Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Cemburu?


__ADS_3

"Biar kamu bisa lihat sifat alami seseorang. Jangan dibodohi terus!" cetus Hansel.


"Maksud Kakak apa, sih?" tanya Valerie, dia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Hansel barusan.


"Tidak perlu dipikirkan lagi."ucap Hansel mengalihkan perhatian Valerie.


"Tapi, aku penasaran, Kak! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kata-kata anehnya yang membuatku terus kepikiran!" Valerie mencerdikkan bibirnya ke arah engsel.


"Kamu sudah sarapan?" sebenarnya Hansel paling malas basa-basi seperti itu. Namun, dia melakukan itu karena ingin mengalihkan perhatian Valerie.


"Sudah!" Valerie buru-buru menjawab sambil tersenyum manis. Dia sangat senang karena Hansel perhatian padanya.


"Kakak sudah sarapan juga kan?" Valerie bertanya balik.


"Menurutmu?" Hansel malah menjawab sekenanya saja. "Maid di rumahku selalu membuatkan sarapan untuk kami. Jadi, mana mungkin aku belum sarapan!" celetuk Hansel membuat Valerie terdiam.


Ternyata, sifat menyebalkan Kak Hansel belum hilang. Tapi, sudahlah, aku harus bisa mencairkan suasana agar tidak secanggung ini lagi.


"Kak, gaun apa yang akan aku kenakan? Apakah Kakak sudah menyiapkan gaun dan setelan jas yang akan kita kenakan saat menikah nanti?" tanya Valerie. Meskipun, pernikahan mereka dirahasiakan. Tetapi, dia juga ingin mengenakan gaun mewah yang akan dijadikan saksi bisu kalau mereka kini telah sah menjadi suami istri.


"Gaun? Setelan jas?" Hansel mengulangi apa yang dikatakan Valerie tadi sambil terkekeh. "Kamu sedang bermimpi?" cibir Hansel.


"Bermimpi apanya? Semua orang yang akan menikah memang mengenakan gaun dan setelan jas, kan?" Valerie terus menatap ke arah Hansel. Berharap pria itu mau menjawab pertanyaannya tentang gaun.


"Kak?" merasa tidak ada jawaban apapun yang membuatnya puas, Vale kembali memanggil Hansel agar pria itu menoleh padanya.


"Diamlah, Vale! Duduklah dengan tenang. Kita sudah hampir sampai!" tukas Hansel tanpa menoleh ke arah Valerie.


Sebenarnya, pria itu tengah bimbang dengan rencananya sendiri. Sepertinya, Hansel telah terjebak dengan rencananya sendiri. Hansel sedang berpikir ulang, apakah harus melanjutkan rencana pernikahan ini atau tidak. Jika dia membatalkan pernikahan mereka, setelah membuat Valerie berharap besar, bukankah juga akan membuat pukulan telak untuk Valerie?


Jika aku membatalkan pernikahan ini. Valerie pasti akan sangat kecewa. Tidak perlu repot-repot menikahinya. Dan aku juga tidak akan menjadi duda karena menceraikannya. Sepertinya, hanya bisa begini saja. batin Hansel.


"Vale, kurasa pernikahan ini lebih baik dibatalkan saja!" ucap Hansel tiba-tiba.


"Pernikahan ini ... dibatalkan?" tanya Valerie ternganga, merasa tidak percaya dengan dengan apa yang barusan dikatakan oleh Hansel.


"Kak, kamu sudah gila?" Valerie yang awalnya duduk dengan santai, langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf, tapi kurasa aku memang belum bisa mencintaimu!" tukas Hansel sengaja.


"Benarkah? Kalau begitu, aku hanya bisa menyusun rencana seperti dulu. Tidak akan membiarkan satu pun wanita mendekatimu. Agar kamu bisa sadar, kalau aku juga berhak bertahta di hatimu!" pungkas Valerie sambil menunjuk ke dada Hansel.


Mungkin, aku hanya bisa menghentikannya dengan cara menikahinya dan merenggut kesuciannya. Setelah dia benar-benar disia-siakan, dia pasti akan putus asa dan membenciku!


"Aku hanya bercanda!" Hansel meralat ucapannya tadi.


"Oh. Aku pikir Kakak serius." Valerie memanyunkan bibirnya.


Hansel terdiam, dia malas banyak bicara dengan Valerie. Walupun sejak tadi Valerie terus memancing pembicaraan, tapi Hansel memilih bungkam.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun tiba di sebuah Vila di daerah pedesaan.


"Sejak tadi aku terus bertanya, kita akan kemana. Tapi, kamu terus saja diam. Ini vila milik siapa, Kak?" tanya Valerie sambil mengamati keadaan di sekelilingnya.


"Ini Vila pribadi milik temanku. Kita akan menikah di sini. Kemarin, aku sudah membuat janji dengannya," jawab Hansel sambil membuka seat beltnya.


"Oh, aku pikir Vila pribadi milik Kakak!" cetus Valerie.


"Kenapa? Kamu kecewa karena aku tidak sekaya seperti yang kamu bayangkan selama ini?" tuding Hansel.


"Cemburu? Mana mungkin!" tangkas Hansel sambil memiringkan sudut bibirnya.


"Tidak cemburu? Kak, cemburu itu tanda cinta. Kalau kamu tidak cemburu, berarti kamu tidak mencintaiku!" celetuk Valerie, matanya terus memindai perubahan wajah Hansel yang terlihat gelagapan.


"A-aku mencintaimu! Ta-tapi, a-aku tidak mung-kin cemburu ha-hanya karena hal sepele begitu!" Hansel buru-buru menjelaskan agar Valerie tidak salah paham.


Ketika menyatakan cinta padanya, bibirku terasa kaku. Aku benar-benar tidak memiliki sedikit pun perasaan spesial untuknya.


"Kak Hansel memang yang terbaik!" puji Valerie.


"Sudah. Tidak perlu memuji-mujiku sampai berlebihan seperti itu. Ayo, kita masuk saja! Temanku sudah menunggu lama di dalam sana!" sanggah Hansel.


"Baiklah-baiklah!" Valerie mengikuti perkataan Hansel. Mereka berjalan beriringan, masuk ke dalam Vila.


"Hans!" seorang pria tampan langsung menyapa ketika melihat kedatangan Hansel.

__ADS_1


"Di mana calon istrimu itu?" tanya pria itu sambil celingak-celinguk ke arah belakang berusaha mencari keberadaan calon istri Hansel.


"Hay, apa kabar?!" sapa Valerie, walaupun malu-malu, dia terpaksa menyapa teman Hansel agar tidak membuat Hansel malu.


"Ini ... calon istrimu?" tanya pria itu, menunjuk ke arah Valerie dengan wajah terkejut.


"Benar. Memang dialah calon istriku!" sahut Hansel sekenanya.


"Hahahah!" tawa pria itu pecah saat handsome mengakuivaleri sebagai calon istrinya.


Hansel membuang muka ke arah lain. Sedangkan Valerie, menatap pria itu dengan raut keheranan.


Kenapa dia malah tertawa terbahak-bahak? Memangnya, ada yang lucu?


Valerie bertanya-tanya.


"Hans, sejak kapan seleramu berubah menjadi serendah ini?" tanya pria itu lagi. Memperhatikan Valerie dari atas ke bawah, membuat Valerie merasa tidak nyaman.


Hansel menoleh pada Valerie. Terlihat jelas kalau wanita itu merasa tidak nyaman.


"Jangan banyak bicara, Boy! Bagaimanapun seleraku, itu hakku. Kau belum memiliki hak untuk berkomentar!" ketus Hansel, menggenggam tangan Valerie.


Meskipun dia tidak mencintai Valerie, tapi dia tetap sebagai Adik. Tidak akan membiarkan orang lain menyinggung perasaan Valerie.


Yang tidak diketahui Hansel, sikapnya barusan membuat Valerie semakin menyukainya. Membangun rasa aman bagi Valerie jika sedang berada di dekat Hansel.


"Ah? Maaf, maaf!" Boy masih terkekeh kecil. Boy mengulurkan tangannya ke arah Valerie. "Aku Boy!" ucapnya memperkenalkan diri.


Valerie bermaksud menerima uluran tangan dari Boy, tapi Hansel menggenggam tangan Valerie semakin erat. Tanpa dijelaskan pun, Valerie tau, Hansel tidak mengizinkan Valerie untuk berjabat tangan dengan pria tengil di depannya. Karena tidak bisa membalas uluran tangan Boy, Valerie hanya membalas pria itu dengan senyuman simpul.


Karena Valerie tidak kunjung menjabat tangannya, Boy memperhatikan tangan Hansel dan Valerie yang saling terpaut erat.


"Wah, sepertinya ada yang sedang cemburu!" sorak Boy.


-Bersambung-


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga bintang 5, vote, dan hadiah ya!

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2