
Akhirnya butiran-butiran air kecil dari langit turun pagi itu juga. Gerimis kecil mulai mengiringi kepergian Dave yang hendak pergi ke kantor. Erika menatap punggung Dave yang menjauh menuju mobil dengan perasaan penuh harap. Gadis itu masih setia berdiri di ambang pintu hingga Dave dan mobilnya menghilang dari pandangannya. Entah mengapa pagi itu hatinya serasa nyeri. Ada kata yang tak bisa terucap, tertahan di bibir dan terpendam di dasar hati. Terasa sesak dan ingin menangis rasanya. Seandainya semua terucap dengan mudah, seandainya cinta ini tersambut, pasti rasanya hari-hari yang Erika lalui tak kan sesakit ini.
Belum sempat Erika berlalu untuk kembali ke dalam rumah, sesosok yang sangat ia kenal datang menyapa namanya dari kejauhan. Mobil yang di tumpangi pria itu pun sudah terparkir rapi di halaman rumah Dave. Dengan senyum mengembang pria itupun mulai mendekat pada gadis yang kini tengah mematung menatap ke arahnya.
"Kei!" Seru Erika akhirnya saat pria tampan itu sudah ada di hadapannya.
Kei tersenyum, wajah khas Flamboyanya terlihat menawan seperti biasanya. "Hai Erika, lama tak jumpa?" Serunya seraya berdiri tepat di hadapan Erika. Masih dengan tersenyum menatap ke arah gadis itu. Gadis yang kini telah menjadi milik orang lain. Ia sebenarnya sangat merasa terluka bila mengingat semua kenyataan itu. Cintanya pada gadis itu teramat dalam tanpa ada yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan. Mungkin terdengar naif, tapi begitulah kenyataanya, Kei diam-diam menyembunyikannya selama ini. Entah sampai kapan.
"Kau ingat saat kita masih sekolah dasar dulu?" Tanpa sadar Kei mulai membuka suara tanpa aba-aba. "Kita selalu melalui jalan yang sama, kau, aku dan Ken."
"Tapi matamu hanya selalu memandang ke arah Ken, kau sangat mengagumi Ken sampai-sampai aku tak terlihat olehmu. Jadi karena ingin terlihat olehmu, aku menjadi seorang yang keren untuk bersama banyak gadis. Tapi nyatanya kau tetap tak melihatku."
"Dan hanya ada Ken di matamu. Walaupun kini dia adalah orang yang mengecewakanmu. Dan saat kau dapat membencinya, aku harap kau berpaling padaku. Melihat ke arahku, tapi sayangnya, lagi-lagi aku gagal. Kau lebih dulu dengan yang lain. Dan...." Kei masih menggantung kalimatnya sambil menatap lurus mata Erika yang kini juga sedang menatapnya dengan seksama.
"Dan...." Erika mengulang kata terakhir dari Kei dengan tatapan tampak menunggu.
"Dan ku rasa aku jago kan mengarangnya, ahahahaha." Ken pura-pura tergelak. Ia suka sekali menutupi perasaanya. Yang pada akhirnya ia harus menahan semua rasa yang ada di hatinya. Ia tak ingin gadis itu berubah jadi menjauhinya karena tahu tentang perasaanya yang sebenarnya.
Erika menghela nafas lega. "Fiuuuhh..Kei, kau hampir saja membuatku jantungan tadi, bisa tidak kau jangan bercanda soal perasaan, itu tidak lucu tahu!" Sungut Erika seraya memasang wajah kesal.
Kei masih berusaha tergelak, meski hatinya tidak demikian. "Ahaha..Aku hanya senang saja menggodamu. Katakan? Apa kau tadi hampir saja tergoda oleh semua ucapanku? Tadi itu sangat menyentuh bukan?" Kei masih memasang ekspresi tersenyum, tapi matanya menatap jauh ke dalam bola mata Erika. Mencoba mencari dirinya dalam hati gadis tersebut.
"Buaahahaha...!" Erika malah tertawa saat melihat ekspresi Kei yang seperti itu, ia merasa geli sampai harus memegangi perutnya yang terasa sakit menahan tawa.
__ADS_1
Kei merasa heran dan mengangkat kedua alisnya. "Apa ada yang lucu?" Ujarnya dengan tatapan bingung.
"Kau lucu sekali kali ini Kei, aku sampai geli melihat tatapan seriusmu barusan." Erika masih berusaha menghentikan sisa-sisa tawanya.
"Bagaimana kalo itu memang sungguhan, apa aku akan terlihat lucu juga bagimu?" Kei melembutkan tatapannya.
"Sudah..sudah, jangan bercanda terus! Aku geli melihatmu seperti itu. Kau mau apa kemari Kei?" Erika berusaha mengalihkan pembicaraan. Bukanya ia tidak peka. Hanya saja ia tak ingin suasananya jadi canggung.
"Ya..Baiklah kalo begitu, Aku kemari hanya ingin berpamitan." Ujar Kei sambil mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ia tak ingin lama-lama menatap Erika yang mungkin saja bisa membuatnya kehilangan akal.
"Pamit? Kau.." Kalimat Erika menggantung, menunggu Kei untuk menjelaskannya.
"Iya, aku mau pamit untuk kembali ke LA, karena disini kurasa sudah tampak membosankan." Kei masih berusaha menghilangkan kegugupannya. Padahal dari tadi jantungnya berdegup sangat kencang. Bagaimana bisa mengungkapkan perasaan saja begitu sulit baginya. Di ungkapkan atau tidak, sama saja baginya. Sudah pasti perasaanya tak terbalas. Itu kenyataannya dan ia harus menerimanya. Begitulah bisik hatinya.
Apa sih maunya gadis ini, kenapa ia selalu pura-pura tidak faham dengan perasaanku. Tentu saja aku bosan karena tak ada kemungkinan untuk bersamamu gadis bodoh! Umpat Kei dalam hati.
"Ya..Aku bosan melihatmu, kau Mengabaikanku terus sih?" Seloroh Kei seraya bergurau. Meskipun kata-kata tersebut berasal dari hatinya yang paling dalam.
"Dasar kau! Yasudah pergi sana!" Sungut Erika dengan nada kesal, tapi Kei tahu itu hanya bercanda.
Melihat Erika yang seperti itu Kei menjadi gemas dan langsung mencubit hidung mancung Erika.
"Augghh..ini sakit tahu!" Pekik Erika sambil mengelus-elus hidungnya sendiri.
__ADS_1
"Kau sih galak, Aku jadi gemas kan?" Seloroh Kei lagi masih dengan senyum menawannya.
"Siapa yang kau bilang galak!"
"Tentu saja Kau gadis bodoh!" Lagi dan lagi Kei berseloroh. Baginya seperti itu sudah cukup baginya, untuk merasa bahagia. Meski hanya sebatas itu. Ia rela melakukan apapun demi melihat senyum gadis itu, terus mengembang di bibirnya. Tapi sayangnya kali ini ia harus pergi, kali ini juga ia ingin melindungi hatinya sendiri dari rasa sakit. Bukan karena tak ada lagi harapan, melainkan karena gadis itu sepertinya sudah menjatuhkan hatinya pada orang lain. Yang tak lain tak bukan adalah Dave suaminya.
"Baiklah Kei, aku bisa apa? Itu pilihanmu, padahal aku ingin kau tetap stay disini, tapi aku tak punya hak untuk menahanmu. Semoga kau selalu bahagia dimanapun kau berada." Kali ini Erika terdengar tulus, ia juga menepuk pundak Kei pelan untuk beberapa kali.
"Bolehkah aku memelukmu? Untuk kali ini saja, ayolah, kita kan sahabat dari kecil, aku suamimu tidak akan keberatan soal itu!" Seru Kei yang kini seolah tak bisa menahan diri lagi, matanya sudah hampir berkaca-kaca sekarang.
Erika mengangguk mantap. "Tentu saja Kei!" Ujarnya seraya merentangkan kedua tangannya. Kei pun langsung menghambur ke arah Erika dan mendekap tubuh gadis itu dengan erat.
"Aku pasti akan selalu merindukanmu!" Kei mengelus rambut Erika perlahan. Dan tangan yang satunya berusaha mengusap air mata yang hampir menetes di pipinya. Sesaat kemudian berusaha melepaskan diri dari pelukan gadis tersebut.
"Aku juga pasti akan selalu merindukanmu, kau hati-hati ya disana. Semoga kau bisa menemukan cinta sejatimu, yang bisa membalas perasaanmu dengan sama besarnya." Erika menatap dalam ke bola mata Kei, seolah sedang memberikan jawaban terjujur darinya yang selama ini seolah Kei cari di dalam matanya.
Terimaksih telah mengatakannya. Meskipun samar, aku mengerti maksudmu, bahwa kau tak kan pernah bisa membalas perasaanku ini. Tapi aku senang kau mengetakannya.
Kei mengacak rambut Erika lembut. "Kau juga hati-hati, jaga kesehatanmu, semoga kau bisa mendapatkan cinta seperti yang kau inginkan."
Erika hanya mengangguk seraya tersenyum, tapi matanya sudah mulai berkaca-kaca, Ia baru saja bertemu sahabat kecilnya tapi terpaksa harus berpisah lagi.
Kei perlahan pergi menjauh, sesekali ia melambaikan tangan pada Erika sebelum pada akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.