
Tak ingin menunda waktu lebih lama lagi. Akhirnya Rihana dan ayahnya segera melarikan Dave ke rumah sakit.
Di ruang tindakan, Dave segera di tangani, mula-mula hidungnya di beri selang oksigen untuk membantunya bernafas karena tiba-tiba saja detak jantungnya melemah. Sebelumnya ia juga sudah sempat di city scen untuk melihat keadaan dalam kepalanya. Dan hasilnya adalah, ada sedikit gumpalan darah yang menyumbat bagian memori di otaknya. Itu lah sebabnya ia mengalami amnesia jangka panjang, ia tak bisa mengingat masa lalunya.
Namun sejauh ini, Dave baik-baik saja, perlahan ia akan menemukan kembali ingatannya. Dokter menyarankan, agar Dave tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat dalam waktu dekat ini. Karena itu akan berakibat fatal. Bisa saja ia mengalami pendarahan di otak dan berakhir pada keselamatan jiwanya.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Rihana tak kuasa menahan rasa bersalahnya. Ia tadi dan putrinya tanpa sengaja telah berusaha membangkitkan ingatan Dave.
"Astaga, aku tak menyangka, kalo akibatnya akan separah itu!" Pekik Rihana.
"Ya, saya sarankan sebaiknya, pria itu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya dalam waktu dekat ini, biar waktu saja yang menyembuhkan beliau secara perlahan!"
"Baik Dok, saya mengerti!" Ujar Rihana akhirnya. Kemudian Dokter itu pun berlalu dari ruang rawat Dave.
Setelah kepergian sang dokter, Rihana menatap iba pada Dave yang sedang terbaring tak berdaya di atas brankar. Matanya masih terpejam belum sadarkan diri.
Ayahnya yang ada di dekatnya, menyentuh pundaknya. Wanita itu pun menoleh, menatap ayahnya yang seolah sedang memberinya kekuatan. "Dia akan baik-baik saja!" Seolah memahami kekawatiran putrinya. Apa lagi melihat putrinya menatap pria yang sedang terbaring itu dengan tatapan tak biasa.
"Nak, tapi sebaiknya kau jangan terlalu berharap lebih, ayah takut kau akan kecewa pada akhirnya!" Ujar sang ayah tiba-tiba.
"Maksud Ayah?" Rihana mengerutkan dahinya, masih belum mengerti arah pembicaraan ayahnya.
"Maksudku adalah, jangan sampai kau jatuh cinta pada pria ini. Aku takut saat dia mengingat semuanya dan kembali ke keluarganya, kau yang akan terluka pada akhirnya." Jelas sang ayah. Dan itu membuat Rihana seketika menunduk. Ia tak menyangka bahwa ayahnya bisa menyadari apa yang tengah di rasakan ya saat ini. Tak bisa di pungkiri apa yang di katakan ayahnya ada benarnya. Tapi ia juga tak bisa menghentikan apa yang di inginkan hatinya. Entahlah, Rihana juga tidak mengerti, kenapa perasaanya pada pria itu seolah tumbuh begitu saja.
*******
"Apa di rumah sakit ini, ada pasien korban kecelakaan yang di rawat atas nama Dave?" Ujar seorang pria di lobi rumah sakit, dia adalah Mark, sudah beberapa hari ini ia banyak mendatangi rumah sakit yang terletak di sekitar kota tempat Dave kecelakaan. Dan kebetulan saat ini ia ada di rumah sakit dimana Dave di rawat saat ini.
Seorang pegawai recepcionish pun segera mencari data di komputernya, tapi tak menemukan pasien atas nama Dave. "Maaf sepertinya tidak ada pak!" Kata pegawai recepcionish itu menjelaskan.
__ADS_1
Wajah Mark terlihat sedikit kecewa. Ini sudah rumah sakit ke sepuluh yang ia datangi. Tapi ia belum juga menemukan keberadaan Dave. "Baiklah, terimakasih atas bantuannya!" Ujar Mark dengan suara lemah.
Tapi seolah tak ingin putus asa, ia kembali mengeluarkan selembar foto Dave dari dalam jas nya. Lalu mulai menanyakan prihal pria tersebut pada orang-orang yang melintas di hadapannya yang masih berada di areal rumah sakit tersebut.
"Permisi! Apa anda pernah melihat orang ini?" Tanya Mark pada seseorang.
Orang itu pun menggeleng, "Maaf tidak pernah lihat!"
Dan Mark pun mendapati jawaban yang sama pada setiap orang yang di tanya nya.
BRUK...,
Tiba-tiba seorang wanita tanpa sengaja menabraknya dari arah belakang. "Maaf!" Seru wanita itu ketika menyadari ketidak sengajaanya.
"Ya tidak apa-apa!" Sahut Mark sambil memungut foto Dave yang sempat terjatuh di lantai karena tabrakan tadi.
"Maaf, aku mau tanya, apa anda pernah melihat pria ini?" Ujar Mark sambil memperlihatkan foto Dave pada wanita yang ada di hadapannya.
Rihana menatap foto yang di sodorkan padanya, kemudian ia tampak menimbang-nimbang. "Aku tahu dimana dia!" Jawabnya akhirnya.
"Benarkah?" Mata Mark seketika tampak berbinar. "Katakan pada saya, dimana dia?" Ujar Mark antusias.
"Mari ikut saya!" Jawab Rihana sambil melangkahkan kakinya bersiap menuju kamar rawat Dave. Sedangkan Mark tanpa banyak bicara lagi mengikuti langkah Rihana.
Sesampainya di kamar rawat Dave. Sudah tampak disana seorang pria paruh baya dan seorang gadis kecil sedang duduk menunggu di sisi brankar Dave.
"Ayah, orang ini, kenal dengan tuan amnesia ini!" Ujar Rihana yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Apa?" Laki-laki paruh baya itu pun menatap Mark sejenak.
__ADS_1
"Bolehkah aku melihat keadaan tuan Dave?" Ujar Mark sambil mendekat ke sisi brankar tempat Dave terbaring.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk dan mempersilahkan Mark untuk mendekat.
"Sudah berapa lama ia di rawat disini? Bisa ceritakan pada saya, bagaimana kronologisnya sampai pria ini bisa di rawat disini?" Ujar Dave sambil menatap pria paruh baya dan putrinya secara bergantian.
Pria paruh baya itu pun menatap putrinya sejenak. Kemudian mengangguk, seolah sedang memberi isyarat agar putrinya saja yang menceritakan semuanya pada pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Baiklah Tuan, saya akan menceritakannya tapi tidak disini!" Ujar Rihana sambil melirik Marsya, putri kecilnya sejenak. Ia tak ingin pembicaraan nya nanti di dengar putrinya yang tidak tahu apa-apa itu. "Bisa kita bicara di luar?" Lanjut Rihana. Mark pun mengangguk tanda setuju.
*******
Rihana dan Mark akhirnya keluar dan bicara di ruang tunggu.
"Jadi begitulah ceritanya!" Rihana mengakhiri ceritanya. Ia sudah menceritakan semua kronologisnya pada Mark. Termasuk penjelasan dokter tentang keadaan Dave saat ini.
Mark mencoba memahami. Ia jadi urung untuk memberikan kabar gembira ini pada Erika dan Leo. Mengingat keadaan Dave yang belum stabil. Dan akan sangat berbahaya bagi Dave jika ia bertemu dengan anak istrinya dalam waktu dekat ini. Karena itu akan memancing ingatan lama Dave. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Dave. Tapi ia juga bingung harus menjelaskan semua ini pada Erika nanti.
Mark masih terdiam. Larut dalam pikiran dan dilema nya sendiri.
"Tuan! Apa yang sedang anda pikirkan?" Ujar Rihana membuyarkan lamunan Mark.
Mark menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya bingung harus menjelaskan ini pada Istri dan anak Tuan Dave." Jelas Mark.
"Anak dan istri?" Rihana tampak terkejut. "Jadi tuan amnesia sudah punya anak dan istri?" Rihana tampak bingung dan sedikit merasa kecewa. Sekarang ia mengerti maksud dari perkataan ayahnya tadi. Yang memperingatkannya agar tidak jatuh cinta pada pria tersebut. Tapi semua sudah terlanjur. Rihana terdiam, berusaha menerima kenyataan yang baru saja di terimanya.
Tentu saja tuan amnesia punya keluarga. Mana mungkin tidak? Rutuk Rihana dalam hatinya. Salah ku sudah berharap, bagaimana ini? Ia seolah belum bisa menerimanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1