
"Dia pasti pulang karena aku. Mempercepat kepulangannya? Pastilah karena merindukanku dan tidak sabar untuk segera bertemu. Valerie, ternyata kau memang masih mencintaiku. Kita akan bersatu, Vale! Aku akan mengumumkan tentang pernikahan kita pada semua orang," batin Hansel senang bukan kepalang.
"Jangan terlalu percaya diri, Kak. Dia bukan pulang karenamu!" teriak Hilsa dari kejauhan. Tentu saja teriakannya itu menggema ke seisi rumah dan terdengar oleh semua orang. Tetapi, Hansel tetap bersikap biasa saja.
Hansel menutup laptopnya, membereskan berkas-berkasnya walaupun pekerjaannya belum usai. Segera dia menghubungi Gavin.
"Gav, temani aku membeli pakaian baru," ajak Hansel tanpa mau menerima penolakan. Sebab, saat ini dia benar-benar butuh seseorang yang bisa memberikan masukan tentang penampilannya.
"Sepertinya kau juga sudah mendengar kabar kepulangan Valerie?" tanya Gavin, terkekeh di balik telepon.
"Ya. Aku mau memberikan yang terbaik untuknya," akunya sambil tersenyum penuh arti. Hansel mulai membayangkan ketika Valerie terkesima dengan penampilan tampannya.
"Bagaimana kalau dia membawa seseorang? Tidak mempedulikanmu lagi?" tanya Gavin, hanya sekedar bercanda saja.
"Aku tidak percaya. Perhatiannya hanya untukku," bantah Hansel.
"Baiklah. Terserah kau saja, aku menunggumu di rumah," pungkas Gavin, mematikan sambungan telepon mereka.
Dengan semangat yang menggebu, Hansel menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju garasi mobilnya.
***
Malam berganti dengan sangat cepat. Hansel sudah menerima informasi jika Valerie sudah tiba sejak siang. Namun, yang membuat Hansel tidak senang, Valerie datang bersama seorang pria. Hansel cukup tahu siapa pria yang dimaksud oleh bawahannya itu. Sampai saat ini pun, dia masih menerka-nerka, kenapa Valerie dan Ken bisa bersama.
"Apa Valerie tidak dengar peringatanku padanya? Apa Ken ada pekerjaan di sini hingga mereka bisa bersama, kebetulan? Tujuannya masih kelabu. Namun, apa pun tujuannya itu, aku harus datang untuk menemui istriku itu. Aku sangat merindukannya," gumam Hansel berbicara dengan dirinya sendiri sambil memperhatikan dirinya di depan cermin.
__ADS_1
"Hansel, kamu sudah siap belum?" Embun menggedor pintu kamar putranya. "Kami sudah mau berangkat. Kamu pergi sendiri atau barengan?" tanya Embun lagi.
"Bersama saja, Ma. Sebentar, ini aku juga sudah selesai kok!" serunya dari dalam, meminta Embun dan yang lainnya untuk menunggu sekejap lagi.
"Jangan lama! Hilsa sudah tidak sabar bertemu dengan Valerie. Katanya dia sudah sangat cantik, loh!" teriak Embun lagi. Sengaja mengatakan hal itu untuk menciptakan rasa penasaran dalam diri Hansel. Yang tidak diketahui wanita itu, Hansel sudah lebih dulu menemui Valerie beberapa hari yang lalu.
Karena tidak ada sahutan apa pun lagi dari putranya itu. Embun memilih untuk menunggu di ruang tamu.
"Di mana anak itu?" tanya Bara, heran melihat Embun hanya datang seorang diri saja.
"Masih di kamar, Pa," jawab Embun, duduk di samping Hilsa yang tengah memainkan gadgetnya. "Kira-kira perasaan mereka akan berubah tidak, ya? Takutnya, sekarang perasaan mereka malah berkebalikan," keluh Embun, memandangi wajah suaminya yang tak menunjukkan reaksi apa pun.
"Biarkan saja mereka mengambil jalan masing-masing. Lagipula, Papa dengar Hansel juga sudah memiliki seorang kekasih," ucap Bara, tidak ingin memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Dia lebih suka anak-anaknya mencari jalan kebahagiaan sendiri.
"Siapa, Pa? Stela? Wanita yang Daniel jodohkan dengan Hansel itu?" tanya Embun penasaran. Tentu dia harus mengenal calon menantunya sebelum Hansel mengambil langkah serius.
Sontak, Valerie dan Embun saling bersitatap.
"Mama sudah pernah bertemu dengan Amara, Pa. Jujur saja, Mama merasa tidak suka dengan wanita yang bernama Amara itu. Terlalu kekanakan dan suka memaksa. Bahkan, suka bersikap lancang. Tapi, entahlah. Kita juga tidak bisa menilai orang dalam sekali pandangan. Mungkin itu hanya firasat saja. Jika Hansel memang serius dengan Amara, semoga sifatnya tidak sama seperti yang Mama pikirkan," ujar Embun, yang langsung ditanggapi senyuman oleh suaminya.
"Mama masih sangat berharap Valerie menjadi menantu perempuan di keluarga ini, kan?" tanya Hilsa, mengusap lengan Embun, sang Mama.
"Ya." Embun mengakui.
"Aku juga. Apalagi, aku sudah mengenal Valerie sejak kecil. Kak Hansel saja yang bodoh karena tidak menyukai wanita sebaik dan secantik Valerie," ujar Hilsa.
__ADS_1
"Jangan terus membicarakan aku," sungut Hansel dari arah belakang.
"Kenapa? Yang aku katakan ini benar, bukan? Kamu sudah mengecewakan Mama dan Papa, Kak. Mama sangat berharap Valerie menjadi menantunya. Bukan si Amara centil itu!" sentak Hilsa kesal.
"Aku tahu," jawab Hansel enteng.
"Cih! Aku tau!" cibir Hilsa, menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Andai saja mereka tahu, sudah sedari lama Valerie menjadi menantu keluarga ini. Aku dan Valerie sudah menikah secara rahasia. Walaupun pernah membuat Mama kecewa, malam ini aku akan membuatnya senang. Malam ini aku akan mengumumkan pernikahan rahasiaku dengan Valerie!"
"Kenapa termenung di situ? Ayo kita ke depan sekarang juga!" teriak Hilsa membangunkan Hansel dari lamunannya.
Mereka berempat bergegas menuju mobil. Menuju ke kediaman Rena dan juga Rey untuk menyambut kepulangan Valerie setelah tiba-tiba pergi, begitu menurut mereka semua. Namun, bagi Hansel, kepergian Valerie karena ulahnya.
"Di mana Valerie?" tanya Embun, pandangannya berpendar. Dia penasaran akan sosok Valerie yang sudah berubah menjadi lebih cantik sesuai dengan laporan Hilsa.
"Di kamarnya, Kak. Sebentar lagi dia akan turun," jawab Rena.
Semua orang sudah menunggu di ruang makan. Sambil berbincang-bincang, ada seseorang yang dengan tidak sabar menunggu kedatangan Valerie. Rencananya, setelah makan malam selesai, dia aka langsung mengumumkan berita bahagia pada semua orang.
Ketika langkah kaki mulai terdengar, Hansel mengalihkan perhatiannya. Namun, berdasarkan derap langkah yang terdengar, yang sedang berjalan bukan hanya satu orang.
Benar saja, mata Hansel membeliak ketika melihat Valerie bersama dengan Ken sedang bergandengan tangan menuju meja makan. Dua orang itu saling melempar senyum manis.
"Vale, siapa dia?" tanya Belle, tersenyum hangat melihat Valerie yang sangat cantik dalam balutan gaun berwarna merah.
__ADS_1
"Perkenalkan, dia adalah Ken. Calon suamiku!" ucap Valerie, memperhatikan semua orang tanpa terkecuali Hansel.
*Bersambung*