Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Dave, Mark, dan Andre


__ADS_3

Di sebuah restorant. Dave dan Andre sedang makan siang bersama dan di temani oleh Merk pula.


Mereka bertiga terlihat Seperti sahabat lama yang sedang mengadakan reuni. Karena jarang-jarang mereka dapat berkumpul bertiga seperti ini.


Tapi Mark dari tadi tampak diam saja. Hanya Dave dan Andre yang tampak aktif bicara. Terlebih Andre. Pembawaannya memang terlihat suple dan menyenangkan.


"Kau gila ya! Sudah menyuruhku berpura-pura menjadi HRD hanya untuk mengerjai istrimu sendiri. Astaga...padahal aku ini juga salah satu bos perusahaan Dirgantara juga, hehe!" Celoteh Andre terdengar ringan.


Mark yang sedari tadi diam saja, tiba-tiba matanya terbelalak mendengar ucapan Andre.


Maksud Andre apa? Sebenarnya apa di rencanakan Yuan Dave.


Dave hanya tersenyum tipis. "Aku bukan bermaksud mengerjainya. Aku malah ingin mempermudah jalannya. Aku tahu kalo HRD sungguhan yang menginterview nya. Pasti akan sungkan bertanya yang mendetail karena tahu dia adalah istriku." Ujar Dave sambil meraih minuman jus pesanannya kemudian menyeruputnya perlahan. "Aku tidak ingin lagi melihatnya jadi gadis yang manja lagi. Aku ingin melihatnya bisa lebih sedikit berusaha!" Lanjut Dave lagi seraya meletakkan minumannya kembali ke atas meja.


Andre tergelak. "Haha, lebih berusaha untuk mendapatkan perhatianmu dan cintamu ya?" Celetuk Andre di iringi tawanya yang renyah.


"Kau ini, bicara apa?" Dave tampak sedikit malu-malu tanpa menoleh ke arah Andre. Pandangannya ia alihkan pada makanan yang sudah terhidang di meja. "Aku sudah mulai lapar. Mari kita makan!" Lanjutnya dengan nada suara yang ia buat senormal mungkin.


Tuan Dave pandai sekali menyembunyikan perasaanya. Batin Mark yang dari tadi belum juga bersuara.


"Mark! Makananlah! Kenapa dari tadi kau diam saja!" Seru Dave dan itu membuat Mark sedikit terhenyak.


"Ba...ik tuan." Ujar Mark singkat dan sedikit terbata.


"Hai...Mark, sudah lama juga aku tak melihatmu, apa kau sudah punya seorang kekasih sekarang?" Celetuk Andre lagi tiba-tiba. Dan itu sontak membuat Mark yang sedang menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya jadi sedikit tersedak.

__ADS_1


"Uhuk...uhuk..." Mark menepuk dadanya pelan, kemudian segera meraih air putih yang juga tersedia di meja.


Dave melirik Mark sekilas sambil melanjutkan makannya.


"Hei...apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Andre bertanya seraya mengerutkan dahinya.


"Sudahlah Andre, jangan menggoda Mark. Kau tahu dia itu sangat introvert, mana mungkin ia akan memberitahu soal privasinya terhadapmu!" Seru Dave santai sambil melap mulutnya dengan tisu. Nampaknya ia sudah selesai makan sekarang.


Andre pun lagi-lagi hanya bisa tergelak. "Haha...Kau benar juga Dave, tapi aku sedikit penasaran saja pada Mark. Ayolah Mark beri tahu aku sesuatu, apa saat ini ada seorang gadis yang kamu sukai misalnya!" Desak Andre dengan nada menggoda. Ia menaruh sebelah tangannya ke dagunya seraya memandang ke arah Mark dengan senyum jahilnya.


Mark menarik nafasnya panjang. Ia jadi enggan melanjutkan makannya. Sejenak ia melirik ke arah Dave yang kini tampak asik memainkan ponselnya. Wajahnya terlihat cuek tak peduli.


"Ada seorang gadis yang sangat menarik perhatianku belakangan ini!" Mark mulai membuka suara. Ia sembunyikan tangannya yang sedikit gemetar di bawah meja karena telah berani mengungkapkannya.


"Wow...itu sebuah kemajuan dan itu bagus Mark, bolehkah aku tahu siapa gadis yang beruntung mendapatkan perhatianmu itu? Apakah ia bekerja juga di perusahaan kita? Katakan Mark!" Andre semakin antusias untuk menggoda Mark.


"Hemmm...sepertinya kau senang sekali ya Andre karena berhasil menjahili Mark!" Seru Dave tiba-tiba tanpa menatap ke arah Andre. Entah kenapa tadi hatinya tiba-tiba gusar saat mendengar pernyataan dari Mark.


"Sudahlah Dave, kau diam saja, jangan berusaha merusak suasana." Andre memandang Dave dengan tatapan masam.


"Baiklah! Lanjutkan saja, dan aku akan diam!" Serunya dengan gaya seolah tak peduli. Ia berusaha memainkan ponselnya kembali.


"Oke...baiklah Mark, lanjutkan yang tadi, jadi kalo boleh tahu siapa gadis itu?" Kini pandangan Andre kembali teralih pada Mark. Entah kenapa Andre begitu tergelitik untuk mengetahuinya. Karena selama ini Mark begitu tertutup. Dan baru kali ini Mark tiba-tiba terbuka. Dan itu pun berhubungan soal wanita. Hal yang jarang sekali di singgung oleh Mark.


"Apa aku harus memberitahumu? Dia adalah seorang wanita yang perasaan cintanya di abaikan oleh seseorang, dia adalah wanita yang cantik, manis, dan periang. Andai saja aku bisa merebut hatinya. Pasti aku akan sangat bahagia." Ujar Mark sambil pandangannya mengwang ke udara. Ia juga tampak tersenyum bahagia saat mengatakan semuanya. Tapi berbeda dengan Andre yang kini memandangnya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Wow...Mark, kau benar-benar banyak kemajuan. Tidak ku sangka kau bisa terpaut pada seorang wanita hingga sedalam itu!" Ujar Andre sambil menepuk-nepuk bahu Mark dengan bangga.


"Ini yang pertama kali untukku!" Tambah Mark seraya tersipu malu.


"Bagus...bagus...! Menurutmu bagaimana Dave? Kenapa kau diam saja dari tadi!" Andre menoleh ke arah Dave yang masih tampak asik memandangi layar ponselnya.


"Sebentar lagi aku ada meeting. Maaf ya aku duluan!" Ujar Dave datar. Ia seolah menghindar, tak ingin memberi tanggapan apapun soal pernyataan Mark tadi.


"Kau ini...sok sibuk sekali. Jarang-jarang kita kumpul seperti ini, kau malah sudah ingin pergi lagi." Keluh Andre memandang masam ke arah Dave.


Namun Dave seolah tak ingin mendengarkan. Ia pergi begitu saja tanpa memandang ke arah Mark dan Andre. "Sudah ya! Aku duluan. Hari ini kau saja yang bayar makanannya!" Serunya seraya beranjak dari kursi dan segera meraih jas yang sempat ia lepaskan saat mulai makan tadi.


"Huh...Dia itu kenapa sih, dia itu seperti wanita saja. Mood nya gampang sekali berubah. Dasar Dave!" Rutuk Andre sambil memandangi punggung Dave yang perlahan menjauh.


"Maaf Andre, sepertinya aku harus pergi juga. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan." Mark akhirnya turut beranjak dari duduknya.


"Mark, kau ikut-ikutan si sinting itu juga, kau ini. Tunggu sampai Dave saja yang menelponmu. Kau ini setia sekali padanya seperti binatang peliharaan." Lagi-lagi Andre mengeluh kesal.


"Maaf Andre. Tapi aku tidak ingin mengecewakan tuan Dave." Ujar Mark lagi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang cash dari dompetnya.


"Hei...Kau ini apa-apaan. Sudah-sudah. Simpan saja uangmu kembali, kali ini biar aku yang teraktir. Sekarang pergilah. Tidak apa-apa biar aku sendiri disini. Kau memang lebih setia pada si sinting itu kan, Hem!" Seloroh Andre bicara dengan asal.


Mark hanya tersenyum, ia tahu temannya Andre itu memang suka asal bicara. "Baiklah kalo begitu. Terimakasih tuan muda Andre!" Goda Mark.


"Apa-apaan kau ini. Tuan muda Andre katamu, menggelikan sekali. Aku tidak senarsis si sinting itu ya! Haha!" Andre tergelak. Mark juga ikut tergelak. Lalu sesaat kemudian Mark pergi beranjak dari situ juga. Andre hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. Masih merasa lucu mendengar ucapan Mark tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2