan pada Erika di teras rumahnya. Tiba- tuba saja dengan sepontan pria itu mengecup keningnya dengan lembut. Seketika itu juga Erika tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa berdiri mematung sampai Dave menghilang dari hadapannya.


Rasanya sangat manis dan menyenangkan, tapi kalo mengingat itu bagian dari bagian kebohongan pria tersebut, pasti hal manis itu akan berubah menjadi menyakitkan. Bagaimana bisa pria itu melakukan semua itu, membolak balikkan perasaanya seperti membalikkan telur goreng di dalam wajan penggorengan. Apa perasaannya semudah itu berubah. Atau jangan-jangan Erika yang sekarang mulai terjerat cinta Dave yang membingungkan.


Erika mulai memegang ke sebelah dadanya. Mulai merasakan sakit disana. Perasaanya terasa begitu rumit dan menyakitkan, kadang ia juga ingin berpikir jika pria itu juga mencintainya sama sepertinya. Tapi disisi lain ia sadar betul, bahwa pria itu sering berkata dengan tegas. Bahwa tak boleh melibatkan perasaan dalam hubungan pura-pura mereka.


"Kalo hanya pura-pura kenapa kau menunjukkan kebaikanmu kepadaku? Kalo hanya pura-pura, kenapa kau menunjukkan kepedulianmu, kenapa kau bersikap manis, kenapa??? Kenapa???" Seru Erika lirih dalam tangisnya yang kian pilu.


"Kalo begitu caranya, ajari bagaimana aku bisa memasang dinding agar aku tidak tergoda oleh pesonamu, atau kalo tidak kau cari gadis lain saja, aku ingin berhenti!!!" Rutuk Erika sekali lagi, rasanya ia ingin menumpahkan segala rahasia hatinya di keheningan malam.


Pria tersebut tampak datang dengan senyum sumringah di bibirnya. Erika masih menagwasi dengan seksama sampai pada akhirnya ia mengenali sosok pria itu adalah Mark.


"Hai Mark!" Seru Erika dari atas balkon seraya melambaikan tangannya ke arah pria tersebut.


Reflek Mark mendongak ke atas, mencari asal suara yang tengah memanggil namanya. Sejenak ia tersenyum setelah matanya bertemu dengan gadis yang selalu ia rindukan belakangan ini. "Hai Erika!" Sapa ya balik seraya melambaikan tangan juga ke arah gadis tersebut.


"Tunggu Mark, aku akan turun!" Seru Erika lagi dengan riang. Ia merasa senang Mark datang, ia sudah tidak sabar untuk bercerita banyak ada pria tersebut tentang banyak hal, terutama tentang perasaanya terhadap Dave. Baginya Mark ada teman dan pendengar yang baik buat Erika. Meskipun belum lama kenal, tapi mereka terlihat akrab layaknya sepasang sahabat lama.


"Hai Mark, aku senang kau datang!" Ujar Erika sesaat membuka pintu untuk Mark, Erika mengataknnya dengan spontan.

__ADS_1


"Benarkah?" Raut wajah Mark seolah merona, merasa senang dengan ucapan Erika yang tiba-tiba. Jantungnya perlahan berdenyut kencang dana hebat.


"Ada apa malam-malam kau datang kesini?" Seru Erika lagi dengan ringan.


Mark belum menjawab, ia tampak salah tingkah di hadapan Erika.


"Aaahh...Kenapa kau tiba-tiba jadi diam seperti itu? Jangan bilang kau merindukanku, hahaha!" Goda Erika seraya tergelak.


Seketika tingkah Erika membuat Mark semakin terpaku. "Em..itu..Aku...." Mark sudah terlihat benar-benar gugup sekarang.


"Hei..Jangan terlalu serius seperti itu, aku hanya bercanda Mark!" Tangan Erika menepuk bahu Mark pelan, dan itu lagi-lagi memicu getaran di hati Mark.


"Aku sengaja kesini untuk mengantarmu makan malam, aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi aku membawakanmu salad buah, biasannya gadis cantik tidak makan makanan berat saat makan malam, jadi ku pikir, aku ingin membawakanmu salad buah saja." Ujar Mark seraya menghembuskan nafas lega saat menyelesaikan kalimatnya. Berharap gadis di hadapannya itu akan terkesan dengan perhatiannya.


Erika merasa spichlees sampai tak tahu harus berkata apa. "Mark!" Ujarnya akhirnya seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. "Aku tidak percaya ini, terimakasih ya Mark, kau perhatian padaku, aku terkesan!" Lanjut Erika dengan tulus. Gadis itu benar-benar tampak terharu, apa lagi saat Mark mengatakan dirinya cantik. Semua wanita pasti bahagia bila di bilang cantik oleh seseorang.


"Aku hanya berusaha membuatmu senang saja E." Mark mengatakannya dengan malu-malu.


"Eh..tapi ngomong-ngomong kau beli dimana salad buah malam-malam begini?" Erika tergerak ingin tahu, mengingat saat ini malam sudah agak larut.


"Aku tidak beli, aku sengaja membuatnya tadi di apartemenku."


"Apa!" Lagi-lagi Erika tampak spichlees dengan apa yang di lakukan Mark terhadapnya. "Ya ampun Mark, kau baik sekali padaku, aku jadi benar-benar terharu, sekali lagi terimakasih ya!"


"Tidak perlu berterimakasih E, kita kan teman, aku senang jika kamu juga senang." Entah mengapa rasanya Mark merasa lega mengatakan semua itu, setidaknya ia bisa mengungkapkan sebagian isi hatinya meskipun terlihat samar.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2