Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Menuntut kejelasan


__ADS_3

"Hansel! apa yang kamu lakukan? kenapa kamu tidur di sini?" teriak embun, bergegas memisahkan hansel yang memeluk tubuh valerie erat seperti guling.


Perlahan Hansel mengerjapkan matanya yang terasa silau karena tempias sinar mentari yang mulai terang dan menusuk matanya. Embun menggemeretakkan giginya, tidak sabar dengan Hansel yang malah meregangkan otot-otot tubuhnya setelah bangun tidur. Sedangkan, Valerie, wanita itu masih pulas sambil memeluk tubuh Hansel.


Embun menarik paksa sebuah guling yang masih di dekap Hansel. Mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menimpuk Hansel yang masih belum sadar akan kehadiran dirinya.


Puk!


Puk!


Puk!


Hansel dan Valerie tersadar, mata mereka berdua sama-sama membulat ketika melihat Embun sudah berdiri di depan mereka berdua sambil berkacak pinggang. Matanya melotot, menambah kesan horor yang terlihat dari wajah Embun.


Hansel tak bergeming, otaknya berpikir keras, mencari jawaban yang sangkiranya dapat membuat Embun percaya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Tidur bersama? Memeluk Valerie? Apa yang kalian lakukan?" mata Embun bergerak ke sana sini, seperti sedang mengintai sesuatu yang mencurigakan.


"Ma, jangan salah paham dulu. Ini tidak seperti yang Mama lihat. Dengarkan dulu penjelasan Hansel!" tangkas Hansel cepat, tidak mengizinkan sang Mama berpikir yang aneh-aneh.


"Lalu, apa? Berikan alasan yang masuk akal. Atau, sekarang aku akan menghubungi Papamu dan orang tua Valerie. Biar kalian dinikahkan!" sentak Embun, matanya nyalang, menantikan penjelasan dari putranya.


"Jangan!" pekik Hansel. Valerie langsung menoleh pada sang suami. Lagi-lagi, kesempatan baik untuk mengungkapkan tentang pernikahan mereka pada seluruh anggota keluarga seolah langsung ditepis oleh Hansel sendiri.


"Jangan?" Valerie bergumam. Hansel langsung melirik ke arah Valerie. Tanpa meminta penjelasan pun, Valeri sudah bisa membaca apa yang dikatakan oleh Hansel dalam pikirannya.


Kenapa dia terus-menerus mau menutupi pernikahan ini? Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menjadi istri rahasianya?


Valerie menahan isak tangisnya. Dia juga sangat penasaran alasan apa yang diberikan Hansel pada Embun.


"Ma, aku juga tidak tahu kenapa bisa tertidur di sini. Mama tahu 'kan, semalam aku dan Hilsa pulangnya lumayan larut. Kata Hilsa, malam ini Valerie menginap di sini, jadi aku datang untuk mengecek kebenaran itu. Mungkin, karena sangat lelah, jadi aku tidak sengaja tertidur di sini, Ma. Mengenai kamu yang tertidur sambil berpelukan, aku benar-benar tidak sadar, Ma. Orang yang sedang tertidur tidak akan tahu lagi apa yang dilakukannya, Ma!" jelas Hansel panjang lebar.


"Kenapa tiba-tiba kamu peduli padanya? Biasanya, kamu tidak suka saat dia menginap di sini?" tanya Embun, matanya masih menyipit, menyelidiki raut wajah Hansel yang terlihat mencurigakan.


"Mengenai hal itu, sebelumnya aku minta maaf. Sekarang, aku mau berubah. Rasa sayangku pada Valerie sama seperti aku menyayangi Hilsa. Jadi, mana mungkin aku membencinya. Hanya sikapku saja yang ketus," tangkas Hansel.


Valerie menelan ludah. Dia tertegun dengan penjelasan Hansel yang tetap memilih menyembunyikan pernikahan rahasia mereka.


"Valerie, apa benar yang dikatakan Hansel?" tanya Embun.


Valerie mendongak. Dia merasa, inilah kesempatan terbaik untuk mengakui semuanya.


"Tidak, Ma. Sebenarnya aku dan Kak Hansel su--"

__ADS_1


Hansel langsung melompat ke arah Valerie, memeluk pinggang istrinya dan memeluknya.


"Vale, maafkan Kakak, ya?" ucapnya sambil menatap wajah Valerie.


"Vale, jangan katakan apapun! Ikuti permainanku, nanti kita bicarakan lagi," bisik Hansel dengan wajah datar.


"Tidak apa, Vale?" pertanyaan Embun membuat Valerie tersentak.


"Tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku dan Kak Hansel tidak melakukan apapun. Apa yang Kak Hansel katakan juga benar," terang Valerie.


"Hansel, bergegaslah! Sebentar lagi waktunya sarapan," ucap Embun. "Valerie, Tante tunggu kamu di ruang makan," imbuhnya dan berjalan ke luar dari kamar Valerie.


"Kak, kenapa kamu tidak jujur saja? Sampai kapan aku harus menjadi istri rahasiamu, Kak? A-aku tidak mau ini semakin berlarut-larut!" Valerie mengiba pada Hansel. "Kumohon, akui aku, Kak! Jangan terus sembunyikan aku!" Valerie memegang lengan Hansel.


Hansel menepisnya. "Vale, nanti kita bicarakan lagi, ya!" gegas Hansel keluar dari kamar Valerie, meninggalkan Valerie yang termangu sembari menatap punggung Suaminya itu.


Vale menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Seperti yang Embun katakan, dia bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


...*****...


Setelah selesai sarapan, Embun langsung pergi ke toko kue. Hansel menawarkan diri untuk mengantarkan Embun, tujuannya hanya satu, yaitu untuk menghindar dari Valerie.


Valerie hendak mencegah Hansel pergi. Tapi, tidak mungkin dia melakukannya di depan semua orang. Orang lain akan bertanya-tanya akan sikapnya itu.


"Baik, Tante." Valerie mengangguk mengiyakan.


"Kak, apa kamu sengaja menghindariku?" gumam Valerie.


Setelah Embun pergi, Valerie masuk ke dalam kamarnya. Mengharap senja dapat cepat menghampiri, agar Hansel dapat cepat kembali dan mereka bisa membicarakan hal ini.


Valerie menghabiskan waktunya dengan kebosanan. Memperbanyak istirahat sebab semalam waktu istirahatnya diganggu oleh Hansel. Valerie melirik jam yang terdapat di atas nakasnya.


"Sudah tiba waktunya Kak Hansel pulang dari kantor." Valerie bergegas keluar kamar dan duduk di taman depan, menunggu kepulangan Hansel.


Namun, sampai langit jingga berganti warna hitam pun, Hansel tak kunjung menampakkan diri. Valerie hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


Valerie putus asa, memilih masuk ke dalam sebab dinginnya angin malam menusuk kulitnya.


"Vale, ayo kita sarapan bersama!" ajak Embun yang baru turun dari tangga.


"Kita tidak menunggu Kak Hansel dulu?" tanyanya sebab hanya Hilsa yang ada di meja makan.


"Tidak perlu. Tadi Hansel bilang, malam ini dia akan menginap di rumah temannya.

__ADS_1


Valerie mengangguk. Sangat jelas, Hansel sedang menjaga jarak dengannya.


"Besok kamu akan magang di perusahaan Hansel, ya?" tanya Embun basa-basi.


"Iya, Tante." Valerie memaksakan senyumnya meskipun pikirannya sedang bercabang.


"Nanti, kamu bekerja di perusahaan Wirastama saja. Kamu orang yang pintar, pasti bisa masuk dengan mudah," pinta Embun penuh harap. Dia berharap, dengan begitu, Hansel dan Valerie akan membangun kedekatan dan Valerie bisa menjadi menantunya.


"Iya, rencananya memang seperti itu, Tante. Mama dan Papa juga sudah mengizinkan," jawabnya sambil tersenyum senang.


"Nah! seperti yang Tante harapan!" seru Embun tak kalah senang.


Malam berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa pagi datang menyapa dan mentari datang menyingsing. Hari ini adalah hari pertama Valerie magang di perusahaan Hansel. Sambil mengenakan seragamnya, dia terus tersenyum di depan cermin. Lekat memandangi pantulan dirinya di depan cermin.


Setelah bersiap, Valerie buru-buru turun. Berharap saat keluar dari kamar, dirinya akan menemui Hansel di meja makan. Tapi, masih sama seperti semalam, orang yang ditunggu masih belum menampakkan dirinya.


"Kak Hansel di mana?" tanya Valerie saat melihat tempat yang biasa diduduki Hansel masih kosong.


"Dia belum pulang, Vale. Meminta asistennya untuk membawakan pakaian ganti ke kantor," jawab Embun.


"Oh?" Valerie tersenyum kecut.


"Vale, kamu mau ke mana?" tanya Embun, terkejut ketika melihat Valerie pergi tanpa memakan apapun.


"Vale buru-buru, Tante. Sarapannya nanti saja di kantor, ya!" jawabnya berteriak sambil berlari menuju taksi yang sudah menunggunya.


Pagi sekali dia datang ke kantor. Sebab, Valerie menduga. Hansel sudah berada di sana. Setelah sampai, Valerie berlari masuk ke dalam lift. Tempat utamanya adalah ruangan Hansel.


"Kak Hansel?" panggil Valerie, nafasnya masih tersengal-sengal sebab dia kelelahan berlari.


"Valerie?"


"Kak, jangan menghindariku lagi. Apa salahnya? Aku hanya meminta kejelasan, Kak!" Valerie berdiri berjarak dua meter dari Hansel.


Pria itu menatap lekat wajah Valerie yang terlihat kelelahan.


"Jangan tanyakan apapun lagi. Jangan mengatakan sesuatu pada orang lain yang terang-terangan aku larang. Jangan membuat orang lain curiga dengan hal ini sebelum aku siap mengakuinya di depan keluarga kita!" tukas Hansel.


"Tapi, sampai kapan?" desak Valerie.


"Sampai kamu tamat kuliah. Setelah itu, aku akan mengatakannya pada semua orang!" pungkas Hansel.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya. Agar author tambah semangat lagi 💪. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2