
"Valerie? Itu kamu?" tanya Rey, suara Rey terdengar begitu dekat.
A-apa aku akan ketahuan?
Valerie mendongak, kaget ketika melihat Rey sudah berada di dekatnya. "Vale, kamu makan siang di sini juga? Kebetulan sekali, ya!" ucap Rey.
"Ha? Iya, Pa! Haha!" Valerie tertawa, dalam hatinya dia sangat bingung. "Memang benar-benar sangat kebetulan, Pa!" imbuhnya.
"Kalian sudah memesan makanan?" tanya Rey.
"Su-sudah, Pa." jawab Valerie sambil cengengesan.
"Vale, bagaimana kalau kita satu meja? Kami sedang mendiskusikan tentang perjodohan Hansel dengan Stela. Sepertinya, mereka berdua sudah cocok. Tinggal bicarakan sesuatu yang lebih serius saja," tawar Rey.
"Sa-satu meja dengan ka-lian?" tanya Valerie tergagap.
"Ya. Ayo, sini!" ajak Rey.
Rei menarik tangan Valerie agar mengikutinya. Sedangkan Lula, dia pun mengikuti kemanapun Valerie pergi.
"Stela, Rafa, perkenalkan ini Valerie, anakku. Dia adik sepupunya Hansel!" ucap Rey memperkenalkan Valeri pada Stella dan juga Rafa.
Valerie menyunggingkan senyum, dia terus saja memperhatikan penampilan Stela yang sangat modis dan cantik. Berbanding terbalik dengannya yang berpenampilan sederhana dan terkesan seadanya. Padahal, Valerie bukan tidak memiliki uang untuk membeli pakaian bermerk. Tapi, dia lebih senang mengenakan pakaian biasa saja seperti ini.
Valerie memperhatikan raut wajah Hansel. Hansel sadar, kalau Valerie terus menatapnya. Dia sengaja terus menerus menatap Stela dengan tatapan tertarik.
Sepertinya, Kak Hansel menyukai wanita ini. Apa karena dia cantik dan lebih menarik? Bisa-bisanya, di depan istrinya, dia melirik wanita lain!
Valerie *******-***** jemarinya, dia kesal dengan Hansel, yang terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya pada Stela.
"Pa, Vale ke toilet dulu, ya. La, kamu tunggu di sini saja, ya!" pamit Valerie.
Setelah Valerie izin ke toilet, Stela juga melakukan hal yang sama.
"Maaf semuanya, aku izin ke toilet dulu, ya!" pamit Stela dengan senyum yang menawan.
Di dalam toilet, Valerie sedang membasuh wajahnya. Dia menatap cermin, ingin melihat, sebenarnya di mana letak kekurangannya.
"Sebenarnya, di mana letak kekuranganku? Apa karena penampilan yang kuper? Tapi, Kak Hansel yang mengajakku menikah. Harusnya, dia bisa menerimaku apa adanya. Bukan malah melirik wanita lain!" sentak Valerie mengadu pada cermin di depannya.
"Untuk apa mengeluh pada cermin? Cermin hanya bisa memperlihatkan wajah jelekmu itu. Tidak bisa memberikan solusi yang baik!" tandas Stela, berdiri di samping Valerie dan melakukan hal yang sama.
"Stela?" Valerie begitu kaget dengan kedatangan Stela yang tiba-tiba.
Apa dia mendengar keluhanku? Kalau dia sampai tau apa yang aku katakan, bisa gawat!
"Kamu menyukai Hansel, kan?" tanya Stela langsung. Pertanyaan Stela bagaikan tembakan yang tepat mengenai sasaran. Membuat Valerie terkejut dan langsung merespon dengan gelengan kepala.
"Kenapa kau bisa menuduhku seperti itu? Bukannya, tadi Papaku sudah memperkenalkan Aku padamu dan orang tuamu? Lantas, kenapa kau masih saja salah paham?" sangkal Valerie. Mana mungkin dia akan mengaku.
"Kau pasti bingung, dari mana aku mengetahui tentang perasaanmu, kan?" tanya Stela, dia tersenyum ketika melihat ekspresi gugup Valerie.
__ADS_1
"Tau apa? Kamu adalah menuduh. Masih tidak malu mengatakan ini dan itu?" sentak Valerie.
"Aku tau dari tatapan matamu. Saat kamu menatapnya, orang lain bisa melihat kalau kamu memang mencintainya. Kalau kamu tidak mau orang lain tau, hati-hati saat menatapnya. Tatapanmu padanya begitu teduh," ucap Stela. "Jangan berbohong padaku. Kita pernah berada di posisi yang sama," sambung Stela.
"Apa kamu cemburu?" tanya Valerie.
"Cemburu? Tentu tidak. Aku tidak menyukai priamu!" jawab Valerie.
"Tapi, tadi kamu mengata--"
"Aku hanya berpura-pura saja. Pertemuan ini diatur oleh ayahku. Aku hanya bisa menurut saja. Lagipula, hanya bertemu, kenapa aku harus membantah?" terang Stela sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.
Valerie membalikkan tubuh Stela menghadap ke arahnya. "Apa maksudmu dengan pura-pura?" tanya Valerie ingin tahu.
Stela melirik tangan Valerie kemudian tersenyum. "Jangan emosi. Tenang saja, aku bukanlah saingan cintamu. Aku hanya pura-pura tertarik pada Hansel supaya Ayahku senang, dan bisa percaya kalau aku sudah melupakan seseorang," tukas Stela.
"Lalu, bagaimana dengan Kak Hansel? Kamu mempermainkannya juga? Dia, dia terlihat sudah ... tertarik denganmu!" seru Valerie.
"Tertarik padaku? Entahlah. Aku tidak peduli dengan perasaannya." Stela menatap Valerie dari atas ke bawah. "Aku bisa melihat, sebenarnya kamu sangat cantik. Penampilan kupermu menutupi kecantikanmu. Kalau kamu mau merubah penampilan untuk menarik perhatian Hansel aku bisa membantumu!" ucap Stela.
"Aku tidak tertarik. Terima kasih!" tolak Valerie.
"Jangan terburu-buru menolak." Stela mengambil kartu nama di dalam tasnya. "Ini! Kalau kamu mau merubah penampilanmu menjadi putri kerajaan, datanglah ke sini!" ucap Stela, memberikan kartu namanya ke tangan Valerie langsung, kemudian langsung pergi begitu saja.
"Seorang desainer?" gumam Valerie membaca kartu nama yang diberikan oleh Stela.
Valerie memasukkan kartu nama yang diberikan Stela ke dalam tasnya. Kemudian, kembali dan seperti tidak terjadi apapun.
"Kamu lama sekali, Vale?" tanya Lula khawatir, takut Valerie dan Stela akan bertengkar di toilet.
"Pa, Vale pulang dulu, ya. Lupa, Vale masih memiliki janji dengan teman-teman yang lain."
"Teman yang lain? Baiklah. Selamat bersenang-senang, Nak!" ucap Rey.
"Iya, Om, kebetulan teman laki-laki kami juga banyak yang ikut. Ini kali pertama Valerie mau ikut berkumpul dengan kami. Jadi, tentu saja kami harus bersenang-senang," timpal Lula.
Rey hanya mengangguk. Lula sengaja mengatakan hal itu di depan Hansel. Ingin melihat perubahan wajah Hansel.
Benar saja, wajah Hansel langsung berubah datar ketika mendengar banyak teman pria yang akan ikut berkumpul bersama Valerie nanti.
"Pa, Om Bara, Om Daniel, Vale pergi dulu, ya!" ucap Valerie, dia langsung ditarik oleh Lula.
Banyak teman pria? Selama ini, Valerie tidak pernah mau bergabung dengan teman pria. Tapi, kenapa sekarang dia malah berkumpul dengan pria?
Hansel mengepalkan tangannya, dia tidak rela Valerie pergi dan berkumpul dengan teman-teman prianya.
Di parkiran, Valerie melirik Lula yang terlihat biasa saja. "Lula, siapa yang mau pergi dengan teman-teman pria? Jangan membual, ya! Untung saja Papaku tidak marah. Kalau Papaku marah, bisa jadi perkedel kita!" sentak Valerie.
"Siapa bilang aku hanya membual? Aku serius, Vale! Pakailah sabuk pengamanmu!" titah Lula.
"Mau ke mana lagi? Antarkan aku pulang saja!" jawab Valerie malas.
__ADS_1
"Jangan terlalu kuper, Vale. Sesekali, senangkan dirimu, ikutlah bersamaku!" ajak Lula memaksa.
"Aku tidak mau. Terserah kamu mau bilang apa. Antarkan aku pulang!" kekeuh Valerie.
"Terserah. Kalau kamu tidak mau ikut, lompat saja dari mobil!" sungut Lula.
Benar-benar sahabat sialan!
umpat Valerie.
Lula mengendarai mobilnya, Valerie tidak peduli kemana Lula akan membawanya. Sepanjang jalan, Valerie terus mengingat tatapan Hansel yang begitu menyukai Stela. Dan itu, menjadi boomerang untuk Valerie.
"Bukankah dia mengatakan menyukaiku? Kenapa sekarang dia malah menyukai wanita lain?" gumam Valerie.
Lula mendengar keluhan sahabatnya itu, tapi dia tidak menanggapi apapun. Terlalu malas berdebat dengan orang bucin.
Setibanya di parkiran sebuah Club yang cukup tersohor, Lula menghentikan mobilnya.
"Kenapa kita ke sini, sih? Antarkan aku pulang!" pinta Valerie.
"Vale, sesekali kamu harus menikmati hidup," tukas Lula.
"Ayo, kita masuk ke dalam!" ajak Lula. Sontak, Valerie langsung menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak mau!" jawabnya cepat.
"Sesekali. Aku janji, kita tidak akan lama," ucap Lula.
Valerie terdiam sejenak. Mungkin, dia sedang menimbang-nimbang ajakan Lula.
"Baiklah. Ayo, kita masuk." Valerie mengangguk setuju.
Valerie memperhatikan keadaan sekitar. Baru itu kali pertama Valerie masuk ke dalam Club. Dentuman musik yang begitu keras, cahaya lampu yang temaram membuat orang merasa happy dengan suasana sekitar. Sangat banyak pasangan muda mudi yang bergoyang, bercampur aduk di sana.
Baru saja Valerie mendudukkan bokongnya, suaranya bergetar. Tertera nama Hansel di layar benda pipihnya.
"Siapa, Vale?" tanya Lula.
"Kak Hansel," jawabnya.
Valerie menjawab panggilan telepon dari Hansel.
"Halo, kak?"
Suara dentuman musik yang begitu memekakkan telinga, sudah memberikan informasi kalau sekarang Valerie sedang berada di Club.
"Di mana kamu?" tanya Hansel dengan wajah datar.
"Aku di Club Night Butterfly! Ada apa, Kak? Kalau tidak ada yang penting, aku matikan, ya? Soalnya, aku tidak bisa mendengar dengan jelas suaramu," ucap Valerie.
"Tunggu aku di sana! Aku akan menjemputmu!" ucap Hansel sambil meremas ponsel yang dipegangnya.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat untuk update. Terima kasih semuanya ❤️❤️❤️