Istri Pura-pura

Istri Pura-pura
Sinar bulan


__ADS_3

Setelah makan malam yang berlangsung dengan banyak diam. Akhirnya Erika dan Dave memutuskan untuk pulang. Erika masih saja tampak cemberut dan terdiam saat sudah berada di dalam mobil.


Sedangkan Dave sudah duduk di belakang kemudi dan bersiap memasang sidbell miliknya. Sekilas Erika melirik ke arahnya dengan tatapan tajam, tapi wajah Dave tampak biasa saja tanpa ekspresi. Dave pun mulai menyalakan mesin mobil tanpa mempedulikan lirikan tajam dari mata Erika.


Hai nona, aku tahu kau pasti marah padaku. Tapi semua ini ku lakukan demi kebaikan dirimu sendiri.


Mobil pun perlahan melaju meninggalkan area restorant. Erika mengalihkan pandangannya ke arah jalanan. Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk di ponselnya. Dave yang juga turut mendengarnya tanpa sengaja menoleh ke arah Erika, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Keduanya tampak canggung. Tapi Erika buru-buru membuang muka dan memilih meraih ponselnya yang ada di dalam tas kecil di pangkuannya saat ini.


Erika pun segera membuka ponselnya dan menemukan sederet pesan singkat dari Mark.


Mark : Berjuanglah E, Semangat!! πŸ˜‰


Melihat pesan dari Mark, Erika jadi sedikit tersenyum, bukan karena isi pesannya, melainkan dengan emoji tambahan yang di sematkan di akhir pesan.


Sejak kapan Mark bisa selucu dan semanis ini. Erika tersenyum seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Sedangkan Dave yang ada disampingnya, yang juga sedang sibuk menyetir, sedikit melirik ke arah Erika. Ia merasa heran dengan tingkah Erika, dari tadi mereka juga belum ada yang mau mengalah untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Pesan dari siapa?" Ujar Dave akhirnya ia punya bahan untuk membuka percakapan dengan gadis yang kini duduk di sebelahnya.


Sejenak Erika merasa terhenyak. Lalu kemudian mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Dave. "Oh..itu, dari Mark." Ujar Erika sedikit ragu seraya kembali menundukkan pandangannya. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa memberi pesan balasan pada Mark. Nanti saja membalas pesannya. Begitu pikirnya.


"Oh.." Jawab Dave datar sambil matanya menatap lurus ke jalanan. Seketika keadaan kembali menjadi hening. Dave mencoba menyetel radio tape yang ada di mobilnya untuk mengusir keheningan di antara mereka berdua.

__ADS_1


Tak lama kemudian sebuah lagu barat romantis nan merdu mengalun indah mengiringi perjalanan sepasang suami istri yang entah kenapa saling diam sejak di restorant tadi.


"Lagunya bagus ya?" Erika tersenyum seraya menyandarkan punggungnya di jok mobil, suasana hatinya sudah agak berubah setelah mendengarkan lagu yang kini tengah mengalun indah, kepalanya di angguk-anggukkan perlahan mengikuti irama.


Dave pun hanya tersenyum tipis melihat aksi Erika melalui kaca sepion.


Baguslah kalo moodnya sudah mulai membaik. Gumam Dave dalam hati.


"Kau suka lagunya?" Tanya Dave sambil sesekali melirik ke arah Erika yang kini sudah mulai memejamkan matanya.


Tapi tak ada jawaban dari Erika. Gadis itu sepertinya sudah mulai tertidur.


"Ah..ya ampun, cepat sekali tidurnya gadis ini!" Rutuk Dave sambil masih memperhatikan jalanan di depannya. "Huh..Dasar!" Dengusnya lagi. Sambil menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai di rumah.


*****


Ia begitu senang saat memandangi foto gadis itu yang tampak cantik dengan senyum manisnya. Dadanya seolah tak bisa berhenti berdebar. Merasakan cinta yang besar untuk gadis itu. Namun sejenak kemudian, pandangan matanya menjadi pilu, saat ia mulai menyadari, Erika bukanlah miliknya. Dan tak kan pernah menjadi miliknya.


Tak pernah aku merasa sebahagia ini sekaligus merasa sesakit ini sebelumnya.


Mark kembali melangkahkan kakinya memasuki kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang miliknya. Kemudian memeluk ponselnya yang masih terlihat ada Potret Erika disana. Dan tiba-tiba ia sangat merindukan gadis itu, tadi ia sudah mengiriminya pesan, tapi belum juga di balas oleh Erika. Hatinya tiba-tiba menjadi gusar dan sangat merasa rindu.


Mata Mark menerawang ke atas ke langit-langit kamar apartementnya. Pandangannya menjadi sangat sedih. Ini pertama kalinya ia merasakan semua ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara ponsel yang ada di atas dadanya membuyarkan lamunannya. Ia segera melihat ponselnya dengan mata berbinar. Berharap itu adalah bunyi suara notivikasi balasan pesan singkat dari Erika.


Erika : Maaf baru balas, terimakasih atas semangatnya ya!! πŸ˜‰


Begitulah kira-kira isi balasan pesan singkat dari Erika. Dengan Emoji yang sama di akhir kalimatnya. Hanya sebatas itu saja sudah membuat Mark luar biasa bahagia. Ingin rasanya ia loncat-loncat sekarang juga. Tapi ia tak melakukannya. Dan hanya menciumi ponselnya sendiri beberapa kali. Itu karena ia merasa saking bahagianya. Ia juga tidak mengerti, kenapa hanya pesan sesederhana itu sudah mampu membuatnya merasa luar biasa bahagia.


*****


Di tempat lain, di kamar Dave. Dave baru saja menyelimuti tubuh Erika di atas ranjang, setelah sebelumnya ia sempat membopong tubuh istrinya itu dari mobil hingga ke kamar seperti sekarang ini. Ia juga tadi sempat dengan lancang mengambil ponsel Erika dari dalam tasnya, membuka ponsel tersebut dan membalas pesan dari Mark.


Sejenak ia kembali memperhatikan wajah Erika yang sedang tertidur pulas, senyum tipisnya mengembang sambil mengelus pipi putih gadis tersebut. Lagi-lagi ada keinginan untuk menciumnya. Tapi sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan diri.


"Tidurlah, semua akan baik-baik saja! Maaf kalo aku mungkin terlihat dingin dan membingungkan, tapi aku melakukan semua ini demi dirimu, percayalah, aku hanya tidak ingin menyakitimu, itu saja!" Gumam Dave lirih sambil mengelus lembut rambut Erika.


"Aku mungkin hanyalah seorang pengecut, tapi apa yang bisa ku perbuat, aku ingin menyambut perasaanmu, tapi aku sendiri tidak punya keberanian untuk menerimanya dengan hati terbuka. Maafkan aku!" Gumamnya lagi. Sekarang ia memberanikan diri untuk mencium kening Erika kilas.


"Terimakasih karena telah berada di sisiku saat ini!" Ucapnya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya ia melangkah ke arah sofa dan membanting tubuhnya sendiri disana.


Dan seperti biasa, ia nampaknya tidak tahan untuk tidur tanpa harus membuka pakaiannya. Kali ini pun ia melakukan hal yang sama. Setelah berhasil melucuti kemeja yang di kenakannya hingga bertelanjang dada, kini ia benar-benar bisa merebahkan tubuhnya di sofa. Sorot sinar bulan seolah menembus sela-sela hordeng jendela di sisi sofa yang tak tertutup dengan rapat. Melihat itu Dave malah sengaja membuka hordeng itu lebar-lebar agar ia bisa menikmati sinar bulan sembari rebahan di atas sofa.


Pikiran Dave sudah melayang entah kemana sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap di bawah sinar bulan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2