Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Membuatmu membenciku!


__ADS_3

"Tapi, sampai kapan?" desak Valerie.


"Sampai kamu selesai kuliah. Setelah itu, aku akan mengatakannya pada semua orang!" pungkas Hansel. Keterpaksaan, itulah yang dirasakan oleh Hansel. Tujuannya, supaya Valerie tidak terus menerus meneror dirinya dengan pertanyaan semacam itu. Namun, keberuntungan tengah berpihak pada pria itu, Valerie tidak menangkap gelagat aneh apapun dari wajah Suaminya itu.


"Kamu seriusan, kan?" Valerie melangkah maju, berusaha menggapai Hansel. Namun, selangkah Valerie maju, selangkah pula Hansel mundur menjauhi Valerie.


"Aku serius. Vale, kita sedang di kantor. Jagalah batasan. Jangan sampai orang lain curiga dan menganggu aktifitasmu sebagai anak magang di kantor ini!" ucap Hansel, memaksa Valerie untuk segera berbalik pergi.


Valerie menghembuskan nafas panjang, meskipun enggan, dia juga tetap harus pergi. Berkumpul bersama beberapa orang anak magang lain untuk memperkenalkan diri.


"Kak, aku turun dulu. Jangan lupa sarapan, nanti kamu sakit," ucap Valerie.


"Hum! Kamu juga," ucap Hansel.


Valerie menyunggingkan senyum tipis dan turun ke bawah. Setelah Valerie menghilang dari pandangan matanya, Hansel melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Berulang kali menghela nafas panjang sambil menyugar rambutnya.


"Kenapa tadi aku tidak langsung berterus terang saja? Tujuanku menikahi dia untuk menyakitinya. Lantas, kenapa sekarang malah memilih menghindar dan menjaga perasaannya? Apa ini? Perasaan gila macam apa yang sedang kurasakan ini? Kenapa aku memilih jalan yang salah dengan tujuan awalku? ****!" umpat Hansel yang teramat kesal dengan dirinya sendiri.


"Hansel!" panggil Amara, langsung duduk di sebelah Hansel, melingkarkan tangannya di lengan Hansel.


"Amara? Kenapa kau bisa datang ke sini?" tanya Hansel, menarik lengannya dari pelukan Amara.


"Kenapa tidak bisa? Aku ingin mengunjungi pacarku. Lalu, apa yang salah?" Amara mencebikkan bibirnya. Amara semakin mendekatkan tubuhnya pada Hansel. Tangannya melingkar pada leher pria itu. Sejenak, tatapan mata mereka beradu.


"Hans, aku sangat merindukanmu. Aku menginginkannya!" ucap Amara, suaranya dibuat semanja mungkin.


"Pulanglah, Amara! Aku sedang tidak mau bertemu denganmu!" sentak Hansel.


Matanya melirik ke arah sebuah ponsel yang tergolek di atas meja. Hansel sangat mengenal siapa pemilik ponsel tersebut.


Ponsel ini milik Valerie. Sebentar lagi, dia pasti akan kembali untuk mengambil ponselnya. Lebih aku tunggu dan memperlihatkan sesuatu yang membuatnya marah.


"Kau mau apa, Amara?" tanya Hansel, matanya melotot ketika Amara dengan sengaja membuka kancing baju bagian atasnya, menyingkap dress nya sampai ke pangkal paha, memamerkan paha putih mulusnya pada Hansel.


Hansel melihat itu semua. Tapi, sedikitpun tidak terbersit rasa keinginan untuk menyentuh Amara. Tapi, dia tetap melakukannya saat Valerie tiba.


Tak! Tak! Tak!


Suara serapan kaki yang mendekat mulai terdengar. Hansel yakin, itu adalah Valerie.


"Kau menginginkannya, kan?" tanya Hansel lagi.

__ADS_1


"Iya. Sangat ingin!" jawab Amara sambil menjulurkan lidahnya.


"Luruskan kakimu. Kita melakukannya di sini saja. Tidak keberatan, kan?"


Amara tersenyum senang, menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia buru-buru meluruskan kakinya seperti permintaan Hansel tadi.


Hansel mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Amara.


"Jangan lupa untuk meneriaki namaku. Mengatakan sesuatu yang bisa membangkitkan gairahku!" bisik Hansel.


"Tidak perlu kamu minta. Aku pasti akan melakukannya," ucap Amara.


Hansel sengaja duduk di atas paha Amara. Menopang berat tubuhnya dengan kaki. Setelah dia yakin Valerie sudah berada di depan pintu, Hansel mulai menciumi Amara.


Hansel menciumi leher Amara. Agar aktingnya terlihat lebih natural, dia juga memasukkan tangannya ke dalam baju Amara, mengelus-elus perut wanita itu.


"Hansel, geli sekali! Ahhhh... Hansel!" teriak Amara, sentuhan Hansel membuatnya merasakan sensasi yang berbeda.


Valerie yang memang sudah berada di depan pintu, mematung ketika mendengar suara desah*n Amara. Tangannya terkepal erat. Valerie mengambil langkah besar dan masuk ke dalam. Matanya membola ketika melihat sang suami sedang menimpa wanita lain di bawah tubuhnya.


"Kak Hansel! Apa yang kamu lakukan?" Mendengar namanya disebut, Hansel tersenyum samar. Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Tinggal menunggu hasil akhirnya saja.


Melihat Valerie sedang memergoki dirinya dengan Hansel, Amara tidak salah tingkah. Justru, dia berdecih karena Valerie datang disaat yang tidak tepat dan menghancurkan kebahagiannya.


Amara menggeram marah.


"Kak, lanjutkan saja. Tidak perlu pedulikan dia. Dia kan punya tangan, suruh ambil saja apa yang diperlukannya. Lagipula, siapa suruh dia mengganggu hal baik kita!" cibir Amara, melingkarkan tangannya di pinggang Hansel.


Hansel tersenyum. Bahkan, sedikitpun dia tidak melihat wajah Valerie yang matanya mulai mengembun.


Seperti permintaan Amara, Hansel kembali menyusupkan wajahnya ke Curug leher Amara. Tanpa malu, Amara pun mendesah di depan Valerie.


"Keterlaluan kalian!" pekik Valerie dengan suara paraunya.


Hansel menghentikan gerakannya, melihat Valerie yang sudah menahan tangis. Hansel tersenyum sinis ke arah Valerie, membuat Valerie semakin tergugu.


"Kak, apa maksudmu? Bahkan, kalian tidak segan melakukannya di depan mataku?" sentak Valerie, benar-benar tidak habis pikir dengan Hansel dan Amara.


"Ckck, memangnya kenapa? Kau hanya adik sepupunya, kan? Lantas, kenapa kami harus malu. Kecuali, kau ini istrinya, mungkin iya aku akan merasa malu dan sungkan! Cih, sangat memuakkan!" cibir Amara, menatap Valerie dari atas ke bawah. "Kenapa sih kau selalu saja menggangguku dan Hansel?" sungutnya lagi.


"Seperti katamu, aku ini hanya adik sepupunya Kak Hansel. Lalu, kenapa kau sangat membenciku? Kesalahan sebesar apa yang sudah aku lakukan padamu, Amara?" Valerie menatap Amara dengan berani. Meski matanya berkaca-kaca, tapi Amara bisa melihat keseriusan dari wajah Valerie.

__ADS_1


"Karena aku memang tidak menyukaimu!" ucap Amara, melipat kedua tangannya.


"Kenapa?"


"Sejak awal aku sudah tidak menyukaimu!" ucap Amara, terlihat jengah pada Valerie.


"Syukurlah, karena kau tidak menyukaiku tanpa alasan," ucap Valerie dengan mata berkaca-kaca. Amara menatap Valerie dengan wajah bingung. "Jika masalahnya ada padaku. aku mungkin akan menyalahkan diriku sendiri. Jadi, ketidak sukaanmu terhadapku, adalah masalahmu, bukan masalahku," imbuhnya.


"Amara, keluar!" titah Hansel tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Kenapa malah aku yang keluar? Harusnya, dia lah yang keluar, Hans! Tuntaskan permainan kita. Usir dia keluar, Hans!" rengek Amara mengiba.


"Keluar Amara! Jangan membuatku mengulangi perkataanku sampai tiga kali!" pekik Hansel kesal.


"Tapi, Hans, sudah tanggung. Kalau bukan karena dia yang datang mengg--"


"Keluar atau jangan pernah temui aku lagi?" ancam Hansel, nadanya rendah namun begitu menusuk telinga.


"Baiklah." Terpaksa Amara keluar, dia menyambar tasnya, melihat Valerie dengan tatapan tajam dan keluar dari ruangan Hansel.


Valerie tak menggubris tatapan tajam Amara. Sejenak, tatapannya dan Hansel saling beradu.


"Kenapa?" tanya Valerie lirih. "Kenapa kamu mengkhianatiku, Kak? Kamu dan Amara sering melakukan itu?" tanyanya lagi.


"Ya, seperti yang kamu lihat," jawab Hansel santai.


"Kenapa, Kak? Jika kalian sering berhubungan intim, berarti hubungan kalian bukan untuk menutupi pernikahan rahasia kita. Melainkan memang karena kalian menginginkannya dan kau ... telah mengkhianatiku!" tukas Valerie, air matanya luruh tanpa henti. Kacamatanya berembun.


"Ya. Semua alasan yang kukatakan selama ini, hanya bualan. Sejujurnya, aku memang mencintai Amara," akunya dengan senyuman.


"Mencintai Amara? Lalu, bagaimana deganku? Bagaimana dengan pernikahan ini? Meskipun hanya sekedar pernikahan rahasia, tapi kita sudah sah di mata Tuhan dan agama, Kak." Valerie menghapus air matanya.


"Jika boleh jujur. Aku sama sekali tidak mencintaimu, Valerie. Aku hanya mencintai Amara. Bahkan, aku juga berniat menikahi Stela. Dan semuanya, bukan untuk menutupi pernikahan ini. Tapi, karena aku memang ingin," ucap Hansel lagi.


Bagai sembilu tajam yang menancap langsung ke ulu hati. Pernyataan Hansel begitu menyakitkan. Ingin sekali Valerie menangis bahkan meraung, memohon Hansel untuk menelan kembali kata-katanya, tapi dirasa itu tidak akan mungkin bisa Valerie lakukan. Itu semua ... hanya akan percuma!


"Tidak mencintaiku? Lalu, kenapa kau mengajakku menikah? Apa alasanmu sebenarnya?" tanya Valerie.


"Karena, aku ingin membuatmu benci padaku. Agar kau bisa pergi jauh dariku. Karena, jujur saja, aku sudah cukup muak dengan cintamu yang begitu besar dan itu sangat menggangguku. Kuharap, dengan pernikahan ini aku bisa menyakitimu, membuatmu membenciku, dan pergi sejauh-jauhnya dariku!" pungkas Hansel.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5 Vote dan Hadiah sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat untuk updated lagi. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2