
Erika dan Dave segera memasuki mobil setelah berada di halaman rumah Dave. Sudah tampak ada Mark duduk di belakang kemudi. Erika dan Dave duduk di belakang. Mark mengawasi mereka berdua dari balik kaca sepion. Erika tampak memasang muka kesal, sedang Dave dengan santai membuka iped nya untuk mengerjakan sesuatu.
"Pagi Mark!" Sapa Erika ramah pada Mark. Tak lupa ia menyunggingkan senyum manisnya pada Mark.
Mendengar itu Dave melirik pada Erika sekilas, setelah itu melihat ke arah Mark juga sekilas sebelum akhirnya pandangannya kembali pada iped yang ada di tangannya.
"Pagi juga nona muda!" Sahut Mark seraya mulai menyalakan mesin mobil, tapi matanya masih mengarah ke kaca spion yang ada di atasnya. Suasana jadi terasa sedikit canggung. Dave hanya diam tanpa ekspresi, padahal Erika berharap Dave memberikan reaksi saat dirinya tadi menyapa Mark.
Kenapa dia itu dingin sekali sih. Rutuk Erika dalam hati.
"Mark bagaimana perasaanmu hari ini?" Celetuk Erika lagi berusaha memecah keheningan.
Apa?
Sejenak Mark merasa terkejut. "Perasaanku..baik-baik saja nona muda!" Jawab Mark sedikit ragu. Ia merasa tidak enak pada Dave meskipun bosnya itu belum memberikan reaksi apa-apa.
"Kenapa kau harus ragu-ragu menjawabnya Mark, santai saja denganku, bukankah kita teman? Kenapa masih saja menyebutku dengan panggilan nona muda.
Panggil aku E saja, bukankah kau sering memanggilku begitu!" Seru Erika panjang lebar sambil matanya melirik sinis ke arah Dave. "Kau tidak perlu sungkan padaku karena dia!" Ujar Erika dengan sedikit penekanan. Ia berharap Dave akan memberikan reaksi setelah ini.
Benar saja, sejenak Dave langsung menatap ke arah Erika. "Bisa tidak jangan berisik, aku sedang mengerjakan sesuatu, kalo kau ada masalah dengan mood mu lebih baik tadi tidak usah ikut ke kantor." Sergah Dave dengan nada datar dan dingin.
Siapa yang ada masalah dengan mood? Aku hanya ingin mencari perhatianmu saja Dave. Kau ini benar-benar kejam, tidak peka, huftt.
Seketika Erika memanyunkan bibirnya dan segera membuang muka pada Dave. Pandangannya ia alihkan ke arah keluar jendela kaca mobil.
__ADS_1
Mark yang sedang menyetir pun hanya bisa terdiam dan lagi-lagi hanya bisa mengawasi dari kaca sepion. Ingin rasanya ia menghibur Erika, tapi ia bisa apa. Tak banyak yang bisa ia lakukan. Ia merasa tidak enak pada tuannya yaitu Dave.
*****
Sesampainya di kantor. Erika dan Dave pun mulai memasuki lobi kantor. Dave melangkah lebih dulu seolah tak peduli pada Erika yang berada beberapa langkah di belakangnya, ia tampak kesusahan untuk menyamai langkah Dave.
Dasar pria tidak berperasaan, apa dia itu tidak bisa manis sedikit padaku.
"Pagi Pak!" Sapa para karyawan terhadap Dave sambil membungkukkan badannya memberi hormat, sedangkan yang ada di meja resepsionis tampak berdiri dan segera membungkuk saat melihat kedatangan Dave. Erika tampak heran memandang semua orang yang tampak tunduk pada Dave. Dave terlihat semakin karismatik jika seperti ini, pikir Erika.
"Pagi Pak, pagi nona muda!" Sapa seorang karyawan ramah pada Erika saat Erika melewatinya. Kini Erika dan Dave sudah tampak jalan beriringan. "Pagi juga semua!" Erika membalas sapaan kariawan dengan senyum ramah. Sedang Dave hanya melenggang dengan wajah dinginnya begitu saja.
Saat hendak akan melewati sebuah koridor untuk menuju ruangan Dave. Tanpa sengaja Dave dan Ariana berpapasan dengan Ken dan tunangannya, Ana. Sejenak mereka saling bertatap-tatapan secara bergantian.
"Seperti yang kamu lihat, aku tampak baik, ya kan!" Erika memasang senyum seceria mungkin walaupun ia tahu betul kenyataannya tak sebaik yang terlihat. Mungkin bagi sebagian besar orang bisa menikah dengan pria tampan dan kaya adalah suatu keberuntungan yang luar biasa. Tapi siapa yang tahu, ada banyak luka di balik senyum yang tersungging di bibir Erika.
"Paman Dave...Sebentar lagi hari pernikahanku dengan Ken. Paman datang ya!" Ujar Ana sambil berusaha menggandeng lengan Ken dengan Erat, seolah ingin memperlihatkan kemesraan mereka berdua di hadapan Erika. "Dan tentu kau juga Erika, datang ya!" Lanjutnya seraya kini kepalanya ia sandarkan di bahu Ken. Sebenarnya Ken merasa sedikit risih, tapi bagaimanapun ia tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa memandang Erika dengan tatapan rasa bersalah.
Melihat itu, Erika jadi sedikit murung, bukan karena dia masih mencintai Ken dan mengharapkan Ken kembali. Tapi ia berpikir seandainya saja dirinya dan Dave bisa memperlihatkan kemesraan yang sama seperti mereka. Pasti ia tidak akan merasa sesedih ini.
Tapi tak disangka, Dave seolah peka dengan suasana hati Erika yang tiba-tiba buruk. Dengan sepontan ia langsung merangkul pundak Erika seraya berkata. "Tentu saja kami berdua akan datang, buka begitu sayang!" Ujarnya seraya menatap ke wajah Erika seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Sejenak Erika merasa terkejut dengan perubahan sikap Dave yang tiba-tiba. Ia menatap wajah Dave dengan sedikit melongo. "Ya...Aku pasti akan datang bersama suamiku tercinta!" Ujar Erika sambil menatap dalam-dalam kedalam mata Dave. Seolah sedang menyampaikan isi hatinya yang sebenarnya.
Tapi Dave hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah pasangan muda-mudi Ken dan Ana. "Kami akan datang sebagai pasangan paling serasi di pernikahan kalian nanti." Dave berkata dengan nada sangat tenang.
__ADS_1
Melihat itu Ken jadi sedikit tertegun. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menggelayutinya. Alhasil ia hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Tidak ku sangka, Kau bisa berpaling dariku semudah itu. Sangat murahan. Rutuk Ken dalam hati merasa geram.
Ana merasa enggan melihat pamannya yang seolah memanjakan istri barunya itu. "Kalian memang tampak serasi paman, tapi sayang sekali ya...Ups...!" Ana berkata seraya tersenyum simpul seolah sedang mengejek. Karena ia sudah tahu yang sebenarnya dari seorang sumber, kalo pernikahan paman tirinnya itu dengan Erika hanyalah pernikahan kontrak. Tapi sialnya ia tak bisa membeberkannya dengan terus terang. Ia takut kalo Ken sampai tahu hal ini. Ia malah akan kembali mengejar Erika. Untuk itu ia hanya berusaha melemparkan sindiran saja. Ia bermaksud agar wanita ****** itu tahu diri dengan posisinya.
"Apa yang kamu maksud Ana?" Ken menatap menyelidik ke arah Ana yang tampak menyembunyikan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa sayang! Aku hanya asal bicara tadi." Ujar Ana seraya bergelayut manja di lengan Ken yang masih tampak sedikit bingung.
"Baiklah Paman! Erika! Kami duluan ya? Kami mau pergi sarapan di luar, kami kan pasangan sungguhan dan romantis, benar kan sayang!" Jelas kalimat yang di lontarkan Ana penuh nada sindiran terhadap Erika. Pasangan sungguhan, sedangkan Erika dan Dave hanya pasangan pura-pura.
Erika hanya bisa terdiam sejak tadi, bukannya ia tak ingin membalas perkataan dari Ana. Hanya saja ia tak ingin membuang tenaganya untuk bertengkar hanya untuk hal sepele seperti ini.
"Yasudah...Kalian pergilah sarapan di luar, selamat bersenang-senang! Kami pun akan melanjutkan kemesraan kami di ruangan ku, melanjutkan yang tadi pagi, bukan begitu sayang!" Ujar Dave tiba-tiba. Dan itu seketika membuat Erika tampak melongo. Begitu juga dengan Ken yang kini benar-benar merasakan panas di dadanya.
Sedangkan Ana hanya berdecak kesal.
Cih...Dasar wanita ******, tak punya harga diri. Gumam Ana lirih seraya memandang remeh ke arah Erika.
Seperti mendapat dukunga dari Dave. Erika pun tersenyum. "Tentu saja sayang, aku juga sudah tidak sabar untuk melanjutkan yang tadi pagi." Ujar Erika dengan nada sedikit centil.
Dan ya...itu berhasil membuat pasangan muda-mudi di hadapan mereka merasa jengkel dengan pikiran mereka masing-masing.
BERSAMBUNG.
__ADS_1