Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Ketahuan?


__ADS_3

"Kenapa Kakak melarangku tidur bersama Valerie? Jangan-jangan, karena kamu mau menyelinap ke kamar Valerie?" terka Hilsa sambil menatap lekat wajah Hansel.


"A-apa yang kamu katakan, Vale? Jangan sembarangan bicara, ya!" sungut Hansel, kegugupannya tidak bisa disembunyikan.


"Kalau memang tidak ada apa-apa kenapa Kakak harus gugup? Aku juga tahu sebuah rahasia besar diantara kalian!" tukas Hilsa sambil menunjukkan senyum sinis.


"Rahasia? Ra-rahasia apa? Hilsa, sekali lagi aku tegaskan padamu jangan sembarangan berbicara. Itu akan membuat orang lain salah paham!" tegas Hansel.


"Tentu saja rahasia yang sangat besar, yang paling kalian sembunyikan!" ucap Hilsa, wajahnya tampak serius, membuat Hansel goyah.


Apa Valerie sudah mengatakan sesuatu padanya? Tapi, bagaimana kalau dia hanya mengetesku saja? Lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja.


Meskipun bertanya-tanya, tapi Hansel memilih diam dan bungkam.


"Kak, jujur sajalah padaku. Mungkin, sekarang hanya aku yang tahu. Bukannya tidak mungkin, kedepannya akan semakin banyak orang yang tahu. Misalnya, Mama, Papa, dan yang lainnya, kan?" ucap Hilsa.


Hansel semakin gemetar. Hatinya meyakini kalau kini Hilsa sudah mengetahui sesuatu.


"Apa yang kamu ketahui, Hilsa?" tanya Hansel, sorot mata tajamnya membuat Hilsa sedikit gemetaran.


"Aku tau banyak, Kak!" Hilsa masih berkilah.


"Banyak? Sebanyak apa? Apa yang sudah Valerie katakan padamu, Hilsa?" Hansel semakin menuntut, dia membuat Hilsa kikuk dan gugup.


"Hahahah! Kenapa kamu terlalu serius, sih? Aku hanya bercanda saja, Kak!" ucap Hilsa sambil memaksakan tawanya.


Mata Hansel melotot, dia begitu kesal dengan candaan Hilsa yang sangat menyiksa batinnya. Sejak tadi, jantung Hansel berdetak kencang. Hampir saja, Hansel meminta Hilsa untuk bungkam, jangan mengatakan sepatah katapun pada siapapun.


"Berani sekali kau mempermainkan Kakakmu ini, Hils?" tukas Hansel, matanya semakin menajam.


"Aku hanya ingin mengorek beberapa informasi darimu saja dengan pura-pura tahu beberapa rahasia. Ternyata, kau selalu menjaga mulutmu untuk terus terjaga, ya!" ucap Hilsa.


"Diamlah!" ketus Hansel, langsung masuk dan meninggalkan Hilsa begitu saja.


"Hey, Kak! Begitu saja kamu marah? Sungguh kekanakan!" umpat Hilsa meneriaki sang Kakak.


Hansel berhenti dan berbalik, "Seperti yang aku katakan tadi, tidurlah di kamarmu sendiri!" Hansel kembali mengultimatum Hilsa.


"Kenapa? Kalau aku tidur dengan Valerie pun, tidak ada yang pernah melarangnya. Terserah aku, kan?" Hilsa mengendikan bahunya, berjalan masuk ke dalam tanpa mempedulikan peringatan Hansel padanya.


Hansel dapat melihat kemana arah langkah Hilsa berjalan. Dengan langkah besar dia berjalan cepat menyusul Hilsa dan mencegat adik kembarnya itu.


"Hilsa, turuti apa yang aku katakan, aku akan menuruti apapun permintaanmu!" Hansel mencoba bernegosiasi.


"Apapun?" tanya Hilsa kembali meyakinkan diri.


"Ya. Apapun itu." Hansel sangat yakin dengan ucapannya. "Tapi, tutup mulutmu. Jangan sampai hal ini diketahui oleh orang lain!" imbuh Hansel penuh penekanan.

__ADS_1


Mendapat kecaman dari Hansel, Hilsa mengerutkan keningnya semakin dalam. Begitu penasaran dengan sesuatu yang sedang dirasakan Hansel dan Valerie.


Kenapa Kak Hansel begitu kekeuh melarangku tidur dengan Valerie? Ada apa? Sampai menawarkan imbalan? Aku semakin curiga padanya. Tapi, percuma bertanya, dia tidak akan pernah memberitahukan apapun!


"Baiklah. Aku setuju. Untuk biaya tutup mulut, berbeda dengan biaya ini, ya!" ucap Hilsa sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"Terserah kau saja. Sekarang, minggirlah!" Hansel menggeser tubuh Hilsa dengan kasar.


Dengan senang hati dan penuh senyuman Hilsa menggeser tubuhnya, membiarkan Hansel masuk ke dalam. Saat hendak menutup pintu, Hansel memelototi Hilsa dengan mata tajamnya.


"Segeralah masuk ke kamar! Jangan mencoba menguping di sini! Percuma! Ruangan ini juga kedap suara!" tegas Hansel.


"Ih!" Hilsa berdecak sebal, dia langsung meninggalkan kamar Valerie dan Hansel dengan perasaan kesal.


Setelah menutup pintu, Hansel langsung berjalan ke arah ranjang Valerie. Valerie sudah tertidur nyenyak. Dengkuran halus terdengar samar di telinga Hansel.


Hansel duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah cantik Valerie tanpa kacamata. Perlahan-lahan, dia mendekatkan wajahnya pada bibir sang istri. Dan....


Cup!


Hansel berhasil mengecup bibir Valerie. Wanita itu hanya sedikit menggeliat sembari mengusap bibirnya. Melihat tingkah Valerie, Hansel tersenyum.


"Ternyata, tingkahnya saat tidur lumayan menggemaskan juga," gumam Hansel. "Saat melepaskan kacamata seperti ini, dia terlihat sangat cantik. Tapi, kenapa dia begitu betah dengan kacamata merepotkan ini?" Hansel membelai pipi Valerie.


Tanpa sadar Valerie menepis tangan Hansel.


Valerie nyaris menjerit karena tidak tahu kalau yang menciumnya adalah Suaminya. Spontan, Hansel langsung membekap mulut Valerie.


"Ssssttt!" Hansel meletakkan jarinya di bibirnya. "Jangan menjerit, ini aku, Hansel!" ucapnya berbisik-bisik.


Setelah Valerie menganggukkan kepalanya, barulah Hansel memindahkan tangannya.


"Kak Hansel? Kakak sudah pulang?" tanya Valerie, suaranya juga berbisik.


"Hum!"


"Maaf, aku kelelahan, Kak. Jadi, aku ketiduran tadi. Aku pikir, besok baru akan menemui, Kak!" ucap Valerie sambil menguap.


"Kak, aku sangat mengantuk. Bolehkah aku lanjut tidur saja?" mata Valerie berair. Hansel tau, istri rahasianya itu sangat kelelahan. Tapi, mereka sudah lama tidak bertemu. Saat ini, Hansel sangat menginginkan tubuh istrinya.


"Kebetulan kamu sudah bangun, penuhi hasratku sebentar saja!" bisik Hansel.


"Tapi, Kak, aku sangat mengantuk!" berulang kali Valerie menguap, tapi Hansel seolah tidak mempedulikan hal itu.


"Sebentar saja, Vale. Lagipula, kita sudah lama tidak bertemu. Apa kamu tidak merindukanku?" tangan Hansel membuka kancing piyama Valerie.


"Aku merindukanmu, Kak. Tapi, kita tidak mungkin melakukannya di sini, kan?" Valerie memegangi tangan Hansel, berusaha menghentikan tangan Hansel.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah sah menikah? Jadi, bebas melakukannya dimana saja?" piyama Valerie terbuka sempurna.


Sepertinya, bagaimanapun alasan yang aku berikan, Kak Hansel tidak akan peduli. Aku hanya bisa menuruti permintaannya.


"Baiklah. Tapi, sebentar saja, ya. A-aku takut ketahuan Tante Embun, Kak!" ucap Valerie.


"Hum!"


Setelah melucuti pakaian Istrinya, Hansel juga menanggalkan pakaiannya sendiri. Setelah itu, dia kembali ******* bibir Valerie, perlahan-lahan meniduri tubuh istrinya ke arah ranjang. Menyesap kedua bukit kembar istrinya, tangannya bergerilya ke lembah Valerie.


Valerie membungkam mulutnya sekuat mungkin. Takut suara menggelikan itu keluar dari mulutnya dan di dengar oleh orang lain.


"Kenapa hanya diam? Keluarkan suaramu! Kamar ini kedap suara, Vale! Permainan kita hambar tanpa ******* erotismu!" tukas Hansel.


"Meskipun begitu, tapi aku tetap saja takut, Kak!"


"Tidak apa-apa. Semua orang sudah tidur, kamu tenang saja."


Setelah melakukan foreplay, Hansel memasukkan senjata laras panjangnya ke dalam lembah sang istri yang sudah siap menerima terjangan darinya. Menggoyangkan pinggulnya. ******* pun terdengar dari mulut keduanya.


"Kak, aku hampir keluar!" ucap Valerie.


"Keluarkan saja! Aku sebentar lagi juga akan keluar," ucap Hansel.


Setelah permainan mereka tuntas, Hansel merebahkan tubuhnya di samping tubuh Valerie yang masih ngos-ngosan.


"Pakai bajumu sekarang, Vale! Kamu terlihat sangat kelelahan. Jangan sampai kamu ketiduran dengan kondisi telanjang seperti ini!" titah Hansel.


Valerie menurut, dia memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.


"Kak, kamu kembali ke kamarmu saja. Aku takut Tante Embun akan melihat kita berduaan di sini!" pinta Valerie dengan wajah takut.


"Aku tahu kapan aku harus keluar. Kalau kamu mau tidur, tidur saja!" tukas Hansel.


Valerie menghela nafas, "Baiklah," jawabnya kemudian.


Tanpa menunggu lagi, Valerie langsung tertidur.


...*****...


Pagi-pagi sekali, setelah membenahi semuanya, Embun langsung menuju kamar Valerie. Karena kamar Valerie yang paling dekat dengan dapur, jadi Embun lebih dulu membangunkan Valerie.


Embun dapat masuk dengan mudah karena kamar Valerie tidak terkunci. Dengan wajah ramah penuh senyuman Embun masuk ke dalam, bermaksud untuk membangunkan Valerie untuk sarapan bersama nantinya. Namun, sebuah pemandangan tak biasa membuatnya terpaku sambil mengepalkan tangan. Emosinya memuncak sangat tinggi.


"Hansel! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidur di sini?" teriak Embun, bergegas memisahkan Hansel yang memeluk tubuh Valerie erat seperti guling.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat untuk update. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2