
"A-aku takut, Kak! Kata orang, kalau pertama kali melakukannya, pasti akan sangat menyakitkan!" Wajah Valerie pucat. Hansel kasihan melihat Valerie yang merengek di bawahnya.
Hansel memasukkan ujung senjata laras panjang miliknya ke dalam lembah Valerie. Hansel tersenyum karena sadar lembah Valerie memang masih sangat sempit sekali.
"Jangan takut. Kalau kita tidak melakukan kali pertama untukmu, apa kau kau menjadi seorang istri yang masih perawan? Tidak membahagiakan suaminya? Ini adalah kewajibanmu, Vale. Aku juga akan pelan-pelan kok. Aku akan menggoyang dengan penuh perasaan!" ucap Hansel berusaha menenangkan Valerie. hasratnya begitu memuncak dia sudah tidak sabar, mengambil kegadisan istrinya itu.
"Tapi, Kak, aku ta-" Hansel tidak mengizinkan Valerie berbicara yang aneh-aneh lagi. Dia membungkam mulut Valerie dengan cara menci*mnya. Tanpa menunggu lagi, Hansel langsung memasukkan senjata kebanggaannya ke dalam lembah sempit istrinya itu.
Saat senjata Hansel serasa mengoyak sesuatu di dalam lembahnya, tanpa sengaja Valerie mencakar punggung Hansel. Dia benar-benar kesakitan disertai dengan rasa perih.
"Ahhhhh!" Valerie berteriak sekuat tenaga ketika Hansel melepaskan pagutan mereka. Hansel mendiamkan sebentar agar rasa perih yang dirasakan Valerie berkurang. Setelah dirasa Valerie mulai tenang, barulah Hansel kembali menggoyangkan pinggulnya seirama. Memberikan rasa nyaman dan nikmat bagi Valerie yang baru merasakan untuk pertama kalinya.
"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Hansel sembari menatap wajah Valerie yang terlihat merona.
"I-iya, Kak!" jawabnya terkesan malu-malu.
"Kak, ini kali pertama untukku. Apakah ini kali pertama untukmu juga?" tanya Valerie, namun Hansel hanya diam. Pria itu tidak berniat menjawab pertanyaan dari Valerie.
"Kak?" Valerie butuh jawaban. Dia berharap, Hansel bisa seperti dirinya. Menjaga semuanya untuk pasangan masa depan mereka, dan ini adalah kali pertama untuk Hansel juga.
"Nikmati saja. Jangan pikirkan yang lain!" kilah Hansel. Dia semakin mempercepat lajunya sambil mengecup bukit kembar Valerie yang sangat menantang.
"Vale... ahhh!" Tanpa sadar, Hansel melepaskan larva kecebongnya di dalam lembah Valerie. Dia benar-benar ceroboh.
"Sial! Kenapa aku malah melepaskannya di dalam?"gerutu Hansel kesal dengan dirinya sendiri.
"Sial? Memangnya kenapa, Kak? Kita kan sudah menikah. Kenapa harus kesal?" Valerie juga kesal dengan reaksi Hansel barusan.
Hansel tersadar, ucapannya barusan pasti sudah menyakiti Valerie. Dia menatap Valerie dengan tatapan datar, seolah tidak merasa bersalah akan ucapannya tadi.
"Kita memang sudah menikah, Vale. Tapi, pernikahan ini kita rahasiakan dari orang lain. Jika karena hal tadi dan kamu hamil, apa semuanya tidak akan runyam dan menjadi masalah besar untuk kita berdua?" Hansel berusaha meyakinkan Valerie.
Valerie menganggukkan kepalanya, dia membenarkan apa yang dikatakan Hansel barusan.
"Lalu, bagaimana, Kak? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Valerie mulai panik.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak usah panik. Kamu mandi saja, bersihkan tubuhmu. Aku akan keluar untuk mencari obat kontrasepsi agar nantinya mereka tidak jadi Hansel junior," tukas Hansel mengungkapkan rencananya.
"Tapi, mau cari di mana Kak? Aku tidak yakin kamu bisa menemukan obat kontrasepsi secepat itu. Apalagi, ini area pegunungan!" Valerie menggelengkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu resah. Aku akan kembali secepatnya." Hansel kembali meyakinkan. "Sekarang, kamu mandi dulu, ya!"
"Tapi, kan, aku sudah mandi!" bantah Valerie. Air di sini cukup dingin, dia enggan kalau harus mandi berkali-kali.
"Tubuhmu basah karena keringat, Vale. Kamu tidak risih?" tanya Hansel.
Valerie memperhatikan tubuhnya yang masih terbalut dengan selimut.
"Aku risih," lirih Valerie.
"Kalau begitu, mandi sana!" titah Hansel lagi.
"Iya, Kak. Aku pikir, kamu hanya menyebalkan. Ternyata, kamu pria yang sangat bawel, ya!" seloroh Valerie sambil terkikik.
"Apa? Kamu masih mau satu ronde lagi? Atau, mau sampai pagi?" tanya Hansel mendelik tajam ke arah Valerie yang wajahnya langsung berubah muram.
"Kak! Jangan katakan hal itu!" sungut Valerie.
"Atau kamu mau aku gendong dan kita main di bathub?" tanya Hansel lagi.
"Kak!" pekik Valerie.
"Tapi, aku memang kesusahan berjalan, Kak. Ituku ... lecet!" ucap Valerie lirih, dia benar-benar malu harus mengakui hal yang begitu memalukan.
Hansel menahan tawa. Dia baru tau Valerie begitu menggemaskan seperti itu.
"Baiklah. Kalau begitu aku gendong saja!" tawar Hansel.
Buru-buru Valerie menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tidak mau!" tangkasnya.
"Kenapa? Bukankah kamu kesusahan berjalan?" tanya Hansel, dia menaikkan sebelah alisnya karena bingung dengan alasan penolakan Valerie.
"Aku sudah lelah, Kak. A-aku tidak mau bermain satu ronde lagi!" sahut Valerie sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Hahaha! Vale, kepercayaan dirimu memang sangat tinggi, ya! Aku hanya mau membantumu ke kamar mandi. Bukan mau membuatmu kelelahan dengan satu ronde lagi!" terang Hansel sambil tertawa.
"Kakak!" Valerie mencubit pinggang Hansel karena malu.
Hansel membuka kain yang menutupi tubuh Valerie. Dia langsung menggendong Istrinya ala-ala bridal style. Valerie tidak kunjung membuka penutup wajahnya. Dia benar-benar malu karena bug*l dalam pelukan Hansel.
__ADS_1
Sialan! Juniorku kembali membengkak. Tapi, aku tidak bisa melanjutkan dua ronde. Dia pasti sangat kelelahan. Itunya juga membengkak. Besok sajalah!
Hansel meletakkan tubuh Valerie dalam bathtub. Kemudian, dia langsung meninggalkan Valerie dalam kamar mandi.
Saat Hansel sudah menutup pintunya dari luar, Valerie berteriak mengucapkan terima kasih pada Hansel, pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Terima kasih, Kak!" teriak Valerie dari dalam.
Hansel tidak menghiraukan ucapan Valerie. Dia menuju ke kamar Boy dengan tergesa-gesa.
Tok! Tok! Tok!
Berulang kali Hansel menutup pintu kamar Boy. Lama sekali, tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
"Hey! Bukakan pintu! Aku tau kau sedang di dalam!" teriak Hansel mulai kesal.
Tidak lama, Boy keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kenapa lama sekali?" kesal Hansel.
"Maaf, aku sedang mandi. Tadi tidak dengar suara teriakanmu!" kelit Boy sambil tersenyum canggung.
"Sedang mandi keringat?" ledek Hansel. "Aku mengganggu enak-enakmu?" tanya Hansel lagi sengaja.
"Sudah tau? Kenapa masih bertanya lagi?" sungut Boy ikut kesal lantaran Hansel mengganggunya. Padahal, sedikit lagi juniornya hampir memuntahkan larva hangatnya. Tapi, Hansel mengacaukan semuanya.
"Berikan aku pil kontrasepsi!" pinta Hansel sambil menengadahkan tangannya. Dia membuang mukanya, malu karena meminta sesuatu yang tak lazim begitu.
"A-apa? Kau ... kau meminta pil kontrasepsi?" tanya Boy kembali memastikan bahwa apa yang barusan dia dengar tidaklah salah.
"Iya. Pil kon-tra-sep-si!" Hansel mengeja perkataannya agar Boy bisa lebih memahami apa yang sedang diinginkannya dan cepat-cepat memberikannya.
"Boy, kau tidak mau diganggu lebih lama olehku, kan? Berikan sekarang!" Hansel memaksa.
"Kau sudah membuka segel adikmu itu? Kau keterlaluan, Hans!" tukas Boy.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah. Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1