
"Maafkan Vale, Ma. Vale memilih merahasiakan semuanya dari kalian. Bahkan, Vale juga harus menjalani pernikahan yang sangat jauh dari impian Vale dulu. Pernikahan yang Vale impikan adalah pernikahan paling megah dan mewah. Namun, semuanya berubah. Sebab, Vale akan menjalani pernikahan rahasia dengan Kak Hansel.
Dihari penting Vale, kalian malah tidak ada di samping Vale. Vale sedih, tapi tidak bisa berbuat apa-apa!" ucap Valerie lirih.
Valerie memilih merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar berwarna putih, warna kesukaannya dulu. Makanya, dia sejak dulu dia memiliki keinginan untuk mengadakan pernikahan yang megah dan mewah. Semua serba putih yang dipadukan dengan warna peach.
"Sepertinya, untuk sementara ini impianku harus aku kubur dulu. Sampai nanti Kak Hansel mau mengumumkan tentang pernikahan kami dan kami akan mengadakan pesta pernikahan yang sangat megah!" gumam Valerie, membayangkan betapa cantiknya dia ketika mengenakan gaun berwarna putih. Menggandeng lengan Hansel dan berjalan sambil menyapa para tamu undangan yang hadir dan turut meramaikan pesta pernikahan mereka.
Valerie terlelap, saking serunya memikirkan pesta pernikahan masa depannya, sampai terbawa ke alam mimpi.
*****
Waktu makan malam sudah tiba, namun Valerie masih lelap di alam mimpinya. Karena sudah kelamaan menunggu, Rena memutuskan untuk membangunkan Valerie karena Rena tau, Valerie pasti sedang tidur.
"Sayang, biar aku bangunkan saja. Mungkin, Vale sedang tidur," tukas Rena.
"Bangunkanlah! Aku sudah sangat lapar," ujar Rey seraya menganggukkan kepalanya.
Rena menuju ke kamar Valerie. Dan benar saja, ternyata Valerie memang benar-benar sedang tertidur.
"Vale? Ayo, bangun! Sudah waktunya makan malam, Nak!" Rena menggoyangkan tubuh Valerie, berusaha membangunkan anak perempuannya itu.
"Iya, Ma!" Valerie langsung terbangun, perutnya yang terasa keroncongan, membuat wanita itu gampang terbangun.
"Bergegas mandi, ya! Papa dan Arga sudah menunggu di bawah!" ucap Rena.
"Ah? Baiklah!" Valerie mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan mata terpejam. Melihat tingkah Valerie, Rena hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah mandi dan mengenakan piyama, Valerie turun, menyusul anggota keluarganya yang lain di meja makan.
Mereka pun makan dengan khidmat.
"Vale, kata Mama, kamu tidak bisa ikut kami?" tanya Rey disela-sela waktu makan.
"I-iya, Pa!" Valerie mengangguk sambil tersenyum gugup.
"Memangnya, kamu mau ke mana? Biasanya, kamu paling senang saat kita memutuskan untuk berlibur."
"Hem ... besok Vale mau pergi ke makam Ibu, Pa!" jawabannya sinkron dengan saat dia meminta izin pada Rena. "Boleh, pa?" tanya Valerie kembali memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja." Rey manggut-manggut sambil tersenyum.
Valerie tersenyum. Dia sangat senang, tidak sabar menanti hari esok. Hari yang menurutnya paling bahagia.
*****
Pagi ini, semua orang sedang bersiap. Sejak semalam, Valerie sudah susah tidur. Tangannya terus berkeringat dingin karena dia merasa tidak sabar menantikan hari esok. Pagi-pagi, Valerie sudah menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan. Vale berendam dengan air hangat yang telah dicampurkan aromaterapi kesukaannya. Valerie menggosok setiap sudut bagian tubuhnya sambil membayangkan Hansel menciuminya.
"Kak Hansel ... aku sangat mencintaimu!" ucapnya sambil senyam-senyum tidak jelas.
Hari ini, Valerie tampak berbeda dari biasanya. Dan hal itu juga terpantau oleh Rena. Rena senang karena Valerie mau berdandan, membuat dirinya yang cantik tampak lebih menawan dan elegan.
"Vale, kamu berdandan?" tanya Rena sambil mencolek dagu Valerie.
"Ah? Iya, Ma. Hehehe. Apakah terlalu kelihatan, ya?" Valerie menunduk. Sebenarnya, dia tidak percaya diri dengan hasil goresan tangannya sendiri.
"Kenapa menunduk?" Rena mengusap wajah Valerie. "Kamu cantik, Vale. Tunjukkan wajahmu dengan percaya diri. Jangan terus menyembunyikan pesona kecantikanmu!" tukas Rena.
"Tapi, Ma, aku tidaklah cantik seperti yang mama katakan. Bahkan, aku merasa diriku sangat jauh dari kata cantik," ucap Valerie sambil tersenyum kecut.
"Siapa yang bilang? Kamu itu cantik. Sangat cantik." Rena selalu memuji Valerie agar putrinya itu bisa tampil lebih percaya diri.
Seringkali Rena mau mendandani oleh. Namun, Valerie selalu menolak dengan alasan kalau dirinya lebih nyaman dengan penampilannya yang seperti ini. Valerie selalu saja yang menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata dan rambut kepangnya.
"Tidak ada yang bilang. Valerie merasa, Valerie memang jauh dari kata cantik, Ma!"
"Jangan terlalu berkecil hati, Nak! Ayo, kita makan!" Rena langsung duduk di samping Rey. Mereka sarapan dalam suasana hening.
Selepas sarapan, Rey, Rena, dan Arga bersiap untuk pergi liburan. Berbeda dengan tujuan Valerie yang akan menemui Hansel dan mengikat janji pernikahan dengan pria itu.
"Kamu yakin, tidak mau diantarkan oleh supir?" tanya Rey sekali lagi.
"Tidak apa-apa, Pa. Sehabis dari makam Ibu, Vale berencana untuk singgah ke rumah Lula sebentar," kelitnya. Valerie merasa deg degan, karena itulah kali pertama dia berbohong pada kedua orang tuanya.
"Ya sudah, kami pergi, ya!" Rena menyentuh pundak Valerie.
"Hati-hati, Kak. Kami pergi dulu, ya!" pamit Arga dan menyusul kedua orang tuanya dalam mobil.
Valerie mengirimkan pesan untuk Hansel.
__ADS_1
[Kak, di mana? Aku harus menunggu Kakak di mana?]
Tidak lama, Valerie mendapat balasan dari Hansel.
[Tunggu di taman kota saja. Nanti, aku akan menjemputmu di sana!] balas Hansel.
"Taman kota?" guna Valerie.
Taksi yang dipesan Valerie sampai, Valerie masuk ke dalam taksi dan mengatakan tujuannya.
"Ke taman kota ya, Pak!"
"Baik, Nona!" jawab sang supir.
Dalam perjalanannya, Valerie memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Senyuman manis tersungging dari sudut bibirnya. Akhirnya, dia bisa sampai di hari impiannya.
"Nona, kita sudah sampai di taman kota!" ucapan sang supir mengagetkan Valerie yang masih sibuk dengan lamunannya sendiri.
"Ah?" Valerie menggaruk kepalanya yang tak gatal. Buru-buru dia mengeluarkan uang dari sakunya dan membayar ongkos taksi tersebut.
Saat Valerie turun, dia melihat mobil Hansel sudah berada di area parkir.
"Ternyata kak Hansel sudah menungguku," gumam Valerie. Dia langsung berlari dan masuk ke dalam mobil Hansel.
Hansel melihat Valerie dengan kening yang mengerut dalam.
"Vale, kamu berdandan?" tanya Hansel terlihat tidak suka.
"Iya, Kak, kenapa? Kakak tidak suka kalau aku berdandan?" tanyanya, Valerie tambah takut kala melihat wajah Hansel yang datar.
"Mau berdandan ataupun tidak, ya terserah kamu saja. Tetapi, kenapa tidak sekalian membuang kacamata jelekmu ini dan menggerai rambutmu saja? Jangan tanggung-tanggung?" omel Hansel tanpa menoleh ke arah Valerie.
"Kenapa aku harus membuka kacamataku, Kak? Sejak kecil, aku memang selalu menggunakan kacamata kok dan tidak ada masalah apapun!" bantah Valerie.
"Biar kamu bisa lihat sifat alami seseorang. Jangan dibodohi terus!" cetus Hansel.
"Maksud Kakak apa, sih?"
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like dan komentar ya. Berikan juga hadiah, Vote, dan bintang lima.
Terima kasih ❤️❤️❤️