Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kepulangan Valerie


__ADS_3

"Baik. Minggu depan aku akan memperkenalkan kamu ke seluruh anggota keluargaku. Kita akan pulang ke negara asalku," putus Valerie, setuju dengan saran dari Ken.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Valerie dan Ken pun kembali ke apartemen.


Kebetulan, Joana juga sedang menonton tivi. Valerie merasa kalau ini adalah saat yang pas, jadi Valerie tidak mau membuang waktu lagi.


Dia duduk di samping sang Tante sambil menyeka keringatnya.


"Kamu dari mana, Vale?" tanya Joana, sambil mengganti-ganti siaran tivinya.


"Habis jogging, Tant," jawab Valerie, menyadarkan kepalanya di pundak Joana.


"Sendirian?" Joana melirik sekilas ke arah keponakannya.


"Sama Ken, Tant," jawab Valerie, tatapannya fokus ke arah televisi.


"Ken? Vale, kamu dan Ken...?" Joana menggantung kalimatnya. Ingin melihat raut wajah Valerie yang mungkin saja kesemsem. Tetapi, Vale malah menunjukkan wajah datarnya. Seperti tidak terjadi apa pun antara dirinya dan juga Ken.


"Tante, Minggu depan aku akan pulang ... bersama Ken," ucap Valerie, masih belum berani menatap wajah Joana yang berubah bingung.


"Kamu mau pulang? Bersama Ken?" tanya Joana lagi. Joana benar-benar sangat bingung. Jika Valerie dan Ken memang memiliki hubungan spesial, pastilah Valerie akan senyam-senyum seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Namun, wajah Valerie tidak menunjukkan itu. Dia hanya memasang senyum simpul seraya mengangguk untuk mengiyakan.


"Kamu dan Ken ada hubungan apa?" tanya Joana, mulutnya sudah sangat gatal. Tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


"Tante jangan salah paham dulu. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa kok," jawab Valerie, masih enggan menatap Joana.


"Lalu?"


"Kenapa aku pulang bersama Ken?" tanya Valerie menimpali.


Joana langsung mengangguk antusias sambil tercengir kuda. "Kenapa?" tanyanya lagi tak sabaran menunggu jawaban Valerie.


"Aku mau memperkenalkan Ken pada Mama dan Papa, seluruh anggota keluargaku termasuk nenek, Tant," jawab Valerie, terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Vale, kenapa? Apakah karena Hansel? Jawab Tante, Vale!" desak Joana.


"Entahlah, Tant, aku juga bingung dengan jalan kehidupanku sendiri, begitu pelik." Valerie menyandarkan punggungnya, menghembuskan nafas panjang yang terasa berat.


"Jangan memanfaatkan orang lain, Vale. Kasihan Ken. Tante tau dia menyukaimu, tetapi jangan manfaatkan perasaannya. Itu hanya akan menyakitinya. Kamu sendiri sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya, bukan?" nasihat Joana.


"Aku tidak memanfaatkan Ken, Tant. Lagipula, aku juga sudah membicarakan semuanya dengan Ken dan dia setuju. Aku hanya mau mengakhiri semuanya. Aku takut Hansel semakin mengincarku," ucap Valerie.


"Kenapa kamu harus takut? Banyak yang mendukungmu, Vale. Ada kedua orang tuamu. Bahkan, kedua orang tua Hansel juga mendukung kamu. Jangan takut, Tuhan dan semua orang selalu bersamamu, Vale. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun padamu," ucap Joana menenangkan.


"Maafkan aku, Tant." Valerie terisak. Hubungannya dan Hansel tidak sesederhana yang orang lain pikirkan. Ada benang merah yang telah menjerat mereka. Jika keduanya menjauh sekali pun, benang merah tersebut bukannya mengendur dan putus, melainkan semakin memanjang, melilit raga Valerie hingga dia tidak bisa lagi bergerak untuk semakin menjauh.


"Rey dan Rena sudah tau kamu akan pulang?" tanya Joana lagi.


"Belum. Aku baru mengatakan rencana ini sama Tante saja. Jika Tante mengizinkan, barulah aku akan pulang," jawabnya menjelaskan.


"Mana mungkin Tante tidak mengizinkan, Vale. Kamu hati-hati, ya. Semoga tidak ada hati yang tersakiti," ucap Joana.


Valerie hanya mampu mengangguk.


"Ken, Tante titip Joana selama beberapa hari ini, ya. Semoga kamu bisa menjadi teman yang baik untuk Valerie. Jujur saja, dia itu tergolong orang yang sudah bergaul. Temannya saja bisa dihitung," seloroh Joana.


"Siap, Tante. Bahkan, aku malah senang kalau Valerie bersedia menjadi teman hidupku," ucapnya diselingi dengan candaan. Namun, Joana sangat tahu, ada keseriusan dalam kata-kata yang Ken ucapkan.


Selain tersenyum dan manggut-manggut, Joana tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Ken barusan.


"Sepertinya, Ken memang menyukai Valerie. Kasihan dia jika membawa hati saat membantu Valerie. Takutnya, ada yang tersakiti pada akhirnya," khawatir Joana.


"Ken, ayo!" ajak Valerie.


"Vale, maaf karena Tante tidak bisa mengantarkan kamu ke bandara, ya." Joana memeluk dan menangis dalam pelukan keponakannya.


"Tidak apa-apa, Tante. Sering-seringlah pulang. Kami semua merindukan kamu," ucap Valerie.

__ADS_1


"Kamu hati-hati dan jaga diri ya Vale!" Joana menciumi seluruh wajah Valerie. Menyimpan cadangan jikalau tiba-tiba dia rindu pada keponakannya itu. "Wajahmu sangat mirip dengan Amanda," ucapnya lirih namun masih terdengar oleh Valerie.


"Aku anak kandungnya, Tante. Bagaimana mungkin aku tidak mirip dengan Ibuku." Valerie tersenyum, senyuman yang lagi dan lagi mengingatkan semua orang pada Amanda, Ibu kandung Valerie.


"Pergilah, Nak!"


***


Di rumah keluarga besar Wirastama, semua orang tengah bersiap mempersiapkan hadiah dan pakaian yang bagus. Melihat itu, Hansel tidak terlalu mempedulikan kegiatan orang-orang itu.


Hansel memangku laptop sambil menyedot jus jeruk manis. Saat ini, pikirannya sedang terbagi dua. Antara memikirkan Valerie dan pekerjaannya.


"Kak, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin ikut kami pergi?" Hilsa duduk di samping Hansel, wanita itu tahu jika Hansel tidak mengetahui apa pun tentang kepulangan Valerie.


"Tidak. Aku tidak tertarik untuk pergi kemana pun," jawabnya malas. "Pergilah! Mengganggu saja!" usirnya, kehadiran Hilsa mengganggu konsentrasinya.


"Yakin?" Hilsa sengaja menggoda Kakaknya.


"Hum ...."


"Padahal, kamu semua mau datang ke rumah Tante Rena dan Om Rey." Hilsa bersiap beranjak.


"Ke rumah Tante Rena dan Om Rey? Untuk apa?" Hansel mengernyitkan dahinya.


"Menyambut kepulangan Valerie," jawab Hilsa terkesan cuek. Padahal, hatinya berbeda lagi.


"Nah! Aku yakin kamu pasti akan ikut. Makanya jangan terlalu acuh!" batin Hilsa.


"Va--Valerie pulang?" tanya Hansel, tidak bisa menyembunyikan senangnya hingga dia tersenyum.


"Ya. Sebenarnya jadwalnya Minggu depan. Tetapi, barusan Tante Rena menelepon lagi. Katanya, Valerie akan pulang hari ini tanpa memberitahu alasannya. Makanya kami mendadak menyiapkan hadiah dan pakaian yang akan kami kenakan nanti malam," terang Hilsa.


"Terima kasih untuk informasimu," ucap Hansel.

__ADS_1


"Dia pasti pulang karena aku. Mempercepat kepulangannya? Pastilah karena merindukanku dan tidak sabar untuk segera bertemu. Valerie, ternyata kau memang masih mencintaiku. Kita akan bersatu, Vale! Aku akan mengumumkan tentang pernikahan kita pada semua orang," batin Hansel senang bukan kepalang.


*Bersambung*


__ADS_2