Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Awal


__ADS_3

Selamat datang di season ke dua dari novel yang berjudul "ISTRI PURA-PURA"


jangan lupa untuk terus memberikan dukungan nya dengan cara like, coment dan vote. makasih 😊


happy reading 😊


____________


5 tahun kemudian.


Pagi-pagi.


"Bu!...Ayah kapan pulang?" Ujar seorang anak laki-laki yang tengah duduk di meja makan. Sejak tadi ia hanya memainkan sendok tanpa menyentuh makanannya. Wajahnya terlihat murung.


"Sabar ya sayang! Pasti sebentar lagi ayah pasti pulang kok! Sekarang kamu habiskan dulu sarapan mu, lalu setelah itu kita berangkat ke sekolah!" Jawab seorang wanita muda yang juga tengah duduk bersama anak tersebut di meja makan.


"Sebentar lagi itu kapan? Sudah dua hari Ayah pergi tapi belum pulang juga! Apa ayah tidak kangen dengan Leo?" Anak laki-laki itu merajuk sambil memanyunkan bibir bawahnya.


Melihat itu wanita yang duduk di sampingnya merasa gemas lalu menoel hidung mancung Leo, putranya. "Kamu ini, pintar sekali sih ngomongnya! Ayah kan lagi di luar kota sayang. Nanti juga pasti ayah pulang kok. Sabar ya!" Bujuk wanita muda itu lagi dengan sabar.


"Tapi..." Leo seakan ingin mengajukan protes lagi, tapi bibir mungilnya seolah tak bisa berkata-kata saat seorang laki-laki dewasa mengagetkannya dengan memanggil namannya dari arah belakang.


"Ayah!" Seru Leo tampak antusias sambil berusaha menoleh ke asal suara. "Huft ternyata paman,. aku pikir tadi ayah!" Rajuk nya dengan wajah kecewa saat mendapati kenyataan ternyata pemilik suara yang tengah memanggilnya itu bukanlah ayahnya.


Wanita muda yang ada di sampingnya hanya tersenyum, kemudian tangannya melambai ke arah laki-laki yang baru saja datang. "Hai Mark, apa kabar? lama tak jumpa!" Ujar wanita muda itu yang tak lain adalah Erika.


"Hai E, kabar ku baik, bagaimana dengan mu? Dan si kecil Leo?" Mark mendekat dan mengusap lembut kepala Leo.

__ADS_1


"Aku juga baik Mark!" Jawab Erika tersenyum.


"Hai anak tampan? Kenapa mukamu di tekuk begitu?" Sapa Mark pada Leo yang sejak tadi hanya diam saja.


Leo hanya menggeleng tanpa mau menjawab.


"Apa ini karena ia belum bertemu ayahnya?" Mark mengalihkan pandangannya pada Erika.


Erika mengangkat bahunya. "Hem...sepertinya begitu, dari tadi ia terus merajuk ingin bertemu ayahnya."


"Hemm...sabar ya anak manis, sebentar lagi pasti ayahmu juga pulang!" Bujuk Mark pada Leo.


"Sudahlah paman, jangan bicara lagi, aku bosan mendengar alasan yang sama terus!" Keluh Leo dan itu mengundang Mark untuk tersenyum.


'Baiklah pria kecil, aku tidak akan bicara lagi, aku hanya ingin memberikan ini untukmu!" Ujar Mark sambil mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.


"Tentu saja siapa lagi!"


"Wah...bagus, aku sayang paman!" Leo pun langsung menghambur ke pelukan Leo. Ia tampak senang dengan mainan pemberian dari Mark.


Sedangkan Alena hanya bisa tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara Leo putranya dengan Mark.


"Omong-omong tumben kau datang? Apa kau sedang senggang sekarang?" Ujar Erika saat mengantar Mark ke pintu luar, Mark sudah berpamitan hendak pulang kembali ke Cafenya. Beberapa tahun belakangan ini Mark memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Ia membuka Cafe dan restaurant di beberapa tempat di kota J.


"Aku menyempatkan mampir sebenarnya untuk memberikan ini?"


"Apa ini?"

__ADS_1


Erika melihat sebuah kartu undangan yang baru saja di serahkan padanya.


"Wah...akhirnya kau akan menikah juga! Siapa wanita yang tengah beruntung mendapatkan mu itu! Aku jadi penasaran!" Ujar Erika sembari tertawa kecil.


Tapi Mark belum menjawab. Ia melirik Erika dengan tatapan tak biasa.


"Bukan siapa-siapa, ia hanya seorang wanita sederhana!" Jawab Mark akhirnya sembari mengalihkan pandangannya ke segala arah saat Erika menoleh ke arahnya.


"Semoga langgeng dan bahagia selalu ya!" Ujar Erika lagi masih dengan tersenyum.


"Hem...iya, terimakasih do'a nya!" Mark mengangguk seraya tersenyum tipis.


******


Mungkin kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Tapi kita masih bisa memilih dengan siapa kita akan bertahan.


Terlalu naif jika kita selalu bilang, kita bisa mencintai tanpa memiliki. Karena kenyataanya itu pasti menyakitkan.


Mungkin mengungkapkan perasaan tidak lantas membuat keadaan berubah. Sama seperti hal nya ketika kita merentangkan tangan. Kita tidak benar-benar sedang menggapai langit.


Semua hal tidak selalu berjalan sesuai kehendak hati kita. Tapi setidaknya kita masih bisa mengungkapkan apa yang di kehendaki hati kita meskipun itu belum tentu bisa mengubah keadaan.


Hanya sang waktu yang bisa menjawab semuanya.


Dan inilah awal kisah yang baru...


BERSAMBUNG.

__ADS_1


hai guys...jika ada saran atau kritik tolong tulis di kolom komentar ya. Terimakasih πŸ˜ŠπŸ˜‰


__ADS_2