
"Istrimu?" Gavin tertawa. "Siapa? Valerie atau Tante Joana?" Gavin tertawa gamblang.
"Tentu saja Valerie. Dua bulan yang lalu aku dan Valerie sudah menikah!" Hansel mengakui hubungannya dengan Valerie di depan Gavin.
"A--apa katamu? Valerie istrimu? Kalian sudah menikah?" Gavin tidak bisa mengontrol intonasi suaranya. Dia kelepasan hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Namun, kendati demikian, tidak ada yang mendengar jelas obrolan mereka.
"Sialan kau, Gavin! Kenapa harus berteriak seperti itu!" rutuk Hansel, begitu kesal pada saudaranya itu.
"Aku tidak sengaja, Hans. Faktanya terlalu mengejutkan untukku." Gavin masih memelototi Hansel yang mulai salah tingkah.
"Kau sudah menikahi Valerie, tetapi masih saja memperlakukan wanita itu seperti musuh. Dia istrimu ... kau keterlaluan Hansel!" Gavin ikut geram dengan perilaku Hansel.
"Aku menikahinya juga bukan karena mencintainya. Tujuanku ingin menyiksanya pelan-pelan supaya dia membenciku lalu pergi dari kehidupanku, Gavin. Rencanaku memang berhasil. Tapi, sekarang aku tersiksa atas kepergian Valerie!" jujur Hansel, meraup banyak-banyak udara segar kemudian menghembuskannya lagi.
Gavin kembali tertawa. Menertawakan kebodohan Hansel. "Kau sangat bodoh, Hans!"
"Bodoh?" tentu tidak akan ada orang yang bersedia dikatai bodoh.
"Ya. Rencanamu sudah berhasil, harusnya kau senang. Bukan malah menyesali kepergian Valerie!" cicit Gavin, menyipitkan matanya menelaah penyesalan di wajah Hansel.
"Seharusnya memang begitu. Tapi, benar-benar tidak seperti yang aku harapkan." Hansel memijat pelipisnya. Hansel menyandarkan punggungnya, kembali mengenang hari-harinya yang penuh gangguan Valerie, meratap.
"Langkah apa yang akan kau lakukan sekarang? Mengejar cintamu yang hilang?" Gavin menahan tawanya.
"Tidak. Aku yakin Valerie hanya pergi sebentar saja. Dia sudah mengejarku selama bertahun-tahun, mana mungkin bisa lupa sebegitu mudahnya. Aku bisa menunggu, dia pasti akan kembali!" ucap Hansel penuh percaya diri. Gavin yang sejak tadi menatap saudara sekaligus sahabatnya itu hanya bisa tersenyum simpul sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sepertinya kau terlalu percaya diri, Hans! Aku tidak yakin Valerie akan kembali hanya karena masih mencintaimu. Tujuannya pergi untuk melupakanmu. Jika perasaan cintanya masih ada, dia pasti akan melupakannya!" tukas Gavin.
"Gavin, kuharap kamu bisa menjaga rahasia ini." Hansel berucap penuh harap
Gavin membuat gerakan seolah dia sedang mengunci mulutnya. "Baik. Rahasiamu aman bersamaku."
Di tempat yang berbeda, Valerie sedang kedatangan tamu tak diundang. Awalnya, Joana dan Valerie sama-sama bingung, kenapa Ken bisa mengetahui alamatnya.
"Maafkan aku, Tante, datang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Stela yang memberiku alamat ini," ucap Ken sambil tersenyum. Dia sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Joana dan Valerie saat ini.
__ADS_1
"Tidak masalah. Ayo, masuk!" Valerie langsung merasa keberatan dengan keputusan Joana.
"Tant ...," bisik Valerie. "Kenapa membiarkan dia masuk? Suruh saja dia pulang," ujar Valerie keberatan.
"Tidak boleh seperti itu, Vale. Dia tamu kita." Joana langsung menarik tangan Valerie, membawa keponakannya itu ke dalam.
"Sebentar, Tante bikinkan minum dulu, ya."
"Biar Valerie saja, Tant," sanggah Valerie.
"Kamu duduk saja. Temani tamu ini. Biar Tante saja yang buatkan minumnya." Joana memegang pundak Valerie, menekan pelan supaya Valerie duduk.
Ken menahan senyum sambil menutup mulutnya. Dia merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari Tantenya Valerie, Joana.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ken.
"Aku baik-baik saja. Lebih baik lagi jika kamu pulang dari sini!" ketus Valerie. Sengaja bersikap cuek pada Ken supaya pria itu merasa tidak nyaman dan cepat pulang.
"Aku ke sini juga cuma sebentar," ujar Ken.
"Karena ingin melihatmu," celetuk Ken tanpa ragu.
Valerie diam. Dia terlalu malas meladeni orang semacam Ken. Baru beberapa hari kenal, tapi seperti sudah berteman lama.
"Kenapa diam? Apakah ucapanku barusan ada yang salah?"
Valerie menaikkan bahunya. Membuang muka kemudian mencebikkan bibirnya.
"Tidak ada yang salah. Tetapi, ucapanmu sangat membosankan!" jujur Valerie.
"Kata Stela, kau menyukai seorang pria yang bernama Hansel?" Ken menatap lekat wajah Valerie, wanita itu tampak gagap dan enggan untuk menjawab.
"Jika kau diam, itu artinya iya." Ken kembali bersuara.
"Iya atau tidak, apa urusannya denganmu?" Valerie sangat kesal. Entah bagaimana caranya dia bisa mengusir pria itu dari rumah Joana.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sedang memeriksa saja kok. Sebab, aku ingin mengejarmu," ucap Ken tanpa basa-basi.
"Mengejar? Aku tidak berlari kemana-mana kok," sungut Valerie.
"Tentu mengejar cintamu!"
"Ken ... kau sangat tidak tahu malu!" sinis Valerie.
"Tidak tahu malu?" Ken tertawa lirih. "Mengejar seorang wanita itu harus menenggelamkan rasa malu. Jika kita terus bersembunyi di dalam genggaman rasa malu, kita tidak akan bisa menggapai apa yang kita inginkan. Apalagi, aku menginginkan wanita ketus dan dingin sepertimu." Ken tersenyum menatap Valerie yang menghembuskan nafas kasar. Dia tidak ada niatan untuk menampik atau pun membenarkan apa yang Ken katakan.
Berulang kali Valerie melihat ke arah dapur. Tetapi, tidak ada tanda-tanda kalau Joana akan muncul. Yang tidak wanita itu ketahui, Tantenya sedang bersandar di sebuah tiang sambil menguping. Sesekali terkikik karena kejujuran Ken yang ingin mengejar keponakanya.
Bukan bermaksud mendukung Valerie untuk menjalani hubungan dengan orang yang baru saja dikenalnya. Hanya saja, Joana sengaja membiarkan Ken mendekati keponakannya. Berharap dengan itu, Valerie bisa cepat melupakan Hansel yang sampai saat ini masih terukir dalam hati Valerie.
"Tante Joana mana, sih?" gerutu Valerie, dia duduk dengan resah dan hal itu pula diperhatikan oleh Ken.
"Besok kamu ada acara ke mana?" tanya Ken.
"Aku sibuk!" ketus Valerie, tak sekali pun dia mau melihat wajah Ken yang sejak tadi terus menatapnya. Bahkan, Valerie sudah mengecap Ken sebagai pria genit.
"Besok Valerie hanya tiduran saja di rumah. Saat pagi dia mau jogging," tangkas Joana yang muncul dari arah belakang sambil membawa nampan.
"Tant!" Valerie mencebikkan bibirnya. Sangat tidak senang Joana menjabarkan wacananya besok pagi.
Mendengar wacana Valerie besok, Ken langsung menyunggingkan senyum simpul. Dia juga sudah membuat sebuah rencana. Tidak peduli walaupun Valerie tidak menyukai kehadirannya, dia tetap akan mendekati wanita itu sampai Valerie luluh. Begitulah rencananya.
"Tant, sudah larut. Aku pamit dulu, ya!" ucap Ken.
"Kenapa tidak dari tadi?" cetus Valerie.
Joana sudah berjalan duluan ke depan pintu. Saat Valerie hendak menyusul Joana, Ken menarik tangannya dan membisikkan, "Valerie, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Termasuk mau mengejarmu!"
*Bersambung*
Jangan Lupa tinggalkan komentar ya...
__ADS_1
Hayo... kalian dukung Hansel atau Ken, nih?