
"Aku di Club Night Butterfly! Ada apa, Kak? Kalau tidak ada yang penting, aku matikan, ya? Soalnya, aku tidak bisa mendengar dengan jelas suaramu," ucap Valerie.
"Tunggu aku di sana! Aku akan menjemputmu!" ucap Hansel sambil meremas ponsel yang dipegangnya.
"Tidak perlu, Kak!" sanggah Valerie sebelum Hansel memutuskan sambungan telepon mereka.
"Tidak perlu?" Hansel semakin tidak memahami kemauan Valerie. Hansel juga tahu dengan jelas, Valerie tidak akan mau pergi ke tempat seperti itu. Lantas, kenapa sekarang?"
"Nanti aku pulang bersama Lula saja, Kak. Kamu tidak perlu menjemputku. Aku mau menikmati kesenangan dulu di sini," terang Valerie.
"Tapi, Vale bukannya kamu tidak su--"
Tut! Tut! Tut!
Belum sempat Hansel menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon mereka pun terputus. Darah Hansel semakin mendidih. Kini, perasaan Hansel begitu keruh. Tanpa menunggu lagi, Hansel langsung melajukan mobilnya secepat kilat menuju Club Night Butterfly, yang disebutkan oleh Valerie tadi.
"Amanda Valerie, berhati-hatilah! Jangan sampai aku menemukanmu!" ucap Hansel dengan sorot mata tajamnya.
Di Club, Valerie tengah kesal lantaran Lula merebut ponselnya dan memutuskan sambungan teleponnya dengan Hansel.
"Lula, kenapa kamu merebut ponselku? Cepat kembalikan!" pinta Valerie.
Lula memasukkan ponsel sahabatnya ke dalam tas jinjing Valerie. "Jangan sibuk bermain ponsel. Sekarang, waktunya kita untuk bersenang-senang. Lupakan semua masalah yang menyiksa batin," ucap Lula.
"Oke. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Valerie.
"Berkenalan dengan teman-temanku terlebih dahulu!" jawab Lula dengan semangat yah begitu menggelora.
Lula beralih pada teman-teman prianya, "Teman-teman, perkenalkan, ini Valerie, temanku!" seru Lula pada teman-temannya. Ada sekitar lima orang pria dan empat orang wanita yang bergabung bersama Lula dan Valerie.
"Hai, teman-teman. Salam kenal pada kalian semua," ucap Valerie melambaikan tangannya pada teman-teman Lula.
"La, tumben kamu membawa wanita cupu seperti ini?" tanya Alex, teman pria Lula.
"Hahaha. Aku ingin memperkenalkan dunia yang luas ini padanya. Karena, temanku ini salah satu tipekal wanita bucin!" seloroh Lula. Lula menenggak minuman yang membuatnya semakin merasa lebih percaya diri.
Melihat Lula, timbul rasa ingin di hati Valerie. "Lula, aku boleh coba tidak?" pinta Valerie dengan wajah kasihan.
"Tidak. Kalau suamimu datang ke sini, habislah aku!" tolak Lula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi, saat kamu minum itu, rasanya seperti enak sekali!" Valerie menelan ludah.
"Ini bebas untuk siapa saja. Tapi, tidak untuk kamu," ujar Lula.
"Berikan saja dia, La. Biar dia tahu bagaimana asiknya dunia luar seperti ini," celetuk teman Lula yang lain.
"Hum! Benar itu," Valerie mengangguk membenarkan.
"Aku tidak bisa menuruti kemauanmu, Vale. Kamu minum soda saja, ya!" Lula mengambilkan beberapa kaleng minuman soda untuk Valerie.
"Tapi, aku maunya itu, La!" rengek Valerie, berusaha mengambil gelas di tangan Lula yang masih bersisa sedikit minuman beralkohol.
"Ini tidak boleh," Lula menghindari.
"Tapi aku mau itu!" rengek Valerie.
"Mau apa?" tanya seorang pria yang sudah berdiri tegak di samping Valerie. Tubuh Valerie menegang ketika mendengar suara bariton seorang pria yang sangat dikenalinya. Valerie menoleh untuk memastikan praduganya. Dan, ternyata memang benar.
"Kak Hansel?" mata Valerie menatap Hansel.
"Kenapa Kakak bisa berada di sini?" Valerie masih merasa sukar untuk percaya, kini Hansel berdiri tegak di depannya.
"Kan aku sudah bilang, tidak perlu menjemputku. Lantas, kenapa sekarang Kakak malah kemari, sih?" sungut Valerie.
"Ayo, ikut pulang denganku!" ajak Hansel.
Valerie menggeleng, "Aku tidak mau. Biarkan aku di sini,"
"Bersama para pria ini?" Valerie menelan Saliva, tatapan mata Hansel begitu menakutkan.
"Me-mereka hanya teman, Kak. Kamu mau gabung bersamaku?" tawar Valerie.
Hansel mengedarkan pandangannya, melihat beberapa orang pria yang duduk di depan Hansel.
"Ikut pulang bersamaku, Valerie!" tanpa basa-basi lagi, Hansel menarik tangan Valerie dan menyeret istrinya itu pergi dari sana.
"Kak, kenapa menarikku?" Meskipun mendengar, Hansel pura-pura tidak dengar apapun.
"Kak! Aku hanya ingin menikmati hari bersama mereka. Kenapa kamu malah membawaku pergi dari sana?" protes Valerie.
__ADS_1
"Jangan membantahku, aku tidak mendengar apapun yang kamu katakan!" Hansel pura-pura tuli.
"Isss! Kau benar-benar keterlaluan, Kak!" umpat Valerie kesal sembari mencebikkan bibirnya.
Setelah berada di parkiran, Hansel langsung menghempaskan tubuh Valerie ke dalam mobilnya.
"Sakit!" keluh Valerie.
Hansel ikut masuk ke mobil.
"Pakai seatbeltmu!" titah Hansel.
"Kamu keterlaluan, Kak. Aku hanya mau bersenang-senang saja. Tapi, kamu malah membawaku pergi dari sana," ketus Valerie masih tidak terima. "Aku hanya mau melupakan rasa sakit hatiku sejenak!" imbuh Valerie.
"Rasa sakit apa? Kenapa dengan hatimu?" Hansel masih menatap tajam wanita di sampingnya.
"Tentu saja sakit karenamu! Kau melihat wanita lain dengan penuh cinta. Apa aku tidak boleh sakit hati?" Valerie menatap ke luar jendela, air matanya mengalir dan langsung di hapusnya.
Hansel menghela nafas panjang. "Kamu cemburu?"
"Kamu sudah tau jawabannya. Tidak perlu lagi bertanya sampai seribu kali, karena jawabanku akan tetap sama! Kau tau apa jawabanku, tapi kau masih saja menyakiti hatiku. Suami macam apa kau ini, ha?" sentak Valerie tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Kau sedang berbicara padaku, kan? Tatap mataku, Vale!" pinta Hansel.
"Untuk apa? Aku tau aku memang tidak cantik, tapi bukan berarti kamu bisa mengkhianati aku seperti ini!" ucap Valerie lagi, kemarahan bergemuruh di dalam hatinya. Begitu menyakitkan melihat suaminya melihat wanita lain penuh minat dan mendamba.
"Kalau kamu mau aku melihatmu seperti itu juga, maka berdandanlah yang cantik! Jangan seperti ini!" Hansel memegang rambut kepang Valerie.
"Terserah kamu saja. Aku tidak akan merubah penampilanku. Aku akan selalu seperti ini," sahut Valerie.
"Sekarang, apa kau sudah membenciku?" tanya Hansel, berharap Valerie akan mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kamu selalu saja menanyakan tentang kebencian? Apa kamu sangat berharap aku akan membencimu?" sentak Valerie, menatap Hansel nanar.
Bukan malah menjawab, Hansel menarik lengan Valerie agar mendekat padanya. Sejurus kemudian, Hansel langsung ******* bibir istrinya itu dengan rakus.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya supaya author tambah semangat buat update. Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1